Kekasih Polos CEO

Kekasih Polos CEO
S2 BAB 6-KEPUTUSAN


__ADS_3

"Ada apa Cla, tumben kamu bisa serius" ujar Bunda Eti yang malah mengoda Clara yang sedang serius itu.


"Bundaaaa" tutur Clara dengan wajah cemberut dan menghentakan kaki nya karena kesal.


"Haha Bunda bercanda, kamu ganti baju dulu, Bunda tunggu di sini" jelas Bunda Eti yang mulai serius itu.


"Baiklah Bunda, sebentar" tutur Clara berlari menuju kamar tempat Dia biasa nya tidur.


Di dalam kamar yang lumayan luas itu, mereka tidur bersama sama, di panti asuhan ini mereka tidak ada yang nama nya memiliki kamar sendiri, semua serba keterbatasan, bukan tempat tidur seperti panti asuhan lain yang memiliki kasur yang tingkat tetapi di sini mereka tidur di tikar sederhana, walapun seperti itu semua anak panti tidak pernah mengeluh kepada Bunda Eti sedikit pun, jarang nya donatur yang melirik tempat ini karena terletak sedikit dalam di desa, dan terlebih sebelum memasuki desa ini ada juga sebuah panti yang berfasilitis sangat bagus dan berkecukupan, tempat yang kurang strategis itu membuat para donatur jarang ada yang tahu. Clara menatap seluruh ruangan yang terlihat sederhana dengan tembok ruangan yang sudah kusam tetapi tetap bersih dan rapi di pandang siapa pun.


"Sebentar lagi Aku harus pergi dari sini" gumam Clara yang menatap sendu ruangan itu.


Setelah beberapa menit berganti baju Clara menuju di mana tempat Bunda Eti sedang duduk termenung di teras sambil melihat hamparan sawah yang masih sangat alami dan asri itu.


"Bunda" panggil Clara duduk di samping Bunda Eti, mereka bersimpuh dan duduk dengan nyaman menikmati hawa perdesaan yang masih alami.


Clara bersekolah di kota, maka dari itu sebelum berangkat sekolah Dia harus berjalan kaki untuk mendapat kan angkot terlebih dahulu baru bisa berangkat menuju sekolah, karena SMA terdekat memang hanya ada di sana.


"Apa yang mau kamu bicarakan Cla?" ujar Bunda Eti menatap Clara dengan senyum mendung nya itu.

__ADS_1


"Bunda tau kan kalo Clara satu minggu lagi akan lulus dari SMA" ujar gadis itu mengalihkan pandangan nya ke depan.


"Iya Bunda tahu, ada apa? Apa Clara ingin kuliah, Bunda akan mengusahakan nya nak" tutur Bunda Eti mengegam jemari kecil gadis itu menyakinkan diri nya bahwasan nya tidak ada yang tidak mungkin.


"Tidak Bunda, sudah cukup Clara selama ini merepotkan Bunda, Clara berencana akan keluar dari panti dan bekerja di luar" ucap gadis itu berusaha tersenyum di saat hati nya tak rela mengatakan itu.


"Apa maksud mu, Bunda tidak melarang mu bekerja tetapi tetaplah tinggal di sini" kata Bunda Eti yang mulai mengegam kuat tangan gadis itu seolah-olah ingin menyakinkan nya.


"Bunda tolong, Clara sudah tidak ingin merepotkan Bunda, terlebih Clara bekerja bukan hanya demi diri sendiri tetapi juga demi adik adik panti, mereka juga ingin sekolah bukan? Clara yang akan mengusahakan itu Bunda, nanti gaji Clara akan Clara berikan untuk adik panti agar tetap bisa sekolah tanpa harus memikirkan biaya beli alat tulis dan lainnya" terang Clara yang menatap dalam mata Bunda Eti.


Bunda Eti yang mendengar perkataan Clara hanya terdiam Dia sudah tidak bisa berkata-kata lagi, Bunda Eti melihat sorot mata Clara yang penuh ambisi dan keseriusan itu, dengan berat hati dan suara berat Bunda Eti berkata.


"Baiklah, jaga diri mu nak, ingat kau bisa kapan saja pulang ke sini karena kami semua rumah dan keluarga mu" ucap Bunda Eti tersenyum ketir menahan air mata nya.


"Akhirnya hari yang paling Aku takut kan datang, di saat dimana kamu akan memilih jalan sendiri dan pergi dari sini, Bunda tidak bisa menahan mu karena itu hak mu, tetapi Bunda sangat sedih rasa nya melihat salah satu putri Bunda harus di lepaskan ke dunia luar yang sangat kejam dan penuh tantangan, ingat Clara berhati-hati lah dalam bertutur kata dan sifat mu itu, Bunda tahu kamu anak yang nakal tapi setidak nya jaga sikap mu dan bicara mu kepada orang yang belum kamu kenal" ujar Bunda Eti menasehati gadis itu dengan air mata yang sudah jatuh dari pelupuk mata nya.


"Baiklah Bunda, Aku akan mengigat itu" jelas Clara.


Rasa sedih yang mendalam tengah di rasakan oleh Bunda Eti gadis yang dulu masih sangat kecil dalam gendongan nya dan tidak bisa berbicara sekarang harus memilih jalan hidup nya sendiri, orang tua mana yang akan rela melihat anak mereka jauh dari nya, mungkin itu menyakit kan tetapi kehidupan tetap berjalan seperti sebuah roda tidak ada yang tahu kapan kita akan diatas dan kapan kita akan di bawah.

__ADS_1


Ke esokan hari nya


Seperti biasa Clara menyiapkan makanan untuk adik panti nya, hari ini Clara bangun lebih pagi karena Dia tidak ingin terlambat dalam hidup nya untuk kedua kali nya, setelah menyelesaikan semua pekerjaan Clara berpamitan dan menyusuri jalan desa yang masih belum di aspal itu, suasana pagi yang begitu indah membuat Clara menikmati perjalanan nya dan tidak terasa Dia sudah ada di persimpang jalan besar. Clara melihat ke arah kiri kanan menengok angkot nya itu.


"Apa terlalu pagi yah? Tapi tadi udah jam 6.23 seharusnya sekarang udah jam 6.31" ujar Clara berdiri tegap itu sambil memainkan ujung jari nya dengan perasaan bosan.


Clara tertunduk menatap tanah sambil menendang nendang kerikil yang ada di sana, lalu tiba-tiba sebuah motor sport berhenti di depan nya, Clara tidak tahu siapa yang berhenti karena Dia menunduk dan hanya melihat bagian motor saja. Gadis itu mendongkak kan kepala nya, lalu melihat seorang laki-laki memakai seragam sekolah yang sama dengan nya memakai helm.


"Siapa ya?" ujar Clara dengan bingung menatap pria yang masih memakai helm itu.


"Gua" tutur Pria itu membuka kaca helm yang hanya memperlihat kan mata nya itu.


"Reyhan? Ngapain Lo berhenti, lanjut lah ntar telat beg*" ujar Clara menepuk kuat bahu pria itu.


"Lu yang beg* Gua berhenti, ya mau kasih tumpangan lah, ya kali mau beli cilok" kesal Reyhan menatap gadis cantik yang memiliki rambut short hair dan mata coklat, kesan badan nya yang pendek dan kulit putih itu membuat semua orang akan beramsusi dia sangat manis dan seperti anak smp.


"Gamau nanti di serang R-One" ketus Clara membuang muka nya dan menolak ajakan Reyhan.


***

__ADS_1


Takdir terlihat rumit, tidak ada yang tahu apakah masih ada hari esok atau tidak?


-Gadis kecil itu istriku!


__ADS_2