Kekasih Polos CEO

Kekasih Polos CEO
BAB 92-MELAHIRKAN


__ADS_3

Shinta datang dengan membuka pintu dengan kuat, Dia terlihat sangat panik, ada dua orang pelayan rumah tangga yang Shinta ajak kedua pelayan itu terlihat menenteng masing-masing dua tas di tangan mereka. Varo dan Rere yang melihat itu merasa kaget dan lucu.


"Mommy ngapain banyak bawa barang, kita bukan mau piknik" ujar Varo mengatakan hal itu kepada Mommy nya.


"Mommy bingung bawa apa aja, jadi Mommy bawa semua baju Rere juga" tutur Shinta meletakan tas itu di atas sofa ruangan.


"Rere belum lahiran Mom masih konstraksi" ujar Varo menjelaskan kepada Mommy nya itu.


Rere melihat Ibu mertua nya itu sangat antusias hanya bisa tersenyum bahagia mendengar pembicaraan Ibu dan anak nya. Tiba-tiba perut Rere kembali terasa sakit yang hebat.


"Mas, sakit mas" ujar Rere mencengkram kuat ujung kasur.


"Darah? panggil dokter!" teriak Varo kepada seluruh orang yang ada di ruangan itu.


Shinta yang melihat itu langsung memencet tombol yang ada dinding untuk memanggil dokter datang secepat nya ke dalam ruangan mereka. Lalu dokter datang secepat nya ke ruangan keluarga William.


"Maaf Tuan seperti kita harus mengambil tindakan operasi caesar" ujar dokter itu melihat kondisi Nona William yang tidak memungkinkan untuk melahirkan normal.


"Ti ti dak dok Saya mau melahirkan normal" ujar Rere dengan raut wajah yang sendu.


"Tapi-" perkataan dokter itu terpotong akibat Varo berkata terlebih dahulu.


Varo mendekat kepada istri nya dan mengelus nya dengan perlahan.


"Sayang tolong ini demi diri mu dan anak kita" ujar Varo menjelaskan itu kepada istri nya.


"Mas tapi aku ingin menjadi seorang Ibu yang sesungguh nya seperti orang lain yang bisa melahirkan normal" ujar Rere mengegam tangan Varo.


"Kau melahirkan dengan tidak normal bukan berarti Kau tidak menjadi seorang Ibu yang sesungguh nya sayang, ini juga perjuangan mu sayang" tutur Varo memberi pengertian kepada istri nya itu.

__ADS_1


"Baiklah" ujar Rere tersenyum getir.


"Oke, semua siap kan ruang operasi, kita akan melakukan operasi sekarang" perintah dokter kepada perawat itu.


Brangkar Rere di dorong menuju ruang operasi, tangan Varo terus di gengam nya hingga pintu ruang operasi itu, Varo juga ikut menemani istri nya dengan memakai baju operasi seperti dokter. Varo ingin menemani istri nya saat operasi tersulit bagi nya, di ruangan operasi Varo melihat secara langsung bagaimana operasi berjalan, tanpa di sadari air mata nya turun jatuh melihat keadaan istri nya.


'Sayang berjuang lah, Mommy seperti nya Varo sudah menjadi anak nakal dan menyusah kan mu' batin Varo yang melihat betapa susah nya menjadi seorang Ibu.


"Anak pertama laki-laki"


"Anak kedua laki-laki"


"Anak ketiga laki-laki"


Dokter meletakan bayi yang masih terlihat berlumuran darah itu. Varo tersenyum melihat anak nya itu dengan bahagia. ketika anak terakhir di keluar kan.


"Anak ke empat Perempuan" ujar dokter.


Di luar ruangan operasi


Terlihat semua orang yang di sana sudah banyak berkumpul dari keluarga William Adrel, Shinta Serta para sahabat Varo dan Rere yang mendampangi Reno, Axel, Clara dan Anggun itu mereka terus berdoa agar di berikan kemudahan dalam proses melahirkan Rere.


"Dad, Mommy khawatir sama Rere" ujar Shinta memeluk suami nya itu.


"Jangan berpikiran yang negatif, kita doa kan saja yang terbaik" ujar Varo menenang kan Shinta ke dalam pelukan nya.


Setelah beberapa jam melewati operasi, kini keluarga William tengah berbahagia melihat cucu atau pun anak mereka sudah di pasti kan sehat di ruangan terpisah, tapi entah kenapa kondisi Rere saat ini sangat aneh, selang pernafasan yang terpasang di hidung nya menandakan gadis itu sedang tidak baik-baik saja.


"Maaf kan kami tuan, ini sudah di keluar ke hendak kami, Nona mengalami pendarahan pasca operasi caesar, kehamilan muda dan anak kembar sangat berisiko bagi nya terlebih catatan medis anak kembar empat masih jarang terjadi, kami sudah usaha semampu kami, Nona Regita mengalami koma" ujar dokter itu menjelaskan secara detail.

__ADS_1


Varo sudah mendengar hal itu saat melihat para dokter panik dengan keadaan istri nya saat di ruangan operasi tadi, kondisi Rere masih belum di ketahui keluarga nya kecuali Varo saat ini. Pria itu terus mengegam tangan istri nya dengan raut wajah yang tidak dapat terbaca lagi, Varo hanya diam tanpa menjawab perkataan dokter yang memimpin jalanan nya operasi tadi.


"Tuan saya pamit dulu, kita akan memeriksa dan mengawasi keadaan biologis nona setiap saat" ujar Dokter itu pamit meninggalkan ruangan dimana Rere yang sudah di pindah kan itu.


Di sisi lain para keluarga tengah berbahagia melihat cucu mereka dan mengendong nya dengan perasaan senang dan haru, semua mendapat kan bagian untuk mengendong si kecil itu sebelum di pindah kan ke ruangan Rere. Varo meminta untuk memindah kan bayi mereka ke dalam ruangan Rere mungkin saja gadis itu bisa tersadar karena bisa mendengar dan merasakan interaksi bayi nya.


"Ututu cucu cantik Oma" ujar Shinta yang mengambil alih si bungsu anak perempuan itu.


Sedangkan Adrel tengah senang mengendong anak pertama dari Varo, lalu Clara dan Anggun juga mendapat kan bagian mengendong para keponakan mereka yang tampan itu.


"Aduh Rere anak nya kok tampan banget sih" ujar Anggun mengendong anak kedua Rere yang tengah tertidur lelap itu.


Anggun mengalih kan pandang nya kepada Reno yang terus memperhatikan nya mengendong bayi itu, Anggun pun mulai melancar kan aksi nya untuk mendekati Reno dan menyuruh nya mengambil bayi itu.


"Pembantu mau coba gendong?" tawar Anggun kepada Reno.


"A a a aku? tidak usah, nanti jatuh" ujar Reno langsung menolak hal itu.


"Aku paham dari raut wajah mu, Kau pasti ingin mencoba mengendong nya kan" ujar Anggun menatap Reno dengan tatapan mengejek.


"Cobalah Reno, kau juga suatu saat menjadi seorang ayah, belajar dulu saja" ujar Shinta menyarankan hal itu.


"Ba baiklah" ujar Reno dengan canggung.


Anggun memberikan gendongan anak itu ke tangan kekar Reno dengan hati hati, terlihat Reno yang sudah mengambil alih bayi itu, tatapan nya sangat kaku mengendong anak itu, Dia hanya diam berdiri tanpa mampu bergerak sedikit pun.


"Pftt haha lihat lah ekspresi mu, sangat lucu" tawa Anggun menatap Reno yang memasang ekspresi seperti orang gugup dan sangat kaku itu.


"Santai saja bro" ujar Axel menepuk bahu Reno secara tiba-tiba.

__ADS_1


"Hei jangan menyentuh ku, nanti bayi nya jatuh" umpat Reno dengan kesal kepada Axel yang mengoda nya.


__ADS_2