
Axel yang sedang rapat itu meninggalkan ponsel nya di ruangan nya, setelah beberapa jam selesai rapat baru lah Axel yang ingin menghubungi Mommy nya itu kaget ketika melihat notif dari Pak Entis yang bertuliskan "Tuan tolong selamatkan Nyonya dan Nona, mereka di sekap oleh beberapa orang tidak di kenal saat kita sedang menuju ke sekolah, Tuan tolong secepat nya, Saya berpikir tidak akan bisa menahan puluhan orang tidak di kenal ini" tulis pesan tersebut bersamaan sebuah lokasi terakhir kali Pak Entis berada.
Brak..
Axel dengan wajah terkejut mengebrak meja nya, Roy yang melihat itu sangat kaget ketika melihat Tuan seperti sangat emosi dan panik betcampur menjadi satu.
"Roy Kau telpon Varo, dan minta tim Aeros menyelidiki jalanan seluruh Ibu Kota, dan lacak keberadaan tempat terakhir kali Clara dan Alisa berada!" tegas Axel mengambil jas nya.
"Tuan apa Nyonya dan Nona baik-baik saja" ucap Roy yang juga panik.
"Kau cepat telepon mereka, ini sudah mendesak"bentak Axel kepada Roy yang mengikuti langkah nya keluar perusahaan.
'Sial ini sudah dua jam semenjak kejadian' kesal Axel memukul setir mobil.
Sementara Roy duduk di samping dan Axel mengemudi, Roy sangat sibuk menelpon Varo beberapa kali dan meminta pertolongan kepada Aeros untuk melacak pengawal siapa yang berani berurusan dengan Arnolda.
"Baiklah kalian langsung saja kesini, Aku akan meminta Samuel untuk melacak nya" ujar Varo di seberang telpon.
Axel langsung menyetir dengan kecepatan tinggi menuju markas Aeros, ekspresi pria itu sudah tidak dapat di baca lagi entah Dia marah sedih panik atau pun gugup tidak ada yang tahu, yang tahu Roy saat ini sangat jantungan karena Tuan nya membawa mobil seperti mengajak nya bunuh diri bersama. Mobil Axel sampai di markas Aeros, pria itu langsung masuk ke ruangan Samuel di sana sudah ada Varo dan juga Reno.
"Kami sudah melacak lokasi terakhir mereka, dan mengidentifikasi semua pria yang datang menyekap istri dan anak mu" jelas Varo kepada sahabat nya itu.
"Dimana lokasi nya saat ini" ujar Axel langsung to the point.
"Bersabarlah Tuan Axel, Aku sedang mengerjakan ini dengan otak bukan mulut" ujar Samuel yang fokus dengan monitor nya saat ini.
__ADS_1
Hanya butuh waktu dua menit untuk seorang Samuel mendapatkan lokasi orang yang menyekap keluarga Arnolda itu.
"Lokasi nya di gudang terbengkalai milik evenz club" ujar Samuel menandai lokasi tersebut.
"Roy Kau siapkan helikopter Ku, kita langsung lumpuhkan pertahanan mereka, ajak semua Bodyguard keluarga Arnolda tanpa terkecuali dan bawa semua Anggota Black Devil, suruh mereka menyiapkan senjata, kau segera laksanakan itu semua!! Berani sekali Dia menyekap istri dan anak ku, Varo kau bantu ajak anggota Samuel" ujar Axel memerintahkan semua orang di sana.
"Hei apa kau tidak terlalu berlebihan, evenz club hanya sebuah perusaahn bangkrut kecil" ujar Varo kepada sahabat nya itu.
"Tidak ada masalah yang kecil jika itu berkaitan dengan istri dan anak ku" gumam Axel dengan tatapan membunuh nya.
'Wah lihat lah pria tua ini, kenapa Aku selalu kalah keren dari diri nya, seharus nya Aku seheboh diri nya ketika istri ku diculik, bodoh Varo mana mungkin Aku mau hal itu terjadi lagi' batin Valo mengelengkan kepala nya.
"Baiklah, kita lumpuhkan pertahanan mereka, tanpa ada satu pun yang terlewat Tuan Axel Arnolda" ujar Varo kepada sahabat nya itu.
Saat ini Alisa tengah tertidur dalam pelukan Clara bukan karena gadis itu pingsan, tetapi karena Clara meminta agar gadis itu tidak terus ketakutan, Clara memeluk erat tubuh anak nya itu tanpa boleh siapa pun mengizinkan mendekati diri nya dan putri nya itu. Suara seseorang pria marah di sebalik pintu masuk itu terdengar sangat jelas di telinga Clara.
'Tuhan tolong jaga putri ku' batin Clara.
"Apa kalian yakin mereka keluarga Arnolda!" bentak pria itu kepada pengawal nya.
"Saya yakin Tuan, keluarga Arnolda memang tidak suka terlalu mencolok di media terutama CEO mereka, tetapi bukan berari tidak pernah itu sama sekali tidak ada, pria ini memang Axel Arnolda" ujar pengawal itu bergetar menjawab pertanyaan pria itu.
Pria itu meremas foto CEO Arnolda corp itu dengan kesal dengan tatapan bercampur rasa sakit dan kesal.
"Sial ternyata Dia bukan hanya seorang guru" gumam pria itu.
__ADS_1
Pria itu membuka pintu tempat Clara dan Alisa berada, Clara yang melihat langkah kaki seseorang itu menambah kuat pelukan nya kepada Alisa, tatapan Clara sangat terkejut ternyata pria itu adalah Reyhan, pria yang sangat Dia kenal.
"Rey? Kok disini, Lu mau bantuin Gua yah" ujar Clara menatap pria itu.
Reyhan tidak bergeming sama sekali Dia hanya menatap Clara dengan tatapan bersalah kepada gadis itu sambil menghela nafas nya dengan kasar. Seorang pengawal pria masuk.
"Tuan, seperti nya keluarga Arnolda belum bertindak" ujar pengawal itu.
"Tuan? Apa maksud nya ini Rey! jangan bilang Lu yang berusaha culik Alisa!" ujar Clara dengan suara bergetar menatap Reyhan.
"Maaf Cla" tutur Reyhan menatap gadis yang Dia cintai itu.
Reyhan berusaha mendekat kepada Clara, tetapo gadis itu berusah mundur dari duduk nya dengan wajah ketakutan dan badan yang bergetar menatap Reyhan, pria itu sangat terluka saat melihat gadis yang Dia cintai melihat nya sekarang sebagai pria jahat, Reyhan sangat menyesal ternyata dendam nya kepada keluarga Arnolda berujung penyekapan kepada gadis yang Dia cintai sendiri, Reyhan tidak menyangka sama sekali ini bisa terjadi.
"Cla, sorry Gua gatau kalau Lu ada hubungan nya sama keluarga Arnolda" ujar Reyhan berusaha menengkan Reyhan.
"Jangan pegang Gua Rey, apa maksud Lu keluarga Arnolda, jangan berani Lu yah gangguin Keluarga Gua Rey, mereka sekarang keluarga Gua, ada masalah hidup apa Lu sampai mau culik anak Gua!" teriak Clara kepada Reyhan.
"Anak? Haha sekarang Lu juga udah ngaku dan anggap Dia anak Lu yah, kayak nya kisah hidup Lu sama Pak Axel lancar banget" ujar Reyhan menatap kacau gadis itu.
Alisa yang mendengar teriakan itu, merasa ketakutan, Alisa sebenar nya sudah bangun tetapi Dia memilih memejamkan mata nya dan memeluk kuat Clara tanpa berani membuka mata dan melihat sekeliling nya.
"Rey Gua minta baik-baik, Lu lepasin Gua, kita itu temanan Rey, bodoh Lu kalo berani nyekap Gua kayak gini" ujar Clara meminta pertolongan kepada Reyhan.
"Teman? Cuman Lu yang ngangap kita teman Cla, Gua itu suka sama Lu, ya tapi mau gimana lagi sih, Lu udah nikah, yaudah sih, tetapi Kalo Lu cerai Gua masih bisa nerima Lu gimana?" tawar Reyhan memegang dagu Clara sambil tersenyum.
__ADS_1