
Cklek..
Suara pintu terbuka terdengar dari luar ruangan, ternyata itu adalah Alessia, Dante, Ananda serta Lumuis yang datang ke ruangan Alice, wanita paruh baya itu berjalan gontai menghampiri anak nya yang terbaring dengan infus yang menempel di tangan nya.
"Alice, Kenapa sayang?"gumam Alessia yang tidak sanggup lagi berkata-kata melihat keadaan putri semata wayang nya.
Begitu pun dengan Dante, rahang pria itu seketika mengeras melihat anak nya yang sudah di penuhi luka, putri yang mereka jaga seperti berlian di keluarga Alferoz di gores seseorang yang tidak bertanggung jawab.
"Aku tidak percaya ini, Alice. Apa salah putri kecil kita, kenapa hanya Dia yang selalu di berikan cobaan oleh tuhan,"ucap Dante masih memapah tubuh istri nya yang lemah karena tidak sanggup melihat keadaan Alice.
Seketika ruangan itu menjadi di selimuti hawa kesedihan, tidak ada satu pun di antara mereka yang tidak terluka melihat keadaan Alice seperti itu, rasa sakit dan geram serta ingin membalas selalu tersimpan di lubuk hati mereka.
"Mom, Dad, maafkan Reno yang tidak pernah selalu benar menjaga Alice,"ujar pria itu merasa bersalah.
"Jangan salahkan diri mu Ren,"ujar Dante melirik putra sulung mereka.
Walaupun Reno tipe pria dingin, Dia akan sangat care kepada seseorang yang sangat Dia cintai dan sayangi, termasuk adik nya, Reno adalah tipe pria yang susah mengekspresikan perasaan nya, kata-kata nya yang kadang menyebalkan itu membuat nya kadang tidak di sukai orang.
"Hubby jangan salah kan dirimu, ini semua sudah jalan nya, tidak ada yang mengira bukan? Padahal kita lagi dalam posisi bahagia-bahagia nya, garis takdir tetap terus berjalan, kita sebagai benda yang di berikan nyawa hanya bisa terus meminta pengampunan serta berusaha yang terbaik, tanpa harus menyalahkan diri,"ujar Anggun kepada suami nya itu.
"Anggun benar Reno, jangan terus salah kan diri mu,"ujar Ananda kepada menantu nya itu.
"Terimakasih Ma, Pa, dan Mom, Dad,"ujar Reno masih mempertahankan tatapan nya ke wajah Alice.
Prank...
Suara besi yang tersusun rapi berjatuhan di ruangan eksekusi markas Aeros itu, tubuh seorang pria yang di ikat tangan nya menggunakan tali itu ke belakang, wajah nya belum babak belur, kecuali umpatan yang terus keluar dari mulut suci nya.
Kevin menghempaskan tubuh Mark ke depan, tempat Samuel duduk, seolah olah pria itu adalah bahan pertunjukan mereka selanjut nya, Kevin berjalan mendekati Samuel setelah melempar tubuh pria itu kasar secara jauh.
"Lewat beberapa detik Kevin, Kau masih kurang cepat,"ujar Samuel mengatakan itu tanpa melirik Kevin dan terus menatap Mark yang mulai ketakutan melihat Samuel.
"Seperti yang Anda katakam Saya belum sesempurna Anda,"ujar Kevin menunduk mengatakan itu.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, kerja bagus,"ujar Samuel berdiri dan mendekat kepada Mark.
Samuel mendekat dan menatap Mark sambil mengeluarkan senyum iblis nya, dengan kasar Samuel melepaskan ikatan tali yang mengikat tangan Mark itu.
"Ka kau bukan nya sepupu Alice tadi?"tanya Mark dengan tatapan gugup nya.
"Hoh, otak mu masih belum pikun,"ujar Samuel mengetuk kepala pria itu dengan ujung pisau nya pelan.
Sst..
Mark meringis kesakitan karena ujung pisau itu mengenai kening nya dan mengeluarkan titik darah yang kecil, Samuel menarik satu tangan Mark di sebelah kiri itu, sambil menatap tangan Mark, Samuel berkata.
"Apa tangan sebelah ini yang menampar Alice?"tanya Samuel.
Belum jadi Mark menjawab, Samuel berdiri dan menginjak dengan kuat tangan pria itu hingga mengeluarkan bunyi.
Krak..
"Akh... sakit,"
Drt... drt...
"Reno, Aku menemukan nya,"ujar Samuel yang langsung mengatakan itu tanpa menyapa.
Reno yang mendapat kabar itu, sontak langsung berdiri dari duduk nya dan memukul dinding dengan kuat, emosi nya memuncak dan rasa nya Dia ingin segera menyalurkan nya.
"Aku kesana,"ujar Reno mengatakan itu bersiap pergi.
"Jangan, Aku yang akan mengurus nya, Kau tetap jaga Alice, Dia membutuhkan mu, biar Aku ambil bagian ini, lagi pula jika kau memukul nya, darah nya akan mengalir, mungkin saja kau pingsan,"ujar Samuel sedikit bercanda agar Reno tidak terlalu tegang.
"Buat Dia menyesal karena sudah menyentuh berlian kita,"ujar Reno dengan tegas.
"Sesuai permintaan mu,"ujar Samuel.
__ADS_1
Tut.. tut..
Telpon berakhir, sebelum itu Samuel mengirimkan semua informasi yang Dia dapatkan melalui pesan kepada Reno, agar pria itu tidak bertanya-tanya lagi, selanjut nya Samuel memberikan ponsel nya ke Kevin lalu menyeringai.
"Mana pasangan bercinta mu, coba keluarkan!"ujar Samuel menatap kepada anak buah nya.
"Sam, Aku dan Axel akan kembali, karena istri kami menunggu, jangan terlalu berlebihan,"ujar Varo menepuk bahu pria itu.
"Benar, sebaiknya kalian balik,"ujar Samuel tersenyum melihat punggung kedua orang itu menjauh.
Bukan tanpa alasan Varo dan Axel pergi, seperti nya Samuel akan melakukan hal gila, mereka tidak sanggup melihat hal di luar nalar, kecuali para anggota Aeros yang sudah terlatih itu.
"Ini Tuan,"ujar salah satu anggota Aeros mendorong seorang wanita ke hadapan Mark.
Brak..
Tubuh mereka saling bertabrakan, sehingga membuat Lisa meringis kesakitan, rambut wanita itu sudah acak acakan, tatapan ketakutan terpancar di mata nya.
"Ayo kita bermain, kalian berdua akan menjadi Player, Aku yang memimpin, kalian harus memilih dua pilihan, bercinta di sini atau satu kata "Tidak" akan menjadi goresan indah di tubuh kalian,"ujar Samuel tersenyum.
"Kau gil@, mana bisa Aku melakukan itu di depan orang!"bentak Lisa menatap Samuel tajam.
Sungguh Lisa tidak tahu berbicara dengan siapa, dengan santai dan kasar nya memancing emosi seorang Samuel yang notabe nya pria iblis berdarah dingin.
"Kau yang gil@ bercinta dengan seseorang yang sudah memiliki status, Dia memiliki pacar gadis j@lang, kau terlalu bebas lady,"ujar Samuel tersenyum.
Sret..
Goresan tepat tersayat di dada Lisa, gadis itu berteriak dan meringis kesakitan merasakan mata pisau Samuel yang sakit tajam menyentuh kulit mulus nya.
"Ayo lanjut,"ujar Samuel tersenyum lagi.
'Iblis Dia iblis, Dia gila!' teriak Mark dalam diam nya.
__ADS_1
Beberapa kali Mark dan Lisa menolak dan goresan juga semakin banyak, hingga akhirnya Mark tidak sanggup menahan rasa sakit nya, Samuel juga belum menyerah dan terus mengulang nya, dengan gil@ Mark melakukan hubungan badan dengan Lisa, wanita itu hanya pasrah, semua anggota Aeros hanya diam melihat itu menjadi bahan tontonan, erangan kesakitan dan des@han menjadi satu, sementara itu Samuel yang menatap mereka hanya menatap jijik.
"Sungguh kotor permainan kalian,'