
Hari ini adalah hari bersejarah dalam kehidupan Rere. Sekarang dia tahu bahwasan nya sang ayah tidak pernah mencintai diri nya dan ibu nya secara tulus, pria itu hanya gila harta, tahta yang dimiliki oleh ibu Rere. Gadis itu menatap jalanan siang ibu kota yang cukup terik di siang hari ini, Rere dan Varo baru balik dari markas Aeros.
"Ibu sangat sial mendapatkan pria seperti ayah yang tidak pernah mencintai nya dengan tulus" ungkap Rere dengan menopang dagu nya menghadap keluar jendela mobil.
"Ya kau benar, aku akan memberikan mereka balasan setimpal atas apa yang mereka lakukan kepada ibu" sambung Varo mengusap kepala Rere dengan tangan nya yang fokus dengan jalanan.
"Mas apa kau benar-benar mencintai ku? aku tidak mau seperti ibu" ujar Rere sendu menatap Varo yang sedang fokus menyetir itu.
Varo yang mendengar ungkapan isi hati istri nya itu, menepi kan mobil mewah nya itu lalu berhenti, Varo melepaskan seat belt nya dan mengatup kedua pipi mungil cubby Rere dan menatap dalam mata gadis itu.
"Aku tidak akan seperti dia, aku tulus. Jangan sama kan aku dengan ayah mu ok" timpal Varo.
"Iya mas" kata Rere tersenyum lega karena sudah merasa lega dengan ungkapan suami nya itu.
"Tapi kalau ayah kamu kan gila harta tahta, kalo aku ke kamu mau liat apa harta tahta?" kata Varo tersenyum penuh arti mengeritkan kening nya dengan tanda tanya.
"Ha ha iya yah kamu benar, kan yang kaya kamu bukan aku huh" cemberut Rere melepaskan dan menghempaskan tangan suami nya itu.
"Ututu jangan ngambek sayang, sini peluk aku bercanda" bujuk Varo memeluk pinggang istri nya yang mulai membuncit itu dari belakang.
"Ngelisin dasar" sambung Rere dengan ketus.
"Kamu mau apa nih?" ujar Varo.
Rere langsung membalikan badan nya dan menatap suami nya dengan tersenyum penuh gembira.
"Aku mau es kelapa mas" tutur Rere mengoyang-goyangkan tangan Varo berharap akan langsung di berikan.
"Tentu, aku akan meminta Reno memesan dan mengantar nya ke mansion" setuju Varo mengiyakan permintaan istri nya itu.
"Tidak mau, aku mau es kelapa yang di jalan beli nya, gamau tau" desak Rere dengan kesal.
Rere tidak habis pikir dengan suami nya itu kalo ada apa apa, sedikit sedikit pasti Reno ada tugas ini Reno, ada itu Reno, dan urusan ngidam istri nya juga Reno. Rere berpikir sebenarnya suami nya ini terlalu bergantung kepada Reno tidak mungkin saat Reno menikah nanti dia tidak bisa melakukan semua perintah Varo lagi.
__ADS_1
"No, nanti baby kita ga suka, kan tidak higienis sayang" kekeh Varo kepada istri nya itu.
Dia tidak mengiginkan Rere memakan makanan dari luar selain masakan chef khusus keluarga William. Maka dari itu saat Varo bilang Rere mengiginkan apa dia langsung mengutarakan permintaan nya itu dengan antusias.
"Padahal ini permintaan baby-baby kita loh mas, iyah kan sayang mommy mau es kelapa yah?" tutur Rere berbicara sambil mengelus perut nya dan berbicara.
Varo mencubit gemas pipi istri nya itu karena ia melihat tingkah lucu istri nya itu "kamu yah dasar alasan" gemas Varo.
"Mas ga mampu beliin aku es kelapa mungkin yah?" sambung Rere dengan raut wajah yang nampak di buat buat terkejut dan tidak percaya.
"Mana mungkin, aku juga bisa membeli satu gerobok penjual untuk mu, sekalian dengan pabrik nya. Ayo kita beli dimana" tutur Varo dengan kesal karena di pancing oleh istri nya, dia memasang seat belt kembali dan melajukan mobil nya.
"disana mas"
'dasar di pancing begitu aja langsung pamer ha ha' batin Rere membantin melihat tingkah suami nya yang narsis itu.
Setelah beberapa menit tidak jauh dari tempat Varo dan Rere berhenti ada penjual es kelapa yang sedang mangkal disana, cukup ramai pembeli yang mengantri dan duduk disana menikmati jalanan ibu kota sambil meminum es kelapa.
Tanpa Varo sadari sang istri mengekor dan berdiri di belakang nya, Varo mendekat dan memesan kepada sang penjual, belum sempat Varo memesan perkataan nya sudah di potong oleh sang istri.
"mau berapa mas?" kata sang penjual es kelapa.
"Beli sat-"
"Dua ya mang, minum nya disini aja" sambunng Rere tersenyum di balik punggung suami nya.
Varo membalikan badan nya dan menatap istri mungil nya yang tersenyum memberi tanda dua jari. Varo merangkul tanga nya dan berdiri tegak menatap istri nya itu.
"Sudah mas bilang tunggu, nakal banget sih" ujar Varo.
"Jangan marah ayo duduk di sini" menarik lengan suami nya dan duduk di sebuah meja dan kursi yang di sediakan oleh penjual.
Varo hanya diam menatap jalanan dengan wajah datar karena sedang kesal kepada istri nya itu. para pejalan kaki yang melihat pria tampan sedang duduk termenung itu melihat ke arah Varo, tanpa mereka sadari dari jarak agak jauh para wanita sudah berkerum dan saling ingin meminta nomor ponsel pria itu.
__ADS_1
Siapa yang tidak tergoda dengan perawakan wajah tampan Varo yang berdarah campuran italia dan mata biru, tinggi semampai kulit eksotis dan hidung mancung.
"Ayo minta"
"kamu duluan gih"
"Barengan ayo"
Kata ketiga gadis SMA itu saling mendorong dan berinisiatif meminta nomor Varo.
"Kak boleh minta nomer nya ga" kata salah satu gadis itu dengan gugup dan berinisiatif dengan berani, aduh mental nya keras nih deketin suami Rere.
Varo melihat ke arah Rere yang sedang duduk itu, dia melihat istri nya menatap ke arah nya dengan kesal dan cemberut. Varo tersenyum miring melihat tingkah istri nya itu.
"Kalian tanya istri saya, boleh tidak?" sambung Varo menunjuk ke arah seseorang yang duduk di samping nya, nampak seorang gadis mungil yang manis yang masih muda itu.
"Aaaa maaf kan kami kak, saya kira kakak belum memiliki seseorang" ketiga gadis itu lari menjauh dengan wajah menahan malu itu.
"Senang kan yah, walaupun udah tau masih banyak yang suka" sindir Rere kepada suami nya itu.
"Aku tidak menyukai mereka, aku menyukai mu" ujar Varo tersenyum kepada istri nya.
Blushh~
Pipi Rere bersemu merah karena perkataan yang di lontarkan suami nya itu.
"Gombal" Rere membuanh wajah nya dan menetap arah lain.
"hei lihatlah gadis ini malu" kata Varo menoel noel pipi gembung istri nya itu dengan gemas.
"ish masss jangan gitu ah"
Bersambung..
__ADS_1