
Gadis cantik itu menatap ke langit-langit ruangan itu mengerjap kan mata nya beberapa kali untuk menormal kan penglihatan nya. Dia mendengar suara orang yang sedang berbincang dan suara anak kecil menangis, Rere menoleh ke samping dan melihat suami nya yang sedang makan dengan lahap serta jangan lupakan wajah kusam pria itu yang tidak terurus. Rere tersenyum lemah melihat pria itu dan mengarah kan tangan nya ke wajah suami nya itu.
"Jangan terburu-buru mas" senyum gadis itu dengan lemah.
Varo yang sedang makan itu seketika menoleh ke tangan seseorang yang sedang mengelus pipi nya dengan lemah itu, makanan yang ada di tangan nya itu seketika jatuh dari gengaman nya.
Prank...
"Varo apa yang kau lakukan, kau membangun kan anak Mu!" teriak Shinta menoleh ke arah Varo.
Oek.. oek..
Suara bayi seketika memenuhi ruangan itu, seolah olah mereka bangun bukan karena suara yang di timbul kan Varo, tetapi tangisan mereka untuk menyambut si Ibu yang sudah bangun dari tidur panjang nya, mungkin mereka merasa sudah saat nya mereka sedikit manja kepada orang tua nya.
Varo mendorong kursi nya dengan kuat dan memeluk istri nya dengan dalam, tidak ada suara tangisan dari pria itu, tetapi air mata nya terus mengalir tanpa henti melihat orang yang paling Dia cintai sudah bangun dan menatap nya dengan tersenyum.
"Syukur lah, terimakasih tuhan, terimakasih" ujar Varo memeluk istri nya itu dengan erat.
Rere membalas pelukan suami nya itu dengan lemah, dengan tangan yang masih terpasang infus itu Dia mengelus rambut suami nya dengan penuh kasih sayang.
"Terimakasih Mas, sudah menjaga mereka untuk ku" ujar Rere dengan senyum getir nya.
Varo melepas kan pelukan istri nya sehingga terlihat lah wajah Varo yang sudah di banjiri air mata, Rere mengusap air mata itu dari wajah tampan suami nya.
"Mas kenapa kau menangis? Apa kau tidak senang melihat ku" ujar Rere dengan senyum rapuh nya.
"Aku senang, Aku takut, Aku hanya takut, Aku sangat takut, tidak pernah sekali pun Aku membayang kan hidup ku tanpa mu di sisi Ku, Aku sangat bahagia, terimakasih sudah berusaha sayang" ujar Varo mengecup bertubi-tubi wajah istri nya itu.
Shinta yang melihat itu membuka mata nya dengan lebar, melihat menantu nya sudah merupakan anugerah yang paling berharga untuk keluarga mereka, begitu pun dengan Clara dan Anggun yang seketika menangis dengan keras melihat sahabat mereka telah bangun.
"Rere!!!" teriak Clara dan Anggun secara bersamaan itu.
Kedua gadis itu berteriak dari jauh dan menangis tersedu-sedu karena mereka tidak bisa mendekat karena sedang mendiam kan anak Rere yang sedang menangis itu. Pintu ruangan VVIP itu terbuka lebar dan terlihat dokter yang masuk dengan satu perawat, dokter itu memeriksa keadaan Rere saat ini.
__ADS_1
"Tuan William seperti nya Nona sudah lebih baik, tetapi untuk beberapa hari ke depan tetap harus di rawat untuk memantau ke stabilan kesehetan Nona" ujar dokter itu menjelas kan dengan detail.
"Baiklah, terimakasih dok" ujar varo.
"Kalau begitu saya pamit" tutur dokter berlalu pergi dari ruangan itu.
Rere menatap suami nya yang terus mengengam tangan nya itu dengan senyum nya.
"Mas kamu bau, belum mandi yah?" ujar Rere menyindir suami nya itu.
"Dia sudah ga mandi empat hari semenjak kamu koma Re, makan aja cuman sesuap" terang Shinta yang ikut menimbrung pembicaraan itu.
"Segitu nya kamu mas, demi gadis pembawa sial ini" ujar Rere tertawa penuh bahagia.
Varo menarik hidung mancung istri nya itu dengan gemas lalu tersenyum menatap manik cantik mata istri nya.
"Udah bisa ketawa sekarang yah, yaudah Mas mandi dulu" ujar Varo berlalu pergi menuju kamar mandi.
Shinta, Clara dan Anggun mendekat kepada Rere yang sedang terbaring lemah itu.
"Makasih Mom udah jagain kembar sementara" ujar Rere tersenyum mengengam tangan Ibu mertua nya itu.
"Sama-sama lagi pula kan cucu Oma nya juga" balas Shinta.
"Kasian tahu kak Varo tersiksa banget kayak nya ga ada kamu, Aku aja ga nyangka lihat orang nomor satu di dunia nangis kayak tadi" ujar Anggun menimpali perkataan Shinta.
"Kalo tahu sama media kayak nya bakal di tulis judul pria nomor satu di dunia sangat rapuh ketika bersama orang yang dia cintai" sambung Clara seolah-olah memikir kan hal bagus dari cerita itu.
"Haha kalo kalian berani kasih tau sih gapapa" ujar Rere tertawa mendengar perkataan teman-teman nya itu.
"Kayak nya ga berani deh" ujar Anggun menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal.
"Benar nanti di eksekusi langsung hih" ujar Clara yang mengatakan itu sambil merinding.
__ADS_1
"Haha"
Setelah selesai mandi Varo keluar dari ruangan itu dengan pakaian sudah terlihat rapi dan jauh lebih segar, Dia juga sudah mencukur bulu halus yang sebelum nya ada di wajah nya itu. Saat Varo melangkah kan kaki nya ke ruangan istri nya itu semua orang sudah ramai berdatangan ya seperti biasa nya tambahan para pria sahabat Varo dan Daddy Adrel, serta ada si kecil Alisa yang ingin melihat adik baru nya itu.
"Nah begitu kan Mas jadi tampan deh" ujar Rere menatap suami nya itu.
"Suami mu ini paling tampan" ujar Varo dengan bangga.
"Bukan mas lagi doang yang tampan" ujar Rere tersenyum manis.
"Maksud kamu? sayang kamu punya pria lain? siapa Dia aku akan memukul nya" ujar Varo mendekati istri nya itu menatap dalam dengan cemas.
"Tiga jagoan tampan kita, dan satu putri cantik kita, Apa kau ingin memukul nya?" ujar Rere menutup mulut nya seolah-olah mengoda suami nya itu.
"Itu tidak mungkin, Aku kira siapa" ujar Varo dengan cemberut.
"Mas aku mau gendong si sulung" ujar Rere meminta Varo mengambil anak nya yang sulung dari gendong Adrel.
Varo mengambil putra nya itu dari gendongan Daddy nya lalu memberikan nya kepada Rere, gadis itu sudah sangat mahir mengendong putra nya walaupun untuk pertama kali nya.
"Itu benar, kalian belum memberikan mereka nama" ujar Adrel memberikan pendapat nya itu.
"Aku sengaja tidak memberikan nama, menunggu istri ku yang memberika nya" ujar Varo menatap Rere yang sedang tersenyum itu.
"Apa tidak apa-apa kita yang memberikan nama nya Mom, Dad?" ujar Rere menatap Ibu dan Ayah mertua nya secara bergantian itu.
"tentu tidak apa-apa mereka anak kalian, benar kan Dad?" tanya Shinta menatap suami nya.
"Tentu Rere, itu hak kalian" sambung Adrel yang menimpali perkataan istri nya.
"Yaudah kamu mas, yang kasih sesuai kesepakatan kita" ujar Rere dengan senyum nya.
"1, 2 , 3 , 4" ujar Reno menatap Varo.
__ADS_1
"Apa maksud mu dengan angka angka itu Ren?" tanya Varo menatap asisten nya dengan bingung.
"Nama anak kalian, agar bisa lebih mudah di ingat semua orang" ujar si kaku itu dengan wajah datar nya tanpa bersalah menyaran kan nama seperti itu.