
Akhirnya meeting dari ketiga perusahaan itu sukses hari ini, rancangan desain produk baru akan di rancang oleh perusahaan Edward yang memiliki pendeseigner handal, sedangkan kedua perusahaan lain akan bekerja sesuai keputusan yang telah di tentukan.
"Baiklah kita akhiri pertemuan nya hari ini,"ucap Keenan kepada para petinggi itu.
"Terimakasih, Tuan Kim, dan Nona Edward, saya akan mengantar keluar ruangan,"ucap Keenan mempersilah kan itu.
Mereka berdua hanya mengangguk tanda setuju, dan jalan beriringan serta para asisten yang berjalan lebih dahulu itu, begitu pun dengan Reno memilih keluar karena ingin menuju cafee di bawah untuk memesan kopi.
"Nona Edward, apa Anda ada waktu sehabis ini?"ucap Kim Jeon melirik gadis itu.
"Seperti nya tidak Tuan Kim,"ucap Anggun menjawab dengan apa adanya.
"Jika berkenan, apa kita bisa pergi makan siang bersama,"ucap Kim Jeon memberikan senyum manis nya kepada Anggun.
Gadis itu yang mendapat senyuman hanya heran, dan tentu menerima ajakan itu, secara mereka adalah kolega bisnis, permintaan seperti itu sangat tidak baik di tolak untuk kerjasama mereka.
"Baiklah Tuan Kim,"ucap Anggun setuju.
Sementara itu Reno yang juga mengekor di belakang mendengar itu entah kenapa sangat kesal mendengar kalo Kim Jeon berusaha mendekati istri nya itu, tidak cukup Jason saja yang membuat nya rapuh jangan juga dengan pria berdarah korea selatan itu.
"Ekhem, Aku juga akan ikut,"ucap Reno yang berbicara itu dengan datar.
Mereka berdua yang berada di depan Reno melirik pria itu, lalu Anggun tersenyum sedangkan Jeon hanya memperlihat kan wajah tidak suka nya.
"Tentu, Tuan Alferoz kita kolega bisnis, tidak ada salah nya makan siang bersama, supaya mempererat hubungan,"ucap Anggun kepada pria itu tersenyum manis.
"Tidak masalah bukan Tuan Kim?"lirik Reno kepada pria itu yang terlihat masam.
"Tentu Tuan Alferoz,"ucap Kim Jeon tersenyum palsu itu.
Mereka akhirnya pergi ke parkiran perusahaan Alferoz itu, Anggun lebih dahulu pergi dengan Chen Fei sementara itu Reno dan Jeon yang ingin pergi itu entah kenapa saling menatap, asisten mereka yang sudah di dalam mobil hanya bingung.
"Tuan Kim, tidak baik ketika pekerjaan terlibat dengan sebuah perasaan loh,"ucap Reno menyindir pria itu.
__ADS_1
"Wah Tuan Alferoz seperti nya Anda sendiri tidak sadar diri,"ucap Jeon membalas perkataan pria itu.
"Saya tidak suka berbasa-basi, sebaiknya Anda jauhi Nona Edward, karena tipe pria nya bukan seperti Anda,"ucap Reno dengan suara dingin nya.
"Lalu seperti apa? Saya merasa tidak kurang dari berbagai aspek, saya kaya, pintar dan juga tampan, orang baru seperti Saya akan mendapatkan peluang yang lumayan,"ucap Jeon menekan kata-kata nya.
"Tidak sama sekali, seperti nya Saya akan lebih baik dari Anda,"ucap Reno kembali.
"Kita lihat saja nanti Tuan Alferoz,"ucap Jeon menyeringai menantang.
"Tentu,"ucap Reno datar.
'Kau kalah karena Aku suami nya, tapi Aku juga kalah karena Aku bukan pemilik hati nya,' batin Reno.
Akhirnya mereka berdua masuk ke dalam mobil masing-masing dan menuju restoran tempat mereka bertemu untuk makan siang, mobil Reno membelah jalanan yang sedang mendung, suasana hujan saat ini membuat bulu kuduk meremang, suasana dingin ini membuat seseorang ingin tidur di sebalik selimut mereka, beruntung bagi mereka yang di dalam mobil tidak langsung menyentuh udara dingin saat ini.
Beberapa menit akhir nya mereka sampai di sebuah restoran mewah di salah satu ibu kota, yang menghidangkan makanan dari berbagai jenis negara, tampak mobil Anggun dan Jeon sudah berhenti dan datang terlebih dahulu, pria itu memayungi Anggun untuk keluar dari mobil.
"Ck, sok akrab sekali itu si Kim,"decak Reno dengan kesal yang baru sampai itu.
Pria itu tidak mendengar dan hanya menerobos masuk ke dalam restoran dengan tatapan nya yang tidak lepas dari kedua orang itu.
"Silahkan Tuan, Nona,"ucap pelayan yang menyambut mereka bertiga itu.
Iringan musik okestra di suasana hujan, dan kaca restoran yang transparan sangat bagus menikmati hujan sambil makan, makanan yang hangat itu, Anggun melihat buku menu dan memesan makanan, begitu pun dengan yang lain nya.
"Tentu yang hangat akan lebih nikmat saat hujan seperti ini,"ucap Anggun memberikan buku menu kepada pelayan itu.
"Nona Edward, kalo boleh tahu seperti nya Anda adalah CEO wanita yang masih sangat muda, berapa umur Anda?"ucap Jeon membuka pembicaraan.
'Dasar sok sekali Dia,' batin Reno.
"Kau benar, umur ku masih 21 tahun,"ucap Anggun membalas seadanya.
__ADS_1
"Sangat muda sekali, pasti pria yang memiliki Anda akan sangat bangga memiliki seorang gadis yang pintar di umur semuda ini,"ucap Jeon dengan senyum nya.
'Tentu Aku sangat bangga pada nya, walaupun saingan ku banyak,' batin Reno kembali melirik dengan wajah datar nya.
"Anda terlalu memuji Tuan Kim, Anda sendiri seperti nya masih muda menjabat sebagai CEO,"ucap Anggun berbasa basi itu.
"Saya sudah 27 tahun Nona Edward, sudah siap berkeluarga,"ucap Jeon tersenyum itu.
'Berani sekali Dia mengatakan itu,' batin Reno dengan tatapan kesal nya.
"Haha seperti nya benar Tuan,"ucap Anggun yang malah menganggap itu lelucon seadanya itu.
Saat Jeon ingin menjawab sekali lagi, tapi para pelayan datang memotong pembicaraan mereka yang sedang asik, Reno hanya bisa tersenyum karena pelayan datang di waktu yang tepat sebelum pria itu melanjutkan perkataan nya dan mengoda istri nya lebih jauh lagi.
"Silahkan Tuan, Nona,"ucap pelayan itu meletakan makanan mereka.
"Wah wine,"gumam Anggun.
Pelayan itu juga menuangkan wine ke gelas mereka masing-masing, Reno melirik Anggun yang terlihat sangat senang dan berbinar ketika mendapat wine itu, dengan sigap Reno mengambil gelas itu dan menukar nya dengan air putih.
"Nona Edward, Anda tidak baik meminum ini bukan, Anda lebih tahu diri Anda sendiri,"ucap Reno membuka mulut nya itu.
Sementara itu Anggun melirik gelas wine nya menjauh hanya cemberut, perkataan Reno membuat gadis itu mengingat kejadian malam itu dan membuat pipi nya memerah.
Blush~
"A a anda sangat paham,"ucap Anggun dengan grogi menatap wajah pria itu.
"Hmm,"ucap Reno masih dengan wajah datar nya.
"Seperti nya Anda tahu baik Nona Edward, Tuan Alferoz,"ucap Jeon menyelidik itu dengan penasaran.
'Karena Aku suami nya,' batin Reno.
__ADS_1
Mereka bertiga akhirnya melanjutkan makanan, dengan pikiran serta obrolan yang larut pada pikiran masing-masing, seperti nya Reno harus jauh lebih berani lagi agar sang istri tidak jadi objek sasaran pria lain.