Kekasih Polos CEO

Kekasih Polos CEO
PART 90-PANIK


__ADS_3

Rere menatap dalam gambar itu, tanpa di sadari air mata gadis itu jatuh mengalir dari pipi nya. Varo yang melihat itu langsung duduk di sebelah istri nya dan merangkul bahu nya.


"Sayang kenapa kau menangis?" ujar Varo menatap bingung istri nya.


"Mas kalo Rere udah ga cantik, terus gendut begini, mas masih sayang ga sama Rere, atau mas nanti malah cari istri baru dan-" seketika perkataan gadis itu terpotong ketika Varo meletakan jari telunjuk nya di bibir manis istri nya.


"Astaga apa istriku akhir-akhir ini murung karena hal itu?" ujar Varo menatap Rere dengan senyum nya.


"Iyah" ujar Rere menganggukan kepala nya dengan cepat.


Varo membelai wajah gadis itu dengam lembut, dan menarik nya ke dalam pelukan nya yang hangat lalu berkata.


"Bagaimana pun kamu, mau gendut, mau kurus, pendek, tinggi apa pun itu, orang yang mas cintai adalah Regita Ananda bukan bentuk tubuh dan fisik nya, mas mencintai mu dengan tulus" ujar Varo mengecup kening istri nya itu dengan penuh kasih sayang.


"Beneran? janji" ujar Rere memberikan jari kelingking nya kepada Varo.


"Haha, mas janji jari kelingking nih janji" ujar Varo membalas jari kelingking istri nya itu, lalu kembali mengecup kening istri nya.


Ekhem..


Deheman itu seketika menyadarkan kedua pasutri yang tengah di mabuk asmara itu, mereka seketika tersadar bahwasan nya masih ada orang di dekat mereka ketika itu.


"Ingat tempat bro, di sini banyak orang, ga kasihan apa" ujar Axel menyindir sahabat nya itu.


"Wah duda banyak bacot, Aku dan istri ku ini sudah halal cuman ciuman di sini tidak apa-apa, kalau iri cepat nikahi Clara" ujar Varo memberikan penekanan pada setiap kata-kata nya.


"Benar loh pak Axel nanti keburu di ambil orang" balas Rere tertawa lucu menatap Clara yang hanya diam dengan pipi nya yang sudah memerah itu.


'Aku juga bisa seperti mereka' batin Reno menatap dengan datar.


Acara ulang tahun Rere dirayakan dengan sederhana dan bahagia, Rere mendapatkan banyak hadiah baju bayi dari kedua sahabat nya itu, malam itu di lewati dengan canda tawa serta makan malam bersama yang di sediakan langsung oleh chef ternama yang sudah di sediakan Varo, agar istri nya itu bisa bernafsu makan makanan yang enak. Malam itu dilewat kan dengan kenangan yang masih membekas sampai sekarang ini.

__ADS_1


Dua hari kemudian, ketika tengah malam saat itu Rere masih terbangun karena dia merasakan perasaan yang tidak enak pada diri nya ketika itu, Dia menatap malam yang sunyi dari dalam kamar nya itu, suami nya yang sesang tertidur pulas karena akhir akhir ini Varo memang sudah berkerja keras untuk menjaga dan mengurus segala kebutuhan istri nya itu. Suara dentuman jam terdengar jelas dengan ruangan yang sunyi, semua orang mungkin sudah tertidur karena memang sudah waktu nya tetapi tidak dengan Rere yang masih diam menikmati kesendirian nya itu. Tiba-tiba Rere merasakan gejolakan aneh pada diri nya itu.


"Aduh kok sakit yah" ujar Rere memegang perut nya yang kesakitan.


"Tenang Rere, mungkin ini konstraksi kayak biasanya huft huft" ujar Rere menenangkan diri nya dan menghembuskan nafas nya secara perlahan seperti biasanya.


"Akh masih sakit, kayak nya benaran mau lahiran, Mas mas bangun, Mas!!!" ujar Rere berteriak dan membangun kan suami nya itu dengan guncangan yang kuat.


Varo yang di bangunkan itu, seketika langsung terduduk dengan wajah linglung karena baru mengumpul kan nyawa nya itu dari tidur panjang nya.


"Kenapa sayang ada apa" ujar Varo menatap istri nya terlihat kesakitan dan terus memegang perut nya itu.


"Mas kayak nya Rere mau lahiran mas" ujar Rere memberitahu suami nya itu.


Seketika Varo hanya terdiam, otak nya tiba-tiba blank karena tidak tahu harus melakukan apa, Varo menyambar HP nya dengan tangan yang bergetar.


"Mas harus telpon siapa? mas harus apa?" ujar Varo menatap bingung siapa yang harus dia hubungi.


Bukan nya mereda Varo malah menjadi-jadi dan semakin gugup ketika itu. Entah siapa posisi nya di sini yang ingin melahirkan tetapi Varo yang lebih gugup dari pada istri nya itu.


"Mas panggil pemadam kebakaran yah, nomor pemadam kebakaran berapa yah?" ujar Varo dengan raut wajah yang panik lalu turun dari kasur dan berlari keluar.


Varo berlari menuju ke kamar orang tua nya yang tepat berbeda dua pintu dari kamar nya itu. Varo terus mengendor pintu itu karena tidak kunjung di buka oleh orang tua nya.


Brak.. brak..


"Mom, Dad" teriak Varo dari luar mengendor pintu kamar orang tua nya itu.


Seketika pintu ruangan itu terbuka memperlihat kan raut wajah kedua orang tua nya yang baru terbangun dari tidur nya itu. Shinta menatap kesal kepada Varo karena dia telah melanggar larangan tabu membangun kan tidur cantik Mommy nya itu.


"Ada apa sih Varo tengah malam begini malah berisik" ujar Shinta yang kesal karena di gangu tidur oleh anak nya itu.

__ADS_1


"Ini nih mom, cepat!" ujar Varo memberikan ponsel nya kepada Mommy nya itu.


Varo menyerah kan ponsel itu dengan tangan yang masih bergetar dan raut wajah panik, bibir pria itu sedikit pucat karena dia sangat panik dan tidak tahu harus berbuat apa, padahal pada hari sebelum nya Varo sudah mengigat hal apa saja yang harus dia lakukan ketika istri nya mendadak hamil. Tapi malah ketika hari H terjadi Varo malah panik dan melupakan semua hal yang telah dia pelajari.


"Apaan sih kok malah di kasih HP kamu" ujar Shinta yang mulai kesal dengan tingkah Varo.


"Nomor pemadam kebakarn berapa Mom, cepat!" ujar Varo mendesak Mommy nya itu dengan raut wajah panik nya.


"Pemadam kebakaran? masa sih rumah kita kebakaran" ujar Adrel dengan bingung.


"Bukan kebakaran Pa, Rere mau melahirkan cepat hubungi pemadam kebakaran!" ujar Varo mendesak Mommy nya itu.


Seketika Shinta memasang raut wajah kaget dan khawatir ketika Varo mengatakan hal itu secara tiba-tiba, betapa bodoh anak nya itu kenapa malah terpikir menelpon pemadam kebakaran, di saat Dia sebagai suami bisa mengantarkan langsung istri nya itu.


Pletak..


Shinta memukul kepala anak nya itu dengan kesal dan juga ikut panik.


"Aduh Mom sakit" ujar Varo memegang kepala nya yang kesakitan itu.


"Varo apa kau bodoh, buat apa menelpon pemadam kebakaran, kau bawa cepat istri mu ke rumah sakit!" teriak Shinta menyadarkan kepanikan anak nya itu.


**



Jika berkenan Yuk mampir ke cerita Author yang satu nya lagi, sebenar nya ini karya lama tapi karena mau lanjutin, Author mau ngundang pembaca Gadis kecil itu istriku! untuk mampir ke cerita Author yang judul nya


*Pl**ease Notice Me Profesor*!


Caranya bisa cari di daftar pencarian, Atau bisa juga pencet profil Author dan lihat cerita lain nya. Untuk Gadis kecil itu istriku! tetap update seperti biasa nya kok.

__ADS_1


__ADS_2