Kekasih Polos CEO

Kekasih Polos CEO
S2 BAB 66-PASAR


__ADS_3

"Jadi Aku juga?"tanya Reno dengan wajah datar nya kepada Axel.


"Kau, Kau, Kau dan Aku. Ck pria tampan apa nya kenapa istri ku bisa berpikir kalian tampan,"kesal Axel menatap Varo, Reno dan Roy bergantian.


"Walaupun Aku sudah punya anak empat, memang ketampanan ku tidak luntur, masih banyak wanita yang tahu itu, seperti istri mu contoh nya,"ucap Varo dengan bangga diri nya.


"Aku ikut saja,"ujar Reno dengan baik hati.


"Gaji ku akan di tambah lagi kan Tuan?"tanya Roy kepada atasan nya itu.


Sungguh ketiga orang itu membuat Axel sangat kesal melihat tingkah mereka, Axel hanya bisa memijit pelipis mata nya, Dia tidak akan melakukan ini jika bukan demi istri tercinta.


"Kalian akan Aku berikan kompensesi, ikut saja,"ucap Axel dengan kesal mengatakan itu agar semua teman nya itu menurut dan tidak lagi banyak berbicara.


"Dengan senang hati Aku akan meminta, kau bekerjasama dengan proyek baru dengan setengah harga menggunakan otak CEO Arnolda corp,"ucap Varo dengan puas mendapat kesempatan dalam kesempitan.


Hal ini adalah keberuntungan Varo karena dengan otak encer Axel pasti Dia akan bisa mengatasi semua masalah pada proyek baru nya, bukan Varo tidak mampu tetapi Dia tahu kalo Axel memang lebih hebat dari pada diri nya.


Sementara itu di Mansion Arnolda


Suara tawa denger keras dari ketiga wanita cantik yang sedang duduk di ruang keluarga mendegarkan cerita Clara, mereka adalah Rere dan Anggun.


"Haha ga nyangka Gua sih Cla, Lu hebat banget. Ngidam Lu bukan main main,"tawa Anggun kepada gadis itu.


"Tapi serius Re, Nggun Gua mau gitu aneh banget yah,"ucap Clara mengusap perut nya.


"Ga aneh kok Cla, Aku juga suka ngidam tapi emang ga pernah minta yang kayak kamu sih,"ujar Rere menatap Clara.


" Tante di sini ada baby yah,"ucap Lukas.


Pria kecil keluarga William itu mendekati Clara dan memegang perut Clara, si kembar saat ini sedang bermain bersama Alisa yang juga baru pulang sekolah itu.

__ADS_1


"Iya Lukas, nanti kalo baby nya udah lahir Lukas mau kan jadi teman nya?"ucap Clara dengan ramah.


"Oke Tante Lukas mau,"ucap Lukas menunjuk tangan hebot.


"Lenka juga,"


Ucap Lenka menunjuk tangan sementara, Luis dan Leon juga menunjuk tangan tapi dalam mode diam nya lalu melanjutkan menyusun balok dan kubuss yang mereka main kan saat ini.


"BTW, kamu kapan balik Nggun?"tanya Rere menatap sahabat nya itu yang tahu-tahu juga sudah datang ke mansion Arnolda.


"Udah dua hari yang lalu, Gua heran mau nyari pacar, tapi Mama Gua udah bilang Gua bakal nikah sama cowo yang waktu itu, tapi waktu kita mau acara keluarga mau kumpul, cowo nya ga datang, terus keluarga nya bilang anak nya butuh waktu 3 tahun lagi baru mau menjabat jadi CEO,"ucap Anggun menjelaskan itu semua kepada kedua sahabat nya.


"Cepat nyusul ya, nanti anak Lu kalo lama lahir beda jauh sama umur anak kita,"ucap Clara menyengol bahu gadis itu.


"Halah Dia kan udah tua calon suami Gua itu, pasti malam pertama juga langsung di jebol pengen cepat punya anak, Lu pada ga tau sih, kayak di film-film itu loh sama di novel, CEO yang umur nya udah tua cuman butuh harim gadis nya buat lanjutin perusahaan nya, Gua jadi ngeri,"ucap Anggun membayangkan nasib nya.


"Kebanyakan nonton fiksi ya begini,"ucap Rere mengelengkan kepala melihat tingkah Anggun.


"Bulan depan,"ucap Anggun dengan enteng nya.


Memang beberapa tahun ini Anggun tinggal di italia atas permintaan orang tua Anggun yang juga memiliki perusahaan mereka di sana, Anggun juga menyelesaikan S1 nya di italia, sementara itu kabar dari pernikahan nya seolah olah menjadi tidak jelas dan tidak menentu, Anggun hanya berpikir kalo memang belum pasti, Dia lebih baik mencari pria yang ingin Dia nikahi.


"Huh, tahu deh sama pemikiran Bokap Nyokap Gua, anak nya udah di gantung, masih aja mau nunggu umur anak teman nya itu tua, ga kasian apa lihat Gua nikah sama Om-om,"gerutu Anggun.


"Sabar yah friends mungkin ada hikmah di balik ini semua,"ucap Clara menepuk bahu Anggun.


"Sok ceramah Lu, udah kayak Mama dede aja,"ucap Anggun.


"Haha"


Di tempat lain, keempat pria menggunakan mobil sport mereka di kemudikan masing-masing oleh asisten, mobil itu sudah masuk ke perkarangan desa tempat panti Clara berada, memang di sana tidak jauh ada sebuah pasar, Roy memarkirkan mobil nya di depan panti begitu pun dengan Reno, mereka semua turun.

__ADS_1


"Pasar nya mana?"tanya Varo malah heran.


"Bentar mau ketemu mertua dulu,"ucap Axel yang mencari Bunda Eti.


Sementara itu Bunda itu yang melihat dua mobil mewah terparkir di depan panti yang sudah di rubah menjadi tempat yang bagus oleh Axel itu, Bunda Eti keluar dan terlihat sosok Axel yang sedang berdiri dengan para pria tampan lain nya, duh bule kok pada ngumpul sih.


"Nak Axel,"ucap Bunda Eti menghampiri pria itu.


"Bunda,"ucap Axel menyalimi wanita tua itu dengan sopan, walaupun Bunda Eti bukan Ibu kandung Clara, tetapi pria itu sangat menghormati nya terlebih lagu Dia tahu Clara sangat menyayangi wanita itu


"Ada apa kesini rame-rame?"tanya Bunda Eti melirik tiga pria yang berdiri dan menyeder di depan mobil, mereka tersenyum menyapa di balas anggukan oleh Bunda Eti.


Axel menceritakan permintaaan Clara kepada Bunda Eti, kali ini Bunda Eti tersenyum kecil mendegar cerita Axel itu.


"Begitu Bunda,"ucap Axel menyelesaikan cerita nya.


"Dekat kok itu pasar nya nanti lurus belok kiri, tapi jalanan pasar tradisional itu becek Nak Axel, nanti mobil nya kotor, lebih baik jalan kaki saja,"saran Bunda Eti kepada Axel.


"Makasih Bunda, oiya Bunda Axel bawa buah-buahan sama main buat adik-adik di dalam mobil, tapi Axel mau ke pasar,"ucap pria itu membuka pintu mobil nya.


Bunda Eti yang mengerti maksud Axel pun mengangguk.


"Nanti Bunda panggil Edo yang keluarin, kamu pergi beli kambing nya aja,"ucap Bunda itu tersenyum.


"Baik Bunda, Axel pergi dulu,"ujar Axel pergi bersama teman nya yang lain.


Ketiga orang berjas itu menyusuri jalanan pasar yang becek dan bau, mereka berempat jujur sama sekali belum pernah ke pasar tradisional, Varo menutup hidung nya menahan bau yang tidak biasa Dia hirup.


"Astaga, Aku bukan menghina, tetapi kebiasaan seseorang itu berbeda beda, kenapa bau bercampur campur,"ucap Varo menutup hidung.


"Cepat ke sana dan pulang,"ucap Axel yang menunjuk pedangan kambing yang sudah di beritahu Bunda Eti kepada Axel tempat pasti nya.

__ADS_1


Mereka berempat menjadi pusat perhatian para pedagang dan pembeli pasar, ya bagaimana tidak ke pasar pakaian nya rapi banget, pakai jas pakai sepatu, orang-orang terheran melihat ke empat pria tampan itu, sementara mereka hanya merasa aneh karena tidak tahu kenapa orang menatap mereka.


__ADS_2