Kekasih Polos CEO

Kekasih Polos CEO
PART 85-MENEBAK


__ADS_3

Kedua insan yang tengah berkelahi itu seketika diam dan berhenti saling menjambak. Mereka menatap satu sama lain, saat ini posisi Axel masih menindih tubuh Clara, keadaan mereka sangat berantakan, terlebih lagi pada rambut mereka yang terlihat acak acakan serta rontok dimana mana akibat perkelahian itu. Clara mendorong tubuh Axel lalu berdiri, begitu pun sebalik nya Axel langsung berdiri. Semua orang menatap mereka sambil menggelengkan kepala.


"Bro jadilah lebih dewasa ingat umur, apa kau tidak malu di lihat oleh anak mu sendiri?" ujar Varo menggeleng kan kepala nya menatap lucu tingkah sahabat nya itu.


"Kita hanya beda satu tahun, jangan melebih-lebih kan itu b*jingan" tutur Axel dengan kesal menatap Varo.


"Sama saja" ujar Varo menggoda Axel yang nampak marah terus itu.


"Kau menantang ku!" ujar Axel mendekat kepada Varo.


"CUKUP!!!!" teriak Shinta kepada kedua pria itu.


Shinta tidak habis pikir ternyata mimpi nya untuk membuat rumah ini agar terus ramai juga bukan hal yang terlalu bagus, lihat saja Varo dan Axel yang terus bertengkar dan tadi juga Clara ikut-ikutan.


"Kalian berdua diam! atau Mommy nikah kan" tegas Shinta dengan kesal menatap kepada dua pria dewasa itu.


"Kalo Om Varo sama Daddy nikah jadi nya Daddy Alica dua dong?" sambung gadis kecil itu kembali ikut pembicaran orang dewasa itu.


"Haha Alisa benar, Daddy kamu jadi dua, para Daddy jadi nya" tawa Anggun yang ikut menimpali.


Anggun yang sedang asik tertawa itu seketika merasa bulu kuduk nya merinding, Dia merasa ada orang yang menatap nya tajam. Ternyata dua orang yang barusan Anggun tertawakan menatap diri nya dengan aura membunuh, Anggun hanya tersenyum kaku menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal.


"Eh bercanda kok Pak Axel, Kak Varo beneran" senyum Anggun dengan kaku.


"Mom jangan berbicara seperti itu, Aku sudah memiliki istri lihat lah dia sedang mengandung anak ku" tunjuk Varo kepada Rere yang sedang menikmati drama di depan nya sambil memakan keripik kentang nya itu.


'Berasa nonton drama live action asik' batin Rere.


"Aku juga tidak mau yah Mom, Aku ini masih normal ish" ujar Axel menatap Varo dengan geli.


"Harus nya aku yang merasa seperti itu dasar pria tua, cepat cari Mommy untuk Alisa atau orang akan mengira kau homogen" celetuk Varo dengan kesal.

__ADS_1


"Bukan homogen mas, tapi homo" sambung Rere mengkoreksi perkataan suami nya itu.


"Benarkah? wah ternyata istri ku ini sangat pintar" ujar Varo mendekat dan memeluk manja istri nya itu.


"Tidak usah cali mommy lagi om valo, Alica udah punya Mommy di cini" ujar Alisa berlari dan memeluk kaki Clara.


"Kode keras nih, kalo begini judul nya jodoh mu di tangan anak mu Om duda Haha" tawa Varo mengoda Axel.


"Sudah-sudah kalian sudah tua, jangan seperti ini, astaga mommy sangat pusing, kenapa kalian bertingkah laku seperti orang gila" tutur Shinta memegang kepala nya itu sambil menggeleng.


Shinta kembali duduk tempat para wanita begitu pun juga Clara yang kembali berkumpul. Shinta merasa pusing kenapa anak anak nya banyak sekali tingkah nya semua seperti orang utan sangat penasaran.


"Anggun lanjutin dong yang tadi" ujar Rere kembali membuka pembicaraan itu.


"Mau lanjut apa, di ceritain juga ga bakal tau Re" ujar Anggun menatap teman nya itu.


"Maksud kamu?" sambung Clara.


"Yah Mama aku ga kasih tau bentukan nya gimana, satu pun aku gatau tentang cowo nya mau dari wajah umur mereka bilang nanti kalo udah balik dari Italia langsung bikin acara pernikahan nya" tutur Anggun yang hanya bisa pasrah itu.


"Bukan maen" ujar Clara menggelengkan kepala nya.


"Tapi sih kata nya itu cowo perusahan milik keluarga nomor dua dunia, Papa aku bilang begitu kalo ga salah dengar sih" sambung Anggun kembali.


"Wah jadi istri sultan nih bos" goda Rere menyengol bahu teman nya itu.


"Bodo amat sama uang mah Re, aku takut nya itu ternyata anak nya teman nyokap aku udah tua, botak, perut nya buncit Akhh" teriak Anggun menarik rambut nya sambil membayang kan apa yang dia bicarakan.


"Kalo udah gitu sih pasrah aja sama om om haha" ujar Clara tertawa dengan bebas.


"Teman menderita malah di ketawain nih juminten" ujar Anggun mencubit pipi Clara dengan kesal.

__ADS_1


"Akh sakit ih" tutur Clara memukul tangan Anggun.


"Kamu tadi bilang apa, perusahaan nomor dua di dunia?" ujar Shinta mengulang pertanyaan itu sambil mengerutkan kening nya.


"Iyah Mom, kenapa emang?" tanya Anggun menatap mom Shinta dengan bingung.


"Gapapa kok haha" tawa Shinta dengan ekspresi wajah yang menyimpan sesuatu yang tidak dapat terbaca itu.


Rere mengeluarkan ponsel nya dan mencari informasi di google tentang perusahaan terbesar nomor dua di dunia, ternyata informasi di google sangat tidak jelas, tidak ada satu pun foto tentang CEO perusahaan itu hanya terlihat foto CEO terdahulu atau yang dapat di pastikan calon mertua dari Anggun.


"Anggun lihat deh ga ada loh foto cowo nya, cuman foto bapak nya, calon mertua nih" ujar Rere memperlihatkan foto pria paruh baya yang dia dapat kan dari google.


Clara yang penasaran itu pun ikut mendekati posisi Rere lalu melihat ponsel gadis itu.


"Wah ini seratus persen bule ga sih Camer lu Nggun" ujar Clara dengan wajah terkejut.


"Kata nya keluarga mereka asli dari Italia, belum pernah ada darah campuran" sambung Anggun menjelaskan itu.


"Mom yakin nanti kalo udah nikah sama darah campuran, anak nya cantik dan juga ganteng" ujar Shinta ikut menimpali itu.


"Halu Mom, kayak yang tau aja" celetuk Anggun dengan cemberut.


Samuel yang sudah selesai dengan urusan nya itu menutup laptop nya lalu mendekati Varo dan Adrel itu.


"Tuan Varo saya besok akan kembali ke Italia" ujar Samuel langsung to the point.


"Secepat itu?" tanya Varo menatap pria kecil itu dengan serius.


"Iya, karena saya lebih nyaman berkerja dari sana, Anda tenang saja saya akan menjaga gerak gerik keluarga William secara terperinci seperti sebelum nya, walapun Saya bekerja dari jauh" sambung Samuel dengan tegas.


"Aku tidak pernah meragukan mu Sam, kita semua tahu kalau kau selalu menjaga keamanaan kami walaupun tempat mu itu sekali pun di planet yang berbeda" ujar Adrel menepuk bahu pria kecil itu.

__ADS_1


__ADS_2