
Citt..
Suara mobil di rem mendadak dari pengawal itu.
"Keluar atau saya tembak!" bentak dari orang yang menghalang laju mobil Shinta dan Rere.
"Mommy ada apa ini" Rere gemetaran dengan raut wajah ketakutan.
"Mommy juga tidak tau sayang" ujar Shinta memeluk menantu nya itu.
Supir yang mengendarai mobil Shinta dan Rere itu langsung bertindak dengan tenang dan melaporkan masalah ini kepada kepala bodyguard Perusahaan William group dan Aeros dengan cepat. Pengawal berjas hitam berbadan kekar itu merogoh ponsel nya cepat dan menelpon Samuel ke pusat dan mengirim informasi keberadaan mereka.
"Halo tuan Sam, kita di cegat beberapa segerombolan orang, aku sudah dapat memprediksikan bahwasan nya pengawal dari tuan Adrel akan kalah jumlah, saya akan mengirimkan lokasi kami!" ujar pengawal itu bertindak dengan tenang agar majikan nya tidak panik.
"Kau jaga mereka dengan nyawa mu! atau kau akan mendapatkan bayaran nya" perintah Samuel langsung mematikan ponsel.
Pengawal itu sangat tenang agar tidak salah dalam mengambil tindakan. Dari luar nampak segerombolan pria yang juga berjas hitam mengendor keras pintu mobil itu.
*Brak..
Brak*..
"Hei cepat keluar atau aku akan membunuh kaian semua disini!!" bentak beberapa orang itu, ternyata di dalam mobil boks yang mereka tumpangi masih ada beberapa orang lain nya
yang turun.
"Nyonya dan nona tenanglah aku akan menjaga kalian dengan pengawal lain nya kami akan menyerahkan nyawa kami demi kalian" ujar Pengawal itu turun dari mobil.
Perkelahian antara dua golongan berbeda itu tidak dapat di hindari, pengawal dari William memang kuat tetapi mereka kalah jumlah dengan pengawal berbaju hitam dan berpenutup hitam yang banyak itu, semua pengawal keluarga William itu sudah babak belur dan pingsan atau mungkin sudah meregang nyawa di tempat tidak ada yang tahu itu.
Brak..
Brak..
__ADS_1
Brak..
Gedoran pintu mobil semakin kuat dari luar menyuruh Rere dan Shinta untuk keluar secara paksa.
"Mom Rere takut mom" ujar Rere memeluk Shinta dengan kuat.
"Rere kita ikuti saja keinginan mereka dahulu, agar mereka tidak melukai mu, aku tidak ingin hal buruk terjadi padamu dan anak mu karena kita tidak menuruti mereka, apa kau setuju?" ujar Shinta menanyakan pendapat menantu nya.
Rere yang ketakutan itu hanya menganggukan kepala nya dengan cepat dan mengikuti perintah mommy nya, Shinta membuka pintu mobil dan mengandeng tangan menantu nya dengan kuat agar tidak terlepas, disana sudah ada beberapa banyak pria bertubuh besar menyambut mereka dari luar.
"Kalian lamban brengsek!" bentak salah satu pria itu melayangkan pukulan nya ke arah Shinta.
Satu pria lain nya menahan tangan pria yang hampir memukul Shinta itu.
"Tenangkan dirimu ingat kata tuan, kita tidak boleh menyakati nya walau hanya seujung rambut pun!" bentak pria yang satu lagi memperingatkan.
Ck..
"Menyebalkan" ujar Pria itu berlalu pergi dan masuk ke dalam mobil.
"Akh sakit" gumam Rere karena tangan nya di tarik dengan paksa.
"Jangan kasar kepada menantu ku! berapa yang kalian mau, aku akan memberikan nya!" bentak Shinta kepada semua orang itu.
"Ck banyak bacot" ucap pengawal yang lain.
Mereka berdua di tarik dan di bawa masuk ke dalam mobil itu, mata dan mulut mereka berdua di tutup dengan kain agar tidak berisik terus-terusan.
'Ya tuhan lindungi aku, anakku dan mommy' batin Rere dalam diam nya sambil menangis sesegukan.
Mobil yang mereka tumpangi terasa berhenti, dapat di tebak mobil itu sudah sampai dengan tujuan yang mereka ingin kan. Mobil boks hitam itu berhenti di sebuah hutan rimbun yang tidak berpenghuni dan hanya satu tempat seperti sebuah gudang yang sangat kotor dan banyak sarang laba-laba di sisi bangunan itu dari luar, Mereka berdua di tarik keluar dengan mata yang masih tertutup.
"Cepatkan langkah mu, atau aku akan menendang perut buncit mu itu!" bentak pengawal itu kepada Rere seperti yang terus mengulur waktu dengan berjalan sangat pelan.
__ADS_1
"Mmmm mmm mmm" tidak tahu yang apa di katakan Rere suara gadis itu tidak jelas dan seperti orang memohon.
"Jika kau tidak ingin cepatkan langkah kaki mu" ujar pengawal itu.
Mereka di bawa masuk ke dalam ruangan yang kotor dan gelap dengan penerangan yang redup itu, Rere dan Shinta di dudukan di sebuah kursi kayu lalu kaki dan tangan mereka di ikat di kursi.
"Kami sudah membawa mereka sesuai yang anda katakan bos" ujar Salah satu pengawal itu menghormati dia.
Pria yang memakai kacamata hitam itu, duduk di sebuah kursi yang mengarah menghadap langsung dengan posisi kursi Rere dan Shinta yang terikat itu, pria itu tersenyum dengan senang karena dapat menangkap sesuatu yang sangat berharga untuk umpan bagi nya.
"Haha kapan terakhir kali aku tertawa bahagia seperti ini?" ujar pria itu membuka kacamata hitam nya dan melemparkan nya di sisi ruangan.
"Kau cepat buka penutup mata dan mulut mereka aku ingin melihat ekspresi kejutan yang mereka hadiah kan kepada ku?" ujar pria itu memperintahkan itu kepada bodyguard nya.
"Baik tuan" ucap bodyguard itu.
Bodyguard itu membuka penutup mata Rere dan Shinta. Rere dan Shinta mengerjapkan mata mereka secara perlahan lalu mengambil nafas secara perlahan karena penutup mulut itu membuat pasokan oksigen mereka terbatas.
Hosh hosh
Shinta mendongkak kan kepala nya keatas dan mengerjapakan mata nya berulang kali agar dia bisa menormalkan penglihatan nya. Siapa orang yang ada di depan nya, mata Shinta terbuka lebar serta wajah dan kening yang mengerut den keterkejutan nya itu.
"Ka ka kau--" ujar Shinta dengan suara bergetar.
Suara Shinta tersendat entah kenapa mulut nya sangat susah membuka mulut kala menglihat siapa orang yang di depan mereka berdua. Pria itu tersenyum penuh kemenangan.
"Hei Shinta apa kabar mu?"
Disisi lain••
Di markas Aeros sudah berkumpul banyak orang terlihat mulai dari luar gedung sampai masuk ke dalam penjagaan yang ketat dan banyak nya para pengawal berjas hitam itu, bodyguard dari perusahaan keluarga William dan pengawal dari tim Aeros memang di bedakan, dan sekarang seperti nya perang antara dua golongan akan di mulai untuk mengejar sampai ke ujung bumi pun siapa yang berani mengusik kehidupan damai keluarga William.
Di ruangan eksekusi itu terlihat ada dua orang yang sudah terbunuh dengan tragis dan tangan pria kecil itu sudah penuh darah karena menyayat tubuh mereka, kedua orang itu adalah pengawal yang memata-matai markas Aeros secara langsung, Samuel yang berusaha membuka dan meminta petunjuk dari mereka tidak mendapatkan hasil mereka hanya menutup mulut dan memilih mati di tangan Samuel.
__ADS_1
"Sial" bentak Varo yang kesal melihat keadaan yang membuat mereka semakin terpojok.
"Tuan lihat tanda di leher mereka"