
"Mommy benar, Aku akan membawa istri ku ke RS, istri ku di mana mom?" ujar Varo yang masih panik itu.
"Varo sadar lah istri mu sendiri, kau tidak tahu, cepat Varo jangan panik seperti ini" ujar Shinta menguncang tubuh anak nya itu dengan kuat.
Tiba-tiba kamar Varo pintu nya terbuka, terlihat lah Rere yang keluar kamar sambil memegang perut nya dan berjalan tertatih-tatih itu Rere menuju tempat Varo dan Shinta yang sedang berdiri panik itu.
"Massss" panggil Rere kepada suami nya itu.
Varo yang melihat istri nya itu langsung berlari cepat menghampiri istri nya, dan mengendong tubuh istri nya menuju mobil yang sudah di siapkan oleh supir nya.
"Varo pergi lah terlebih dahulu Mom dan Dad akan menyusul dan menyiapkan baju untuk bayi kalian" teriak Shinta yang juga bergegas untuk berkemas itu.
Shinta menuju kamar baby yang sudah di siap kan oleh Varo jauh-jauh hari di samping kamar milik Rere dan Varo itu.
"Kain, baju? apa yah?! semua bawa semua" ujar Shinta memasukan apa yang terlihat ke dalam tas yang telah di siap kan oleh pelayan yang juga sudah terbangun itu.
"Mom cepat lah" ujar Adrel yang sudah siap untuk berangkat ke rumah sakit itu.
Mansion William sekarang sangat ricuh karena kepanikan menyambut kelahiran cucu pertama keluarga William, bukan hanya keluarga yang ikut panik tapi para pelayan supir dan karyawan yang ada di mansion William juga menyambut hal itu dengan panik di tengah malam itu.
Di dalam mobil menuju RS the internasional of William
"Huft huft hah huft hah" ujar Varo meniru istri nya yang mengambil nafas itu.
"Mas jangan ngelawak di saat seperti ini, ngapain mas Varo ngikut Rere" ujar gadis itu yang terus mengambil nafas.
__ADS_1
"Mas panik sayang, jadi ngikut aja" ujar Varo dengan wajah yang masih panik.
"Akh sakit mas" ujar Rere mencakar kuat tangan suami nya dan meninggal kan goresan akibat kuku indah milik istri nya itu menancap di lengan suami nya.
"Akh tangan mas juga sakit sayang" ujar Varo menarik tangan nya agar terhindari dari cengkraman Rere.
Rere saat ini berusaha mengontrol rasa sakit nya dengan cara melampiaskan dengan hal yang paling terdekat, rambut Varo juga sekarang jadi bahan sasaran jambakan oleh istri nya itu.
"Akh sa sakit" ujar Varo menahan teriakan nya itu.
"Pak ujang cepat nyetir nya" ujar Varo menepuk kursi kemudi itu dari belakang agar terdengar oleh supir nya.
"Baik tuan" ujar pria itu menambah lebih sedikit kecepatan nya agar tetap selamat.
Pak Ujang mengendarai mobil itu, membelah jalanan ibu kota di tengah malam yang sudah terlihat sepi oleh para manusia itu. Mobil pun sampai di depan RS, Varo mengendong istri nya dan memanggil para dokter untuk membantu nya.
Para perawat dan dokter yang melihat kedatangan pemilik RS itu langsung membawa brangkas dan meletakan Nona William itu, dan membawa nya ke tempat ruangan layanan VVIP khusus pemilik rumah sakit di lantai atas. Saat ini Rere hanya bisa terbaring sambil menahan rasa sakit yang dia rasakan mulas, nyeri perut yang menjalar pada punggung.
"Hei kenapa istri ku cuman di baring kan dia itu mau melahirkan" ujar Varo membentak dokter wanita itu.
"Tuan Varo istri Anda mengalami konstraksi, ini sudah pembukaan ketiga, hal ini wajar di rasakan Ibu hamil yang akan melahirkan" ujar dokter itu menjelaskan.
"Aku tidak mengerti" ujar Varo yang masih berdiri di depan dokter itu.
"Proses persalinan dibagi menjadi tiga tahap, disebut kala 1, kala 2, dan kala 3, dan kala 4. Kala 1 adalah masa dimana mulai terjadinya pembukaan leher rahim, dibagi menjadi fase laten dimana pembukaan berlangsung lambat, yaitu mulai dari pembukaan 1 hingga 3 cm yang berlangsung sekitar 8 jam, lalu diikuti fase aktif yang lebih cepat, yaitu pembukaan 4 hingga pembukaan 10 yang berlangsung sekitar 6 jam. Pada persalinan lebih dari satu kali, waktu ini biasanya lebih singkat. Sedangkan kala 2 adalah masa di mana bayi lahir seutuhnya, diikuti dengan kala 3 yaitu proses kelahiran plasenta. Kala 4 disebutkan waktu 2 jam selama pasca persalinan, ini berguna untuk memantau adanya pendarahan pasca persalinan" ujar dokter itu menjelaskan secara detail kepada tuan William itu.
__ADS_1
"Jadi istri ku akan melahirkan nanti pagi?" ujar Varo bertanya dengan raut wajah bingung.
"Ya seperti itu, tapi saya dan para perawat tetap akan berjaga di kantor kerja kami, anda bisa menemani istri anda terlebih dahulu" ujar dokter itu pamit dan berlalu pergi.
Varo menjatuhkan tubuh nya di sofa dengan kuat, dia mengusap wajah nya dengan gusar dan menghembus kan nafas nya menatap langit-langit rumah sakit itu. Rere yang menatap suami nya itu tersenyum tipis dan merasa lucu.
"Mas" panggil Rere kepada Varo.
Varo yang di panggil istri nya itu pun mendekat dan mengambil kursi agar bisa duduk di samping brangkas pasien itu, Varo mengegam tangan istri nya dengan erat.
"Apa masih sakit" ujar Varo mengelus pipi istri nya dan mengeser beberapa helai rambut yang menutupi wajah cantik Rere.
"Masih, Mas tadi kamu lucu" ujar Rere tertawa tipis menatap suami nya.
"Nanti kalo anak kita udah lahir, jangan pernah kamu ceritain yah" ujar Varo membalas menatap istri nya.
"Aku bakal ceritain kalo daddy nya panik bukan panggil ambulan tapi malah panggil pemadam kebakaran" ujar Rere tertawa dengan gemas.
Varo mencubit hidung istri nya itu dengan gemas lalu menatap dalam manik indah mata istri nya itu dengan senyum yang tidak ada habis nya itu.
"Maaf yah, Mas panik karena baru pertama kali, padahal waktu itu udah belajar dan ingat saran dokter harus ngapain aja, tapi pas malah di kondisi nya langsung terjadi mas seketika lupa mau ngapain aja, mas agak takut salah ambil tindakan untuk kamu" ujar Varo mengecup kening istri nya itu.
"Gapapa, Rere juga malahan tadi ngira nya bakal lahiran dulu, ternyata baru konstraksi, Rere ngertiin Mas panik juga karena Mas sayang sama kita" ujar Rere.
Saat kedua sejoli itu sedang memadu kasih dan cinta saling melempar senyum, tiba-tiba pintu ruangan inap VVIP itu terbuka lebar dengan hantaman yang kuat.
__ADS_1
Brak..
"Mana cucu Oma mana"