
Mobil mewah pemilik RS Alferoz itu datang dan terparkir rapi, para dokter atau pun semua yang bekerja di rumah sakit itu menghormati kedatangan pemilik RS itu, langkah kaki Reno yang besar itu sambil mengandeng tangan istri nya, walaupun Dia khawatir dan panik tetapi tetap harus ingat istri.
Reno sampai di depan meja resepsionis, dengan sekali lirikan Reno berkata dengan raut wajah datar nya itu.
"Nona Alice Alferoz sudah di pindahkan ke lantai para petinggi RS Tuan Alferoz, dokter yang menangani akan menjelaskan nya langsung di ruangan itu,"ucap perawat yang mengerti ke arah mana Reno akan bertanya.
Pria itu yang mendapat jawaban langsung pergi tanpa berkata apa pun, Anggun yang melihat itu hanya bisa ikut dan menerima tarikan tangan nya sambil mengucapkan terimakasih kepada resepsionis.
"Terimakasih,"ujar Anggun tersenyum ramah menjauh bersama Reno.
Para dokter yang memang mengetahui putra sulung Alferoz sudah menikah, tetapi tidak tahu menahu yang mana istri nya itu seketika yakin, wanita yang di gandeng itu adalah istri putra sulung keluarga Alferoz.
"Apa itu istri Tuan Alferoz?"
"Seperti nya iya,"
"Dia sangat ramah, Aku kira orang kaya akan selalu memandang derajat,"
"Kau benar, Nona Alferoz sangat sopan,"
Ujar para perawat yang berjaga di meja resepsionis itu menatap langkah Nona dan Tuan Alferoz itu menjauh menaiki lift Rumah sakit khusus itu.
Tin..
Pintu lift terbuka, lorong rumah sakit yang di lewati Reno dan Anggun di lantai paling atas ini sangat sepi di karena kan ruangan ini hanya khusus milik petinggi rumah sakit saja serta para tamu layanan VVIP, Reno menghentikan langkah nya tepat di depan pintu kamar ruangan Alice.
Anggun yang melihat Reno masih mengengam tangan nya, serta manik lekat mata biru pria itu memancarkan ketakutan melihat keadaan adik nya, Anggun mengusap punggung Reno sambil tersenyum dan mengangguk.
"Ayo Hubby,"ujar Anggun mendorong tekad pria itu agar cepat masuk dan melihat kondisi Alice.
__ADS_1
Reno yang mendapat tatapan dukungan dari sang istri tercinta berusaha agar tidak marah atau pun kesal.
Cklek...
Handle pintu itu di buka perlahan, Reno dan Angguk masuk ke dalam ruangan itu dengan dokter yang sedang memantau kondisi pasien, dokter itu memutar kepala nya medengar seseorang masuk.
"Reno, kau baru datang,"ujar dokter itu menatap pria yang di depan nya menghampiri kasur Alice.
Langkah Reno terhenti, Dia duduk di kursi dekat kasur Alice, wajah pucat serta bekas lebam di ujung kelopak mata, bibir kening dan leher nya terukir jelas di mata Reno, serta sebuah kapas yang menutupi kening nya sedikit, dapat diketahui itu adalah tempat jahitan.
"Separah ini,"gumam Reno mengengam tangan adik nya.
"Michele, apa Alice baik-baik saja?"tanya Anggun menatap dokter yang menangani kondisi adik ipar nya itu.
"Dia baik-baik saja, cuman luka fisik yang cukup banyak dan seperti yang kau lihat memar itu, sebenarnya ada apa Ren? Kenapa Dia bisa seperti ini,"ujar Michele menatap pria itu dengan penasaran.
"Aku belum tahu pasti nya, tapi ini mungkin gara-gara pacar nya,"ujar Reno masih menatap wajah Alice.
Bugh.. bugh..
Suara pukulan terdengar kuat di ruangan eksekusi bawah tanah markas Aeros, tangan Samuel sudah di penuhi dengan darah akibat memukul beberapa pria yang sedang terkapar itu.
"Ayo! Kenapa kalian tidak memukul ku lagi, berdiri! Tunjukan, bagaimana kalian menyiksa Alice!"teriak Samuel kepada beberapa pria yang sudah di dapat kan Samuel itu yang menganggu Alice.
Mereka tidak menjawab sama sekali, padahal satu lawan enam orang, badan mereka yang besar kalah dengan anak seumuran Samuel yang masih muda, keahlian nya dalam bertarung melebihi orang dewasa.
"Samuel, jika kau terus memukul nya kau tidak akan mendapatkan informasi kenapa mereka melakukan itu kepada Alice,"ujar Axel menatap pria yang sudah tidak waras itu karena emosi.
"Axel benar Sam, berpikir jernih, jangan lupakan tujuan mu,"ujar Varo menimpali ucapan Axel itu agar Samuel mengakhiri itu semua.
__ADS_1
"Baik,"ujar Samuel.
Pria itu duduk di atas sofa, baju kaus Samuel yang bewarna putih itu sudah ternoda karena darah, bau amis tercium jelas di ruangan itu, Kevin menghampiri Tuan nya itu, dan memberikan nya lap tangan untuk menghapus darah yang menempel di tangan nya.
"Bicara, sebelum kalian tinggal nama,"ujar Samuel dengan tatapan iblis nya.
Para tahanan itu seketika meneguk saliva nya dengan kasar, mereka berenam bersujud dekat sofa yang di duduki Samuel, Varo dan Axel itu, dengan gemetar dan suara yang masih mengeluarkan rintihan kesakitan mereka mengatakan semua nya.
"Tuan, maafkan kami, tapi Mark, pria itu memperkosa adik ku, Dia menghamili nya dan tidak mau bertanggung jawab, Saya hanya membalas dendam dengan menggunakan pacar Mark sebagai balasan, ta ta tapi Saya tidak tahu kalau Mark juga berkhianat dan tidak peduli kepada pacar nya,"ujar pria yang datang ke tempat karaoke yang menganiaya Alice itu.
"Kevin, kau dengar? Berapa yang kau butuhkan untuk mencari pria brengs3k itu?"ujar Samuel melirik bawahan nya.
"10 menit dalam sepuluh menit saja Tuan, Saya akan melempar nya ke sini,"ujar Kevin berlalu pergi dari ruangan itu bersama dengan yang lain nya.
"Kau sangat pintar beralasan, Aku turut kasihan atas apa yang menimpa adik mu, tapi kau tidak berpikir bagaimana kakak seorang wanita yang kau aniaya perasaan nya, Dia akan merasakan hal yang sama dengan apa yang kau rasakan,"ujar Varo kepada pria itu.
"A a aku tidak tahu, maaf kan Aku maaf kan Aku,"ujar pria itu terus menunduk bersama teman nya yang lain.
Varo melirik Samuel, mata kejam dan iblis pria itu tidak ada yang bisa mengerti keputusan dan keinginan hanya ada di tangan nya.
"Katakan itu kepada nya, karena Aku tidak menjamin,"ujar Varo melirik Samuel.
"Seperti nya pisau kuno ini sudah lama tidak merasakan darah segar, apa kau mau menjadi yang pertama?"ujar Samuel tersenyum menyeramkan.
"Ti ti tidak!!!"teriak pria itu.
Langkah Samuel kian mendekat, Samuel menarik dan menjambak rambut pria itu sehingga membuat nya mendongkak, dan mengores tulisan di pipi pria itu SaOnly, darah menetes dengan rintihan kesakitan.
Akh...
__ADS_1
"Jangan berteriak, jika kau berteriak Aku semakin ingin melukis tubuh mu dengan pisau ku,"