
Setelah hampir satu jam an lebih Rere di pindah kan di ruangan rawat inap dari ruangan operasi, Shinta yang datang mengantar kan cucu nya ke dalam ruangan menantu dan anak nya itu baru tahu bahwasan nya apa yang terjadi dengan kondisi kesehatan Rere. Semua orang sangat sedih dan bahagia di saat bersamaan.
"Gadis kecil Mommy sudah berusaha jadi Ibu yang baik, Rere dengan berani mempertaruh kan nyawa nya sendiri demi anak nya, cepat sembuh sayang" ujar Shinta mengusap wajah menantu nya yang hanya seperti orang tertidur lelap itu.
"Rere cepat lah bangun, dan lihat anak mu" ujar Anggun yang menangis tersedu-sedu samping brankar Rere.
Di sisi lain
Di sofa itu terduduk empat orang pria yang hanya bisa terdiam tanpa kata-kata, dan apa lagi Varo yang sudah tentu tidak bisa harus berbuat apa lagi, Dia hanya bisa bersabar dan terus berdoa. Varo hanya bisa menekuk kan wajah nya ke bawah.
"Daddy seperti nya aku harus merepot kan Kau untuk mengambil alih perusahaan kembali" ujar Varo yang tiba-tiba membuka pembicaraan itu dan menatap ayah nya.
"Tidak apa-apa, Kau fokus saja dengan kesembuhan istri mu" ujar Adrel menepuk bahu anak nya itu.
"Reno tolong dampingi Daddy untuk ke depan nya, tapi kau tetap memberikan laporan perusahaan kepada ku seperti biasa nya" ujar Varo beralih menatap Reno si asisten nya itu.
"Baik Tuan" tutur Reno mengiyakan perkataan tuan nya itu.
"Axel kau pasti sudah tau dapat bagian apa" ujar Varo menatap sahabat nya.
"Baiklah sementara aku akan menjalan kan Black Devil sendiri, agar keuangan nya tetap lancar" jelas Axel yang sudah paham permintaan Varo itu.
Sore hari nya semua orang berpamitan untuk pulang, begitu pun dengan keluarga William. Sebenar nya Shinta tetap ingin tinggal untuk menjaga cucu nya itu, tetapi Varo bersikeras Dia akan bisa mengatasi itu sendiri, terlebih lagi Dia juga bisa meminta bantuan Suster khusus keluarga William yang sudah berjaga di samping ruangan mereka, dengan terpaksa semua orang pulang dan meninggal kan Varo sendiri yang menjaga mereka.
__ADS_1
Dalam kesendirian nya itu, Varo menatap dalam wajah cantik istri nya, Dia mengelus pipi gadis yang biasa nya sangat cerewat dan tidak pernah berhenti berbicara kepada nya itu.
"Pertama kali aku bertemu dengan mu, membuat ku sangat kesal dan ingin pergi jauh, Cinta kita berawal dari kesalahan yang pahit satu sama lain sayang. Tapi tanpa Aku sadari hubungan yang awal nya hanya skenario ini membuat ku hanyut dalam dunia yang aku buat sendiri, dunia di mana seolah-olah kita adalah pasangan yang sangat saling mencintai, tidak di sengaja takdir mengikat kehidupan kita berdua yang saling terhubung. Mungkin dengan cara ini tuhan membuat ku memiliki orang yang sangat aku cintai seperti diri mu" ujar Varo tersenyum sendu menatap wajah istri nya yang terlihat sangat pucat itu.
Tidak terasa pria yang bersifat dingin, kejam dan Arrogant itu mengeluar kan air mata nya, Dia sangat sedih sampai air mata yang Dia tahan tidak dapat terbendung lagi, tangisan pria itu terdengar sangat pilu dan menyayat hati.
Hiks hiks
Tidak pernah sekali pun Varo menangisi suatu hal, dari kecil hingga dewasa Varo merasa Dia bisa mendapat kan apa yang Dia mau dan memiliki apa yang tidak dimiliki orang lain, Varo tidak pernah cemburu dan mengambil paksa apa yang di miliki orang lain karena dia tahu, Dia bisa memiliki apa pun yang Dia mau.
"Dari dulu aku tidak pernah meminta apa pun, tapi untuk kali ini saja aku meminta gadis kecil ini kembali terbangun dan tersenyum kepada Ku" ujar Varo mengengam tangan Rere dengan gemetar dan air mata yang sudah tidak dapat di kondisi kan lagi.
Saat kehilangan adik yang paling Dia cintai pun, Varo tidak menangis Dia hanya bisa emosi dan ingin terus membalas dendam nya atas kematian adik nya, tidak pernah sekali pun air mata nya runtuh dari pertahanan nya. Tapi kali ini berbeda dengan mudah nya gadis kecil yang dulu Dia anggap pembawa sial membuat nya dengan mudah menetes kan air mata.
"Sayang lihat lah putri kita Dia sangat cantik seperti mu"
"Dia juga tidak menangis, seperti nya kakak nya juga tidak menangis"
"Mereka seperti nya sangat paham dengan kondisi mu, sehingga tidak mau merepot kan Aku lebih dari ini"
"Sayang bangun lah dan lihat mereka"
Tiada henti nya Varo terus mengajak istri nya itu untuk berbicara, seolah dia merasa bahwasan nya gadis itu juga membalas ucapan nya.
__ADS_1
Waktu terus berjalan hari demi hari terus berganti, tepat empat hari setelah di tetap kan bahwasan nya Rere koma, sampai sekarang tidak ada tanda-tanda bahwasan nya gadis itu akan segera bangun dari tidur nya.
"Sayang bangun lah sampai kapan kau akan tidur" ujar Varo mengelus tangan istri nya.
Saat ini di ruangan itu ada Shinta, Clara dan Anggun yang juga datang berkunjung. Shinta yang melihat anak nya sudah beberapa hari selalu seperti itu sangat sedih dengan keadaan nya yang kini juga tidak kian membaik.
"Varo pergi lah mandi" ujar Shinta menepuk bahu anak nya itu.
"Tidak usah Mom, aku malas" ujar Varo yang masih terus menatap Rere dan tidak pernah mengalih kan pandangan nya sedikit pun.
"Kau sekarang sudah sangat terlihat tua, lihat janggut kau sudah tidak terurus, kalo Rere bangun pasti Dia kau merasa adalah kakek yang mengaku sebagai suami nya" ujar Shinta yang berusaha mencair kan suasana agar anak nya itu bisa tersenyum.
Tetapi Varo tidak menanggapi sama sekali hal itu, Dia hanya diam kembali dengan pikiran nya yang tidak di ketahui terus menatap istri nya.
"Setidak nya makan, makanan mu!" kesal Shinta kepada Varo mengacuh kan nya.
"Aku tidak ***** makan Mom" ujar Varo lagi-lagi pria itu menolak perintah Mommy nya itu dengan sekali perkataan.
"Varo jika kau terus seperti ini, bukan hanya Rere yang sakit tapi juga kau! Sebaik nya kau harus memikir kan hal ini lebih dewasa, bagaiman gara-gara kau kekurangan nustrisi kau bisa sakit, siapa yang akan menjaga anak mu? tolong jangan egois setidak nya makan sedikit demi anak mu yang membutuh kan Daddy nya" jelas Shinta dengan sedikit nada bentakan karena Varo sudah tidak dapat di peringat kan lagi.
Varo yang tersadar, juga baru berpikir dia tidak boleh sakit, siapa yang akan menjaga istri dan anak nya kalau diri nya juga ikut sakit. Varo memakan makanan nya dengan cepat tanpa jeda, Shinta yang melihat itu sedikit senang dan memilih membiar kan Varo yang makan dekat sisi istri nya itu.
Saat Varo sedang makan dengan cepat dan tergesa-gesa sebuah tangan menyapu pipi nya dengan lembut.
__ADS_1
"Jangan terburu-buru mas" senyum gadis itu dengan lemah.