Kekasih Polos CEO

Kekasih Polos CEO
Part 59 - Eksekusi 1


__ADS_3

Astaga Sam kenapa kau sangat pintar" puji Rere menatap Samuel yang duduk di seberang Varo dengan senyum yang mengembang.


"Jangan memuji ku kakak cantik, dari dulu aku memang di utus oleh malaikat untuk menjadi pria tampan dan berbakat" puji Samuel kepada diri nya sendiri sambil merapikan baju yang ia kenakan.


"Tapi kau tetap saja membuat istri ku terluka bajingan, aku tidak akan memberikan bonus bulan ini" geram Varo menatap Samuel yang duduk di bagian kanan Varo itu.


"Om come on, kenapa kau selalu mengancam uang ku aku tidak menyukai itu" Samuel merengek kepada Varo sambil menepuk-nepuk lengan pria itu dengan pelan.


Tanpa mereka sadari ada seseorang yang sudah sadar dari tidur nyenyak nya itu, suara pria itu meringis ia mengerjapkan mata nya, pria itu menatap sekeliling nya di ruang gelap dan penuh bau amis darah itu. Deren menatap lengan dan kaki nya terikat di atas kursi saat ini. Ia lalu mendengar sumber suara yang tepat berada di depan nya, Deren menatap disana ada Varo yaitu sang pesaing perusahaan nya serta Rere anak kandung nya yang tersenyum kepada Varo. Serta ada seorang pria kecil yang mungkin dapat Deren perkirakan bahwasan nya bocah itu masih SMP, bocah itu sedang merengek di depan Varo. Persetenan dengan keadaan yang ia lihat di depan nya itu ia hanya ingin di bebaskan saat ini.


"Bajingan lepaskan aku, apa maksud semua ini!" umpat deren yang terus meronta-ronta minta di lepaskan ikatan nya itu.


Samuel turun dari sofa yang tengah ia duduki dan berdiri di depan deren.


"Seperti nya tikus ini sudah bangun, apa kita bisa mengeksekusi nya sekarang tuan" seringai Samuel menatap Varo pertanda meminta persetujuan kepada nya.


"Jangan asal eksekusi tanyakan dulu informasi yang sebenarnya, kalau dia terbukti bersalah kita akan menjebloskan mereka ke penjara!" celetuk Varo kepada Samuel.


"Silahkan tanyakan, aku malas untuk menanyakan nya" sanggah Samuel kembali duduk di samping Varo.


Samuel sudah bangun pagi dari biasanya karena ia berharap akan mendapat sarapan pagi yang lebih menyenangkan dari makan roti dan susu yaitu mengores pisau baru nya dengan kulit manusia. Yang baru ia beli tadi malam.


"Rere minta suami mu untuk melepaskan ku! apa seperti ini kau melakukan seorang ayah mertua" teriak Deren kepada Varo itu.


Rere yang namanya di teriaki itu hanya bisa mencengkram kuat jas suami nya karena ketakutan akibat melihat tatapan ayah nya seperti ingin membunuh nya hidup hidup, Varo yang merasa ketakutan Rere itu merangkul istri nya ke dalam pelukan nya.


"Ha ha ayah mertua? kau saja tidak mengagap putri mu ada, bagaimana bisa aku mengagap mu ayah mertua ku, tua bangka" titah Varo dengan suara meninggi.


"Cuih, Dasar brengsek, permainan kalian sangat licik sekali" Deren meludah kearah Varo tetapi karena jarak mereka jauh ludah nya itu hanya terjatuh di lantai.

__ADS_1


'Sebenarnya kenapa ayah sangat membenci ku' batin Rere yang sendu menatap ayah nya yang sedang terikat.


Rere sebagai anak tentu tidak tega melihat ayah nya di perlakukan tidak hormat, tetapi saat Varo memberitahu nya siapa dalang pembunuhan itu, Rere hanya bisa membiarkan Varo bertindak dengan caranya sendiri untuk menghukum pria malang itu.


"Deren Abamsya seperti yang anda tahu, apa motif anda membunuh nyonya Risa Ananda" Varo langsung to the point sekarang tanpa berbasa basi.


"Ha ha motif? apa kau bodoh menuduh ku, tidak mungkin aku membunuh mantan istri ku sendiri dia itu penyakitan!" teriak deren dengan suara yang mulai serak akibat terus berteriak.


"Reno" kata Varo menegadah kan tangan nya kepada Varo tanda ia meminta sesuatu.


"Ini tuan" Reno memberikan semua bukti-bukti mengenai manipulasi data kesehatan Risa kepada Deren dan langsung memperlihatkanya di depan wajah pria itu.


"I i ni--" Deren berbicara dengan gugup menatap berkas berkas itu.


Seorang bodyguard menyeret pria paruh baya berkacamata bulat.


"Aku tidak mengena dial!"


"kalian memalsukan data ini"


"Rere apa kau bekerjasama dengan pria ini untuk mengambil harta ku"


Kata Deren menatap Rere dengan wajah mengancam dan merah menahan marah.


"Sungguh naif pemikiran kotor mu itu"


"Sam!" perintah Varo.


"Asik" Samuel pun mendekati Deren.

__ADS_1


Lalu menyayat pipi keriput pria itu dengan cara mengores nya secara perlahan-lahan dan keluarlah darah segar yang mengalir dari pipi itu. Varo menutup mata Rere dengan telapak tangan nya agar Rere tidak meliha itu.


"Mass, apa yang Sam lakukan" kata Rere hanya bisa pasrah tidak di izinkan untuk melihat itu.


"Akhhhh" teriakan Deren menggema ke seluruh ruangan itu dengas keras.


"Cukup!"


Samuel pun menghentikan aktivitas nya dan kembali duduk di samping Varo sambil mengelap pisau baru nya yang terkena darah itu dengan tisu.


'seperti nya pisau ini kurang bagus, aku beli saja yang baru setelah menerima uang' batin Samuel.


"Jangan ancam istri ku! atau kau akan menerima akibat nya seperti orang yang di belakang mu" ujar Varo.


Tanpa Deren sadari ternyata ada dua orang yang sudah terkapar dengan fisik yang sudah babak belur, mereka tidak terikat tetapi untuk bergerak saja susah apalagi kabur, seperti nya mereka sudah di siksa semalaman.


"Dokter adrian"


Dokter adrian adalah seorang yang memberikan suntikan mematikan ke dalam infus yang ada pada nyonya Risa sehingga ia meninggal dan tidak tertolong akibat obat berbahaya itu. dokter adrian yang memberikan kesaksian itu langsung di jemput oleh kevin ke amsterdam dan mencari keberadaan nya yang hidup sederhana setelah mendapatkan uang dari Deren atas rencana yang ia kerjakan.


"Tuan aku tidak akan menutup-nutupi ini lagi seumur hidup aku merasa di hantui oleh rasa bersalah, hanya demi uang aku rela membunuh pasien ku. Tuan Deren memberikan sebuah obat racikan kepada saya dan menyuruh nya untuk menyuntikan kepada nyonya Risa tanpa saya sadari ternyata obat itu memiliki efek mematikan. Dia memberikan uang kepada saya, tetapi uang tidak bisa menggantikan rasa bersalah yang ada padi diri saya. Tuan Varo tolong lepaskan saya. Saya memiliki istri dan anak yang harus saya hidupi anda pasti tau hal yang apa saya rasakan saat ini" Dokter Adrian memohon dengan perkataan yang pilu serta penyesalan yang terlontar dari mulut nya.


"Karena kau langsung berbicara jujur, aku akan melepaskan mu, tetapi kau akan menjadi saksi untuk menjebloskan pria ini ke penjara" tatap Varo kepada Deren.


Deren sekarang sudah tidak dapat berkutik lagi . semua bukti telah mengarah kepada nya. Serta rekaman CCTV saat ia memberikan obat itu kepada dokter dan saksi mata.


'Sial, dasar tua bangka tidak dapat di percaya'


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2