Kekasih Polos CEO

Kekasih Polos CEO
BAB 95- LUIS, LEON, LUKAS, LENKA


__ADS_3

"Hei Reno kalo kau bercanda jangan seperti itu" ujar Varo menatap asisten nya dengan kesal.


"Bercanda? Saya tidak bercanda tuan, saya hanya menyaran kan jika Anda berkenan, kalo tidak juga, tidak akan menjadi masalah" ujar Reno dengan menatap Varo.


"Bro kau kira anak Varo kiloan barang yang bisa di sebut dengan angka" ujar Axel menatap dengan tatapan menahan tawa nya itu.


"Pembantu, kenapa kau sangat jahat memberikan nama anak sahabat ku sejelek itu" ujar Anggun menepuk bahu kekar pria itu.


Bukan nya Reno yang merasa sakit gara-gara tepukan itu tapi malah tangan Anggun yang merasa sakit.


'Aduh, apa-apaan badan nya itu' batin Anggun menahan rasa sakit di depan semua orang.


"Seperti Anda yang lebih baik saja" balas Reno menatap gadis itu dengan tatapan datar nya.


"Aku lebih baik dari mu, bagaimana kalo Upin, ipin, Apin" ujar Anggun mengajukan ide nya itu.


"Satu lagi siapa?" tanya Clara menatap sahabat nya itu.


"Entahlah Aku juga tidak tahu, belum ada nama di kartun itu setelah kucing nya" ujar Anggun menggeleng kan kepala nya.


Plak..


"Aduh sakit Cla" ujar Anggun dengan cemberut menatap sahabat nya.


"Kau jangan bicara sembarangan lihat pawang Rere menatap mu dengan tajam" ujar Clara setengah berbisik mengarah kan pandangan mereka kepada Varo.


"Haha Aku bercanda Kak, silahkan lanjut kan, silahkan" ujar Anggun menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal.


"Reno dan Anggun kalian sangat parah dalam memberikan nama, seperti nya kalian memang berjodoh" ujar Shinta menatap dengan senyum nya yang mengejek kepada dua orang itu.


"Aku? dengan kulkas berjalan ini? sorry Mom ga level, calon suami ku itu anak dari perusahaan terkaya nomor dua di dunia" ujar Anggun berdiri dengan berkacak pinggang di depan semua orang.


"Dia tidak tahu saja berbicara dengan siapa" gumam Varo mengeleng kan tingkah sahabat istri nya itu.

__ADS_1


"Sudah kalian semua, kalo sudah berkumpul seperti ini ada saja yang di ribut kan" ujar Adrel menengah kan pembicaraan yang semakin menjauh dari topik utama itu.


Varo menatap istri nya lalu mengangguk, dengan senyum yang penuh bahagia, Varo mengusap kepala anak sulung mereka lalu berkata.


"Nama anak pertama kami ini Luis William" ujar Varo menatap anak sulung mereka.


Lalu Varo mengambil putra kedua mereka dan meletakan kembali di sisi ranjang istri nya itu, ranjang yang di tempati Rere memang berukuran lebih luas dari ranjang rumah sakit biasa nya.


"Anak kedua kami beri nama Leon William" ujar Rere mencium kening putra nya itu dengan senyum bahagia.


Lalu anak ketiga mereka yang ketiga juga di letakan di dekat Rere.


"Anak ketiga kami Lukas William" ujar Varo menatap semua orang yang ada di sana.


Varo mengambil putri kecil nya dalam gendongan Oma nya, lalu meletakan nya juga di samping saudara nya yang lain, saat nya nama putri satu-satu nya mereka yang ada di keluarga William.


"Gadis kecil kami satu-satu nya ini mungkin akan sangat manja karena cuman dia satu-satu nya cucu perempuan Oma dan Opa nya, nama nya Lenka Ananda William" ujar Rere tersenyum bahagia.


"Luis, Leon, Lukas, Lenka, nama yang bagus Varo" puji Adrel menatap anak nya itu.


"Tapi kenapa Lenka memiliki nama tiga kata sedangkan saudara nya yang lain tidak?" ujar Shinta dengan tatapan bingung.


"Rere mengigin kan putri kecil kita memiliki nama keluarga Ananda, karena Rere kelak tidak akan pernah melupakan masa lalu nya bersama Ibu Risa, Mom" jelas Varo menatap Mommy nya itu.


"Iyah Mom, hanya Lenka saja, Mommy apa tidak masalah?" ujar Rere menatap Ibu mertua nya itu dengan gugup.


"Tentu Rere itu tidak masalah pemikiran mu sangat bagus dan sederhana, maka dari itu aku harap putra dan putri kalian akan mewarisi sifat yang baik seperti Mommy nya" ujar Shinta mengambil Lenka dan mengendong nya kembali.


"Sifat ku juga kan Mom?" ujar Varo menawarkan diri nya itu.


"Mommy sedikit tidak berharap" ujar Shinta tersenyum kaku.


"Maksud Mommy?" ujar Varo dengan kesal.

__ADS_1


"Nah itu lah maksud Mom shinta bro, belum apa-apa kau sudah menampil kan raut wajah kesal, gampang emosi, arrogant, dingin, cuek dan kejam itu lah maksud nya" ujar Axel dengan tanpa rem mengatakan itu semua di depan Varo.


"Kau" tatap Varo dengan kesal kepada sahabat nya itu.


"Baru saja di katakan lihat lah" ujar Axel kembali mengatai Varo itu.


"Haha sudah, ayo kita sambut para penerus William" teriak Shinta di ruangan itu.


"Welcome to world Luis, Leon, Lukas, Lenka" serempak para perempuan yang ada di sana.


Seminggu telah berlalu semenjak kelahiran putra dan putri keluarga William, Rere dan Varo banyak mendapat kan ucapan selamat dari orang terdekat mereka. Hari ini suasana terasa sangat indah, Rere sudah di boleh kan pulang kembali ke mansion William. Semua karyawan menyambut Tuan muda dan Nona Muda William mereka yang baru. Mobil yang di tumpangi mereka sudah sampai di depan pintu besar masuk ke dalam mansion William, semua ART, penjaga, security, karyawan siapa pun pekerja di mansion William itu berbaris rapi setiap menyambut kedatangan keluarga William di rumah, Rere juga sudah memiliki para suster yang sudah di seleksi ketat oleh Varo untuk menjaga anak mereka, karena tidak mungkin Rere bisa seorang diri mengurus walaupun ada Shinta sekali pun.


"Selamat datang Tuan dan Nona" ujar para pekerja menunduk menyambut kehadiran mereka semua.


Rere sangat senang ternyata, kelahiran putra dan putri mereka menyebar kan rasa bahagia bagi semua orang terdekat nya.


"Terimakasih" ujar Varo singkat dan berlalu pergi masuk ke dalam mansion.


Varo dan Rere menuju kamar bayi yang sudah Dia siap kan jauh-jauh hari sebelum nya itu, di sana sudah ada Shinta yang menunggu cucu kesayangan itu untuk di gendong.


"Sayang kamu yakin? cuman butuh empat suster" ujar Varo yang sudah sampai di kamar bayi mereka itu.


"Empat juga udah cukup, kan anak kita juga empat mas, lagi pula aku juga mau ngurusin mereka secara langsung" ujar Rere yang sedang menyusui Lukas itu.


"Iyah Varo ada Mommy juga, jangan khawatir kamu fokus aja kerja lagi, kasian Daddy udah tua begitu nanti penyakit nya kambuh" ujar Shinta mengigatkan anak nya itu.


"Iyah Mom" ujar Varo singkat.


Varo melihat anak nya itu yang sedang menyusu dengan lahap dan cekatan, Varo hanya bisa terdiam sambil terus menatap.


"Mas kenapa sih" ujar Rere yang merasa heran kepada suami nya itu.


"Padahal itu punya Mas" lirih Varo.

__ADS_1


__ADS_2