Kekasih Polos CEO

Kekasih Polos CEO
M&A(PART KHUSUS)


__ADS_3

Setelah selesai makan, begitu pun teman-teman Michele yang juga numpang makan masakan nya Alice yang ternyata memang benar adanya enak di lidah mereka itu.


"Aku akan pulang dan istirahat di rumah,"ujar Michele kepada teman-teman nya membantu sang istri membersihkan meja tempat mereka makan tadi.


Revian yang sedang asik mengorek-gorek gigi nya sehabis makan itu, seketika mendengus kesal mendengar jawaban Michele padahal pria itu ingin mengajak nya keluar.


"Bagaimana nanti malam ke klub?"tanya Revian tersenyum dan mengangkat alis nya kepada Michele.


Pria itu hanya menatap datar ke arah Revian, lalu tiba-tiba sebuah tempat makan melayang ke wajah tampan Revian secara mendadak.


Bruk..


"Akh sst sakit!"teriak Revian meneriaki sang pelempar kotak makan itu.


Seketika Revian kaget dan baru tersadar yang melempari nya itu adalah Alice yang tersenyum mengancam kepada diri nya itu.


"Jika mau mengajak suami ku kesana lagi, langkahi dulu mayat ku,"ujar Alice mengertakan gigi nya geram dan mengepalkan tangan nya sambil meninju ninju ke udara seperti seseorang yang siap memukul.


Raut wajah Revian seketika berubah lesu mendengar penutaran Alice, Dia baru inget lagi kalau Michele sahabat nya itu sudah menikah dengan sang pacar nya padahal baru tadi di kasih tahu.


"Hah maaf Al, Aku lupa kalau Dia memiliki pawang sekarang,"gumam Revian menunduk malas dan menyeret koper nya mengikuti langkah yang lain keluar ruangan Michele.


Begitu pun Alice dan Michele mereka semua berjalan beriringan meninggalkan ruangan itu, Michele yang berjalan itu memeluk pinggang istri nya dari samping dengan posesif.


Grep..


Vendi merangkul bahu Revian yang berjalan di belakang pasutri baru itu.

__ADS_1


"Sudah bro, Dia sudah pensiun, sekarang hanya kita, karena kita masih belum terikat pernikahan haha,"ujar Vendi berbicara seperti itu dengan enteng nya.


Michele yang mendengar obrolan teman-teman nya yang ada di belakang hanya tertawa kecil dan mengeleng lalu menimpali.


"Udah kalian nikah, sampai kapan kalian langganan di club sana, para wanita tidak suka pria yang terlalu bebas, benarkan sayang,"ujar Michele menatap ke bawah nya melihat Alice yang lebih pendek.


Gadis itu mengangguk cepat tanda setuju mendengar jawaban Michele yang menurut nya sangat cocok terdengar di telinga nya.


Saat mereka semua tengah mengobrol, Morelina sedang balik melapor ke resepsionis di lantai bawah, tempat yang ramai nya orang itu berlalu lalang, semua orang sibuk dengan urusan nya masing-masing atau pun pengunjung yang menjenguk keluarga mereka.


"Oh jadi administrasi untuk kamar 202 belum di selesaikan, tindakan operasi belum bisa di lakukan,"ucap Elina sedang berbicara dengan resepsionis itu.


Mata nya seketika teralihkan kepada sosok Michele yang sedang merangkul pinggang perempuan yang di akui pria itu adalah istri nya tadi, suara berisik dari obrolan teman-teman Michele membuat Morelina mendekat.


"Maaf Tuan-Tuan pelankan suara kalian, itu sangat menganggu,"ujar Elina ikut nimbrung di rombongan itu.


Seketika semua orang memberhentikan langkah nya menatap sang pembicara yang mengatakan itu, pandangan nya bertemu dengan Michele yang juga menatap nya sebentar dan sekilas.


Elina tidak menjawab dan hanya menatap Revian tajam mata nya hanya fokus kepada Michele yang menatap istri nya yang malah menatap diri nya dengan tatapan polos itu.


"Maaf dokter Michele, lain kali tindakan Anda mengajak teman-teman Anda ke ruangan akan menimbulkan berisik atau pun ada yang tiba-tiba mengunjungi tanpa pemberitahuan dan seenaknya masuk ke ruangan dokter mana tahu dokter itu sedang melakukan konsultasi dengan pasien sehingga itu bukan cara yang efisien langsung nyelonong masuk tanpa melapor ke resepsionis,"ujar Morelina menatap Alice yang menatap diri nya dengan tatapan bingung.


Entahlah siapa yang Morelina katakan, tapi Revian yang mendengar itu seketika merasa diri nya lah yang menganggu Michele yang di sebutkan wanita berjas dokter itu.


"Haduh Nona, jangan mentang-mentang kau dokter, Aku dan teman ku masuk ke ruangan Michele saja harus izin, emang kau di sini siapa? Pemilik nya? Kepala rumah sakit?"tanya Revian mendengus kesal merasa tidak terima.


Lama-lama wanita itu mulai kesal kepada Revian yang malah ikut campur dalam obrolan mereka.

__ADS_1


"Ck Tuan, saya anak kepala dokter RS ini, saya bisa mengubah peraturan!"ujar Elina mulai kesal kepada Revian.


Michele yang melihat perdebatan itu mulai pusing sendiri dengan tingkah teman-teman nya itu yang membuat masalah di mana mereka berada.


"Sudahlah Rev, pergi saja, Dia memang anak kepala dokter di sini,"ujar Michele kepada Revian.


Morelina seketika tersenyum miring, Dia merasa Michele membela diri nya, tapi apa tadi membela? Seperti nya tidak untuk Michele pria itu hanya ingin pulang dan beristirahat dan tidur dalam pelukan istri nya.


"Sudahlah sayang ayo pergi,"ucap Michele menarik sang istri karena mulai merasa jengah dengan obrolan yang di mulai tidak berakar itu.


"Tapi sayang apa benar Dia anak kepala dokter di sini? Setahu ku kepala dokter itu madul,"tanya Alice dengan heran sambil berjalan beriringan dengan suami nya penuh tanda tanya.


Sebenarnya Michele sangat malas berbicara mengenai orang lain saat Dia ingin fokus dengan Alice, tapi nampak nya istri nya itu penasaran.


"Kau sebagai keluarga pemilik RS ini pasti tahu kepala dokter sini tidak memiliki anak kan? Dia itu hanya anak angkat sayang, hah Aku tidak suka membicarakan orang, Aku lebih suka membicarakan mu,"ujar Michele mendengus cemberut.


Alice yang mendengar itu tertawa kecil dan mengubah topik pembicaraan mereka sambil berjalan menceritakan segala tentang diri nya.


Langkah kaki Michele yang berjalan, membuat Morelina ingin mengejar sang pemilik tapi diri nya di tahan oleh seseorang yang tadi berdebat dengan nya.


"Kalau jadi dokter atitude nomor 1 ya cantik,"sindir Revian dengan tatapan kesal nya lalu menyeret koper nya meninggal kan wanita itu yang berdiri terdiam.


Sedangkan Vendi mengeluarkan kartu nama nya dan menyelipkan nya di saku jas dokter itu sambil tersenyum mengoda.


"Jangan lupa telpon Aku dokter manis,"ujar Vendi setengah berteriak lalu mengejar teman-teman nya yang menjauh.


Wanita itu menghentakan kaki nya kesal mendapat penolakan keras itu, tangan nya mengepal jas dokter nya dengan kasar.

__ADS_1


"Tidak ada cara lain, hanya itu,"gumam Morelina melangkah kan kaki nya menuju lantai tempat ayah nya bertugas itu.


'Aku terlebih dahulu yang mengenal nya, lantas kenapa orang baru yang memenangkan hati nya?'


__ADS_2