Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 99 Menjadi Penulis


__ADS_3

Hari boleh berganti dengan cepat. Tetapi impian dan cita-cita tidak akan pernah terlepas dari jiwa. Impian itu selalu abadi di dalam diri Mardo.


Memang saat ini Mardo sudah memiliki dua anak yang yang lucu dan menggemaskan. Dan ia sendiri yang mengurus kedua anak tersebut. Baby Raka yang tidak bisa diam dan selalu bergerak berlarian kesana dan kemari, berceloteh sepanjang hari. Dan adik kecil putih cantik yang lembut juga telah bisa mendengar suara kakaknya. Adik bayi itu membesarkan matanya menoleh ke kiri dan ke kanan saat mendengar suara Baby Raka dan kakinya akan menendang-nendang serta tangannya menggapai-gapai mulutnya berceloteh member tahu semua orang bahwa ia bisa mendengar dan ingin ikut bermain dengan kakaknya.


Saat kepala kakaknya Rakasiwi muncul di atas ranjang, sambil berteriak


Ciluk Ba! maka adik kecil


menjerit kesenangan hingga ranjang bayi tersebut bergoyangan.


"Bunda! adik ketawa."


Rakasiwi berlari ke arah Mardo yang sedang membereskan baju-baju adek bayi.


Siang ini Mardo memikirkan perusahaan penerbitannya. Patricia sesekali berada di kantor itu juga. Namun minat dan bakat adiknya berbeda. Gadis itu lebih suka mendesain sesuatu.


Patricia bilang sudah ada lima puluh penulis yang mau bergabung di bawah penerbitannya.


Para penulis itu diarahkan untuk membuat tulisan secara bersama, kemudian penerbit Hubsche Maechen akan membuat buku dan menerbitkannya. Setiap kontributor diwajibkan membeli buku mereka minimal dua.


Awal tahun ini program buku antologi akan launching bertema 'Cinta Pertama'


Sebanyak Lima puluh penulis akan membuat satu cerita bertema hal tersebut. Waktu yang dibutuhkan hanya dua bulan saja.


Mardo meminta tolong pada Patricia mengontrol karyawannya sampai sejauh mana proyek buku antologi tersebut. Terkadang Patricia bisa memuaskan keingin tauannya tetapi tidak selalu.


Hingga Mardo tidak tahan lagi. Siang ini setelah memandikan Rakasiwi dan adik kecil ia bermaksud ke kantornya. Ia akan mulai rutin masuk kantor mulai hari ini. Dan suaminya sudah memperbolehkan. Asal anak-anak tidak terabaikan.


"Siap Pi, aku akan melayani Pipi dengan sebaik-baiknya sebagai seorang istri yang setia dan solehah dan aku juga janji Pi akan mengurus anak-anak dengan penuh tanggung jawab hingga mereka tidak merasakan terabaikan oleh ku, itu janjiku Pi, bolehkan aku


bekerja mengurus perusahaan penerbitanku ya Pi."

__ADS_1


"Iya sayangku, kau boleh melakukan apa saja yang kau inginkan tetapi ingat jangan sampai lupa padaku dan anak-anak kita ok?"


"Siap Pi."


Sahut Mardo sembari dengan manja bergayut di leher suaminya. Tentu saja Raka segera memeluk pinggang ramping istrinya, merunduk untuk mencium kening, pipi, dagu dan melenyapkan senyum perempuan itu dengan sebuah ciuman panjang di pagi hari.


Hampir-hampir Raka tak jadi berangkat oleh keinginan yang muncul begitu saja.


"Oh, Mimi ini menggoda sekali, bikin Pipi ingin. Tapi tadi malam Pipi udah memuaskan Mimi loh, nanti Pipi lemas di kantor, apa kata dunia."


"Ich, Pipi Vivi lebay ah, seolah-olah Mimi sudah menguras tenaga Pipi."


He he he.


Raka hanya terkekeh oleh candaannya di pagi itu. Selanjutnya Raka pamit untuk pergi bekerja dan ia mencium adik kecil yang masih tertidur nyenyak dan mencium baby Raka yang sedang disuapi oleh suster.


Tak lupa Raka juga menjenguk orang tuanya di ruangan bersantai. Papi Bramantyo tengah menonton tivi mengenai berita bisnis Metropolitan. Sementara mami sibuk memasak makanan kesukaan mereka berdua di dapur. Raka menunduk mengambil tangan Papi dan menciumnya.


Ia lanjut menghampiri Mami di dapur dan mengambil tangan dan menciumnya dengan lembut.


"Mih aku berangkat, nitip Mardo anak-anak ya mi."


Mami mencium pipi anaknya dan menepuk lembut pundak Raka.


"Iya sayang, Mami sangat menyayangi menantu mami dan juga cucu-cucu Mami."


Setiap hari Raka melakukan hal itu.Sejak mulai sekolah di taman kanak-kanak, Sebuah kebiasaan yang tak berubah meski Raka sekarang sudah menjadi Ayah. Gurunya mengajarkan bahwa mencium tangan orang tua adalah suatu sikap yang mulya. Raka juga mengajarkan hal tersebut sejak dini dalam keluarga kecilnya.


Setelah Raka berangkat, Mardo lantas bersiap, ia sudah memerah asi dan menaronya di botol. Jika Bayinya menangis suster tinggal mengambil botol tersebut dari tempat khusus yang stril, memanaskannya sedikit dan menaronya kedalam botol susu. Meski ia pergi mengurus perusahaannya bayinya tetap mendapatkan Asi, minuman terbaik seorang bayi.


Seperti halnya Raka Mardo juga pamit kepada Papi Bramantyo dan Mami.

__ADS_1


Kemudian barulah Mardo pergi ke garasi untuk mengambil mobilnya. Dan menit berikutnya dia sudah menyusuri jalanan bersama puluhan kenderaan dengan kepentingannya masing-masing.


Tak lama Mardo sudah sampai di kantornya. Pak satpam menyambut dengan ramah, lantas mengambil mobil untuk memarkirkannya.


"Selamat pagi Bu!"


Semua menyambut dan menyapanya penuh hormat, Mardo adalah pimpinan mereka, tempat menggantungkan kehidupan. Melihat kehadiran perempuan cantik itu semua merasa gembira dan bersemangat. Mardo memang selalu membawa kecerian, sering sekali membelikan karyawan makanan, kali ini pun pak satpam sudah membawa kotak besar berisi kue-kue untuk menemani bekerja.


Selalu berbeda jika ibu pimpinan datang.


Mardo memandangi ruangan tempatnya bekerja. Ia merindukan tempatnya itu. Dulu ia menulis beberapa novel di ruangannya itu hingga terbitlah novel berjudul Fragmen Ciuman di bawah hujan, sukses novel pertama di susul dengan novel yang kedua yakni Solilukui kenangan, dan selanjutnya cerita semusim. Saat bertemu Raka ia sebenarnya tengah menulis sebuah novel bergenre romantis. Sudah terhenti hampir dua tahun lebih. Dan sekarang ia merindukan menjadi penulis.


Mardo menghenyakkan tubuhnya pada kursi, menikmati kesendiriannya. Ia segera membuka laptop dan mencari tulisan yang tersimpan, ia sedang mempersiapkan novel miliknya dengan judul 'Pemenang Cinta'


Ia membaca sekilas dan mulai mengingat cerita yang ingin ia tulis. Kembali ia merasakan kegairahan berselancar di dunia khayal.


Baru beberapa saat ia asyik menulis sambungan ceritanya ketika Seseorang mengetuk pintunya dan tersembul wajah seorang gadis yang manis, "Pagi Bu, selamat datang kembali, hemm terima kasih kue-kuenya ya Bu."


Gadis itu membuka percakapan dengan senyum sumringah.


"Mba Eva, sini masuk saya mau menanyakan program kita yang lalu, sudah sejauh mana mba? dan saya juga ingin tau langkah-langkah kedepannya."


Gadis yang bekerja sebagai editor di perusahaan tersebut selanjutnya duduk berhadap-hadapan dengan Mardo. Ia dan Mardo membahas beberapa naskah yang telah masuk.


Sekitar dua ratus naskah yang kesemuanya memiliki kelebihan dan keunikkan. Mardo melihat judul-judul cerita yang di kirimkan oleh penulis.


"Cari dua puluh cerita yang terbaik dengan Judul yang unik, ini judulnya bagus loh, saya tandai ya, judul-judul yang membuat pembaca penasaran."


Mba Eka mendengarkan apa yang dikatakan olah Mardo. Beberapa saat mereka berdua berunding dan membicarakan tentang naskah-naskah yang jumlahnya ratusan. Beberapa editor lain juga mengelola tulisan beberapa penulis.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2