
Raka dan Mardo mengumpulkan anak-anaknya. Laki-laki itu mengingatkan anak-anak agar mulai sekarang berhati-hati. Sebab rupanya setelah penculikkan bunda ada penculikkan lain. Buktinya Cindy baru saja mengalami upaya penculikkan. Tria memandang ayahnya dan berkata.
"Mungkin penculik itu menyukai kak Cindy Yah."
"Pokoknya apa pun motifnya tetap berbahaya. Selalu berhati-hati. Dan kalau ada orang asing yang mendekat, segera menjauh!"
"Iya Yah, kita akan hati-hati."
"Dode dan Rama, kalau nunggu mobil jemputan di sekolah jangan di jalan, ditarik ke dalam mobil penculik baru tau!"
Tria memarahi adik-adiknya, matanya yang bulat membesar.
"Itu kan waktu belum ada penculikkan! nanti sih nunggu di kelas atau di sekolah aja ok Ma?"
"Ok Mas."
Kedua anak laki-laki Raka dan Mardo itu menepukkan tangan keduanya.
"Ayah juga hati-hati! jangan sampai diculik."
Tria memeluk leher ayahnya, kebiasaannya dari kecil. Cindy dan Tria memang paling dekat sama Ayah. Laki-laki itu tempat bermanja, merajuk dan berbagai hal yang mereka inginkan ayah adalah orang pertama yang tau tentang yang mereka alami. Sementara anak laki-laki dekatnya dengan Mardo.
Saat mereka sedang berdiskusi telpon milik Raka berbunyi. Rupanya dari om Deni. Laki-laki itu bilang bahwa kemungkinan penculikkan itu dilakukan oleh orang yang sama. Berarti pelakunya anak perempuan yang tinggal di perkebunan tebu. Raka terdiam, kenapa dia tak terpikir tentang hal tersebut.
"Bukankah masalahnya sudah selesai dan kita tidak membawa masalah ini ke polisi? apa yang dia inginkan? kalau begitu perempuan di perkebunan kopi harus dibawa ke jakarta."
Raka berdiskusi dengan Mardo, apaka ia ingat di mana perkebunan itu. Mardo menggeleng, ia tidak ingat sama sekali. Yang dia ingat mereka menyebrang dengan kapal ferry dan selanjutnya naik kenderaan berjam-jam. Setelah berbincang-bincang dengan Mardo laki-laki itu kembali menelpon Deni. Ia menyuruh Deni mencari anak laki-laki konyol itu.
Sementara Cindy sudah harus berangkat ke Bandung, ia merasa tenang sebab Alfredo mengantarnya. Mereka berangkat pagi-pagi untuk menghindari gelap. Cindy bilang ia merepotkan laki-laki itu. Tapi Alfredo cemberut, kan dia tunangannya jadi tidak perlu berpikiran macam-macam. Keduanya tersenyum.
Sementara di sebuah tempat laki-laki itu menampar dua orang pria tegap yang gagal melaksanakan pekerjaannya.
"Kenapa gagal! dasar!"
__ADS_1
"Menculik perempuan saja tidak becus."
"Diluar dugaan Bos! mendadak ada satpam, padahal biasanya bu Cindy berjalan sendirian ke mobilnya."
Laki-laki itu bolak-balik sambil meremas jemarinya.
"Sudahlah! sana pergi, cari kesempatan lain!"
"Rencana lanjut bos? "
"Lanjutlah, culik Cindy Larasati untukku!"
"Siap Bos!"
Kedua laki-laki itu segera keluar dari ruangan itu. Seorang gadis yang tak sengaja mendengarkan pembicaraan itu cepat bersembunyi. Gadis itu takut sekali, ia mendekap kuat-kuat bibirnya. Setelah dua laki-laki itu pergi segera perempuan itu menyelinap dan lari tunggang langgang.
"Kenapa ia melakukannya itu? apa yang ia inginkan?"
'Aku harus berubah menjadi gadis yang lebih cantik dan menarik seperti ibu Cindy, aku tak mau Raffa tak memandangku sebelah mata.'
Sambil bekerja ia mengepalkan tangannya, mengigit bibir bawahnya kuat hingga ia merasa sakit..
'Aku harus punya me time. Nanti sore aku akan ke spa untuk membuat kulitku halus, kenyal dan cantik.'
Gadis itu telah memutuskan, ia sekarang memiliki uang yang banyak, bahkan setelah membayar semua hutang nenek dan bibi-bibinya. Kini gilirannya. Saat senja gadis itu mendatangi sebuah salon yang besar dan banyak pengunjungnya. Di sana gadis-gadis yang semula biasa, ketika keluar dari tempat itu berubah menjadi luar biasa.
Ia mendaftar di bagian pendaftaran. Gadis cantik itu memberikan selembar kertas yang menyediakan perawatan mulai dari ujung kaki hingga ujung rambut. Ia memilih perawatan menyeluruh mulai dari rambut hingga kaki. Gadis itu memberikan perhitungan yang harus dibayar.
Diana gadis itu menikmati pijatan-pijatan lembut di tubuhnya. Luluran itu akan menghaluslan kulitnya yang putih. Sebenarnya Diana gadis yang cantik. Tidak terlalu mungil sebab ia memiliki pinggul yang besar. Sama seperti gadis-gadis lainnya, tubuhnya setinggi 165 cm, tulangnya berkarakter besar dan gemuk sehingga ia terlihat gendut. Sebulanan ini ia sudah mengikuti senam untuk membentuk tubuhnya dan hasilnya belum kelihatan.
Yang membuatnya minder adalah jerawat yang setia berada di wajahnya. Ia sudah sering sekali mengobati jerawat tersebut. Berbagai obat dari yang mahal hingga yang murah meriah ia beli dan oleskan di wajahnya. Tapi hanya sebentar jerawat itu menghindar. Kemudian datang lagi.
__ADS_1
Beberapa teman bilang bahwa jerawat itu tidak membuatnya jelek, justru mempermanis wajahnya yang besar. Tetap saja Diana merasa kalau jerawat itu sangat mengganggu. Setiap kali ia memikirkan sang jerawat dan ingin mengenyahkannya, maka bermunculan ramai bintik-bintik kecil itu di wajahnya. Tetapi jika ia mendiamkannya, jerawat itu menghilang dengan sendirinya. Wajahnya menjadi halus dan tanpa bintik-bintik menggemaskan itu.
Dengan paket perawatan yang telah ia ambil, Diana yakin ia bisa mengenyahkan jerawat itu selamanya. Sebab itu ia akan bersabar demi menjadi cantik dan mempesona. Betapa indah dan mempesonanya Cindy, dia sangat cantik, dengan wajah tirus, alis mata yang natural, bulu-bulu mata lentik, pipi merona serta belahan bibir berwarna pink yang jika tersenyum mampu meremuk-redamkan perasaan.
Diana, gadis itu yang semula memiliki pemikiran sederhana dan tidak neko-neko tapi saat ia memiliki begitu banyak uang. Ia mulai berubah. Keadaannya yang dulu tak perduli dengan berbagai kemajuan jaman. Hidup apa adanya sekarang tak lagi membuatnya bahagia. Ia ingin berubah menjadi cantik meski kecantikkan itu sebenarnya adalah dari hati. Ia ingin berubah dari dirinya yang apa adanya menjadi sesuatu yang bisa membuat pria yang sukai melirik kepadanya.
"Rabb, aku ingin dia melihatku, menatapku dengan matanya itu."
Diana mengigit bibirnya, bayangan wajah seorang laki-laki muda menjelma. Beberapa kali ia berusaha masuk dalam kehidupannya tapi laki-lak itu mendorognya keluar dari hatinya. Kalau kali ini ia gagal maka ia akan mendekap sedih yang dalam.
"Sudah mba."
Gadis yang tadi meluluri seluruh tubuhnya melaporkan bahwa ia sudah selesai dengan paket perawaatan tubuh, berikutnya rambut dan wajah. Rambut gadis itu di cuci, kepalanya dipijat-pijat dan diberi vitamin serta shampo yang menutrisi rambut hingga nanti menjadikan rambut lembut, hitam dan tergerai indah. Keharuman yang lama juga bertahan di rambutnya.
Bersambung
__ADS_1