
Setiba di kantor, Prita termenung. Ia sangat ingin bertemu Rakasiwi. Secepatnya. Gadis itu berpikir seribu kali caranya bertemu Rakasiwi. Ia berulang kali membuka handphonenya untuk menelpon. Tetapi berkali-kali pula ia menutup dan menyimpan handphonenya.
"Rabb, tolong hambaMu ini."
Jika telah habis batas kemampuannya ia duduk diam memejamkan mata dan menyebut Rabbnya. Ia mengingat nasehat guru mengajinya. Jika tak mampu mengetuk hati seseorang maka adukanlah pada penciptanya. Sekarang ia merasa tak bisa menjangkau Rakasiwi. Hatinya yang bagai telah terprogram kontan menyebut nama yang maha esa. Prita mengadukan apa yang ia rasakan. Ia bahkan menitikkan air mata.
Selama ini Prita bisa mengatasi apa saja. Bahkan sejak ia masih kecil. Tidak ada yang membuatnya takut. Tetapi kali ini ia merasa gagal. Bahkan kesuksesan tak mengubah sosoknya. Ia tak berdaya jika hal tersebut menyangkut Rakasiwi. Susah payah ia berusaha memantaskan diri dengan Rakasiwi, sekalinya telah tercapai justru Rakasiwi berpaling pada gadis lain.
Hiks hiks hiks!
Prita menutup wajahnya, ia terisak-isak di meja kerjanya. Tiba-tiba tubuhnya terasa sangat dingin dan melemah. Prita terkulai layu jatuh ke bawah kursi tak terkendali. Ia tidak tau apa yang telah terjadi. Prita merasa dunia menjadi gelap tak ingat apa-apa lagi.
Pak Boy Indra sedikit agak heran sebab sejak pulang dari makan siang ia tak melihat Prita. Biasanya ia membawakan sesuatu ke ruangannya. Rasa penasaran membuat pak Boy keluar dari ruangannya dan memeriksa. Laki-laki itu terkejut melihat tubuh Prita tergeletak di lantai. Ia sontak memeriksa keadaan Prita. Lantas dengan cepat membawa gadis itu ke rumah sakit yang tak jauh dari tempat itu.
Dokter memeriksa dan menyatakan kalau Prita mengalami pingsan tetapi belum diketahui penyebabnya. Ia harus rawat inap untuk mengetahui penyakitnya. Boy menyetujui dan memasukkan Prita di kamar vip. Di sana suster dan dokter memberikan bantuan agar Prita siuman.
"Lakukan yang terbaik dokter."
Boy yang panik melihat keadaan Prita menyuruh dokter serta suster memberikan yang terbaik. Dugaan sementara Prita mengalami tekanan darah rendah. Gadis itu memang beberapa kali mengalami hal seperti itu. Untuk beberapa menit tak sadarkan diri. Jika ia mengalami kelelahan, banyak pikiran dan kurang tidur. Suster memasang slang infus di tangannya.
Prita merasa dirinya mulai merasa nyaman, perlahan ia membuka matanya. Ia melihat sebuah ruangan yang tak salah lagi adalah rumah sakit. Ia mengingatnya dan mendekap mulutnya. Kenapa aku bisa jatuh pingsan? Ia berusaha bangun tetapi seseorang yang berjaga menyuruhnya agar tetap berbaring.
"Pak Boy, kenapa aku dibawa ke rumah sakit?"
Prita langsung menyalahkah Boy. Laki-laki itu langsung melebarkan bibirnya.
"Aku takut terjadi sesuatu di kantor sebab itu aku langsung membawamu ke rumah sakit."
Prita terdiam. Ia merasa sangat malang, dicampakkan oleh Rakasiwi.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa, akan pulih dengan sendirinya."
"Sudahlah, malam ini kita tidur saja di rumah sakit, besok kalau memang dokter membolehkan pulang ya barulah kita meninggalkan tempat ini."
"Tidurlah kembali, ini sudah malam."
Tidak ada yang bisa Prita lakukan kecuali memejamkan matanya. Apa lagi pengaruh obat mulai bekerja di tubuhnya membuat ia kembali tertidur.
Sementara Rakasiwi terkejut saat mama Risa datang ke rumah. Mereka semua terkejut mengetahui Prita di rumah sakit. Perempuan itu juga kaget sekali ketika orang kantor membawa mobil milik Prita ke rumahnya. Mereka bilang Prita dirawat. Mama Risa ingin ke sana tetapi di tengah jalan ia merubah tujuannya.
Mama Risa merasakan apa yang Prita hadapi. Ia sempat mendengar keluhan putrinya tentang kesalaha pahaman yang terjadi. Putrinya Prita tidak berhianat. Ia telah meminjam uang yang cukup banyak untuk biaya operasinya kepada pak Boy. Hal tersebut membuat Prita merasa berhutang budi dan tak bisa mengikuti Rakasiwi saat mereka bertemu di rumah sakit.
"Keadaannya waktu itu terjepit. Ia baru saja mendapat pertolongan sejumlah uang saat Rakasiwi datang."
Laki-laki muda yang kebetulan mendengar mama Risa serta merta bergegas ke rumah sakit. Ia bersama mama Risa buru-buru pergi. Sementara Mardo dan Raka menyusul. Hampir saja mereka tak bisa masuk sebab jam bezoek hampir saja berakhir.
Rakasiwi segera menyongsong Prita di tempat tidurnya. Gadis itu sedang tertidur dengan wajahnya yang memendam kesedihan.
Rakasiwi menggenggam jemari itu hangat. Tak lama Prita perlahan membalas menggenggam jemari Rakasiwi, Ia membuka matanya. Tak percaya Rakasiwi ada di hadapannya. Prita berusaha meyakinkan dirinya apakah ia sedang tak bermimpi. Tetapi ia melihat mama Risa, Mardo dan juga Raka. Di kejauhan berdiri Boy yang terbengong.
"Prita maafkan aku."
Rakasiwi mendekap tubuh gadis itu. Prita mengangkat tanganya balas memeluk.
"A-aku juga minta maaf, jangan tinggalkan aku Rakasiwi."
"Ti-tidak tak mungkin aku meninggalkanmu karena aku sangat mencintaimu."
Semua mendengar pernyataan Rakasiwi.
__ADS_1
"Setelah kau sembuh kita bertunangan, ok."
"Baiklah, aku pun mencintaimu, malam ini berjagalah di sini. Aku tak mau bos ku yang menjagaku."
"Tentu saja."
Sementara Boy telah pergi, saat melihat Prita dan Rakasiwi berpelukkan dan masing-masing menyatakan
cinta. Ia sangat kecewa. Tetapi ia tak bisa memaksakan kehendaknya. Angin malam menghembuskan rambut dan pakaiannya. Ia bergegas pulang, Rasanya menyenangkan telah membantu kekasih seseorang. Lalu bagaimana dengan dirinya? Telah tumbuh harapan dihatinya tentang Prita. Impian bersama gadis itu melewati hari. Tetapi mereka terlambat bertemu. Prita telah mimiliki tunagan.
Apakah sudah menjadi takdirnya gagal dan gagal lagi berhubungan dengan seorang gadis yang dicintai. Boy melemparkan baju yang baru saja ia buka seasalnya. Menendangkan celana yang berada di ujung kaki. Agaknya berendam kehangatan air di kamar mandi. Di sana laki-laki itu mengibas-ngibaskan rambutnya hingga air berhamburan kemana-mana. Beberapa menit ia menghabiskan waktu di sana. Setelah itu barulah ia keluar dan membalut tubuhnya dengan kimono. Ia merasa lebih nyaman, dan naik ke pembaringan. Ia ingin melupakan semua rasa yang bakal menerpa.
Sementara di rumah sakit. Raka, Mardo dan Mama Risa sempat bercakap-cakap tentang hubungan Rakasiwi dan Prita. Mereka tau keduanya sudah lama sekali bersama. Berteman sejak taman kanak-kanak. Kemudian berpisah lama dan bertemu kembali saat memulai perkuliahan. Sekarang keduanya sudah sama-sama menyelesaikan belajar di perguruan tinggi. Sudah bekerja. Tugas orang tua untuk menikahkan anaknya.
"Sebaiknya kita mencari hari yang tepat unutk membicarakan masa depan anak-anak, bagaimana Ma?"
Mardo menarik jemari mama Risa saling bertatapan.
"Kalau Mama, setuju saja, yang terbaik untuk putri mama."
"Ok, kalau begitu, secepatnya kita nanti bertemu untuk membicarakan hal ini."
Mama Risa tersenyum dan mengangguk-angguk. Ia Bahagia, sebab Prita putrinya mendapatkan laki-laki yang baik serta dari keluarga yang terpandang. Betapa keberuntungan selalu datang untuk gadis kecilnya yang telah tumbuh dewasa dan kuat.
__ADS_1
Bersambung