
Raffaza memasuki kantornya dan membuang tas kerjanya ke sofa. Ia lantas duduk di kursi kebesarannya dan mengangkat kaki ke meja. Keningnya berkerut-kerut bertanya sesuatu yang mengganggu pikirannya. Bayangan laki-laki tampan yang mengamit jari Cindy. Caranya menatap dan bicara dengan gadis itu. Apakah mereka sepasang kekasih?
Kenapa ia terlambat mengetahui bahwa big bosnya Raka Bramantyo memiliki putri yang sangat cantik dan mempesona. Bahkan ia tahu bahwa laki-laki tadi menurut Cindy adalah salah satu pemilik Cafe PI. Kenapa ia baru melihat laki-laki itu.
Tetapi bukankah memang selama beberapa tahun ini ia mengejar targetnya. Ia fokus bekerja mengumpukan uang dan kepercayaan dari semua managemen. Baru setahun ini ia memikirkan lagi kemarahan ibunya pada seseorang anggota keluarga pemilik PI.
Teringat masa kecilnya yang sangat mencemaskan. Papanya seorang yang hesteris. Sedikit saja ada kesalahannya atau ibunya maka laki-laki itu marah dan membanting benda apa saja yang terjangkau tangannya. Pernah ia menangis dan datang memeluk kaki ayahnya untuk menanyakan kenapa ayah selalu marah kepadanya dan juga mama? apa kesalahan mereka.
Apa yang terjadi laki-laki itu meraih tubuhnya dan akan membuangnya ke dinding, untung ibunya cepat menangkap dan kemudian mengerahkan semua tenaganya untuk melawan. Hanya saja tenaga ayahnya yang bertubuh tegap bukan tandingan ibu. Laki-laki itu menarik rambut ibunya dan melemparkannya sekuat tenaga ke dinding. Ibunya menghantam dinding dan jatuh merosot ke lantai. Ia menangis sambil berlari memeluk ibunya yang terdiam. Mata ibunya terbuka menatapnya dengan berlinang air mata.
Ia sangat ketakutan ibunya mati, sebab beberapa saat perempuan itu tak bergerak. Sementara laki-laki itu bergegas pergi meninggalkan rumah. Lebih dari satu jam ibunya tiba-tiba bergerak, ia meminta minum dan pelan-pelan berjalan ke kamarnya. Ibunya tak bicara apa pun hingga pagi.
Terlihat ibu memasukkan baju-bajunya ke beberapa koper. Ia memanggil sebuah mobil besar dan membawa barang-barangnya. Dalam diam dan mata yang terus digenangi oleh air mata ibunya membawanya jauh dari kota kelahirannya.
Seseorang menyambut mereka berdua dan menunjukkan rumah yang telah dipersiapkan. Sejak itu ia dan ibunya menghilang dari ayahnya. Dia tidak tahu apakah ayahnya senang dengan kepergian mereka. Atau justru ayahnya senang. Ia tak lagi melihat dua orang yang dibencinya yakni istri dan anaknya.
Bertambah usianya ia mencari tahu kenapa ayahnya bersikap seperti itu pada mereka? adakah kesalahan yang telah ibunya perbuat sehingga laki-laki itu selalu menyakitinya. Ibumya menggeleng, semua perlakuan ayahnya itu karena seorang perempuan bernama Mardo Prameswari.
Sebenarnya ibunya sendiri tidak begitu tahu apa yang telah diperbuat Mardo sehingga meninggalkan luka serta kemarahan yang dalam di jiwa ayahnya. Setelah pulang dari mengejar gadis itu ke Jakarta sikapnya menjadi arogan dan kasar. Lalu melampiaskan kemarahannya pada ibu dan anaknya sendiri.
Masa-masa bersama ayah ia rasakan seperti berada dalam neraka, tidak ada ketenangan apa lagi kegembiraan seperti anak-anak yang lain. Sepanjang hari hanya ketakutan yang ia rasakan bersama ibunya. Beruntung ibunya memutuskan pergi membawanya kesebuah tempat terpencil sehingga keadaan bagai neraka itu berakhir.
Meski timggal di perkampungan perkebunan kelapa sawit, Raffa dan ibunya merasa bahagia dan tak kekurangan. Ia bisa sekolah dan menikmati masa kanak-kanak, remaja hingga akhirnya ia lulus sekolah menengah atas. Ibunya bekerja sebagai karyawati di perkebunan milik pemerintah. Ia mendapatkan penghasilan yang cukup untuk membesarkan dan membiayai kuliah anaknya di Jakarta.
Saat Raffa berangkat ke Jakarta ibunya berpesan untuk melupakan ceritanya. Fokus belajar untuk meraih impian dan cita-citanya. Tetapi perbuatan ayah yang kejam padanya dan ibu selalu membayang. Perlahan menjadikannya seorang pembenci.
Ia penasaran pada sebuah nama yang disebut oleh ibunya. Ayahnya membenci perempuan itu tetapi melampiaskannya pada istri dan anaknya. Raffa memendam keingin tauan yang besar terhadap perempuan bernama Mardo Prameswari.
Tiba-tiba Raffa mengambil handphonenya dan memencet sebuah nomer.
"Hello, aku ingin kamu mencari tahu tentang Muhamad Alfredo, dia memiliki cafe PI di bilangan kalibata."
"Baik bos! siap laksanakan perintah."
"Lalu bagaimana dengan perempuan yang bernama Mardo Prameswari tersebut?"
__ADS_1
"Seperti yang telah Bos ketahui, ia memang ibu dari Cindy Larasati, ceo dari PI. Kami sudah mengawasinya dan mengikuti kegiatannya setiap hari."
Raffa mendengarkan dengan seksama apa yang dikatakan oleh anak buahnya. Dan ia mengangguk-angguk. Ia juga bertanya tentang Raka yang sekarang jarang ke kantornya. Apakah laki-laki itu bersama Mardo setiap hari atau memiliki pekerjaan lain?
Suara di sebrang sana menjelaskan cukup lama hingga membuat Raffa puas. Ok baiklah aku akan melakukan sesuatu yang tidak mereka duga dan pikirkan. Raffa menatap dengan dingin dan kejam. Laki-laki muda itu menelpon seseorang dan memberi petunjuk. Beberapa kali laki-laki itu mengingatkan tentang pekerjaan yang ia berikan. Terdengar suara di sana meyakinkan bahwa ia akan menjalankan perintahnya.
"Saya akan siapkan semuanya Bos, pasti beres."
"Ok, jangan sampai gagal ya! aku tak mau mendengar apa pun, kecuali kau sudah berhasil melaksanakan perintahku."
"Siap"
Barulah Raffa mematikan handphone dan menaro di atas meja. Ia kembali duduk di bangku besar yang bisa berputar dan bergerak. Ia memikirkan sesuatu sehingga dahinya berkerut-kerut. Ia mengambil handphone dan dengan yakin menelpon seseorang.
"Hello, selamat siang bu Cindy."
"Iya siang."
Terdengar suara yang lembut di sebrang sana.
"Ini Raffa bu Cindy, mengenai kue penutup itu. Saya pikir secepatnya direalisasikan Bu, jangan sampai keduluan dengan yang lain."
Kata gadis di sebrang sana membuat Raffa terdiam.
"Iya benar Bu Cindy, baiklah kalau begitu, saya dan Diana menunggu kabar baiknya."
"Ok, segera kami beritahu begitu perjanjian kerjasamanya selesai dibuat."
"Siap, terima kasih Bu, maaf sudah menggangu waktunya Bu Cindy."
"Tidak apa-apa kok, itu kan tandanya pak Raffa benar-benar perduli pada proyek ini,"
"Sangat perduli Bu Cindy, saya ingin membantu Diana dan keluarganya"
"Wah, kamu sangat baik dan perhatian ya sama Diana, ok saya mengerti, tunggu saja ya pak Raffa."
__ADS_1
Raffa menggigit bibirnya, Ia akhirnya memutuskan handphonenya. Dan menghidupkan laptop yang berada di mejanya. tak lama pria itu tenggelam mengerjakan sesuatu.
"Siapa?"
Alfredo menatap pada Cindy yang sedang mengetik sesuatu.
"Raffa, dia menanyakan kapan kira-kira mendapatkan kabar? padahal baru juga dimeetingkan hari ini."
Alfredo menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Dia tak sabaran banget ya."
"Memang, dia ingin membantu gadis itu katanya."
"Mereka kelihatannya bagaimana ya? apa mereka ada hubungan spesial?"
"Diana kelihatan tergantung pada pak Raffa, sebentar-sebentar ia melihat pada Raffa."
"Iya, tapi Diana ini berbakat ya. Terlihat sekali ia menguasai tentang kue penutup ini, dan dia pintar, kalau kamu gimana Yank?"
"Aku setuju denganmu dia berbakat, PI beruntung jika Diana bergabung."
"Tenang, kita akan mendapatkannya Yank."
Alfredo yang hari itu menemani Cindy di kantor, meregangkan tubuhnya, lantas melihat jam yang sudah semakin siang. Ia mengajak Cindy istirahat juga makan siang. Gadis itu juga memeriksa jam tangannya, dan setuju dengan Alfredo untuk segera menghentikan pekerjaannya dan pergi berdua makan siang.
Bersambung
__ADS_1