
Beberapa detik lepas dari rumah megah itu, kebisuan menyergap. Prita menggerai-geraikan
rambutnya sekedar menghilangkan perasaan grogi. Rakasiwi juga mencubit-cubit hidungnya
yang mendadak seperti gatal. Usai menggerai-geraikan rambutnya, ia mengelus blusnya di
kaki, saking grogi nggak sadar tiba-tiba keduanya sama menoleh dan bertanya, "Apa?"
Padahal nggak ada yang ngomong, kayaknya kedua orang yang sedang punya perasaan
itu diganggu oleh jin yang usil sehingga merasa ada yang ngomong tapi tak jelas.
Kadung udah nanya, Rakasiwi akhirnya ngomong, " Nggak jauh lagi kok, setelah lampu
merah belok kanan terus lampu merah lurus beberapa kilo berbelok kiri, udah nyampe
deh."
"Oh iya,iya."
Prita mengawasi jalan dan mengangguk.
"Kamu dulu smunya di mana?"
Rakasiwi menolehi gadis yang malam itu terlihat berbeda sekali. Dan wangi yang halus
sesekali tercium dari gadis itu.
"A-aku emmm smu tiga puluh sembilan."
"Oh, teman-temanku juga banyak yang di smu itu, yang dekat komplek kopasus kan?"
Prita mengangguk kepalanya lagi. Masa-masa di smu bagi Prita tidaklah terlalu indah.
Ia dikenal sebagai gadis yang cuek dan cool. Bagi beberapa temannya justru saat itu
adalah masa yang paling indah, masa remaja. Apa lagi yang sudah menjalin cinta, jalan
kaki dari jalan raya hingga ke sekolah tidak terasa cape.
Prita tak akan lupa kenangan ke sekolah, lebih sering berjalan kaki bersama rombongan
teman-teman lain. Hitung-hitung olah raga. Jika waktunya mepet terpaksa terburu-buru
naik beca, dan makanan empuk buat abang beca suka sewenang-wenang naikin harga.
Mending ngajak teman, jatuhnya lebih murah karena patungan. Juga ada teman yang
bisa melawan kesewenangan abang beca.
Kisah cinta teman-teman penuh kenangan, cinta monyet, ada yang romantis berbunga
bunga, ada yang main kejar-kejaran sudah seperti film India, yang malu-malu tapi mau.
Serta ada yang putus nyambung entah berapa kali. Mereka lucu, jahil, konyol dan masing-
masing memiliki kelebihan serta kekurangan yang membuat seseorang di kenang.
Sedang kisah cintanya? Prita menoleh ke luar jendela. Beberapa laki-laki kakak kelasnya
ada yang gencar mendekatinya. Memanggil namanya saat ia lewat atau sengaja mendatangi
untuk mengajak mengobrol, bahkan mengajak pulang bareng naik motor, alasannya
biar jangan cape. Tetapi tidak ada satu pun yang membuatnya terjerat cinta masa smu.
Prita fokus dengan cita-citanya menjadi wanita yang sukses dan membanggakan. Ia
mengabaikan semua pria-pria tampan dan tajir yang melirik pada kecantikannya. Prita
tidak akan pernah tertarik pada seorang pria sebab hartanya. Cintanya adalah tentang
rasa, bukan kemewahan.
"Kalian, tidak mengadakan reuni?"
Rakasiwi memecahkan kebisuan diantara mereka. Prita menoleh.
"Emm belum, baru juga berpisah dua tahun. Belum terlalu kangen."
Rakasiwi mangut-mangut, "Iya sih ini juga reunian teman-teman dekat aja, teman
sekelas, judulnya juga mendadak reuni dan dinner."
Prita tersenyum, He he he tertawa kecil, "Nggak apalah mengisi liburan juga."
"Yup, kamu betul sekali, nah kita sudah sampai, hemm itu Edo dan Cindy udah
duluan aja, kepedean banget mereka."
Mereka akhirnya memasuki sebuah restoran, ada salah satu yang menyambut
mereka di depan dan mengantar ke belakang.
"Hello Bro, apa kabar?"
Rakasiwi dan temannya itu bersalaman erat dan memeluk sambil menepuk-nepuk
bahu, akrab sekali mereka. Mata temannya itu menolehi Prita dan tersenyum.
"Hello ibu Rakasiwi!" godanya.
Prita membalas tersenyum, ia berharap nanti bertemu dengan Cindy, sehingga
__ADS_1
tidak merasa asing dan sendirian, meski ia bersama Rakasiwi, siapa tau pria muda
itu nanti sibuk dengan teman-temannya.
Dan mereka muncul di pintu, semua mata tertuju pada Rakasiwi dan gadis cantik
yang bersamanya. Siapa yang tidak mengenal Rakasiwi, dia sangat tampan, berwajah
segar, jernih serta mempesona. Guru-guru menyukainya, kepala sekolah hingga semua
yang berada di sekolah tersebut. Bagaimana tidak, dia pernah menjabat sebagai
ketua osis, pemain gitar yang hebat serta selalu menyumbang sekolah dengan
jumlah yang besar.
Gadis-gadis memujanya dengan caranya sendiri, ada yang diam-diam memiliki rasa
itu dan menyimpannya sendiri. Ada yang dengan pede mendekatinya setiap ada
kesempatan, ada yang menulis pesan rahasia di handphone, bahkan ada yang
mengungkapkan perasaannya ketika valentine tiba. Mengirim kado serta gambar
berbentuk hati, tetapi tidak berani menuliskan namanya. Takut sakit hati jika ditolak
oleh Rakasiwi.
Mulut gadis-gadis yang telah hadir di sana melongo oleh aura pesona Rakasiwi
mereka menunggu-nunggu dengan hati berdebar, dan bertanya-tanya dalam
hati apakah dia sudah memiliki pacar. Dari orang terpercaya ada yang bilang
Rakasiwi belum memiliki pacar, sehingga gadis-gadis itu memiliki harapan besar
serta mimpi indah. Mereka telah berdandan secantik-cantiknya, tetapi bagaimana
mungkin ternyata dia datang bersama gadis cantik, dan mereka serasi sekali.
Tiba-tiba saja mereka merasa sangat kecil dibandingkan gadis yang bersama
Rakasiwi di sana, terlihat meraih tangan gadis itu dan berbarengan memasuki
ruangan.
"Rakasiwi! wah kau datang dengan pacarmu ya, luar biasa!"
Teman-temannya semua menyalami dan berpelukkan. Gadis-gadis juga
menghampiri, memandangi masih dengan pandangan memuja.
"Pa kabar Ka? kapan pulang dari Jokja?"
pria itu dengan terus terang. Sementara dengan Prita ia hanya menyapa
sekilas dan berlalu.
"Perhatian! perhatian!, teman-teman ayo maju semua, yang masih di luar
masuk, karena acaranya segera kita mulai saja."
Ternyata Alan yang menjadi ketua panitianya, dia dan tiga orang yang memprakarsai
acara tersebut. Mumpung mereka masih baru berpisah dan belum direcoki oleh
kesibukkan, maka Alan berpikir untuk membentuk pertemanan dimulai dari mereka
yang sekelas. Kedepannya mungkin pertemanan reuni mereka bisa bertambah
dengan teman-teman lainnya.
Acara tersebut dibuka oleh Alan dengan banyak kata-kata ucapan terima kasih
karena mereka semua telah datang memenuhi undangannya, ia juga mengatakan
ide, harapannya agar teman-temannya selalu datang dan perduli dengan wadah
mereka ini.
Belakangan mereka sepakat untuk memilih ketua, wakil ketua, bendahara, sekretaris
dan seksi-seksi lainnya.
Alan langsung memanggil Rakasiwi menunjuknya sebagai ketua, ia menanyakan
pada teman-temannya apakah setuju jika mendadak reuni itu memilih Rakasiwi
sebagai ketua. Dan semua setuju oleh pilihan itu. Mereka semua tau siapa
Rakasiwi.
"Bro, Loe sekarang jadi ketua, beri ucapan sedikit buat kita-kita semua di sini.
mana kita sudah kangen bro dengan suara loe, iya kan teman-teman?"
"Iya benar, maju Ka! maju Ka!"
Semua menyuruh Raka maju untuk mengucapkan sepatah dua patah kata.
"Hah! kalian ini membuatku repot saja!"
Rakasiwi beranjak keluar dari bangkunya, ia menyentuh bahu Prita. Sentuhan
__ADS_1
yang membuat Prita seperti tersetrum listrik. Sentuhan serasa mereka telah
sangat dekat.
Rakasiwi tersenyum pada semua teman-temannya, Ia mengucapkan terima
kasih atas kepercayaan yang diberikan.
"Saya mesti ngomong apa ini ya, tiba-tiba ada undangan reuni, dan sekarang
mendadak ditodong jadi ketua, emmm nggak diterima tak enak, kalau diterima
takut mengecewakan."
"Tidak akan mengecewakan! lanjut jadi ketua kita."
"Ok, baiklah saya menerima amanah ini, dan saya akan melihat apa yang bisa
kita kerjakan kedepannya yang bermanfaat serta silaturahim yang terjalin
terus diantara kita."
Rakasiwi bisa membuat teman-temannya terpukau, tak terlalu banyak
kata-kata tetapi mengena dan semua setuju dengan yang ia katakan.
Selanjutnya, sajian dinner serta musik yang sering mereka dengar saat
smu dulu.
Selintasan pagi yang ceria saat mereka datang ke sekolah, lagu-lagu manis
telah menyambut mereka, yang paling sering adalah lagu ekspresikan diri!
seperti saat ini, dan beberapa diantara mereka telah menari mengikuti musik.
'Begitu banyak yang ada di hati
Menanti terkuak
Ingin mengungkapkan
Dan mencurahkan
Berbagai rasa dan kesan
Tentang kehidupan
Begitu sarat yang ada di benak
Menunggu tersirat
Ada sgala cara
Dan berbagai jalan
Untuk mewujudkan
Dan berbagai jalan
Kedalam cipta dan seni
hasrat di hati khayalan
Mari berkarya
dalam puisi dan lagu
Mari berkarya
musik dan tari layar perak
panggung gerak
adalah tempat kita
Insan dunia ekspresikan diri
Mereka semua akhirnya menari bersama. Prita memandangi Cindy
yang tampak nyaman dengan suasana tersebut, sesekali ia berbincang
dengan Edo, mereka pasangan yang indah. Sementara Alan sesekali
menatap ke arahnya. Saat Rakasiwi sedang mengambil buah, Alan
mendekat ke arahnya dan berbisik, "Sombongnya! pantasan saja! sampai tak mau
kenalan, ternyata sudah jadian ya sama Rakasiwi, selamat ya."
Prita tak sempat menjawabnya.
Bersambung
Terima kasih banyak ya telah membaca dan memberikan like, komen
serta vote, saya sangat berterima kasih.
__ADS_1