
Meraka kembali ke kantor dan bekerja di ruangan masing-masing. Cindy berada di ruangan ayahnya. Raka menyuruh Cindy duduk di kursi kebesaran sang pemilik perusahaan Pria Idola. Gadis itu menuruti ayahnya. Laki-laki itu memperlihatkan sesuatu yang penting mengenai perusahaan. Ia mengatakan bahwa om Deni dan juga Om Sammy memiliki andil yang sangat besar dalam perusahaan tersebut. Cindy tak boleh mengotak-atik kedudukkan mereka. Cindy mengangguk-anggukkan kepalanya. Pertanda ia memahami apa yang ayahnya katakan.
Ketika menjelang senja Deni memasuki ruangan Raka, tak lama Sammy juga muncul membawa tas kerjanya.
"Yuk pulang, Hello Cindy kalau butuh bantuan Om siap."
Deni menghempaskan tubuhnya di jok sofa yang empuk memandangi Cindy yang sedang bersama ayahnya mempelajari sesuatu.
"Seandainya aku menikah saat seusia ayahmu, pasti Om juga sudah memiliki putri sebesar dirimu."
Deni nampak menyesali dirinya yang menikah saat usianya 40 tahun. Anak-anaknya masih kecil. Yang paling besar saja masih smp kelas satu.
"Salah sendiri, sekarang menyesal kan?"
Sammy duduk tak jauh darinya dan tersenyum.
"Ada baiknya Bro, Lu jadi awet muda. Nggak buru-buru dipanggil kakek ha ha ha."
"Iya juga sih, Raka bentar lagi menjadi kakek, sedangkan aku masih lama. Menikmati dulu menjadi ayah."
"Tetap aja Bro, nanti cucu Gue akan manggil lu opa ha ha ha."
Deni cemberut sedangkan Sammy dan juga Raka terkekeh menggodanya.
"Tenang, Cindy tetap panggil dengan om kok, awet muda jadi om-om terus."
Deni mengacungkan jempolnya.
"Mereka selalu jealous pada Om, maklum keduanya menikah muda, jadi tak terlalu menikmati masa muda mereka."
"Enak saja."
__ADS_1
Mereka bertiga akan bertengkar seperti biasanya, untunglah ibu sekretaris datang membawa file dan memberikan pada Raka, sedangkan file untuk Deni dan Sammy sudah ia taro di meja kerja mereka.
"Kalau sudah selesai, saya pamit pulang pak Raka, nona Cindy, pak Deni dan pak Sam."
"Ok, silahkan. Sebentar lagi kami pulang."
Raka sudah mematikan laptop dan mengambil jasnya. Cindy membawa tas kerja Raka, mereka keluar bareng dari kantor tersebut. Sepasang mata mengawasi Cindy yang berjalan bersama ayahnya menuju kenderaan mereka. Ia tersenyum sinis.
"Enak sekali hidupmu nona cantik, tapi lihat saja nanti hidupmu akan berasa dalam neraka."
Orang itu lantas meninggalkan kantor tersebut. Ia memakai kacamata hitamnya meski hal itu semakin membuat gelap didalam mobilnya. Wajahnya menegang menahan kebencian serta dendam yang mendalam. Seorang wanita telah menanamkan kebencian itu sejak lama.
"Hello nona Cindy, kamu yang akan menanggung dendam ini! salahmu kenapa menjadi putri mereka. Gara-gara dia, mamaku menjadi menderita sepanjang hidupnya."
Bibir laki-laki itu tertarik ke kiri sehingga menjadi sebuah senyuman sinis yang mengerikan. Tak lama mobil pria itu memasuki sebuah rumah minimalis yang cantik. Ia keluar dari mobilnya dengan membanting pintu dan masuk ke rumahnya dengan membuang tas kerjanya. Ia juga membuka kacamatanya.
"Mama! selama ini aku mencari cara untuk membalaskan sakit hatimu, sekarang aku telah mendapatkan jalannya Ma. Gadis itu, hello Cindy kamu adalah targetku."
Cindy duduk di sofa menyandarkan tubuhya. Ia sudah memberikan tas ayahnya pada Dode yang membawa tas itu ke ruang kerja Raka. Mardo muncul dari kamar, agaknya baru saja mandi dan bertukar baju. Ia mencium tangan Raka. Cindy bangun mengambil tangan bundanya itu untuk diciumnya.
"Pipi mau minum teh hangat ya, sebentar Mimi ambilkan ya."
Perempuan itu bergerak ke meja makan yang tak jauh dari ruang keluarga. Mardo membawakan teh tertutup untuk Raka, ia memberikan ke tangan suaminya. Raka mengambilnya sembari menatap wajah perempuan yang sangat ia cintai itu. Terima kasih cintaku. Katanya. Anak-anak sudah terbiasa dengan kemesraan Raka dan Mardo, tak merasa janggal, menjadi sesuatu yang membuat anak-anaknya bahagia.
"Bagaimana hari pertamamu di kantor Cindy?"
Gadis itu menghadapkan wajahnya kepada Mardo dan Raka yang duduk tak jauh darinya. Tria sedang asyik memainkan handphone dengan kakinya bersila di kursi Jok. Dode dan Rama tengkurep di depan tivi tak jauh dari kursi keluarga yang luas dan besar.
"Bun, Ayah tuh melakukan sesuatu yang membuatku hampir pingsan berdiri saat meeting."
Cindy membuat wajahnya tegang dan misterius. Raka melebarkan bibirnya. Mardo mengercitkan dahinya, lengan Raka memeluk bahunya dari atas lengan kursi. Mardo menolehi suaminya.
__ADS_1
"Ada apa Pi?"
Raka mengedipkan matanya, enggan bercerita, Mardo melihat pada Cindy.
"Ayah tuh, mengangkatku menjadi pemimpin perusahaan Bun, aku sangat terkejut dan tak siap."
Mardo terkejut, ia memandang suaminya.
"Ia, dia sekarang adalah pemimpin perusahaan, kenapa tidak? aku memulai usahaku sendiri saat usiaku baru 22 tahun. Cindy pasti bisa, ia putriku yang berbakat."
Mardo tak bisa berkata apa-apa. Ia senang Cindy mendapat kepercayaan dari ayahnya. Tapi perempuan itu memikirkan anak laki-lakinya. Seharusnya Rakasiwi yang menggantikan ayahnya. Kenapa Raka terburu-buru dan tak bicara dulu dengannya dan Rakasiwi. Tetapi Mardo menghadapkan wajahnya pada putrinya dan menggapai tubuh gadis itu, memeluk dan mengucapkan selamat.
"Selamat ya putri Bunda, jangan sia-siakan kepercayaan ayah dan pilihannya padamu, kamu harus membuat ayah bangga ya cantik."
"Terima kasih Bunda, semoga aku bisa menjalankan amanah ini."
"Kalau begitu kita merayakannya dengan makan malam istimewa, Pipi sebaiknya mandi dan ganti baju, kamu juga Cindy pergilah ganti baju, bunda akan pesan makanan kesukaan Pipi dan Cindy."
Mardo begitu bersemangat oleh kebahagian Cindy dan suaminya. Mereka patut merayakan momen hari itu saat Raka memberikan perusahaan pada Cindy. Putrinya sangat beruntung. Gadis itu telah berjuang sangat keras sepanjang hidupnya. Sangat tekun, rajin dan selalu meraih ranking tertinggi. Ia juga menjadi mahasiswa yang akan menyandang kelulusan dengan predikat lulus terpuji, cum laude. Perguruan tertinggi tempat Cindy belajar telah mencatatkan indeks prestasi angka tertinggi yaitu 4.
Kadang Mardo takut melihat semangat belajar putrinya itu yang sangat tinggi. Hampir tak pernah bersenang-senang seperti gadis-gadis lain. Cindy bahkan tak tahu mode-mode pakaian terbaru. Gaya rambut atau hal-hal yang digandrungi para gadis. Ia selalu di kamarnya belajar.
Cindy berbeda dengan adiknya Tria. Gadis itu banyak tahu mengenai busana dan mode. Apa lagi tentang kosmetik. Uang jajannya habis untuk membeli barang-barang yang ia lihat di katalog toko online. Mulai dari baju-baju mode Korea, jam tangan, sepatu, tas dan masih banyak lagi. Hampir setiap hari ada yang mengantarkan barang-barang milik Tria. Mba Wiwin sampai geleng-geleng kepala karena lagi dan lagi ada pesanan buat Tria.
Katanya sampai bosan, sembari tertawa.
__ADS_1
Bersambung