
Semua seperti sudah selesai bagi Richi. Ia menurut saja ketika seorang dokter dan perawat membantunya
turun dari tempat tidur dan mendudukkannya ke kursi roda. Kepalanya sedikit berdenyut dan ruangan itu
bergoyang-goyang. Lubang hidungnya mencium bau yang getir kimia. Namun bukan sekedar bau bahan
kimia. Bau itu muncul dari ingatan yang telah lama dilupakan. Bau yang begitu jauh tetapi merupakan
kenangan tentang sebuah tempat.
Bunyi gelas pecah di ruang makan yang besar. Serta suara bocah laki-laki yang lecih besar darinya.
"Mami, Richi memecahkan gelas! dia menjatuhkannya!"
"Aku tak sengaja Mami."
"Richi yang memecahkannya!"
Dia meninggalkan tempat itu dengan pandangan meledek dari kakak lelakinya.
Richi memejamkan matanya dan menggoyangkan kepalanya sedikit. Ia bergegas memasukkan catatan ilmu
kimianya ke dalam tasnya dan berlari ke pintu. Semua mata menatapnya. Juga mata Profesor ilmu kimia, tatapan
yang meledeknya.
Pintu itu telah tertutup di belakangnya. Kini ia berada di luar menghadap halaman yang luas. Sudah mulai remang
akibat malam menjelang. Kemudian ia berdiri sesaat berpikir apakah akan langsung pulang ke apartemennya
atau mampir ke swalayan membeli makanan.
"Terlalu lama, ini terlalu lama." Pikirannya terpecah. Ia menunggu lama sebelum ia meninggalkan laboratorium.
Mestinya ia bisa mencegah segala yang terjadi jika ia langsung pergi pada saat mendengar bunyi pecah itu.
Richi meremas jemarinya. Tasnya tidak ada. Ruangan laboratorium juga tidak nampak, halaman yang luas dengan
rumput hijau dan bunga-bunga matahari. Semua menghilang. Ia justru tengah berdiri di ruang makan besar milik ibu di rumahnya. Aneh sekali, ia memandangi ruangan tersebut. Seharusnya ia berada di swalayan atau apartemennya. Ia bahkan tidak mengenakan jaket yang sejak berangkat ke kampus ia gunakan.
Laki-laki itu dengan terheran memandangi meja makan besar tempat mami meletakkan hasil masakkannya. Juga
masih terlihat berbagai perlengkapan makan. Tempat sendok, Kecap, garam, lada serta beberapa alat yang
membantu memeriahkan acara makan keluarga.
"Kenapa aku bisa berada di ruangan ini?"
Penuh tanda tanya Richi terbengong-bengong. Bahkan ia tak merasakan udara Sidney yang dingin. Ini tak masuk
akal. Bagaimana mungkin ia bisa berada di kota eksotik dalam waktu satu detik antara ia berdiri di depan ruangan
laboratorium dan sekarang.
Sebetulnya ia tidak kemana-mana dalam waktu yang singkat. Mungkin memang ia tidak kemana-mana dan dia tidak di mana pun. Hanya suatu mimpi aneh. Setelah merasa berada di dalam rumahnya tiba-tiba ia melompat ke sebuah tempat yang sama sekali ia tak kenal. Ia melihat orang yang berlalu-lalang dengan kesibukkan mereka.
__ADS_1
Ada yang berkejaran untuk saling membunuh. Ia melihat wajah-wajah kasar, brewok berseliweran di dekatnya.
Ia melihat kapal, gudang-gudang yang besar. Serta truk-truk pengangkut. Semua hal tersebut membuatnya
takut. Apakah ia memiliki lorong waktu? tetapi rasanya ia tidak pernah mengalami masuk ke sebuah lorong.
Richi melihat tidak ada jalan keluar, juga tak ada pintu masuk. Ia cemas bercampur baur dengan ketakutan-ketakutan didalam dirinya sendiri. Ia merasa dirinya terkurung, terperangkap serta terpenjara. Untuk waktu yang lama Richi berdiri kebingungan berusaha mengingat-ingat bahwa ia seorang mahasiswa di negeri tersebut. Biasanya ia naik taxi ke apartemennya. Jarang sekali ia naik bis, sangat tak aman. Tapi ia tidak melihat taxi. Ia membutuhkan seseorang, membutuhkan pertolongan.
Richi mengingat Teddy teman satu apartemen yang berdekatan blok dengannya. Temannya itu pasti tengah
mengkhawatirkan dirinya, sebab sudah lewat waktu pulang. Tapi apakah Teddy ada di kamarnya? biasanya
ia pergi untuk bekerja paruh waktu. Kenapa Teddy tak menelponnya?
Saat ia berangkat ke kampus tadi pagi, Teddy memanggilnya dan menyuruhnya mengenakan jaket. Richi hanya
menatap sinis. Ia seseorang yang tak mudah mendengarkan orang lain. Tapi hari itu ia merasa harus menuruti
temannya itu. Ia sempat berbalik dan masuk untuk mengambil mantelnya. Ia ingat saat musim dingin begini
ia diliputi perasaan tidak tenang dan perasaan aneh dalam dirinya.
Hingga ia mengingat kembali bahwa satu-satunya cara untuk kembali adalah handphone. Benda itu yang
akan mengembalikannya ke waktu sekarang. Ia merogoh kantongnya mencari-cari benda kecil itu. Kakinya sudah kedinginan dan beku. Bibirnya menggigil. Tetapi agaknya handphone ia masukkan ke tas, ia harus merogoh dan
mencari-carinya. Pikirannya beralih pada dompetnya, di sana ada pembuktian tentang dirinya saat ini. Ia merogoh
dan mencabut dompetnya. Ia memeriksa dompet tersebut sekedar untuk memulihkan rasa percaya dirinya. Kartu-kartu identitasnya, asuransi, perpustakaan universitasnya. Tiap-tiap benda itu membuatnya pulih.
apartemennya. Dan ia melihat apartemen itu berdiri megah di pinggiran kota. Ia membayar taxi dan bergegas
menaiki apartemennya. Tak sabar untuk memasuki kehangatan kamarnya. Ia lapar, haus dan kelelahan. Hanya apartemennya yang bisa menolong dirinya saat ini.
"Anakku, akhirnya aku bisa memelukmu lagi."
Ia mendengar suara Mami, kemudian ia melihat keluarganya. Anak-anaknya dan Mardo.
Mardo, perempuan yang berdiri tak jauh dari mami apakah dia istrinya? ia tentu saja perempuan itu
adalah istrinya. Ibu dari dua anaknya yang lucu dan menggemaskan. Tapi kenapa dia hanya tersenyum
dan menatap di sana. Tak menyambut dan memelukku.
Richi menggerakkan tangannya melambai ke arah Mardo. Keduanya bertatapan, Richi mengisyaratkan agar
Mardo mendekat, keadaan laki-laki itu membuat Mardo mendekat, dan Richi memeluknya serta menepuk-nepuk
pundaknya. Seperti sikap seorang suami yang tengah menenangkan istrinya. Kemudian Richi memeluk anak-anaknya, ponakkannya dan terakhir Laura. Ia mengacuhkan perempuan itu.
"Richi!"
Laura ingin mengatakan sesuatu, tetapi Mami menarik tangannya, dan menatap mata seolah berkata, Jangan
merusak suasana saat ini. Selanjutnya Mami mengajak semua anggota keluarga menikmati masakan istimewa
__ADS_1
buatannya. Masakkan kesukaan Richi.
"Dad, aku merindukan Daddy."
Rachel tak mau jauh dari ayahnya. Laura berusaha menjauhkan Rachel tetapi Richi menatapnya dengan pandangan menusuk. Laura terenyuh hatinya oleh sikap suaminya. Laki-laki itu tak mengenalnya, bahkan agaknya sedikit kenangan tidak ada lagi membekas. Laura berjalan menjauh dari ruangan makan itu. Mardo yang melihat
sosok Laura yang menjauh, ia mengikuti perempuan itu.
"Laura, sabar ya."
Mardo meraih jemarinya dan mereka berpelukkan.
"D-dia membenciku dan menghapus kenangannya tentang siapa aku hiks- hiks."
"Laura, Richi sakit. Bersabarlah, ini ujian kesabaran, kau harus sabar adikku."
Perempuan itu menggigit bibirnya, hatinya sangat sakit. Tak dianggap sama sekali.
"Laura, kamu pulang untuk Richi dan anak-anakmu kan, tetapi Richi sedang sakit
bersabarlah, aku dan Raka janji membantumu. Kau harus yakin bisa membuat utuh
keluargamu lagi."
"Iya kak, aku akan bertahan dan bersabar."
Mardo tersenyum, mereka kembali lagi ke tempat makan. Laura menghapus airmatanya dan tersenyum
membantu anak-anaknya mengambilkan makanan. Papi Bramantyo memimpin doa, kelopak matanya
dipenuhi oleh air mata saat meminta kesembuhan yang sempurna untuk putranya Richi Bramantyo.
Bersambung
Hello, terima kasih ya sahabat semua sudah mendukung Pria Idola
Telah memberikan Like, vote serta komen.
Author sangat berterima kasih, semoga sahabat semua selalu sehat dan sukses.
__ADS_1