
Rakasiwi merapatkan jaketnya.Sebentar lagi dia akan tiba di stasiun kota. Pemandangan sudah mulai berubah dengan banyaknya bangunan bangunan yang menjulang tinggi. Yuhuuu, dia sudah memasuki kota yang ia rindukan, tempat kelahiran dan dibesarkan. Ayah, bunda dan adik-adik kesayangan yang membuatnya kian bersemangat.
Hampir setahun lebih ia meninggalkan Jakarta, dan ia tak boleh pulang. Ayah dan bunda serta adik- adiknya yang beberapa kali datang berkunjung menengoknya.
Kali ini, liburannya panjang, ia ingin pulang dan berkumpul dengan keluarga. Sesuatu hal yang mengembirakan ternyata adalah kebersamaan dengan ayah, bunda dan adik-adiknya.
Belakangan Raka baru merasakan kehidupan barunya. Jauh dari keluarga. Jauh dari suara ribut adik-adiknya dan wangi harum masakkan bunda di pagi hari. Lalu suara ayah yang mengingatkan agar tak terlambat ke sekolah, mesti sarapan, menghabiskan susu, pakaian rapi, dan jangan ada yang terlupa. Juga lambaian mereka keluarganya selama bertahun-tahun. Rakasiwi kehilangan itu semua.
Sejak ia menuntut ilmu di sebuah perguruan tinggi di luar kota. Rakasiwi mesti memulai hari dengan berbeda. Ia yang mengatur waktunya sendiri.Tidak ada yang membangunkannya, menyiapkan baju dan perlengkapan belajarnya.
Ia juga harus menyimpan kunci mobilnya dengan baik, agar tidak kehilangan dan mencari-cari saat akan berangkat. Semuanya dimulai saat dia tinggal jauh dari keluarga. Ia sendiri yang bertanggung jawab terhadap kehidupannya.
Sebentar lagi ia bakal mendengar suara ayah yang berat, bunda penuh kelembutan, Cindy, Tria yang cerewet serta adik bungsu yang cengeng merengek-rengek.
Senyum mengembang di bibirnya yang ketipisan seperti ayahnya Raka milik ayahnya, dan mata yang lembut adalah milik Mardo. Dua sosok bersatu dalam diri Rakasiwi, membuat pria muda itu amat menawan bunga-bunga yang bermekaran.
Tak sabar ingin bertemu dengan ayah bunda dan juga adik-adiknya. Senyumnya kian melebar membayangkan betapa cerianya nanti suasana saat dia berada di rumah.
Bunda pasti sudah membuatkan masakan kesukaannya, berbagai makanan akan terhampar di atas meja yang akan ia nikmati bersama adik-adiknya. betapa menyenangkannya saat-saat bersama keluarganya. Hari-hari yang ia rindukan ketika jauh dari rumah.
Kereta pun berhenti. Rakasiwi mengambil tas ranselnya yang berisi laptop dan beberapa barang yang sangat ia perlukan. Ia harus bersabar oleh penumpang yang berjejalan keluar, tetapi itu berlangsung dengan cepat. Rakasiwi melompat turun dan menghembuskan napas lega, segera ia menuruni eskalator menuju ruang keluar.
Rakasiwi berbelok ke kanan menuju tangga terakhir pintu keluar Selatan, saat itulah ia bertabrakan dengan seseorang yang datang dari arah kiri Buk!!!
Ohhh! terdengar suara tertahan sembari menyentuh dadanya. Wajah gadis itu lantas terangkat dan bertemu tatap dengan pria muda yang terbengong.
__ADS_1
"Hati-hati dong kalau jalan tuh dipakai matanya! ceroboh banget sih!!! jalanan tuh bukan milik sendiri, ada orang lain juga, nyebelin deh jadinya."
Wajah serta bibir yang mencebir, mengomel panjang pendek serta tatapan mata sinis, lengkap sudah membuat gadis itu tiada manis-manisnya.
Tak terima diomeli oleh seorang gadis yang usianya tidak terpaut jauh darinya dan mungkin juga seusia dengan dirinya. Rakasiwi menegapkan tubuhnya dan membalas, "Sembarangan saja kalau ngomong siapa yang nggak pakai mata, memangnya ini bukan mata? sambil menunjuk matanya yang bulat berbentuk bagus, siapa juga yang ceroboh emmm modus yaa? ada sesuatu yang menarik? heh! mengganggu perjalananku saja!"
Rakasiwi tak kalah galak dengan gadis itu .Ia membesarkan matanya juga suaranya. Serta memandang remeh pada gadis dihadapannya. Ia tak akan mudah tertipu dengan segala kelakuan gadis-gadis jaman sekarang.
"Siapa yang mengganggu perjalanan Elu? enak aja klo ngomong, Elu duluan yang nabrak sampai Gwe sakit dadanya, dasar!!! bukannya minta maaf malah menuduh yang tidak-tidak!, sudahlah!!! terima kasih atas tabrakkan ini huh!!!!"
Sigadis serta merta meninggalkan Rakasiwi dan terburu-buru menuruni tangga menuju pintu keluar selatan.
Rakasiwi terbengong, lantas berlari mengejar gadis itu yang sudah hampir mencapai lantai dan pintu keluar selatan.
"Tunggu! dompetmu ketinggalan!"
Rakasiwi cilingak cilinguk namun si gadis bak hilang tertelan bumi. Bunyi handphone menyadarkannya.
"Nak, ayah dan bunda sudah menunggumu di pintu selatan, depan pintu sebelah kanan."
Ternyata telpon dari ayah.
"Oh ok Yah, Rakasiwi sudah mau keluar inih."
Dan laki-laki muda yang masih penasaran dengan gadis yang bertabrakan dengannya tadi segera menuju pintu keluar dan melihat sosok ayah dan bundanya.
__ADS_1
"Ayah! bunda!"
Keceriannya telah kembali seperti semula, Ia berlari memeluk ayah dan bundanya.
"Alhamdulillah, bagaimana perjalanannya? apakah melelahkan, ayo langsung ke mobil saja ya Nak, bunda membawa minuman yang segar untukmu yang baru saja melakukan perjalanan panjang."
Ketiganya bergegas menuju mobil yang terparkir tidak jauh dari pintu keluar stasiun tersebut. Rakasiwi masih terbayang sosok gadis yang bertabrakan dengannya tadi. Dia belum bisa terlepas dari kejadian menyebalkan sesaat tadi.
"Hei, ada apa? ada yang tinggalan atau ada sesuatu yang terjadi tadi" Mardo bisa merasakan dan melihat wajah anaknya yang menyiratkan sebuah hal.
Rakasiwi menoleh dan menatap bundanya. Semula ragu dan ingin menyimpan kejadian menyebalkan itu untuknya saja.
"A-aku tadi bertabrakkan dengan seorang gadis, dan dia marah-marah tak karuan, membuat jantung kak Rakasiwi tak berhenti berdebar, hingga sekarang bun."
Mendengar hal itu Raka dan Mardo sama menoleh ke bangku belakang.
"Apa?"
Rakasiwi sampai terlonjak oleh tanggapan ayah dan bundanya, ketiganya saling pandang bergantian dengan pikiran melayang layang. Raka dan Mardo terkenang pertemuan mereka puluhan tahun silam disuasana yang mirip.Suasana liburan sekolah.
Sementara Rakasiwi tercekat oleh perubahan sikap ayah dan bundanya, mengapa begitu terkejut oleh perkataannya barusan.
"Kenapa ayah dan bunda terkejut? aku memang benar mengalaminya barusan, sesaat sebelum bertemu kalian. Aku bertabrakan dengan seorang gadis yang aneh dia yang salah tapi menimpakan kesalahan itu kepadaku gimana aku tak marah. Lebih menyebalkannya saat aku tengah memarahinya dia meninggalkan aku begitu saja! sama sekali tidak menganggapku jadi aku sangat kesal sekali sampai saat ini!"
"Oh ayahnya anak-anak dengar tidak? kwa kwa kwa!"
__ADS_1
Bunda tertawa tergelak-gelak, ia teringat kejadian pertemuannya pertama kali dengan Raka Bramantyo, ia marah dan mengomel panjang pendek oleh kecerobohan yang belum diketahui siapa yang salah.
Bersambung