
Hari kepulangan Richi dari rumah sakit. Semua menyambut dengan suka cita. Mami yang paling
antusias. Ia mengatur keadaan rumah benar-benar nyaman serta bersih. Masakkan syukuran
yang berlimpah. Sebagian akan di bagi-bagikan kepada tetangga serta orang-orang di masjid.
Perempuan itu begitu bahagia mendengar putra kesayangannya sudah diperbolehkan pulang.
Mami, Mardo, Cindy, Tria serta Dode mengatur sebaik-baiknya. Juga Laura dan anak-anaknya.
Mereka semua menyayangi dan mencintai Richi. Mami memperlihatkan kepada mereka betapa
cinta seorang ibu yang begitu besar kepada anaknya. Tak putus berdoa, sholat malam serta
memberi kepada fakir atas nama Richi.
Mami mengingat detail semua tentang Richi. Kelahirannya yang kurang bulan, serta lahir
dengan ketidak sempurnaan. Nyatanya semua terlewati oleh putranya. Air mata Mami berderai
tiap kali bercerita tentang putra kesayangannya. Perjuangannya berdua dengan Papi sangat
berat. Berkali-kali lari ke rumah sakit sebab Richi tak bisa bernapas. Kekurangan berat badan
serta lahir prematur membuat Richi ringkih dan harus mendapat pertolongan dokter.
Tempat Richi saat bayi harus bersih dan steril. Tidak boleh ada asap rokok, debu bahkan bau
makanan. Ia akan langsung bereaksi dengan menangis dan mulai menyesak dan tersengal-sengal.
Beberapa kali dalam perjalanan ke dokter. Napasnya telah berhenti. Tapi ia dan suaminya
tak percaya kalau bayi itu telah meninggal. Mereka tetap membawanya ke rumah sakit. Dan Richi
bernapas kembali.
"Siapa saja yang pergi menjemput Richi?"
Mami kembali bertanya, ia ingin yang menjemput adalah Papi, Raka, Mardo serta Laura. Sedangkan
ia bersama cucu-cucunya menunggu di rumah. Raka dan Papi setuju. Mereka bergegas pergi
untuk menjemput Richi.
Mardo dan Laura berpegangan tangan saling menatap dan tersenyum.
"Tenang saja Laura, semua akan baik-baik saja."
"Iya kak, terima kasih."
"Mom, bawa pulang Daddy ya."
Rachel mengejar di belakang Laura, Tria mengejar dan membujuknya agar masuk rumah dan
kembali bermain. Gadis kecil yang cantik itu tersenyum dan mengikuti Tria, mereka tadi sedang
asyik bermain boneka barbie. Tapi mendengar nama Richi serta kesibukkan dan siapa saja yang
akan menjemput Richi, gadis kecil itu tak bisa abai. Ia tau itu adalah tentang Daddynya. Dan ia
sangat dekat dengan Richi. Ia ingin memastikan Laura Mommynya akan membawa Dad yang ia
rindukan.
"Dad akan pulang kak Tria."
"Iya, aku tau."
__ADS_1
"Kita menunggu sambil bermain, agar tak lelah dan terasa lama."
Kata Tria sembari berpandangan dengan gadis kecil bule berambut hitam itu.
Rachel memiliki kulit putih halus dan lembut, tetapi rambutnya hitam, seperti
rambut Richi. Sedangkan kulitnya yang putih, wajah serta mata kesemuanya
adalah milik Laura.
"Iya kakak Tlia benal."
Keduanya berlarian ketempat tadi mereka asyik bermain. Sementara Richo juga asyik
bermain robot dengan Dode, di dekatnya Cindy mengawasi tak jauh.
"Cindy, Oma masuk sebentar ya, mau sholat dhuha. Oma mau berdoa untuk kesembuhan
uncle Richi."
Oma yang masih saja gelisah dan belum juga tenang, meski tau Richi telah lepas dari
masa kritisnya. Tapi menurut Raka adiknya itu tak bisa atau tak mau bicara. Pandangannya
kosong. Sedih sekali mendengar hal itu. Ia ingin berdoa kesembuhan yang seutuhnya
bagi putranya.
"Iya Oma, silahkan, anak-anak biar Cindy yang jaga."
Sahut Cindy penuh tanggung jawab. Ia mengawasi keseluruhan rumah. Semua tampak aman
dan terkendali. Di bagian depan juga ada pak Jun yang berjaga. Juga dua mba yang sedang
menyelesaikan pekerjaannya di dapur.
matanya. Rupanya ia berada di sebuah ruangan serba putih dengan bau khas. Ruangan perawatan.
Entah telah berapa lama ia tergeletak di tempat itu. Rasa pedih tiba-tiba menghinggapi jiwanya.
Ia merasa dirinya sangat malang.
"Oh."
'Apa yang telah terjadi? kenapa aku menjadi begini? tak berharga."
Kembali perasaan hampa, tak berguna membuatnya sangat sedih. Ingin rasanya ia
berteriak tetapi ia tak bisa. Tiba-tiba ia mendengar suara gemuruh seperti bunyi
gempa yang terjadi di depan matanya. Membuat laki-laki itu memijat kepalanya
yang berdenyut dan sangat sakit.
Rakasiwi yang sedang duduk di sofa melihat gerakkan uncle Richi. Ia segera beranjak
mendekat dan menyapa laki-laki itu yang hanya menatapnya terbengong.
"Uncle sudah bangun, bagaimana perasaan Uncle? bertambah baik?'
Laki-laki itu hanya menatap sebentar lantas memejamkan matanya lagi, dan menggigit
bibir. Kepalanya serasa digigit oleh serangga. Sakit dan perih.
Bersamaan dokter serta beberapa perawat masuk. Sang dokter segera memeriksa dan
tersenyum mengangguk-anggukkan kepala. Ia memberitahu suster.
__ADS_1
"Dokter, tidak apa-apa kami membawa Om saya hari ini?'
Rakasiwi menanyakan hal tersebut, sebab ia lihat Richi masih kesakitan.
"Kebersamaan di tengah keluarga akan mempercepat kesembuhannya."
Rakasiwi hanya menunduk dan mengangguk.
Richi melihat seorang anak muda di dekatnya, tapi ia tak mengenalinya. Richi memejamkan mata. Dia memilih diam
dan tak melakukan apa pun. Ia melihat anak muda itu bermain handphonenya, Lalu menu sarapan datang. Rakasisi menerima dan kemudian memanggil lembut Uncle Richi.
"Uncle, sarapannya sudah datang, biar Rakasiwi suapin ya."
'O, jadi dia Rakasiwi.'
Richi membatin, ia menggeleng dan merasa bisa melakukannya sendiri. Rakasiwi membantu Uncle Richi duduk. Lalu mendekatkan sarapannya. Richi mencicipi sarapannya, ia terlihat berselera dan menghabiskan makanannya.
Lantas meneguk minuman.
"Apa kau sudah sarapan?"
Terdengar suara uncle Richi menanya Rakasiwi. Anak muda itu hanya tersenyum.
"Gampang Uncle, sebentar lagi ayah, dan Opa datang. Kita bisa pulang bersama dan nanti aku sarapan di rumah."
"Oh, hari ini aku boleh pulang?"
"Iya Uncle, dokter bilang lukanya sudah mengering dan penyembuhannya lebih baik di rumah."
Pria itu hanya mengangguk-angguk, ia juga menyempatkan meminum obat yang dibawakan oleh suster. Kemudian
merebahkan kembali tubuhnya. Ia memejamkan matanya. Berusaha mengingat-ingat yang terjadi. Tapi setiap ia
berusaha mengingatnya kepalanya berdenyut-denyut. Richi memutuskan tak untuk mengosongkan pikirannya. Ia harus tenang dan menunggu.
Apakah dokternya mencari. Dokter yang merawat dan memberikan dia petunjuk-petunjuk untuk menyembuhkan diri sendiri. Ia bertemu dokter jiwa itu saat usianya 21 tahun. Ia mengenang pertemuan dengan dokter setengah baya
yang serasa ia bertemu Papi. Ketika ia sedang dalam keadan penyesalan, saling tuduh menuduh dengan dirinya
sendiri.
Perasaannya terapung-apung saat itu. Tinggal sendirian di apartemen, berperang urat syaraf. Perang khusus
kegugupan, ketakutan, kecewa yang dia alami sejak kecil. Orang tua terlalu melindunginya, tidak ada yang salah. Dimana-mana begitulah orang tua. Tetapi tidak ada yang mengerti termasuk dirinya tentang masalah itu.
Dalam keadaan jiwa seperti itu Richi bertemu pria simpatik yang bernama Kenan.
Percakapan di cafee tentang diri masing-masing. Laki-laki bernama Kenan itu mengaku dirinya adalah seorang
dokter psikiater. Ia sering membantu orang-orang untuk berkonsultasi mengenai kejiwaan. Richi tertarik sekali. Pucuk dicinta ulam tiba. Pria itu memperlakukannya sebagai orang dewasa yang memiliki kecerdasan tinggi.
Ia bertanya pada dokter, kenapa ia tidak bisa menjadi laki-laki dewasa yang pintar jika berhadapan dengan Papi, Mami dan kakak lelakinya Raka?
Dimata Papi, Mami juga kakaknya ia tetap tinggal sebagai kanak-kanak manis, lucu da mengemaskan. Richi tidak bisa tumbuh sebagai laki-laki dewasa.
Bersambung
Hello, selalu mengucapkan banyak terima kasih telah singgah
di karya Othor yang sederhana ini. Jangan lupa selalu kasih like, vote, komennya
__ADS_1
Othor sangat berterima kasih