Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode. 77Cinta Dan Keyakinan


__ADS_3

Semua terkejut dan menatap pada Richi. Laki-laki muda itu menyadari kalau dia sudah mengejutkan semua orang. Dia kembali menatap calon pengantin wanita yang nanti menjadi kakak iparnya.


Papi menggamit jemari Richie dan berusaha menenangkannya. Acara tersebut belum selesai. Tapi agaknya Richi menjadi gelisah dan tegang. Ia menarik tangannya dari genggaman Papi dan tiba-tiba berdiri bergegas keluar. Sedikit mengganggu. namun Papi memberi aba-aba untuk meneruskan acara lamaran tersebut.


Hingga akhirnya acara tersebut selesai Raka dan rombongannya memberikan hantaran. Untuk calon mempelai wanita. Keluarga menerima hantaran tersebut menaronya di kamar Mardo. Kemudian Mami mengajak menikmati makan malam bersama-sama. Menuju meja makan yang sudah disediakankan.


Pak Bramantyo menyempatkan keluar untuk memanggil Richi semantara dan Mami tetap bersama bu Wijaya. Papi melihat Richi termenung di kursi dekat taman. Pak Bramantyo menyentuh bahunya. "Nanti kita bicara di rumah ya, Papi harap untuk saat ini jaga sikap dan martabat keluarga kita hemmm."


Richi menolehi laki-laki dengan kharisma tinggi itu. "Tiba-tiba aku merasa sesak Pi, aku keluar untuk


mencari udara."


Mardo yang sedang menemani Raka menoleh pria idola itu, kemudian dia berkata, "Itu tadi Richie? boleh aku melihatnya sebentar dan mengajaknya makan malam? " Raka membalas tatapan gadis itu lantas menyentuh dan menggenggam jemari gadis itu dan mengajaknya keluar menemui Richi, "Ayo berdua denganku kita ajak Richie sama-sama makan malam."


Mardo membalas genggaman tangan Raka sembari tersenyum dan mengikuti langkah Raka keluar.


Tetapi Pak Bramantyo ternyata telah berhasil membujuk Richie untuk masuk kembali ke dalam rumah. Mereka berpapasan di pintu masuk. Saling


bertatapan. Kemudian Mardo terlebih dahulu menyapa sahabatnya Richie.


"Hei Rich, senang bertemu denganmu."


Mardo melebarkan bibirnya dan menatap Richi yang kini telah menjelma menjadi pria yang jangkung dan tampan. Keramahannya masih tersisa. Richi menatap Mardo dan akhirnya melebarkan bibirnya.


"Selamat ya Mardo, aku bahagia melihatmu bersama kak Raka."


"Terima kasih Rich, ayo kita habiskan


masakkan Mami aku, mari om,"


Mardo tak melepaskan genggamannya di jari Raka. Ia mengajak ketiga pria itu keruangan yang telah disediakan.


****


Kau sahabat cantik yang kumiliki


datang tiba-tiba dan pergi pun

__ADS_1


mengejutkan. Kau yang awal sekali mengenalkan aku akan kelembutan dan kecerewetan wanita. Memberitahu tentang Rasa, dan kemudian juga kecewa. Hingga hari ini kau adalah sahabat SMP ku yang tidak bisa aku lupakan. Kau datang dan kemudian pergi. Kita tak bertemu selama bertahun-tahun. Aku berusaha mencarimu, wajah cantik, senyum lembut nan ceria serta mata yang bagai selalu jatuh cinta. Tapi aku tidak pernah lagi bertemu denganmu dan tidak ada yang bisa menggantikan sahabat secantik dirimu.


Richi membisu sepanjang perjalanan ke rumah. Iya merasa heran bagaimana Kak Raka Akhirnya bisa menemukan Mardo. Bahkan menjalin cinta dan menikahinya ada sesuatu yang bergejolak di dalam jiwanya.


Cemburu!


Sepanjang malam itu hingga pagi harinya Richie dilanda oleh kegelisahan yang mengganggunya.


Tetapi dia adalah pria baik yang mendapatkan didikkan agama serta moral. Ia tidak mungkin memikirkan


upaya menggagalkan pernikahan saudaranya. Ia hanya perlu menjauhkan diri dan menenangkan perasaannya. Richi mengenderai mobilnya menjauh dari Raka. Melihat Raka membuat jantungnya terasa teremas, sakit sekali. Tapi sisi lainnya tidak bisa mengabaikan rasa sayang yang ada di hatinya terhadap kakak kandungnya itu.


Sementara Denny dan Sammy saat bekerja di kantor pemerintah ingin cepat pulang. Ingin segera bekerja


menyiapkan ***** bengek pesta pernikahan Raka. Saking antusiasnya


Denny sampai menelpon Sammy,


"Bagaimana persiapanmu? apa yang harus engkau ucapkan pada resepsi pernikahan Raka-Mardo nanti, aku belum melihat kau menulis sesuatu apa pun jangan lupa itu! "


"Bukan begitu, Aku hanya ingin memastikan semuanya beres pada waktunya. Bukankah kau tahu kalau aku ditunjuk sebagai ketua panitia pesta pernikahan Raka?"


"Iya aku tahu, tapi kurasa pihak mempelai perempuan yang lebih banyak mengurusnya."


Sammy berusaha menyadarkan Denny


yang tampak sangat sibuk, sebenarnya


dia ingin menyembunyikan rasa gugupnya pada pernikahan.


"Baiklah nanti kita bicara lagi, sampai bertemu di cafe pria idola,ok." Dan


Sammy menutup teleponnya.


Mardo sendiri dengan hati-hati dan


teliti mulai mempersiapkan dirinya dan

__ADS_1


pernikahannya dengan pria yang sangat ia puja dan cinta. Perasaan itu mendadak mencekam jiwanya. Ia teramat mencintai kak Raka, setiap detik merindukannya. Ingin memeluk dan memberikan kasihnya. Inikah yang yang namanya Kasmaran selalu teringat sosok yang dicintai.


Tiba-tiba Mardo sudah menulis pesan untuk Raka, "Sayang, jangan lupa dhuhur dan makan siang, jangan lupa bahagia."


Setelah menulis pesan itu Mardo menggigit bibirnya, hatinya berdebar-debar menunggu jawaban dari Raka.


'ya sayang, makasih, aku merindukanmu selalu.'


'Mardoku juga jangan lupa dzuhur dan makan siang oke."


'Tentu, I love you.'


'love you too Mardoku'


Sejak lamaran itu Mardo dan Raka selalu mengirim pesan cinta setiap hari dan setiap malam. Mengutarakan perasaan yang begitu lama terpendam.


Sekarang saatnya mereka saling mencurahkan perasaan yang sempat sempat tertahan tujuh tahun lamanya. Raka sangat bahagia karena Mardo gadis yang sangat romantis penuh perhatian serta cinta yang mendalam untuknya.


Raka juga menghargai keputusan yang sudah diambil oleh gadis itu. Mardo menjatuhkan pilihan kepadanya, bukan kepada pria yang yang bertemu di kantor penerbitan milik gadis itu.


Bagaimanapun Raka memiliki dugaan bahwa pria itu dan Mardo memiliki hubungan yang lebih dari sekedar teman. Bahkan mungkin mereka sudah membicarakan sebuah pernikahan. Hingga Ia datang di antara mereka. Raka bisa mengerti kebingungan Mardo sehingga sempat menangis dan lari ketika ia mengatakan cinta dan ingin melamarnya. Mardo bahkan sempat menghilang selama beberapa hari untuk beristikharoh mencari tahu siapa seharusnya yang ia pilih. Terima kasih Tuhan sebab gadis itu memilih diriku.


Raka, sangat berterima kasih karena Mardo memilihnya dan ia tidak akan menyia-nyiakan apa yang telah diputuskan oleh gadis itu. Ia akan membahagiakan Mardi sepanjang umurnya. Raka berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan pernah menyakiti Mardo. Bukankah janjinya adalah cinta pertama dan terakhirnya


adalah Mardo. Ia berterima kasih dan bersyukur dirinya tidak jadi membujang seumur hidup. Seandainya Mardo menikah dengan laki-laki itu maka ia akan membujang seumur hidup. Ohh


Mardo begitu berarti di dalam kehidupannya karena sudah menyelamatkannya dari membujang seumur hidup. Raka menarik bibirnya tersenyum tipis, sekarang Iya selamat.


Saat Mardo menghilang ada satu perasaan yang hadir ke dalam dirinya bahwa ia tidak perlu takut dan gelisah karena Mardo akan memilihnya. Sebuah perasaan yang membuatnya sangat yakin bahwa Mardo akan datang kepadanya, dan itu terbukti.


Cintanya yang sangat besar, keyakinannya dirinya begitu dalam adalah yang membuat Mardo akhirnya jatuh kepelukkannya.


Cikidot, terima kasih sudah


membaca dan mendukung Pria Idola


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2