Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 224. Makan Malam Romantis


__ADS_3

Prita membuka pintu ruangannya, ia melonggok ruangan pak direktur yang berada di sebrangnya. Seharian ini ia tak mendengar pria muda itu beraktivitas. Tenang sekali pak direktur hari ini.  Gadis itu berjalan untuk mengintip sedang apa sang direkturnya. Apakah sedang membacai file-file yang telah ia susun serta laporan neraca bulanan yang telah ia buatkan? Ternyata pak direktur bisa tenang dan anteng sekali.


Sebetulnya Prita ingin pamit pulang lebih dulu. Sebab ia ingin mempersiapkan acara special makan malam bersama Rakasiwi. Mereka sudah berjanji akan pergi nanti malam. Jika ia bisa pulang lebih cepat ia ingin sekali pergi ke salon langganannya yang rutenya melewati jalan pulang. Tapi Prita tak berani menyatakan keinginannya itu. Tinggallah gadis itu meremas-remas jemarinya.


Bekerja selama lima hari ini membuat tubuhnya merasa lelah, belum lagi oleh ruangan yang sangat dingin, membuat kulitnya terasa kering. Jika saja ia boleh pulang sedikit lebih awal, ia ingin memanjakan diri terlebih dahulu sebelum pergi bersama Rakasiwi.  Prita ingin spa, serta luluran. Ia merindukan wangi aroma therapi yang membuatnya mengantuk dan tertidur.


Pekerjaannya sudah selesai, hanya tinggal menunggu setengah jam lagi. Setengah jam yang sangat berguna sekali untuknya. Ia ingin ke salon untuk mendapatkan perawatan kulit selama beberapa menit saja.


"Prita! saya pulang duluan ya."


Tiba-tiba kepala pak Boy menyembul di pintu mengagetkannya.


Up, bukankah kata-kata itu merupakan yang ada dibenaknya sejak tadi, pak boleh saya pulang duluan, saya ada keperluan. Malah pak direktur yang mendahuluinya.


"Oh, iya pak silahkan."


"Tolong ruanganku di lihat ya."


"Baik Pak."


Prita segera bergegas ke ruangan  direktur, untuk menaro kembali file-file yang telah dibaca dan dilihat. Meja pak direktur berantakan. Gadis itu penuh tanggung jawab menyimpan file-file dan menguncinya. Ia juga harus menjaga aset perusahaan milik pak direktur. Setelah itu ia buru-buru ke ruangannya. Melepas sendalnya dan mengenakan lagi high shoesnya yang ia taro di bawah meja. Selama beraktivitas di ruangannya ia lebih sering menggunakan sendal, nyaman menurutnya. Jika keluar dan pulang barulah ia kembali memakai sepatu tingginya itu.


Gadis itu lantas pulang, dan sempat mampir untuk luluran di sebuah salon wanita. Untung saja tidak banyak yang mengantri, ia langsung dipanggil untuk memasuki ruangan spa. Petugas yang akan memijat dan meluluri tubuhnya memberinya kain yang terlipat. Prita tak banyak kata segera membuka semua bajunya sehingga tubuh indahnya itu sejenak polos tanpa sehelai benang. Ia berbaring dan menutup tubuhnya dengan kain tersebut. Tak lama mba yang bertugas memasuki ruangannya dan mulai mengoleskan luluran berbau wangi dan perlahan memijati dengan lembut. Prita tersenyum, menikmati pijatan tersebut.


Sementara Rakasiwi tak kalah berdebar menunggu acara makan malam tersebut. Ia sudah mencari-cari sebuah tempat yang akan berkesan untuk keduanya. Tempat yang pilih terletak di sebuah restoran mewah di pinggiran Jakarta. Selain tempatnya yang indah, atmosfier dan lokasinya terlihat mengesankan. Ia sudah melihat sendiri ke sana dan membooking untuk makan malam berdua. Ada spot foto romantis yang telah disediakan, musik yang indah. Selain itu ada berbagai pilihan menu. Mulai dari masakkan Italia, Jepang dan tentu saja makanan lokal. Tersedia sop buntut sapi yang rasanya membuat terkesima. Potongan daging ikan salmon yang membuat lidah tak berhenti bergoyang.


Rakasiwi dua hari yang lalu sudah mencari tempatnya dan memutuskan ia akan mengajak Prita makan malam di sana. Sebuah makan malam yang tak terlupakan. Saat senja ia menulis pesan pada Priti apakah sudah pulang, ia mengingatkan gadis itu tentang makan malam mereka. Prita bilang ia sudah di rumah dan sedang bersiap-siap. Keduanya mengenakan baju yang terbaik dan terindah. Prita saat kuliahnya dulu beberapa kali ikut temannya bekerja magang di wedding organition. Ia memiliki beberapa gaun untuk acara dinner serta pesta. Ada gaun berwarna putih, hitam, merah dan juga kuning. Sedikit bingung juga yang mana dari keempat baju tersebut yang membuatnya nyaman. Untunglah Prita memiliki waktu untuk mencoba keempat bajunya.


Usai melaksanakan sholat magrib, Rakasiwi mengenakan kemejanya, ia akan membawa jas hitamnya tetapi tidak memakainya hanya menyampirkan di pundak. Ia menyemprotkan minyak wangi kesukaannya. Memakai jam tangan dan mengambil handphone dan kunci mobil.


Rasa berdebarnya semakin menjadi. Kalau sudah begini ia memerlukan ibunya. Segera ia ke kamar Mardo dan mengetuk pelan.


"Bunda!"


Ia memanggil di depan pintu. Mardo yang baru saja selesai berdoa dengan Rama yang merangkak-rangkak di pangkuannya menoleh ke pintu.

__ADS_1


"Masuk saja Nak."


Raka memasuki kamar Mardo. Wanita itu memandangnya dengan kebanggaan seorang ibu. Mardo memang sangat bangga pada putra sulungnya itu. Meski manja tetapi ia bisa melewati satu demi satu rintangan yang ia alami.


"Bunda, a-aku."


Raka duduk di samping ibunya dan tersenyum tersipu.


"Putra bunda yang ganteng, keren dan wangi begini sepertinya mau pergi ya?"


"He he he, Iya Bun, mau mengajak Prita makan malam."


"Oh, pergilah."


"Berdebar Bun, baru sekali ini pergi makan malam di tempat special."


"Assalamualaikum."


Tiba-tiba Raka masuk, dan mereka semua menolehi pria berkharisma itu.


"Ada apa?"


Raka menghenyakkan dirinya dekat Mardo dan memeluk serta mencium kening istrinya itu. Rama yang melihat hal itu menjerit dan membesarkan mata pada ayahnya, Ia buru-buru naik kepangkuan Mardo dan memeluk lehernya, melepaskan tangan Raka dari tubuh Mardo.


"Pi, Rama jealous ha ha ha."


"Pengen dipeluk dan dicium sama ayah juga ya, sini  sama ayah."


Raka menarik tubuh bayi berusia hampir dua tahun tersebut dan menaronya di pelukkannya.


"Pi, Rakasiwi mau makan malam sama Prita."


Mardo menarik lengan suaminya.


"Iya, nggak apa-apa, ayah juga dulu mengajak bunda makan malam kok."

__ADS_1


"Katanya berdebar Pi."


"Ya, ayah juga dulu begitu. Karena saat makan malam itu ayah mengungkapan perasaan ayah yang terdalam. Cinta ayah, secara serius dan resmi."


"Ungkapan cinta ayah sebenarnya sudah sering, tetapi wanita menginginkan kepastian yang lebih menguatkannya dan membuat dirinya yakin untuk menunggu. Dan menjaga dirinya dari cinta pria lain."


"Jadi Ayah dan bunda makan malam dan menyatakan cinta sekaligus lamaran ayah untuk menjadi istri dan ibu dari anak-anak ayah."


"Oh, jadi makan malam ayah dan bunda sekalian lamaran pernikahan?"


"Iya, ayah melakukannya, tetapi bisa juga untuk memintanya menjadi kekasih. Tergantung momen apa yang dikehendaki kok."


Rakasiwi menganggukkan kepalanya, ia menjadi lebih tenang sekarang. Ia bisa dengan jelas akan melakukan apa pada Pria. Pria muda itu pun mencium punggung tangan Mardo dan Raka. Lalu pamit sebab waktunya telah tiba.


 


"Ok Bunda dan Ayah aku berangkat!"


"Semoga sukses!"


Raka bergegas ke tempat parkir, ia menulis pesan sebelumnya pada Prita bahwa Ia sudah dalam perjalanan ke rumah Prita.


"Ok juga sudah siap, sedang menunggumu."


Balas gadis itu, masih merapikan dandanannya. Ia memutuskan berpakaian santai, sebab kata Rakasiwi mereka akan makan malam di sebuah restoran pinggir laut.




 


 


 

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2