Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 17.Liburan Hari Pertama


__ADS_3

Pertengkaran adik dan kakak itu membuat banyak orang terbengong."Tak biasanya ya?" Betty saling menatap dengan Vana, Rose, Zamzam. Sarah Lee dan Halima juga menoleh ke arah pertengkaran itu. Richi tampak membalikkan tubuhnya, melepas dari pelukkan Deni. Ia berjalan menghentak memberitahu dengan tubuhnya bahwa ia sangat kesal.


"Dasar anak manja, dimarahin sedikit saja balik marah heh!"


Raka membanting pintu mobilnya dan menginjak gas hingga pasir beterbangan. Deni tak bisa berteriak, karena ia ditinggalkan begitu saja. Deni mengibaskan lengannya dan memilih untuk bermain sendiri. Sammy entah di mana. Tadi mereka sempat membuat  tenda di belakang pantai, mungkin Sammy ada di sana, menatapi pantai sambil memperhatikan ombak yang berkejaran. Deni berjalan pelan-pelan menikmati suasana pantai sambil ia memikirkan akan tiba di tempat Sammy dalam beberapa menit.


"Apa yang terjadi? kalian bertengkar seperti itu?"


Mardo menatapi wajah Richi sepenuh perhatian.


"Dia keterlaluan! membahayakan kita berdua."


Mardo terdiam, ia sedikit agak bingung serta tak tahu harus bagaimana. Keduanya kakak beradik, ia tak bisa asal bicara takut salah.


"Yah kau benar, tapi kak Raka tak akan membahayakan kita. Dia adalah kakakmu, tak mungkin Rich."


Richi diam, mereka berjalan bersisian mendekati teman-teman yang masih bermain air laut. Tubuh mereka sudah basah kuyup. Tapi mereka semua menunggu ombak yang berkejaran dan bergulung-gulung menuju pantai. Suara teriakan kegembiraan sembari melompat terdengar seantero pantai.


Rich!


Mardo, menolehi  wajah yang masih terbawa oleh emosinya.


Richi menoleh, pandangan mereka bertemu sesaat, lantas tersenyum.


"Kita ke sini untuk berlibur, bersenang-senang iya kan? jangan marah lagi."


"Hemmm, baiklah mari kita bersenang-senang."


Richi berlari menyuruh Mardo mengejarnya. Mereka menuju teman-teman yang sedang menunggu ombak dan ada yang bermain pasir juga.


"Hei lihat ombak datang!"


Wauuuu!


Lagi, gadis-gadis itu membiarkan tubuh mereka terterpa air laut yang segar. Mereka tertawa dan melompat-lompat.


Richi dan Mardo juga ikut berteriak oleh ombak tersebut. Mereka semua menunggu lagi dan akan melompat lebih tinggi melompati ombak.


Sarah Lee dan Halimah berbaringan di pasir, bercengkrama dan membuat benteng pasir.


Tiba-tiba datang beberapa anak muda yang menuntun kuda. Mereka membawa kuda-kuda melewati pengunjung. Mereka mencari bagian pantai yang sepi.


Anak-anak muda itu membawa kuda-kuda ke laut. Memandikan dan bermain-main dengan kuda mereka.


"Sarah Lee, lihat kuda-kuda itu."


Sarah Lee mengikuti pandangan Halima, dan gadis itu berteriak.


"Nona-nona, ada kuda lihat!"


Gadis-gadis bersamaan melihat kuda-kuda itu, dan semuanya tertarik sekali untuk melihat lebih dekat.


Pelan-pelan mereka beranjak untuk menyaksikan pemandangan aneh dan unik tersebut.


"Hei, kakak kalian maukah memandikan kuda?"


Seorang pemilik kuda yang ramah menawari mereka.


Mardo menggeleng, tapi Zamzam berjalan menuju laut, ia memercikkan air ke tubuh kuda. Kemudian mulai menyentuh tubuh kuda dan membelai-belainya.

__ADS_1


Melihat Zamzam, gadis-gadis jadi berani, Mardo juga beranjak kesana dan mencoba menyentuh kuda.


Ia menjulurkan tangannya di sebelah Zamzam, menyentuh tubuh k."uda yang liat, padat. Mereka tertawa dan mengelus-ngelus kuda.


"Jalan-jalan dengan kuda yuk kak, menyusuri pantai. Asyik loh kakak, murah kok. Lima puluh ribu saja."


Pemilik kuda dengan pintar menawarkan gadis-gadis.


"Yuk, aku mau."


"Aku juga."


"Ok, selesaikan dulu memandikan kudanya."


Sementara Raka menghentikan mobilnya jauh dari pengunjung. Ia berusaha menenangkan dirinya.


Hampir saja tadi ia memukul adiknya. Darahnya mendidih melihat keakraban Richi dan Mardo.


Tak pernah ia semarah tadi. Begitu cemburunya dia.


Selama ini ia melihat adiknya berteman dengan Mardo ia biasa saja. Tapi tadi, ia tak bisa menahan diri.


Laki-laki muda itu menggigit-gigit bibirnya.


"Kenapa mereka berjalan berduaan?"


Menjauh dari teman-temannya.


Richi mau membawa gadis itu kemana?


Aku tak suka melihat kedekatan itu.


Raka menendang nendang pasir. Ia berjalan menyusuri pantai dengan tangan dimasukkan ke saku celana.


Ia masih teringat sikapnya yang tak terkendali tadi. Membuat pasir beterbangan menerpa Richi dan Mardo.


Dua kali ia melakukan hal yang sama. Hingga Richi marah dan mendatanginya. Mata adiknya itu kesal serta marah. Ia teringat kata-kata pedas yang terlontar dari mulut adiknya.


Huahhhhh!


Raka menghembuskan napasnya.


Dia seperti anak kecil, memalukan.


Huahhhh!


Sekali lagi ia menghembuskan napasnya, berteriak ke laut.


Pria itu membisu menatap laut. Saat mendengar Richi  akan berlibur ke kota Merauke bersama teman-temannya. Ia yakin Mardo akan ikut. Beberapa kali ia melihat Richi melakukan kegiatan bersama, dan selalu ada Mardo diantara mereka. Ternyata memang benar.


Untungnya tanpa susah mencari-cari alasan untuk pergi  ke Merauke, Papinya pak Bramantyo memanggilnya dan mengutarakan bahwa adiknya akan berlibur ke kota Merauke. Papinya menanyakan kesediaannya mengawasi dan menjaga adik dan teman-temannya.


Pucuk dicinta ulam tiba, tak menawari dua kali, Raka langsung menyetujui permintaan Papinya.


Selain ia sudah sangat lama tak pernah lagi ke kota tersebut. Ia ingin bernostalgia bersama Deni dan Sammy.


Ia bersiap untuk menjaga adiknya.


Apakah ia menjaganya juga agar tidak pacaran?

__ADS_1


Raka tersenyum, Richi benar, dirinya memang keterlaluan.


Pak Bramantyo hanya menyuruhnya menjaga dan mengawasi anak-anak itu.


Tetapi, Richi masih kecil.  Ia belum layak memiliki seorang gadis. Belum boleh pacaran.


Ia melakukan hal yang benar. Pak Bramantyo juga pasti tak setuju jika tujuan Richi berlibur ke kota Merauke adalah untuk pacaran.


Sebagian lain dari jiwanya membisikkan kalau ia benar, tak perlu merasa menyesal apa lagi malu karena telah menegur adiknya.


Raka merasa tenang dan yakin telah melakukan tindakan yang benar.


Jika Richi mengadu pada Papi, ia bisa mengemukakan alasannya.


Raka melebarkan bibirnya yang bagus, ia tersenyum.  Hanya saja lain kali ia tidak akan bertindak seperti tadi.


Sangat kasar dan menakutkan. Ia tadi sempat menangkap eksperesi Mardo yang ketakutan.. Gadis itu berdiri agak jauh dengan tubuh gemetar, terbengong serta tercekat.


Sejauh ini ia belum bisa mendekatinya, gadis itu selalu menjaga jarak dengannya.


Terkesan ia sengaja melakukan itu, apakah kemarahannya yang berawal di bandara Zepman belum juga sirna. Pertemuan-pertemuan yang tidak terduga beberapa kali terjadi.


Namun tidak berpengaruh apa-apa. Gadis itu bersikap tidak pernah mengenalnya. Kesal dan menyimpan kemarahannya begitu lama.


Raka masih berjalan menyusuri pantai sendirian sembari melamun dan bicara pada diri sendiri.


'Aku harus pelan-pelan dan bersahabat dengannya.'


Aku menginginkan Mardo untuk masa depanku.


Aku jatuh cinta padanya di pertemuan pertama, saat berbenturan tubuh.


Dia membuatku tergetar, kehilangan diriku sesaat karena hebatnya akibat yang terjadi.


Mardo milikku, bukan milik Richi.


 


Bersambung


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2