Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 110 Triananda Bunda Minta Maaf


__ADS_3

Mardo menyentuh jemari Tria, ia menggenggamnya perlahan dan lembut. mendekatkan wajahnya ketangan dan jemari kecil yang halus lembut tersebut. Lantas menaruh tangan kecil dan gendut itu di pipinya diciumnya dengan penuh kasih dan kelopak matanya basah.


"Maafkan Bunda sayangku, waktu itu bunda memang tidak menginginkan dirimu. Bunda sangat lelah dan merasa tidak ada waktu untuk bersantai dan menikmati hari dengan hobby bunda.


Kakakmu Rakasiwi dan Cindy telah menguras hari-hari bunda, tenaga dan pikiran.


Baru saja kakakmu Cindi bisa berlari dan bermain sendiri, bunda memiliki sedikit waktu untuk menikmati hari-hari dan pekerjaan yang Bunda senangi, tiba-tiba kau sudah hadir di dalam perut Bunda.


Bunda merasa belum siap untuk menyambutmu. Dan bunda tidak tau betapa cantiknya dirimu. Bulan-bulan awal kehadiranmu telah mengalihkan dunia bunda seluruhnya kepadamu.


Hati bunda telah kau rebut dengan sosok mungilmu yang cantik, lucu dan halus, putri cantikku nan manja dan manis. Kau bak sekuntum bunga yang memikat kupu-kupu. Kau dengan ketak berdayaanmu justru mampu menaklukan hati bunda yang semula keras, bahkan dunia bisa takluk oleh tangismu."


"Maafkan bunda karena tidak mengetahui betapa cantiknya engkau, putih dan begitu lembutnya engkau. Maafkan Bunda sayang, maafkan Bunda karena saat bunda tau kau telah ada di perut bunda. Saat itu bunda sangat kesal. Bunda marah-marah pada ayahmu. Menyalahkannya karena menginginkan kehadiranmu.


Saat ayahmu pergi bekerja dan kakakmu kesekolah, bunda melompat-lompat Agar engkau keluar dari perut Bunda. Berlari-lari dan menghempaskan diri dengan maksud agar kau keluar.


Bahkan bunda sengaja mendatangi seorang bidan untuk meminta obat, agar kau tak sempat bertumbuh.


Ibu bidan memberi bunda minuman jamu yang sangat pahit, dan bunda menahankan pahitnya demi bisa mengeluarkanmu, ohhh betapa jahatnya bunda kepadamu.


Bunda baru berhenti saat teman bunda menakuti dan jangan berbuat gegabah, sebab bisa membahayakan bunda sendiri dan juga bisa membuat anak cacat.


"Ya Allah, bunda begitu bodoh. Dan ternyata kau begitu ingin bertemu dengan bunda, ayah, serta kakak- kakakmu, keinginanmu itu membuatmu tak bergeming dari perut bunda. Kau kuat mencengkram dalam rahim bunda. Menahankan semua perbuatan bunda."


"Dan kau berhasil melewati semua rintangan yang bunda buat untuk mencegah kehadiranmu di dunia ini, Kau begitu kuat sayangku, hingga akhirnya kau terlahir."

__ADS_1


Semua menyambutmu penuh kegembiraan dan bahagia. Ayahmu memelukmu ke dadanya dan mengazani dirimu, ia penuh cinta menciumi pipimu yang halus dan putih, lalu memberikan dirimu pada bunda.


"Maafkan bunda sayangku, saat itu bunda belum ingin melihatmu, tak ingin memeluk dan mencium dirimu, keenganan bunda untuk tidak memiliki anak masih menguasai hati bunda, sampai kau menangis karena kehausan."


"Ayahmu menatap pada bunda dengan matanya yang akan marah, terpaksa bunda memberikan asi kepadamu, dan kau meminum asi bunda sedikit saja selanjutnya bibirmu yang kecil menangkup diam dan tertidur.


"Setiap malam kau selalu gelisah dan susah tidur, padahal bunda sudah tidak lagi marah kepadamu, bunda sudah menerima kehadiran dirimu. Bunda menjaga dan memberimu asi ekslusif. Dan semakin hari kau semakin berisi dan bernas, rambut ikalmu makin terlihat hitam dan lucu dan kaki- kakimu panjang dan besar. Kau makin lucu dan menggemaskan. Membuat semua menyukaimu dan sayang sekali padamu."


Mardo menghapus airmatanya. Ia telah mencurahkan seluruh perasaannya pada baby Tria. Perasaan salah dan penyesalan. Seharusnya ia bersyukur. Memiliki semuanya, suami yang baik dan mencukupi kehidupan mereka. Banyak perempuan diluaran sana yang punya anak banyak dengan kehidupannya yang sulit. Mesti membanting tulang untuk memberi makan


dan kehidupan yang baik bagi anak- anaknya.


Sedangkan dirinya, memiliki dua asisten rumah tangga yang selalu siap dan siaga memasak untuknya dan anak-anaknya, mencuci, menyetrika, membersihkan rumah, tidak ada lagi yang ia kerjakan. Tetapi dengan menambah satu lagi anak ia merasa keberatan, Ohhh betapa memalukan dirinya.


Mardo menghapus air matanya, sekali lagi memeluk tubuh yang masih panas tersebut.


Bibir baby Tria juga kering dan tampak menyeringai oleh rasa sakit atau tidak enak pada tubuhnya.


Oleh kelelahan dan tidak tidur semalaman, Mardo tertidur disamping baby Raka.


Lalu terdengar pintu ruangan itu diketuk dan masuklah seorang gadis yang cantik dan Modis. Ternyata Patricia adiknya. Kakak dan adik itu saling bersalaman dan berciuman. Pat melihat keponakannya dan Pat berkata bahwa sejak semalam teringat dan rindu terus kepada anak-anak karena itu dia izin pulang dari kantornya untuk bermain ke rumah. Tetapi ternyata baby Tria sedang dirawat di rumah sakit.


"Sakit apa Kak?" tanyanya dan Mardo menjawab bahwa dokter belum memberikan hasil pemeriksaan jadi belum tahu Tria sakit apa.


Kemudian dia bertanya apa tadi ke rumah dan melihat anak-anak?

__ADS_1


Pat bilang, iya dia ke rumah dahulu dan dia katanya sempat memakaikan Cindy dan Rakasiwi baju baru.


Pat juga menyampaikan kata Mas Raka mereka akan datang sore hari nanti ini, dan Pat membawakan makanan minuman dan baju handuk untuk kakaknya.


Patricia meletakkan tas dan bungkusan makanan di atas meja di depan sofa. Mardo barulah merasakan lapar dan dahaga.


Mumpung ada Pat yang berjaga, Mardo ke kamar mandi untuk mandi dan mengganti bajunya. Setelah segar dan wangi barulah Mardo melihat makanan yang dibawakan untuknya. Rupanya asisten rumah tangganya sudah memasak dan menyiapkan bekal makanan untuknya.


"Pat, kemarilah, banyak sekali makanannya. Ayuk makan."


"Sebelum kesini aku sudah makan kak, aku menyuapi Rakasiwi dan Cindy juga tadi."


"Mas Raka tadi ada tamu dari perusahaan, jadi aku makan bersama anak-anak."


"Aduh kasihan ya kak, ponakan cantik aku, wajahnya sendu begitu, biasanya bersinar ceria, hemmm cepat sembuh baby Tria, sayang."


Pat, mengelus jemari dan gerumbul-gerumbul rambut hitam baby Tria, menatap wajahnya dan mencium penuh sayang.


"Papi,Mami belum tau kak?"


"Janganlah kasihan, nanti kaget dikira sakitnya apa?"


Mereka mengobrol sembari merasakan saat-saat kebersamaan mereka dulu, bersama Papi dan Mami di rumah mereka. Mardo juga menanyakan hubungan Pat dengan kekasihnya. Tapi Pat terlihat tidak terlalu perduli. Dia belum menemukan seseorang yang menurutnya cocok.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2