
Rakasiwi memperhatikan dompet mungil berwarna kecoklatan di tangannya.
Ia belum pernah membuka dompet tersebut. Belum sempat karena ia sibuk
dengan adik-adiknya. Sangat menyenangkan mengingat masa-masa kecil
yang bahagia. Mereka berkumpul dan mendengarkan cerita Rakasiwi tentang
kesehariannya di kota tempatnya menuntut ilmu.
Baru sekarang ia teringat pada dompet yang ia temukan seusai kejadian
bertabrakan dengan seorang perempuan yang muda belia di stasiun kereta.
Rakasiwi sedikit ragu membukanya tetapi ia ingin mengembalikan dompet
itu, karena mungkin di dalamnya ada dokumen penting bagi pemiliknya.
Perlahan Rakasiwi membukanya, dompet itu menjadi panjang dan ia melihat
beberapa kartu terselip di bagian depan, kartu anggota perpustakaan, kesehatan
dan dua atm bri serta bni juga kartu mahasiswi dari sebuah perguruan tinggi
di kota Semarang.
Laki-laki itu tidak menemukan ktp asli di dalamnya melainkan ktp cofian yang
sudah di laminating. Ia membaca nama Prita Pujaningrum, aneh ia seperti
pernah mendengar nama tersebut. Rakasiwi mengerutkan keningnya, di mana
ia pernah mendengar nama itu. Sebuah nama yang tidak asing. Ketika
melihat alamatnya, itu tidak terlalu jauh dari rumahnya. Masih satu kelurahan.
Ia juga melihat isi dompet itu yang berisi uang lima puluh ribuan dan beberapa
lembar sepuluh ribuan.
Sebenarnya Rakasiwi ingin menyuruh pak supir yang juga berasal dari daerah
itu juga mengantarnya, tetapi ia mengurungkannya. Ia penasaran di mana ia
pernah mendengar nama Prita Pujaningrum, bayangan wajah gadis itu yang
memiliki bulu mata lentik hitam serta bentuk bibir yang sedikit manyun mungkin
waktu bayinya banyak mengompeng. Tetap keseluruhan wajah itu cantik, manis
dan membuat jiwa mudanya berdebar.
Ia akan mencari gadis itu dan menemuinya. Segera ia memasukkan ke kantong
dan menyambar kunci mobilnya. Ia akan memulai mencarinya hari ini.
Saat ia keluar dari kamar, ia melihat adik-adiknya yang asyik bersantai
di karpet dengan mainan mereka masing-masing. Adik-adiknya menatapnya
sejenak.
"Mau kemana kak? udah cakep?"
Cindy menyapanya sembari tersenyum. Tria juga mengangkat wajahnya dari
tablet yang ia pegang.
"Iya nih udah cakep kayak sekoteng, kakak mau pergi kencan ya? ikut dong."
perkataan yang membuat mereka semua tertawa.
"Kencan? kecil-kecil udah tau kencan memang apaan kencan?"
"Ich kecil, sebentar lagi juga smu, he he he kencan ya pacaran, ngedate iya
__ADS_1
kan? Dode juga tau ya De?"
Dode mengangkat wajahnya, "nggak tau! mana tau!"
"Alah Dode pura-pura aja nih, kemarin telponan sama pacarnya juga, kakak
dengar kok."
"Hah! yang benar sih De? jangan dulu De, kakak aja belum pacaran!"
Cindyberteriak, tak rela di dahuluin adik-adiknya.
"Iya, kakak Tria juga belum! enak aja Dode tuh!"
"Siapa yang pacaran, Dode cuman pinjam catatat aja sama dia kok."
"Pinjam buku nih yeee!"
Terjadilah keributan, karena Dode tak mau dituduh sudah pacaran maka ia
segera mengajak Cindy dan Tria gulat. Serta merta Cindy dan Tria berdiri
dan berancang-ancang dengan kaki membuat kuda-kuda. Terdengarlah
bunyi ciat! ciat! ciat! lalu berkejaran yang membuat rumah ribut dan berantakan.
Sementara Rakasiwi menggelengkan-gelengkan kepalanya, ia beranjak keluar
sebelum Cindy atau Tria minta ikut.
"Ampun! ampun! De!"
Cindy dan Tria mengalah ketika kedapatan bersembunyi di balik pintu, Dode
menarik-narik rambut keduanya. Membuat Cindy, Tria menjerit-jerit kesakitan.
"De sakit! ampun! ampun! deh."
"Awas ya! usil lagi, Dode ikatin nih rambutnya."
sehingga keduanya kesulitan bergerak.
"De, kan udah minta ampun!"
"He he he biar kapok!"
Kedua gadis kecil itu pun berusaha melepaskan rambut mereka yang digabungkan
oleh Dode yang lantas meninggalkan keduanya di sana.
Hiiiiiii Dode!
Cindy meneriaki adik bungsunya.
"Assalamualaikum."
Rakasiwi berdiri di depan sebuah rumah petak yang sangat sederhana. Sebelumnya
ia berputar-putar daerah tersebut. Bertanya kesana kemari tentang gadis yang
bernama Prita Pujanigrum dan alamat yang tertera di ktp. Orang-orang menunjukkan
tempat itu karena memang lumayan terkenal. Di sana tempatnya orang-orang yang
mencari kontrakkan rumah petak yang murah meriah, dari yang agak bagus hingga
yang paling sederhana. Ada sekitar lima puluh rumah petak di sana, dan sangat ramai.
Dahulu kalanya rumah-rumah petak tersebut milik seorang juragan tanah yang kaya
raya. Beliau adalah kakek Prita, Kampung itu sudah seperti miliknya karena begitu
banyak tanah yang ia miliki. Bertahun-tahun berikutnya, ia mulai membangun rumah
rumah petak untuk di kontrakkan, rumah-rumah mungil untuk pasangan muda.
__ADS_1
Sehingga semakin lama kian ramai dan rumah-rumah kontrakkan itu tak pernah
sepi.
Hanya saja anak-anak pak haji Sobirin memiliki sifat berhura-hura, dan hidup berpoya
poya sehingga satu demi satu rumah-rumah yang mereka miliki di jual untuk
memenuhi kebutuhan gaya hidup. Sesudah Pak Haji Sobirin meninggal rumah-rumah
yang tersisa dibagikan secara adil kepada empat orang anak-anaknya. Masing-masing
mendapat warisan sepuluh rumah. Sisanya untuk kehidupan istrinya.
"Waalaikumsalam, cari siapa Dik?"
Seorang perempuan bertubuh besar dan tegap keluar dan menatap rakasiwi
terkagum-kagum, ada seorang pria muda yang indah sekali untuk ditatap
di siang yang belum terlalu panas.
"Maaf bu, apakah di sini rumah Prita Pujaningrum?"
Bibir wanita itu tersenyum lebar, ohh seorang pria tampan dan terlihat berbeda
dengan pria-pria kampung teman anaknya.
"Iya benar ! ada apa? apakah adik teman kuliah anak saya Prita?"
"Bukan Bu, saya sedikit ada keperluan."
"Oh, sayang sekali! Prita baru saja keluar, baru beberapa menit yang lalu."
Oh, Rakasiwi tertegun, entah kenapa ia sedikit kecewa, ia ingin bertemu
gadis bernama Prita itu. Bayangan wajahnya selalu terbayang akhir-akhir
ini.
"Oh kalau begitu, saya hanya ingin mengembalikan dompetnya Bu, agaknya
terjatuh di stasiun waktu itu."
Rakasiwi mengeluarkan dompet milik Prita dan memberikannya pada si ibu
yang terbengong.
"Oh, adik menemukan dompet anak saya ya?"
Si ibu menatap Rakasiwi yang masih berdiri di depan si ibu.
"Terima kasih ya Dik, nanti saya sampaikan pada Prita, oh iya siapa
nama adik ini?"
"Eh, hemmm saya Rakasiwi, Bu. Baiklah kalau begitu saya pamit."
Raka membalikkan badannya ingin segera berlalu, tetapi si ibu menahan
"Bagaimana kalau nanti anak saya ingin mengucapkan terima kasih, apakah
Dik Raka sebaiknya meninggalkan nomer handphone?"
Sesaat Raka terdiam, apakah itu perlu? tetapi bukankah ia ingin bertemu dan
mengenal gadis itu, tanpa pikir panjang lagi ia menuliskan nomer telponnya
di sebuah buku yang disodorkan ibu Prita."
Barulah Rakasiwi meninggalkan tempat itu.
Bersambung ke Episode 121
Jangan lupa saling mendukung, tinggalkan jejaknya.
__ADS_1