Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 199 Mencari Prita Pujaningrum


__ADS_3

Rakasiwi memperhatikan dompet mungil berwarna kecoklatan di tangannya.


Ia belum pernah membuka dompet tersebut. Belum sempat karena ia sibuk


dengan adik-adiknya. Sangat menyenangkan mengingat masa-masa kecil


yang bahagia. Mereka berkumpul dan mendengarkan cerita Rakasiwi tentang


kesehariannya di kota tempatnya menuntut ilmu.


Baru sekarang ia teringat pada dompet yang ia temukan seusai  kejadian


bertabrakan dengan seorang perempuan yang muda belia di stasiun kereta.


Rakasiwi sedikit ragu  membukanya tetapi ia ingin mengembalikan dompet


itu, karena mungkin di dalamnya ada dokumen penting bagi pemiliknya.


Perlahan Rakasiwi membukanya, dompet itu menjadi panjang dan ia melihat


beberapa kartu terselip di bagian depan, kartu anggota perpustakaan, kesehatan


dan dua atm bri serta bni juga kartu mahasiswi dari sebuah perguruan tinggi


di kota Semarang.


Laki-laki itu tidak menemukan ktp asli di dalamnya melainkan ktp cofian yang


sudah di laminating. Ia membaca nama Prita Pujaningrum, aneh ia seperti


pernah mendengar nama tersebut. Rakasiwi mengerutkan keningnya, di mana


ia pernah mendengar nama itu. Sebuah nama yang tidak asing. Ketika


melihat alamatnya, itu tidak terlalu jauh dari rumahnya. Masih satu kelurahan.


Ia juga melihat isi dompet itu yang berisi uang lima puluh ribuan dan beberapa


lembar sepuluh ribuan.


Sebenarnya Rakasiwi ingin menyuruh pak supir yang juga berasal dari daerah


itu juga mengantarnya, tetapi ia mengurungkannya. Ia penasaran di mana ia


pernah mendengar nama Prita Pujaningrum, bayangan wajah gadis itu yang


memiliki bulu mata lentik hitam serta bentuk bibir yang sedikit manyun mungkin


waktu bayinya banyak mengompeng. Tetap keseluruhan wajah itu cantik, manis


dan membuat jiwa mudanya berdebar.


Ia akan mencari gadis itu dan menemuinya. Segera ia memasukkan ke kantong


dan menyambar kunci mobilnya. Ia akan memulai mencarinya hari ini.


Saat ia keluar dari kamar, ia melihat adik-adiknya yang asyik bersantai


di karpet dengan mainan mereka masing-masing. Adik-adiknya  menatapnya


sejenak.


"Mau kemana kak? udah cakep?"


Cindy menyapanya sembari tersenyum. Tria juga mengangkat wajahnya dari


tablet yang ia pegang.


"Iya nih udah cakep kayak sekoteng, kakak mau pergi kencan  ya? ikut dong."


perkataan yang membuat mereka semua tertawa.


"Kencan? kecil-kecil udah tau kencan memang apaan kencan?"


"Ich kecil, sebentar lagi juga smu, he he he kencan ya pacaran, ngedate iya

__ADS_1


kan? Dode juga tau ya De?"


Dode mengangkat wajahnya, "nggak tau! mana tau!"


"Alah Dode pura-pura aja nih, kemarin telponan sama pacarnya juga, kakak


dengar kok."


"Hah! yang benar sih De? jangan dulu De, kakak aja belum pacaran!"


Cindyberteriak, tak rela di dahuluin adik-adiknya.


"Iya, kakak Tria juga belum! enak aja Dode tuh!"


"Siapa yang pacaran, Dode cuman pinjam catatat aja sama dia kok."


"Pinjam buku nih yeee!"


Terjadilah keributan, karena Dode tak mau dituduh sudah pacaran maka ia


segera mengajak Cindy dan Tria gulat. Serta merta Cindy dan Tria berdiri


dan berancang-ancang dengan kaki membuat kuda-kuda. Terdengarlah


bunyi ciat! ciat! ciat! lalu berkejaran yang membuat rumah ribut dan berantakan.


Sementara Rakasiwi menggelengkan-gelengkan kepalanya, ia beranjak keluar


sebelum Cindy atau Tria minta ikut.


"Ampun! ampun! De!"


Cindy dan Tria mengalah ketika kedapatan bersembunyi di balik pintu, Dode


menarik-narik rambut keduanya. Membuat Cindy, Tria menjerit-jerit kesakitan.


"De sakit! ampun! ampun! deh."


"Awas ya! usil lagi, Dode ikatin nih rambutnya."


sehingga keduanya kesulitan bergerak.


"De, kan udah minta ampun!"


"He he he biar kapok!"


Kedua gadis kecil itu pun berusaha melepaskan rambut mereka yang digabungkan


oleh Dode yang lantas meninggalkan keduanya di sana.


Hiiiiiii Dode!


Cindy meneriaki adik bungsunya.


"Assalamualaikum."


Rakasiwi berdiri di depan sebuah rumah petak yang sangat sederhana. Sebelumnya


ia berputar-putar daerah tersebut. Bertanya kesana kemari tentang gadis yang


bernama Prita Pujanigrum dan alamat yang tertera di ktp. Orang-orang menunjukkan


tempat itu karena memang lumayan terkenal. Di sana tempatnya orang-orang yang


mencari kontrakkan rumah petak yang murah meriah, dari yang agak bagus hingga


yang paling sederhana. Ada sekitar lima puluh rumah petak di sana, dan sangat ramai.


Dahulu kalanya rumah-rumah petak tersebut milik seorang juragan tanah yang kaya


raya. Beliau adalah kakek Prita, Kampung itu sudah seperti miliknya karena begitu


banyak tanah yang ia miliki. Bertahun-tahun berikutnya, ia mulai membangun rumah


rumah petak untuk di kontrakkan, rumah-rumah mungil untuk pasangan muda.

__ADS_1


Sehingga semakin lama kian ramai dan rumah-rumah kontrakkan itu tak pernah


sepi.


Hanya saja anak-anak pak haji Sobirin memiliki sifat berhura-hura, dan hidup berpoya


poya sehingga satu demi satu rumah-rumah yang mereka miliki di jual untuk


memenuhi kebutuhan gaya hidup. Sesudah Pak Haji Sobirin meninggal rumah-rumah


yang tersisa dibagikan secara adil kepada empat orang anak-anaknya. Masing-masing


mendapat warisan sepuluh rumah. Sisanya untuk kehidupan istrinya.


"Waalaikumsalam, cari siapa Dik?"


Seorang perempuan bertubuh besar dan tegap keluar dan menatap rakasiwi


terkagum-kagum, ada seorang pria muda yang indah sekali untuk ditatap


di siang yang belum terlalu panas.


"Maaf bu, apakah di sini rumah Prita Pujaningrum?"


Bibir wanita itu tersenyum lebar, ohh seorang pria tampan dan terlihat berbeda


dengan pria-pria kampung teman anaknya.


"Iya benar ! ada apa? apakah adik teman kuliah anak saya Prita?"


"Bukan Bu, saya sedikit ada keperluan."


"Oh, sayang sekali! Prita baru saja keluar, baru beberapa menit yang lalu."


Oh, Rakasiwi tertegun, entah kenapa ia sedikit kecewa, ia ingin bertemu


gadis bernama Prita itu. Bayangan wajahnya selalu terbayang akhir-akhir


ini.


"Oh kalau begitu, saya hanya ingin mengembalikan dompetnya Bu, agaknya


terjatuh di stasiun waktu itu."


Rakasiwi mengeluarkan dompet milik Prita dan memberikannya pada si ibu


yang terbengong.


"Oh, adik menemukan dompet anak saya ya?"


Si ibu menatap Rakasiwi yang masih berdiri di depan si ibu.


"Terima kasih ya Dik, nanti saya sampaikan pada Prita, oh iya siapa


nama adik ini?"


"Eh, hemmm saya Rakasiwi, Bu. Baiklah kalau begitu saya pamit."


Raka membalikkan badannya ingin segera berlalu, tetapi si ibu menahan


"Bagaimana kalau nanti anak saya ingin mengucapkan terima kasih, apakah


Dik Raka sebaiknya meninggalkan nomer handphone?"


Sesaat Raka terdiam, apakah itu perlu? tetapi bukankah ia ingin bertemu dan


mengenal gadis itu, tanpa pikir panjang lagi ia menuliskan nomer telponnya


di sebuah buku yang disodorkan ibu Prita."


Barulah Rakasiwi meninggalkan tempat itu.


Bersambung ke Episode 121


Jangan lupa saling mendukung, tinggalkan jejaknya.

__ADS_1


__ADS_2