
Pada Kamar Mardo
Mardo tercenung, apa benar yang dikatakan oleh Sarah Lee? Ia tiba-tiba jatuh setengah pingsan.
Mereka semua panik, Raka memutuskan membawanya bersama Sarah Lee.
Sesampainya di hotel Mardo tetap seperti itu. Digoyang-goyang dan dipanggili namanya tapi tetap tak bangun.Raka kemudian mengendongnya ke kamar.
"Ich, kak Raka menggendongku."
Mardo tak percaya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. " Itu hanya kebohongan Sarah Lee, dasar!"
Ia meregangkan tubuhnya dan pergi ke kamar mandi. Ia mengisi bath-tub dengan air hangat. Mardo melepaskan bajunya satu demi satu dan melangkah ke tempat berendam. Ia memejamkan matanya berusaha santai. Menuangkan sabun yang beraroma lembut.
Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Berkuda dengan kak Raka. Jantungnya berdebar-debar.
Mardo memejamkan matanya, kudanya meronta dan tiba-tiba lari tak terkendali. "Peluk! peluk! peluk kuat-kuat lehernya!" Terdengar suara pemilik kuda. Mardo nyaris terjengkang kebelakang. Ia berusaha sekuat tenaganya untuk tidak jatuh kemudian terseret. Sangat mengerikan!
lalu seseorang melompat ke belakangnya mengambil tali kekang kuda.
"Oh, pengalaman yang menegangkan! dan aku bisa melewatinya."
Gadis itu keluar dan meraih handuk. Tubuhnya terasa segar dan nyaman. Ia mengambil kimono dan memakainya menggantikan handuk yang basah. Ia mengeringkan rambutnya.
"Nona Mardo, torang su selesai mandi kah?"
Suara Sarah Lee di balik pintu. Gadis itu menguakkan pintu.
"Makan malam su ada ini nona Mardo, mau ditemani kah?"
"Tak usah Sarah Lee, istirahatlah, aku baik-baik saja."
"Ok, baiklah. Kalau ada apa-apa telpun aku ya."
Mardo tersenyum, kemudian ia menutup pintu.
Tiap kali Ia memejamkan mata, ia terbayang kejadian berkuda itu. Tubuh yang liat dan hangat bergerak-gerak di belakangnya. Lalu belitan lengan di pinggangnya. Ia sendiri berpegagan erat pada lengan tersebut.
Berdua di atas kuda yang berlari tiada henti. Hingga akhirnya kuda tersebut berhenti.
Mardo tak bisa melupakan kejadian berkuda itu. Di tengah ketakutannya hadir seseorang yang menyelamatkan nyawanya. Ia melompat dari kuda dan terjatuh kepelukkan Raka. Ia memeluk sekuat tenaganya lebih oleh perasaan berterima kasih. Ia peluk tubuh kak Raka penuh rasa yang tak bisa diungkapkan. Ia berterima kasih, menghargai usaha lelaki itu untuknya.
Telah sunyi dan hening, hanya bunyi tivi yang terdengar di ruangannya.
Lalu angin membawa petikkan gitar yang indah.
Mardo yang belum bisa memejamkan mata memasang telinganya.
'Mengering sudah bunga di pelukkannya
.Merpati putih berarak pulang.
Terbang menerjang badai.
Tinggi di awan, menghilang di langit yang hitam.
Selamat berpisah kenangan bercinta
sampai kapankah jadinya aku harus menunggu
hari bahagia seperti dulu..
Bersama kasih kembali mesra
bercumbu rayu memadu satu
janji berjuta bintang
dalam pelukkan
__ADS_1
sehangat pagi yang cerah
Lalu petikkan gitar yang begitu mengiris ngiris kalbu.
Mardu mendekap tangannya ke pipi. Ia tak bisa mengabaikan petikkan gitar dan senandung di sana.
Petikkan gitar dengan hati dan jiwa. Menciptakan denting denting yang mampu menyelusup ke sanubari.
Mardo merasa dibawa entah kemana, melayang layang dan terbuai.Oh, dia pernah mendengar petikkan gitar itu?tapi di mana dan kapan. Rasannya tak asing.
'Bersama kasih kembali mesra
Bercumbu lagi memadu satu
Janji berjuta bintang dalam pelukkan sehangat pagi yang cerah...
Merpati putih terbang tinggi di atas awan. Terserah kasih kembali...'
"Oh, aku tak asing dengan petikkan gitar itu," Mardo bangun dari tempat tidurnya, pergi ke gorden dan mengintip.
Mardo mendengarkan petikkan gitar itu serta senandung yang sangat indah.
Rasanya tak asing...
Mardo mengintip ke balkon, melihat sosok yang bersandar memeluk gitar.
"I-itu kak Raka!"
Mardo berdesis dan dadanya terguncang.
Kak Raka menatap ke arah kamarnya.
Gadis itu berbalik, ia menenangkan perasaannya yang bergemuruh.
"Oh, pantas begitu menyentuh, kak Raka itu memainkannya sepenuh jiwa.'
Mardo bergumam dan mengintip sekali lagi. Ada Deni dan Sammy yang sedang duduk di belakangnya.
Dua sahabat kak Raka itu terlihat sedang menikmati makan malam. Mereka sedang santai, bercengkrama di tengah malam seperti ini.
Mardo kembali ke peraduannya, menyelusup ke dalam selimut. Di sebrang masih terdengar petikkan petikkan gitar bernada cinta, hingga jauh malam. Mardo terbawa mimpi, melihat dirinya di telpun mendengarkan petikkan gitar diseling percakapan.
"Kamu suka ya petikkan gitarku?" Terdengar suara yang lembut.
"Iya, suka dan lagunya juga."
"Aku akan bermain gitar untukmu dan bersenandung."
Dan Mardo memejamkan mata, menikmati permainan gitar di sebrang sana di telepon.
Oh! Mardo teringat penelepon misterius. Ketika ia dan keluarganya baru saja pindah.
Ada seseorang yang menelpun menanyakan dirinya. Saat ia menjawab telepon lantas terdengar denting-denting gitar yang merdu.
Ketika itu, setiap sore ada yang menelpon dan ingin bicara dengannya. Namun selalu yang terdengar dentingan gitar menyelusup ketelinganya.
Beberapa kali ia berteriak, "Ini siapa! ini siapa!"
Tapi tidak ada jawaban. Justru jawabannya denting-denting dan lagi dentingan gitar.
Hingga akhirnya ia tak mau menerima telpun dari orang misterius itu. Sekarang sudah terjawab pertanyaannya selama ini.
"Jadi si penelepon itu kak Raka? oh, kenapa ia melakukannya?"
Mardo berguling resah, setelah kejadian di bandara itu. Sore harinya ia menelpun ke rumah.
"Apa kah Mardo ada?"
Mangara yang mengangkatnya, dan memberikan telpun itu padanya.
__ADS_1
Namun tidak ada suara, tak lama orang itu mematikan telpun. Keesokkannya lagi saat ia sendirian telpun berdering.
"Hello selamat sore, apakah Mardo ada?"
Ia mendengarkan suara seorang pria, Mardo tak menjawab.
"Hello, ini kamu ya Mardo? sedang sendirian ya? mau kutemani dengan nyanyian dan petikkan gitar."
Lalu terdengar denting gitar, senandung lagu merpati putih
'Mengering sudah bunga di pelukkannya
.Merpati putih berarak pulang.
Terbang menerjang badai.
Tinggi di awan, menghilang di langit yang hitam.
Selamat berpisah kenangan bercinta
sampai kapankah jadinya aku harus menunggu
hari bahagia seperti dulu..
Bersama kasih kembali mesra
bercumbu rayu memadu satu
janji berjuta bintang
dalam pelukkan
sehangat pagi yang cerah
Bersama kasih kembali mesra
Bercumbu lagi memadu satu
Janji berjuta bintang dalam pelukkan sehangat pagi yang cerah...
Merpati putih terbang tinggi di atas awan. Terserah kasih kembali...'
'Kak Raka, kamu luar biasa!'
Mardo terpejam diantara denting-denting gitar yang masih dipetik seseorang untuknya.
Laki-laki muda itu sangat bahagia hari ini, ia tak pernah bermimpi keseruan yang terjadi antara dirinya dan Mardo.
Hari ini ia sangat dekat dengan gadis itu, berkuda berdua, berpelukkan, mengantarnya ke kamar tidur dengan menggendongnya. Ia sampai tak bisa tidur karena bahagia.
Sementara Deni dan Sammy sudah sangat mengantuk. Mereka sudah pamit.
Apa lagi mereka sampai ke hotel saat menjelang malam, Kesialan menimpa mereka.
Ban mobil kempes dan macet karena ada arak-arakkan upacara agama.
Hari itu sangat melelahkan.
Bersambung
__ADS_1