Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 13. Menikmati Gulai Daging Rusa


__ADS_3

Dini hari terdengar bunyi yang berisik. Awak kapal berteriak teriak memberikan aba aba. Beberapa kali terasa kapal seperti membentur sesuatu. Rupanya para awak kapal tengah mengupayakan watam pone bersandar. Mereka melepas jangkar. Dini hari itu para awak kapal sudah membuat watam pone bersandar. Mereka juga sudah menurunkan tangga yang menghubungkan ke bibir dermaga. Penumpang yang sudah ingin turun ke darat,  bisa meninggalkan kapal. Yang masih mengantuk boleh meneruskan tidur mereka yang nyenyak. Kapal akan berlabuh di kota tersebut kurang lebih seminggu. Banyak sekali barang yang harus diturunkan satu persatu. Begitu juga bakal banyak barang yang akan dibawa ke pelabuhan Surabaya. Awak kapal punya banyak pekerjaan selama seminggu itu.


Alhamdulillah akhirnya kapal berlabuh. Mardo dan teman temannya bersiap segera menuruni dan keluar dari kapal. Sempat terjadi gaduh di kamar Sarah Lee dan  Halima. Kaos yang akan di pakai olehnya mendadak hilang. Ia sudah mencari di seluruh kamar, tapi nihil. Sarah Lee menanyakan di mana Halima menaro bajunya?  ternyata Halima mencuci kaos tersebut dan menjemur di luar dekat jendela. Ya pantas saja, sudah di sambar  maling.  Halima sulit menerima kenyataan tersebut, ia menangis dan merajuk hingga Sara Lee sudah selesai berkemas. Teman teman menghibur dan janji akan membelikan kaos yang baru. Barulah Halima mau berkemas masih dengan  terisak-isak, dan mata bengkak. Richi seperti biasa, sangat baik kepada teman. Ia juga menghibur Halima dan membujuk, nanti ia akan mengajak Halima ke mall. Boleh mengambil kaos sebagai ganti kaos yang hilang.


"Makasih ya Rich, torang memang yang paling baik diantara yang baik he he he."


Hemmm, dapat banyak dong.


Teman-temannya pura-pura jealous.


Halima hanya tertawa, wajahnya kembali ceria.


Mereka bergantian melompat ke dermaga. Udara pagi serta lambaian pohon cemara yang berbaris sepanjang garis pantai menyambut gadis-gadis  belia.


Mardo berlarian di dekat Richi, kali ini mengenakan rok selutut, serta kemeja berwarna biru, rambutnya di ikat sebagian dan sebagian lain di lepas. Ia tampak cantik dengan kemeja biru tersebut.


"Rich, ini dermaga kota Merauke? kita sudah di kota Merauke?"


Richi menoleh dan terpesona, gadis belia ini selalu menampilkan dirinya dengan kemeja-kemeja yang pas ditubuhnya. Baju-bajunya selalu modis dan memberinya kesan elegan serta cantik.


"Iya ,ini sudah kota Merauke."


"Ya Rabb, aku nggak pernah mimpi loh Rich bisa ke kota yang paling ujung Indonesia, wahhh aku senang sekali."


Richi tersenyum, "Kamu nanti bisa melihat keunikkan dan keindahan kota ini Do."


"Wahh, aku senang sekali."


Mardo membalikkan tubuhnya, bermaksud melihat kapal yang tengah berlabuh. Deg! matanya menangkap sosok Raka yang tengah berdiri di atas kapal. Raka sedang menatap ke arahnya juga. Seketika Mardo berbalik kembali, menggigit bibirnya. Kak Raka itu rasa-rasanya selalu mengawasi dirinya. Gadis itu lantas membisu.


Hamparan taman di hadapan penumpang yang turun di kota Merauke. Taman yang agak basah karena embun pagi. Sepanjang mata memandang, taman itu dipenuhi pohon-pohon cemara yang subur. Tanahnya berpasir dan bersih. Richi mengajak teman-temannya ke taman cemara tersebut. Mereka meregangkan tubuh di sana. menghisap dan menghembuskan napas, berfoto, berayunan. Banyak sekali fasilitas di taman itu. Beberapa penduduk juga kelihatan berjalan-jalan menikmati udara pagi yang segar. Di bagian lain lain terdengar musik olah raga yang dinamik. Beberapa wanita paruh baya sedang berolah raga bersama instruktur mereka.


Zamzam duduk di sebuah ayunan, tadi ia sempat berebutan dengan Rossy tapi dia yang beruntung.


Gadis itu teringat peristiwa  tadi malam, ketika dan teman-temannya menemui seorang cowo muda yang tampan.


Ia, Betty dan Rossy berdandan serta mengenakan baju yang bagus malam itu. Lalu menunggu di tempat biasa Irawan muncul. Ketiganya sempat gelisah. Mereka sedang mencari pacar dan caranya bersama-sama seperti itu. Agak lucu dan seru, mereka berbisik bisik tentang strategi mereka. Juga kesepakatannya, siapa saja yang dipilih oleh Irawan harus menerima dan tak boleh marah. Serta tetap bersahabat.


Ketiganya mengaitkan jari, pertanda setuju. Hingga pria itu muncul  di dekat mereka.


"Hei gadis gadis cantik, sedang apa di sini?"


Sesaat  Zamzam, Betty juga Rossy tercekat hingga tak bisa bicara. Lidah serasa kelu. Penampilan Irawan berbeda. Ia memakai baju batik lengan pendek. Padahal biasanya gadis-gadis itu melihatnya mengenakan seragam yang membuatnya terlihat gagah serta cemerlang.


"Mas Irawan?"


Ketiganya pangling oleh penampilan kali ini.


"Iya, memangnya kenapa? kalian memandang seperti tak mengenali aku."


Zamzam dan temannya saling tatap serta tersenyum.

__ADS_1


"Habis mas Irawan beda bener dengan baju batik ini, biasanya pakai seragam sih, jadi hampir hampir kami tak mengenali mas lagi."


"Oh, jadi lebih jelek ya."


He he he, gadis gadis itu tertawa. " Sebaliknya Mas, kian hansome."


"Ah, bisa saja kalian ini, oia dari pada berdiri terus di sini. Yuk masuk kedalam mas traktir minum, besok kapal berlabuh, kita tak ketemu lagi."


"Oh, besok kapal sudah sampai ya Mas?"


"Iya, kapal berlabuh selama seminggu di Merauke, kemudian lanjut ke Surabaya."


Mereka berempat memesan minuman dan makanan ringan, lalu mengobrol hingga jauh malam.


Pembicaraan seputar diri masing masing heh.


Nytanya mas Irawan masih sendiri. tidak punya pacar.  Matanya seringkali mencuri-curi pandang pada Betty yang lebih pendiam. Ia juga menanyakan kesukaan Betty, ternyata Irawan menyukai gadis yang bisa menyanyi, apa lagi bisa bermain gitar. Menurutnya rumah akan selalu ceria dengan musik dan musik.


Punah sudah harapan Zamzam juga Rossy. Irawan menyukai Betty. Setidaknya mereka tidak lagi penasaran. Zamzam dan Rossy bisa mencari pacar lagi.


"Hei ngelamun, ayam aku kayak kamu gitu tau tau jatuh dan dead!"


Rossy menghampiri sembari berceloteh.


"Yuk sarapan, Richi menunggu kita di sana."


Zamzam lantas turun dari ayunan dan mengikuti Rossy.


"Itu dari semalam manyun, apa namanya kalau bukan marah."


Hah! aku mau ke toilet.


Begitulah Zamzam, jika sedang diajak berbincang yang tidak disukainya ia akan langsung bilang ' mau ke toilet'


"Hemmm dasar ach, aku nggak mau menungguimu di toilet, kami menunggumu ya di sana."


"Iya, perutku sakit. Nanti aku kesana. Jangan cemaskan aku."


Rossy bergegas ke tempat anak anak telah berkumpul. Richi katanya akan menjamu Mardo dengan daging rusa.


Kota Merauke dikenal sebagai kota Rusa, jadi di setiap sudut  kota pasti ada penjual daging rusa.


Mardo penasaran, ia belum pernah melihat seperti apa binatang rusa itu, apa lagi rasa dagingnya. Tak sabar menunggu sajian restoran yang mengandalkan menu rendang, sate, serta gulai daging rusa.


Hidangan berdatangan, masing masing mendapat seporsi nasi putih, semangkok gulai daging rusa, daun yang dicacah tumis serta sambal dilengkapi jeruk nipis. Richi juga pesan tiga porsi sate daging rusa un tuk dinikmati bersama.


"Yuk kita sarapan bersama-sama. Selamat menikmati."


Richi mengedarkan pandangannya dan mengajak teman-temannya makan pagi di dekat taman Cemara tak jauh dari pelabuhan.


"Wah, aku mewakili teman-teman mengucapkan terima kasih ya Rich, ini makan pagi yang luar biasa, Aku mendapat semangkok gulai daging rusa, yang lain juga."

__ADS_1


Mereka semua mengangguk-angguk pertanda setuju dengan ucapan Mardo.


"Richi memang top dan keren!"


Hasan mengacungkan dua jempulnya kiri dan kanan.


"Semua juga sudah tau San, Richi paling baik hati, juga perhatian!"


"Sudah ah! biasa saja!"


Richi, tersipu-sipu, sesekali tersenyum dan melirik pada Mardo yang sedang asyik menikmati sarapannya.


"Gimana rasanya Do? enak kah?"


Semua menatap pada gadis itu. Mardo mengacungkan dua jempulnya seperti yang dilakukan Hasan Rumadau.


Semua tertawa geli karena Mardo meniru gaya Hasan.


"Serius, ini enak banget, sama kayak daging sapi. Aku suka, ini pasti habis."


Mardo sejujurnya merasakan gulai daging rusa yang enak, bumbunya terasa sedap dan gurih.


Teman-temannya menawari sate daging rusa dan Mardo tak menolak. Lembut sekali potongan daging rusa tersebut dengan bumbu kecap. Hemm , ia mengambil tiga tusuk.


Kenyang sekali, mereka mengusap ngusap perut yang penuh.


Ada beberapa menit mereka duduk-duduk serta mengobrol di restoran itu. Saat Matahari semakin tinggi, mobil jemputan berdatangan yang akan membawa mereka ke hotel.


"Semua sudah siap Bos!."


Pelayan-pelayan menyilahkan masuk ke mobil, sebelumnya mereka sudah membawa koper serta barang bawaan.


"Mari teman-teman, go ke kota Merauke."


 


Bersambung


 


 


 


 


 


 


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2