
Setelah tiga kali putaran menortor, barulah Khairanai dan kakak sepupu menuju pelaminan.
Mereka memberikan ucapan selamat dan bungkusan kado. Penganten wanita yang cantik dan ramah
mengucapkan terima kasih, saling memeluk dan mencium pipi.
“Selamat ya, semoga
bahagia. Dan kami yang masih menjoblo cepat mendapatkan jodoh.”
“Aaminn, semoga ketularan semuanya.”
Pengantin wanita menyentuh dahi gadis-gadis itu semua, juga Mardo. Setelah itu mereka
Dipersilahkan menikmati hidangan. Lantas terserah para undangan. Apakah mau langsung
pulang. Atau menghabiskan waktu menonton band . Pihak keluarga sengaja menyewa
band dari Medan untuk memeriahkan pesta pernikahan putra dan putri mereka.
Selanjutnya mereka dihadapkan pada aneka hidangan. Kata Khairani sebuah pesta pernikahan
yang megah menghabiskan tujuh ekor sapi. Para tukang masak akan mengolah daging tujuh
ekor sapi tersebut menjadi, rendang, gulai, dan sambal goreng. Daun ubi tumbuk yang diberi
santan juga menjadi menu wajib. Semua yang datang harus menikmati dan mencicipi
hidangan di pesta tersebut. Sebuah tradisi yang turun temurun.
Setelah menikmati masakan para inang-inang pilihan, minum teh panas serta banyak kue-kue berbungkus yang mungil barulah mereka keluar.
“Huwauuu, kita sekarang bebas.”
Khairani mengajak kakak-kakak sepupu ke tempat band, tidak terlalu jauh dari rumah hajat. Halaman
masih lenggang ketika mereka semua ke sana. Di dekat panggung sudah penuh dengan penonton. Panitia menaro ratusan kursi yang sudah penuh terisi. Khairani dan rombongannya terhenti di belakang kursi-kursi
yang telah terisi. Tidak ada satu pun bangku yang kosong.
“Kak, kita menonton band dulu ya.”
"Kita di sini saja, di sana semua sesak dan telah penuh."
Khairani memandang Mardo. Gadis itu selama ini selalu mengikuti apa saja yang Khairani lakukan. Ia tak
keberatan.
“Iya, kakak juga belum pernah melihat band seperti ini, biasanya di gedung.”
Lalu musik keras memekakkan telinga, dan tidak terdengar apa-apa.
Di bagian paling depan anak-anak muda bergoyang-goyang. Sedang yang menonton
Bertepuk tangan. Suasana yang semula lenggang tiba-tiba telah dipenuhi oleh penonton.
Gadis-gadis sekarang berada di tengah penonton. Mulai dari depan, kiri, kanan dan belakang telah penuh. Kak
Kana tiba-tiba berbisik-bisik. Ia sudah melihat anak-anak muda dari sebrang. Mereka sudah saling melambai.
“Mereka mengajak kita ke sana.”
Bisik kak Kana, pada kak Tania, Rama-rama, serta Sumirah dan kak Siti. Mereka bersiap-siap
meninggalkan Khairani, Azhar, Donny,Yulia dan Mardo.
“Dek, kami menemui calon-calon abang ipar kalian dulu ya, doakan tahun ini kami
menikah semuanya ya Dek.”
Kak Tania yang memiliki selera humor yang besar tersenyum tersipu-sipu.
“Pergikah kak, semoga berhasil, semangat!”
Yulia mengacungkan tangannya ke atas, memberi dukungan.
Terdengar riuh rendah di depan, agaknya penyanyi yang mereka tunggu-tunggu telah
datang. Seorang gadis cantik naik ke pentas. Kata Yulia, penyanyi itu pemenang ke tiga
lomba lagu pop Idol. Penyanyi cantik itu, kata Yulia bernama Tara Harahap. Seluruh kota
sangat bangga pada gadis tersebut. Karena dengan prestasinya nama daerah dan kota tersebut menjadi
terkenal.
“Selamat malam semuanya!”
Terdengar sapaan penyanyi itu, yang dijawab riuh oleh penonton. Lantas musik menggelegar yang
ceria bagai membelah halaman yang luas tersebut. Sang biduan melompat-lompat dan bergerak
mengelilingi panggung, ia mulai bernyanyi dengan suara emasnya. Penonton ikut bergerak-gerak dan
mengikuti apa yang dilakukannya. Semua terpukau oleh suara dan atraksi yang ditampilkan sang penyanyi.
Mardo dan Yulia yang berpegangan tangan juga ikut tersihir. Sampai mengabaikan Khairani yang berbisik di kuping.
“Kak, aku pergi sebentar ya, mau beli minum.”
Mardo lupa apakah ia mengangguk dan membiarkan Khairani pergi menyelusup diantara
Penonton. Ia pergi bergandengan tangan dengan Azhar.
Mardo dan Yulia kembali asyik menikmati lagu-lagu yang dibawakan oleh Tara Harahap.
Keduanya tak menyadari hanya tinggal bertiga dengan Donny, yang sebenarnya risih sekali
dengan suasana itu. Namun karena seseorang yang menawannya ia bertahan. Bahkan hal
__ADS_1
itu menjadi indah baginya. Ia mendekat dan semakin dekat dengan Mardo.
Tiba-tiba, Yulia menarik tangannya, “ Kak, Aku ke toilet dulu sebentar saja.”
Gadis remaja itu tak menunggu langsung menyelusup diantara penumpang.
“Yulia!”
Mardo berteriak, ia ditinggalkan sendirian ditengah keasingan.
“Biar saja, kan ada aku.”
Terdengar suara bariton, Mardo menoleh dan mendongak ke atas. Oh! Ia terkejut.
Mardo tidak tau kalau ada Donny di dekatnya.
“Oh, mereka semua meninggalkan aku sendirian, terlalu!”
Mardo meremas-remas jemarinya.
“Tenang saja, masih ada aku di sini.”
Donny merundukkan wajahnya ke dekat gadis itu.
Mardo akhirnya menerima keadaan itu, ia berharap Yulia segera datang begitu
Juga Khairani.
“Hei, gadis Jakarta apa kamu mau tetap di sini?"
Suara di dekatnya, milik Donny.
Mardo mengercitkan keningnya, apa maksudnya bertanya seperti itu? apakah Donny ingin
mengajaknya ke tempat lain? Lalu nanti bagaimana kalau Khairani dan yang lain-lain datang?
Mereka bisa saling kehilangan.
“Aku takut nanti mereka ke tempat ini, ternyata aku tak ada."
Sahut Mardo, “Aku di sini saja, kalau dirimu mau pergi silahkan saja."
Sahut Mardo cuek dan sok berani. Padahal ia berada di tempat yang sangat asing, ia hanya
mengenal Donny saja di tempat itu.
“Oh, mana mungkin aku meninggalkanmu sendirian di sini. Azhar dan Khairani bisa marah
seumur hidup padaku heh, aku di sini saja menemani kamu."
Mardo hanya mangut-mangut. Ia melipat tangannya di dada.
Suasana semakin panas oleh membludaknya penonton yang tiba-tiba datang bak air bah.
Oh! gadis itu terkejut ketika seorang laki-laki yang agak mabuk mendekat dan menyentuh
"Dek cantik, sendirian aja nih. Sama abang yuk berjoget."
Mardo membesarkan matanya, " Ich sana! jangan dekat denganku!"
Gadis itu menghardik dengan tegas.
"Sombong kali kau dek? tak boleh gitu, semakin kau menolak makin suka abang he he he."
Tiba-tiba Donny menarik lengan Mardo dan membuat gadis itu berada di belakangnya. Ia sekarang
berada di depan laki-laki yang agaknya mabuk.
"Yang sopan bang! jangan sembarangan pegang-pegang perempuan yang bukan muhrim abang."
Laki-laki itu, memandang pada Donny, lantas tersenyum-senyum dan pergi menghindar hilang
diantara penonton.
"Sekarang aman, dia sudah pergi."
Mardo melihat sembari merunduk dari balik tubuh Donny yang besar.
"Alhamdulillah, terima kasih yang Dek Don."
Hah! dia memanggilku Adek? apa dia kira aku seusia Azhar dan Khairani?
Donny misuh-misuh sembari menyentuh dagunya.
"Jangan panggil Dek, abang saja. Usiaku jauh diatas Azhar."
"Oh ya? bukannya kalian memanggilku dengan kakak? he he he."
Mardo merasa geli sendiri.
"Azhar, Khairani dan Yulia yang memanggilmu seperti itu, kalau aku memanggilmu
gadis Jakarta iya kan?"
"Oh iya benar, barusan kau memanggilku gadis Jakarta. Aku gadis kota yang sama
dengan Khairani, Azhar dan kakak sepupuku."
"Apalah arti sebuah panggilan."
Donny bergumam. Mardo menoleh sekilas.
Di depan kembali perubahan penyanyi, penonton bersorak-sorak oleh kemunculan biduan yang
berpakaian seksi. Tak banyak cakap bunyi musik dangdut pun mendayu-dayu. L agu 'Masa lalunya'
Inul Daratista menyelusup dan penonton perempuan bersiap bergoyang pinggul bersama biduan
muda tersebut yang juga cantik mempesona.
__ADS_1
Saat itulah terjadi sesuatu, Auuuu! Mardo hesteris ketika dia merasa tubuhnya terdorong keras
repleks ia berpegangan pada pada Donny, orang yang paling dekat dengannya. Begitu kerasnya
dorongan itu hingga Mardo kehilangan keseimbangan, ia meraih baju dan tubuh Donny.
Laki-laki itu juga sangat terkejut, ia meraih tubuh Mardo dan secepat kilat mundur. Sehingga
orang-orang itu terus berjatuhan saling tindih. Akhirnya terjadi dorong-mendorong yang sangat
membahayakan.
Donny melihat keadaan itu dan merasa ia harus keluar dari suasana mengerikan itu sebelum terlambat.
Ia meraih tubuh gadis itu, ia tarik pinggangnya dan memeluknya ketat. Kemudian menarik gadis itu
pelan-pelan mundur. Sekeliling mereka telah terjadi saling dorong dan mendorong. Jeritan dan teriakkan
terdengar saling beradu dengan musik.
"Kita harus keluar dari suasana ini Do, maaf ya."
Mardo membisu, ia merasakan pelukkan Donny di pinggangnya. Memeluk sangat kuat sembari
bergerak menjauh dari keributan. Bahkan Mardo tak bisa meletakkan lengannya diantara tubuhnya
dan tubuh Donny. Mardo tak bisa berpikir apa-apa. Ia menyerahkan nasibnya pada Donny. Sepatu gadis
itu terlempar entah kemana. Ia memejamkan matanya, balas menaro tangannya di leher Donny. Berpegangan
erat di leher itu. Mereka berada tepat di tengah suasana keributan itu. Lemparan sepatu, sendal, batu dan entah
apa lagi yang berseliweran. Dorong mendorong yang menjalar dan menular. Sementara musik dan nyanyian
mengiringi kejadian itu.
Khairani dan Azhar sedang asyik bercengkrama agak jauh dari tempat pesta. Mereka sempat mendengar
keributan itu, namun mengira karena penyanyinya memang telah membuat kehebohan, yang membuat
penonton menjerit dan hesteris, sesuatu yang biasa saja di sebuah band pemanis pesta pernikahan.
Agaknya kerinduan dua manusia itu sudah tak terbendung lagi. Dan tak pernah ada kesempatan berdua-duan.
Baru malam ini kangen itu bisa terwujudkan. Setiap kali selesai bicara, Azhar langsung menyosor mengecup
bibir kekasihnya. Setelah sesak, barulah keduanya saling menarik dan melanjutkan percakapan. Lantas
saling berpelukan dan berpagutan hingga lama. Khairani sumringah oleh perlakuan Azhar yang penuh cinta dan
kasih sayang.
Di sebuah tempat yang juga masih sekitar pesta, Yulia dan Thoni juga melakukan hal yang sama. Keduanya
baru bertemu lagi malam itu. Thoni sedang merintis sebuah bisnis untuk masa depannya bersama Yulia. Laki-laki itu sedang belajar sambil bekerja di sebuah kota yang jauh dari kampung halamannya. Thoni kebetulan juga
baru pulang dan berlibur di kota tersebut. Ia selalu bilang apa yang dia kerjakan semuanya untuk dirinya dan
Yulia, masa depan keluarga kecil mereka kelak. Thoni menggenggam jemari gadis itu dan meremasnya.
"Pokoknya begitu kak Khairani menikah, kita juga menyusul menikah, waktu yang tersisa aku gunakan
untuk mencari uang. Aku harus membelikanmu rumah, mobil dan pernak-pernik lainnya."
Keduanya saling menatap penuh perasaan yang membuncah oleh impian yang indah. Thoni memang pria
yang hebat. Sedari kecil ia sudah meninggalkan kampung halamannya dan pergi merantau.Thoni yakin
ia bisa sukses dan kelak memiliki istri yang cantik, lembut dan penuh pengertian. Memang Yulia masih
belia, dan Thoni menunggu sambil bekerja mencari uang. Ia yakin bisa memberikan semua keinginan
Yulia, membahagiakan gadis itu. Thoni menarik Yulia kepelukkannya, merunduk mencari bibir mungil gadis
itu. Yulia menggerakkan kepalanya menyambut. Bibir keduanya saling memberi dan menerima. Tempat
remang-remang itu menjadi saksi sesaat percintaan anak manusia itu.
Lalu di manakah kakak-kakak sepupu? Oh ternyata mereka berada di belakang pesta itu. Masing-masing
sudah berduan dengan pasangan yang saling naksir. Kak Tania duduk bercengkarama dengan pria yang paling
berkharisma diantara mereka. Mereka terlihat cocok dalam segala hal, mungkin memang sudah jodoh. Bang Gandi
malam itu sudah memantafkan hati akan meminang kak Tania. Ini adalah pertemuan ke tiga mereka.
Sebelum pesta keduanya sudah bertemu dan menguatkan janji temu keduanya di pesta itu.
Sementara Kana juga merasa sreg dengan pria yang bernama Baringin, keduanya sering saling menatap
dan tersenyum. Baringin pria yang tidak terlalu banyak bicara, tapi dia sudah memutuskan di dalam hatinya
hanya Kana.
Cikidot, terima atas dukungannya semoga kita sukses, aamiin
Bersambung.
__ADS_1