
Hai, assalamualaikum pembaca Mangatoon
Selamat membaca kisah kasih dari kota Fak-fak, Papua
Raka dan Mardo. Semoga kalian suka ya, jangan lupa tinggalin jejak
Like, komen dan vote yaa, aku pasti membalas.
Sesaat melihat pemandangan kota Merauke melalui jendela mobil. Mardo dan teman-temannya termangu. Unik dan indah. Kemudian kenderaan memasuki halaman hotel. Karyawan hotel dengan ramah menyambut mereka, ada yang mengantar ke kamar di lantai tiga. Ada empat kamar yang Richi berikan pada gadis-gadis temannya. Richi sangat mengistimewakan Mardo, ia memberi sebuah kamar khusus tersendiri. Sementara yang lain bisa masing-masing berdua. Ide Richi boleh juga. Karena saat di kapal Betty, Rossy bertiga dengan Zamzam. Sekarang di hotel Betty berdua dengan Vana, Zamzam dengan Rossy bayangannya, saking lengket dan kerapnya mereka bercengkrama berdua. Sepasang lagi tentu saja Sarah Lee dan Halima. Keduanya juga sangat cocok seperti amplop dan perangko.
Mardo tak menolak, Richi seperti tau ia memang lebih menyukai kamar sendiri. Ia menyukai kebebasan di kamarnya. Ia bisa membuka baju di mana saja. Berjalan-jalan dengan hanya mengenakan celana dalam dan bra. Melakukan gerak-gerakkan senam untuk membentuk tubuh indah. Ia bisa melakukan apa saja yang ia sukai seperti kamar di rumahnya.
Terima kasih Rich, sudah memberiku sebuah kamar yang special. Aku bisa bebas sesuka hatiku, bahkan menonton film sepanjang malam hemm. Mardo sudah membayangkan kesendirian yang indah di kamar hotel saat berliburan. Bibirnya tersenyum saat pintu terbuka, terbentang ruangan mewah yang nyaman. Segera ia masuk dan menutup pintu.
Seseorang terkejut mendengar pintu yang terbuka dan ditutup kembali. Orang itu berada di teras sedang menikmati pemandangan di luar. Terdengar pesawat tivi dihidupkan, lalu memilih-milih chanel. Setelah mendapat siaran yang diinginkan, gadis itu meletakkan remotenya. Ia juga mengatur suhu udara. Selanjutnya gadis itu ingin menaiki tempat tidurnya yang nyaman. Namun ia harus mengganti baju terlebih dahulu. Pria di luar berdebar ketika Mardo membuka celana jinsnya. Kaki yang mulus indah kini tidak ada pelindung lagi. Gadis itu membuangnya ke sudut. Jemarinya sekarang bergerak ke kancing kemeja. "Oh Tuhan betapa indah tubuhnya, cantik sekali Mardo."
Dadanya berdetak kencang. Mardo beranjak ke kamar mandi dan terdengar guyuran air di sana. Pria itu buru-buru masuk dan mengambil barang-barangnya. Ia yang salah kamar atau Mardo?
Buru-buru ia keluar, untunglah tidak ada siapa-siapa yang melihatnya.
Pria itu meraba dadanya gemuruh. Jika Mardo tau ia berada di kamar itu dan melihat kelakuannya pasti gadis itu marah besar.
"Hem, indah sekali."
Pria itu tak bisa melupakan kejadian sesaat tadi.
Cantik sekali dia, tersenyum-senyum sendiri.
Seseorang mendatanginya dan memberikan sebuah kartu, " Bagaimana bisa ada yang menempati kamarku?"
"Saya tak mengerti pak, Tuan Richi yang membagikan kamar-kamar itu pada teman-temannya.
"Heh, sudahlah! apakah Deni dan Sammy ada di lobbi?"
"Ada pak, mereka menunggu sejak tadi."
__ADS_1
"Suruh mereka kembali ke kamar masing-masing, karena aku mau istirahat dulu."
Baik pak.
Laki-laki karyawan hotel berbalik pergi, sementara pria muda itu merasa harus menenangkan dirinya setelah melihat pemandangan yang belum pernah ia lihat seumur hidupnya.
Mardo masuk ke bawah selimut dan langsung tertidur. Richi bilang sepanjang siang ini mereka akan berada di hotel saja. Beristirahat dan menikmati kamar mereka. Jadi Mardo tak khawatir akan ditinggal oleh teman-temannya. Mardo yakin mereka semua lelah oleh perjalanan naik kapal laut selama tiga hari. Mereka perlu menyesuaikan kembali kehidupan di darat. Mardo langsung mengambil kesempatan itu, tidur dengan merajai tempat tidur besar itu sebebas-bebasnya. Bunyi tivi yang menyala adalah teman yang menjadi kebiasaan Mardo di rumahnya. Ia merasa ada lebih lelap dengan bunyi-bunyian dari tivi.
****
Mardo terbangun dan melihat jam, ternyata lama sekali ia tidur. Karena sudah senja. Gadis itu buru-buru turun dari tempat tidurnya dan mulai membuka koper dan tas barang-barangnya. Gadis itu berpikir ia harus menyempatkan waktu untuk mengurus baju dan barang-barang bawaannya. Bahkan ia belum menemukan baju tidurnya hanya mengenakan handuk hotel. Ia mengangkati tumpukan baju-bajunya ke atas tempat tidur hingga kosong. Lalu menaro koper kosong itu di sudut. Selanjutnya ia membuka lemari baju dan menyusunnya di rak. Beberapa menit berikutnya semua barang-barangnya sudah rapi. Ia juga sudah mengenakan baju tidurnya yang lembut. Lantas membaringkan tubuhnya kembali sembari menonton tivi.
.
Deni dan Sammy mengunjungi Raka di kamarnya. Kedua anak muda itu memiliki rencana. Mereka akan mencari kencan selama di Merauke. Raka diam saja. Terbayang lagi sekilas pemandangan indah tadi, membuatnya tak fokus.
"Hei, Raka gimana menurutmu? kami akan memulai pencarian pasangan."
"Terserah kalian, namun ingatlah! dalam cinta jangan ada 'menguji coba' karena cinta berurusan dengan perasaan orang lain."
"Jangan mencari yang sempurna seperti di gambar-gambar majalah, juga di handphone. Karena banyak kecantikkan palsu hasil operasi juga editan. Kalian tidak akan pernah menemukannya gadis seperti itu di dunia nyata."
Raka memberikan petunjuk kepada kedua temannya yang sedang berencana mencari kencan. Raka tak setuju untuk hubungan seperti itu.
"Sangat menyakitkan, saat kau berkata 'Maaf, kita putus. Kau tak cocok untukku' hal seperti itu bisa menghancurkan seorang gadis."
Deni dan Sammy saling tatap kemudian mengangguk-angguk.
"Bekal yang sangat berguna untuk kita mendapatkan seorang gadis."
"Yup, jangan meninggalkan seorang gadis karena fisiknya, saat jadi pacarmu ia gendut, kemudian kau meninggalkannya. Jadi suatu saat ketika kau bertemu dan ia sudah kurus dan seksi, apa mungkin kau tak malu mengajaknya jadian lagi?"
"Keren Raka! kami tidak pernah memikirkan hal seperti itu, sekarang kami benar-benar hanya ingin menemukan cinta sejati."
Raka mengerlingkan matanya, lalu pergi meninggalkan ruangan itu.
Pria idola bergegas ke kamarnya, lalu bagaimana dengan kelakuanmu tadi siang? hati kecil milik Raka mengusiknya.
__ADS_1
'Oh, aku tidak merencanakan hal itu? terjadi begitu saja di depanku. Dan kuputuskan tidak membuatnya terkejut, kuanggap hadiah terindah untuk keberuntunganku.'
Raka membuang rasa bersalahnya. Ia tak ingin membuat Mardo terkejut, malu bahkan kebencian dan rasa marahnya bertambah. Ia akan menyimpan hadiah indah itu.
Raka merebahkan tubuhnya, tersenyum mengigit bibir dan memejamkan mata, sungguh tubuh yang indah. Pria idola memikirkannya.
Hemmm, Begitukah seorang gadis jika berada di dalam kamarnya?
Ia begitu bebas, lepas, menginspirasi. Melepaskan rambutnya dari ikatan rambut. Membuka celana jinsnya, kemejanya. Raka berguling memeluk bantalnya. Jika di dalam kamarnya, mondar mandir hanya dengan bra dan celana dalam.
Hemmm, bukankah laki laki juga begitu. Bahkan aku juga. Raka tersenyum, ia membuka celana jinsnya, berikutnya baju kaosnya. Oh, memang rasanya bebas! merdeka! lepas!.
Raka baru menyadari hal itu.
Ia tersenyum dan tertawa sendirian.
Bersambung
__ADS_1