Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 84. Di antara Kita


__ADS_3

"Memikirkan pacar? aku tidak memiliki pacar, aku sedang memikirkanmu kok,"


Richie tersenyum tipis. Sekarang dia berani menyatakan perasaannya. dia sendiri merasa heran pada dirinya sendiri jawaban seperti itu bukan berasal dari dirinya. Apakah karena dia sekarang sudah menjadi laki-laki dewasa? seperti dulu Raka berani menyatakan bahwa Mardo adalah gadisnya. Akan menjadi miliknya.


Yah, Richi harus belajar dari kejadian masa lalu. Jangan sampai terlambat memberi tahu bahwa dia tertarik sejak pertama kali bertemu. Sekarang tepat sekali ia mengatakan bahwa ia memikirkan Laura. Ia harus belajar dari kakaknya Raka, yang sejak awal bertemu langsung jatuh cinta dan penuh keyakinan akan dapat memiliki gadis itu.


'Jika kau telah memiliki keyakinan yang mantap maka selanjutnya kejar dia dan jangan lepaskan sampai dia menjadi milikmu seutuhnya.' (Raka Bramantyo)


'Jadilah seorang pria Idola yang tidak meninggalkan jejak menyakiti hati wanita'


(Raka Bramantyo)


Entah kenapa Richie terkesan dengan kata-kata milik dari kakaknya Raka Bramantyo. Kak Raka benar sekarang dia hidup bahagia dengan cinta sejatinya. Aku pun telah menemukan cinta sejatiku, aku harus meyakinkan diriku bahwa aku akan memiliki Laura. Gadis itu akan menjadi cinta sejatiku dan kami akan hidup bahagia.


"Ada apa sih menatapi aku terus membuatku Jengah dan salting," Laura mengatakannya dengan bersikap bak gadis muda yang baru pertama kali dirayu oleh kekasihnya.


Nyatanya memang Laura adalah gadis yang masih sangat muda. Seperti dulu halnya Mardo. Bedanya ketika itu aku dan Mardo seusia dan sama sama pemalu. Kami pun masih smp.


Sedangkan kak Raka saat itu seusia denganku sekarang ini. Laura seperti Mardo di masa lalu.


Kak Raka ketika itu adalah laki-laki muda yang telah beranjak dewasa, dan Mardo muda belia. Tentu saja kak Raka lebih punya keberanian menyatakan perasaannya, bahkan mengejar-ngejar Mardo kemana saja pergi. Bahkan menghabiskan waktu bersama kami di Merauke demi mendekati Mardo, gadis yang telah mencuri hatinya.

__ADS_1


"Habis, wajahmu seperti magnet. Membuatku tak bisa berpaling nih."


"Huh! gombal,"


Aku tertawa mendengar kata-katanya, tapi aku rasa Laura menyukai kata-kataku terbukti wajahnya dipenuhi oleh senyuman serta lirikkan mata indahnya yang ceria. Wajahnya sumringah tidak terlihat sedikitpun kalau ia marah atau tidak menyukai perkataanku. Sangat jelas, ia agaknya baru pertama kali bertemu


pria yang mempesona dirinya, hemmm.


Beberapa saat kami berada di dalam mall. Tidak banyak yang menarik minat Laura dan Gerry. Sebab sebagian besar gerai yang ada hanya memuat pakaian saja. Sudah pasti di negara mereka keberadaan baju-baju lebih bagus dengan ribuan model fantasi para desainer.


Dua Saudara itu barulah berhenti agak lama di gerai yang menjual pernak-pernik khas Merauke. Aku pun cepat menjelaskan kepada Laura dan Gerry bahwa itu adalah barang-barang kerajinan yang dikerjakan oleh penduduk asli Kota Merauke. Aku menunjukkan sebuah tas khas kota Merauke juga Papua.Tas Noken yang terbuat dari pohon yang tumbuh hanya di Papua.


Dulu Mardo langsung jatuh cinta pada tas tersebut dan membelinya hingga 10 buah. Sekarang aku melihat hal yang sama pada Laura gadis itu langsung tertarik dan memilih-milih tas khas Papua tersebut. Sekarang ini warnanya bisa bervariasi meskipun tetap dari bahan yang sama. Hah! Laura membeli 10 tas khas Papua tersebut seperti dahulu Mardo melakukan hal yang sama. Sementara Gerry lebih tertarik dengan patung-patung yang menggambarkan penduduk Papua. Ia menaro di tas belanjaannya tiga buah patung khas Papua. Cukup banyak yang mereka beli.


Laura bilang pernak pernik tersebut sangat unik, Mommynya pasti menyukainya dan membeli banyak untuk di taro di galeri hotel di negaranya.


Oh, ternyata onty Kirana bekerja di sebuah hotel mewah di negara sana. Ia bertugas menyediakan pernak-pernik unik dari berbagai negara. Itu sebabnya setiap beberapa bulan sekali ibu dari Laura itu selalu bepergian ke berbagai negara tapi dia paling sering pergi ke Bali dan Lombok, Dia memiliki langganan pembuat pernak-pernik souvenir khas


kota Bali.


Tiba-tiba handphone Laura berbunyi dan ternyata mommynya menanyakan keberadaannya. Laura bilang akan ke kamar dalam waktu yang tidak akan lama lagi. Dan dia bilang Mom pasti senang melihat apa yang telah dia beli. "Oke, darling mom menunggu dan ingin melihatnya."

__ADS_1


Kata perempuan di seberang sana.


Kemudian aku memanggil mereka ke kasir, semua karyawan disana mengangguk hormat kepadaku, tetapi aku membiarkan mereka membayar barang-barang tersebut. Aku tak enak jika harus mengatakan bahwa orang tuaku dan aku adalah pemilik Hotel dan Mall tersebut. Aku tidak mau pamer, dan sejak dulu begitu. Semua orang dan teman-teman mengetahuinya dari orang lain, bukan dariku.


Karena barang-barang yang mereka beli lumayan banyak jadi aku menyuruh seseorang untuk membawakan barang-barang itu hingga sampai ke kamar gadis tersebut. Tentu saja Laura terkesan dengan caraku tersebut. Ia mengucapkan terima kasih karena sudah menemaninya berbelanja. Dan aku menjawab bahwa aku juga sangat senang bisa menemani gadis cantik seperti dirinya. Lagi-lagi Laura menyunggingkan senyum di bibirnya.


Setelah memastikan barang belanjaan Laura sampai di dalam kamarnya barulah aku memasuki kamarku. Huahhhh!!! aku meregangkan tanganku menyenangkannya hari ini sampai aku tidak sadar bahwa sejak kedatanganku aku belum beristirahat sedikit pun. Sekarang rasanya aku sangat kelelahan dan mengantuk. Aku membuka bajuku dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri lantas naik ke tempat tidur yang begitu lembut dan nyaman. Tak lama aku tidak tau lagi yang terjadi. Aku terjatuh kedalam tidur yang sangat lelap.


Pagi-pagi sekali aku terkejut oleh suara handphone yang memanggil-manggil. Ternyata papi. Ia bilang sudah menunggu di restoran, kami akan meeting pertama tepat pada jam delapan pagi. Aku melompat dan berkata, bahwa aku terlambat bangun. Tapi aku akan datang dalam beberapa menit. Tunggu aku papi!!!


Segera aku ke kamar mandi menggosok gigi dan byur byur byur menyiram tubuhku dan merasakan kesegaran mandi dengan air dingin. Secepatnya aku mengeringkan badanku, memakai celana, kemeja, dasi serta jas. Aku menyisir rambutku dengan rapi. Mengambil tas kerjaku, dan terakhir mengenakan sepatu.


"Selamat pagi Papi! aku sudah siap."


Dan Papi menolehiku, lantas tersenyum, "Jagoan Papi sangat tampan dan keren.


Papi melambaikan tangannya kepadaku mengajak duduk di sebelahnya.


Kami terlebih dahulu minum dan menikmati makanan hangat, lantas bergegas ke kampus.


Terima kasih, telah mengikuti kisah Pria Idola

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, Votenya yaa.


Bersambung


__ADS_2