
Tepat jam delapan terdengar bunyi serine pertanda anak-anak harus segera memulai kegiatan
belajar mengajar. Masing-masing ibu guru mengajak anak-anak didiknya berbaris yang rapi.
Anak perempuan, dan anak laki-laki. Ibu guru mencontohkan cara bersiap, kemudian merapikan
barisan. Setelah rapi satu persatu anak-anak masuk ke dalam kelas. Terdengar ibu guru
mengajak berdoa, kemudian berkenalan dan bernyanyi.
Tidak lama, Rakasiwi sudah keluar dengan membawa kotak.
"Asyik kan sekolahnya dan hanya sebentar saja."
Anak laki-laki itu tersenyum dan mengangguk-angguk. Lalu memberikan kotak
tempat baju olah raga, topi dan lain-lain.
"Raka!"
Seorang gadis kecil yang cantik dan mungil memanggil dan melambai pada Rakasiwi.
Rakasiwi diam saja, ayah dan bundanya memperhatikan gadis kecil itu yang tidak
dijemput seorang pun.
"Siapa itu kak Raka? kok dia memanggilmu? kalian sudah berkenalan ya.",
Tapi Raka mengacuhkan pertanyaan Mardo, dan ia melihat Opa segera Raka
berlari ke tempat Opa dan Oma.
"Opa!, aku sudah pulang sekolah!"
"Hah! cepat sekali ya, bagaimana kalau kau ikut Opa ke swalayan, barang-barang
sudah habis semua."
"Baiklah Opa."
Papi Bramantyo memberitahu pada Raka dan Mardo bahwa ia membawa Rakasiwi
ke swalawan yang tak terlalu jauh.
"Iya Pi, kakak Raka jangan rewel ya."
Mardo mengingatkan anaknya itu. Dan anak laki-laki itu mengangguk sembari
berteriak, "Aku tidak rewel! yang rewel dan cengeng itu adik Cindy!"
"Oh iya, bunda lupa, maaf."
Mardo menutup mulutnya, "Mimi yang cengeng itu adik Cindy nih he he he."
Gadis kecil yang sedang berada digendongan Raka mengikik kegelian oleh
jari-jari ayah yang mengelitik pinggangnya.
"Pi, ke spa dulu yuk, badanku rasanya pegal."
"Ayo, mumpung Rakasiwi sama papi dan mami."
Keduanya lantas naik ke mobil dan pergi menuju salon langganan keluarga.
Disana lengkap, ada untuk spa, potong rambut serta minicure pedicure. Rambut
Cindy juga sudah panjang tak beraturan. Hari ini Cindy hanya cengeng sebentar
sekarang agaknya mood Cindy sedang baikkan, ia sedang bermain dengan
ayahnya Raka. Terdengar suara Cindy yang tertawa saat Raka mengagetkannya.
Nikmat sekali rasanya tubuh Mardo di pijat dan diluluri dengan wangi yang sedap.
Mardo memejamkan matanya. Meski kelihatannya pekerjaannya ringan hanya
__ADS_1
menjaga anak saja, tetapi rasanya pekerjaannya tiada henti. Dari bangun tidur
hingga menjelang malam akan tidur ada saja yang membuatnya tidak nyenyak.
Mardo tertidur saat tubuhnya dipijati dengan lembut.
Setelah usai, gantian dengan Raka yang juga ingin pijat dan lulur. Mardo membawa
Cindy untuk potong rambut, Cindy langsung memeluk tubuh Mardo kuat-kuat.
Mardo mengendorkan pelukkannya.
"Rambutmu di potong ya sayang, coba lihat rambutnya kiwir-kiwir begitu."
Tapi Cindy meronta menangis, kakak yang bertugas akan memotong rambut
Cindy memberinya mainan bebek dan perhatian gadis cilik yang cengeng itu
teralihkan, ia diam dan memegangi mainan bebek, akhirnya Cindy duduk
di tempat potong rambut. Mardo mengajaknya bermain dan gadis salon itu
mulai memotong rambutnya dan merapikannya. Tak lama sudah selesai
karena memang rambut Cindy masih tipis sekali.
Setelah selesai dari Spa, terbersit keinginan menikmati baso seperti masa-masa
lalu bersama teman-temannya. Akhirnya Mardo mengajak Raka makan bakso
dan menikmati minum es kelapa.
"Pi, makan baso di tempat langgananku yuk, enak banget Pi basonya, trus
disebelahnya ada minuman es kelapa. Yuk Pi."
Raka menurut saja, jadilah mereka bertiga makan baso di sana. Sekarang
sudah semakin maju saja tukang baso tersebut. Pembeli memilih terlebih
dahulu baso yang beraneka rasa, ada baso telur, baso daging, baso urat
tinggal pilih, ada yang besar, sedang dan kecil. Pembeli juga bisa memilih
diberi mie dan kuah. Sedangkan sambal, kecap dan lain-lain sudah ada
di meja.
Baru saja duduk, tukang es kelapa muda datang menghampiri dan menanyakan
apakah mau pesan es kelapa atau hanya teh saja.
Mardo bilang, mereka pesan es kelapa dua dan minta dibuatkan di bungkus
juga untuk di rumah.
"Aku mau pesan untuk Papi dan Mami juga ya Pi, basonya dan es kelapanya.
juga untuk yang kerja di rumah."
"Terserah Mimi aja."
Mardo memanggil pelayan yang kebetulan mengantar minuman, pelayan itu mendekat dan langsung
mencatat pesanan Mardo.
"Ok mba, saya siapkan dulu ya, nanti saya antar ke sini."
"Terima kasih."
Pelayan itu mengangguk dan tersenyum.
"Yah, yahhhh!"
Cindy yang sedang menikmati baso yang telah di potong-potong oleh Mardo berteriak berkali-kali
sambil mengacungkan garpunya pada Raka. Beberapa orang memperhatikan keluarga tersebut
dan tertawa kecil melihat kelucuan Cindy.
__ADS_1
"Yahhh! yahhh!"
Raka lantas mendekatkan wajahnya pada Cindy, mencium pipinya yang menggemaskan.
"Yahhh! yahhhh!"
"Apa sih anak ayah yang cengeng eh yang cantik, panggil panggil ayah teyus nih."
"Yahhh yahhhh!"
Akhirnya Raka melihat pandangan Cindy ternyata ada kucing yang sedang makan baso
yang jatuh."
"Oh, rupanya putri cantik ayah melihat kucing, ngasih tau basonya jatuh di makan kucing."
Mardo dan Raka tertawa terkekeh oleh Cindy yang ingin memberitahu sesuatu pada
ayahnya, memangnya nggak susah menjadi ayah dan ibu, mesti pintar-pintar dan mengerti
bahasa anak kecil.
Raka menyuapi Cindy potongan baso yang lembut, rupanya Cindy menyukai suasana
makan bertiga seperti itu. Ia tertawa sembari mengunjah baso yang lembut.
"Mana kakak Raka, kok nggak diajak sih Dek?"
"Noh noh! yahhhh yahhhh."
"Oh kakak Raka noh di sana katanya ayah."
Cindy menunjuk-menunjuk ke belakang, Raka dan Mardo lantas menciumi pipi montok
Cindy yang menggemaskan.
"Anak ciapa ini? si cantik? anak ciapa?"
Raka menggoyang-goyang kepalanya di depan Cindy.
"Idih, lupa tuh dek ayah, lupa anaknya sendiri, jewer aja ya Dek."
Mardo menaro tangannya di kuping Raka dan menjewernya, Raka menarik tangan
Mardo dan keduanya tertawa dan saling menatap, Cindy terkekeh melihat Raka dan
Mardo bergelut sesaat.
"Pi, Cindy senang sekali hari ini, kita mengajaknya ke salon, lalu makan baso dan
minum es kelapa muda, belum pernah loh dia seceria ini he he he."
"Iya ya, selama ini kita belum pernah bertiga dengannya, selalu Rakasiwi menguasai
ayah dan bundanya, sekarang dia memiliki kita berdua, sejak tadi dia tak cengeng
lagi."
"Oh, kalau begitu kita harus meluangkan waktu juga bertiga seperti ini."
"Kakak Rakanya kadang memang egois Pi, bahkan papi dan mami tak boleh
berlama-lama mengendong Cindy, kakak Raka itu selalu berusaha dia yang utama
masih cemburu pada Cindy Pi."
"Iya, Pipi juga sesekali melihatnya. Kalau Pipi akan menggendong Cindy dia berusaha
menarik perhatian Pipi. Tetapi setelah ia bersekolah mudah-mudahan rasa jealousnya
berkurang bahkan menghilang ya Mi.
"Aamiin yra."
"Yahhhhh, yahhhh, ayahhhhh..."
Suara Cindy itu terkenang oleh orang yang sedang menikmati baso, bahkan abang
kasir saat Mardo membayar, abang kasir mengoda Cindy, yahhh! yahhh!
__ADS_1
merduuu banget sih adik cantik.
Bersambung