
"Sur, akhirnya kita ketemu lagi beb setelah 31 tahun. Ya ampun kamu cantik sekali."
Sashi, Putri dan Emily menyambut Suryantorowati heboh, mereka berpelukkan cipika-cipiki. Suryantorowati menikah dengan seorang pengusaha asal Yogyakarta. Bertahun-tahun tak pernah bertemu dengan teman-temannya semasa smp. Jadi Suryantorowati kaget sekali saat ada reuni. Ia tak menyangka teman-temannya masih bisa ditemui.
"Mana Mardo? aku mau cubit pipinya."
"Sebentar lagi datang, biasa suaminya manja."
"Ha ha ha, kebiasaan anak itu, selalu telat. Encing Miss telat dasar."
Suryantorowati mengibas-ngibaskan tangannya dan tertawa geli mengingat sosok sahabatnya semasa smp. Lalu ia mendekati Satria. Keduanya terbengong lantas hesteris dan berpelukkan. Tubuh Suryantorowati yang mungil tenggelam dalam pelukkan Satria yang tinggi besar.
"Sur, Suryantorowati! alhamdulillah kamu sudah datang, terima kasih ya Beb."
"Aku kangen sekali denganmu dan juga teman-teman."
Perempuan cantik itu menghapus air matanya yang tergenang begitu saja. Tak lama sebuah mobil hitam memasuki tempat parkir. Seorang pria keluar dari pintu dan membukakan pintunya untuk seorang perempuan cantik. Keduanya saling menatap dan tersenyum.
"Pi, masuk dulu ketemu teman-temanku."
"Tidak usahlah Mi, aku buru-buru."
Perempuan itu cemberut, "Sebentar aja Pi, salaman aja sambil antar istrinya kedalam."
Terpaksalah Raka mendampingi istrinya, dari pada merajuk sepanjang hari. Ia lebih baik mengalah.
"Mardo datang teman-teman!"
Sashi berteriak memberitahu teman-temannya. Bagaimana pun Mardo orang yang sangat penting bagi mereka sebab yang pertama kali mengajak bertemu adalah Mardo. Meski awalnya sama sekali bukan untuk membicarakan reuni, melainkan hanya pertemuan rutin mereka berempat. Tetapi saat itu ada Satria sehingga timbul ide untuk mengadakan reuni.
Mereka semua beranjak ke pintu untuk menyambut perempuan itu dan suaminya.
"Mardo Prameswari! senangnya bertemu lagi denganmu."
Suryantorowati melebarkan tangannya, berpelukkan. Mereka semua di sana memeluk Mardo sepenuh rindu.
"Surya surya! he he he, kamu tidur di mana? kenapa nggak ke rumah?"
"Udah, aku di hotel, nggak mau mengganggulah."
Mereka semua mengambil tempat duduk yang telah disediakan. Membaur bersama. Mardo mengenalkan suaminya Raka yang berbaik hati mengantarnya. Semua meledek Mardo yang manja pake diantar segala. Pria tampan yang membuat teman-teman Mardo tak berkedip menatapnya hanya tersenyum dan mengabarkan pada teman-teman Mardo, bahwa istrinya sedang mengandung, jadi ia sangat menjaga istrinya yang hanya satu-satunya di dunia itu.
Yang mendengarnya tertawa terkekeh, Raka mengatakannya sangat serius.
__ADS_1
"Memang, perempuan seperti Mardo itu udah nggak ada lagi stoknya lagi, perlu dilestarikan he he he."
"Tuh Bun, temanmu juga setuju. Ok, saya hanya mengantar istri, biasalah supir pribadinya he he he. Saya nitip istri dan anak saya ya, pamit dulu."
Raka berbalik meninggalkan Mardo dan teman-temannya diantar oleh istrinya ke tempat parkir dengan pandangan dari semua teman-temannya.
"Pi, hati-hati ya."
"Ok Mi, kamu juga ya dan anak kita."
Mereka saling melambaikan tangan dan senyum yang mesra.
Baru saja Mardo masuk ketika Bambang, Pupu dan juga Agus bermunculan di pintu gerbang. Lagi dan lagi keramaian itu menghidupkan suasana. Lalu berdatangan lagi Indrawati, Titis, Titin dan beberapa teman yang lain.
Tepat jam sebelas mereka semua sepakat untuk membuka acara reuni tersebut. Satria memimpin serta mengucapkan beberapa kata sambutan. Kebahagiannya sebab bertemu teman-teman yang kehidupannya sangat baik. Beberapa teman belum lagi dapat mereka temui. Satria berharap mereka bisa menemukannya atau mengetahui kabarnya. Beberapa yang berasal dari kelas lain juga bertanya apakah bisa ikut. Satria belum bisa menjawabnya sebab akan bertanya kepada teman-teman terlebih dahulu. Reuni itu memang hanya kelas mereka saja, Banyak sekali yang dibicarakan di reuni perdana tersebut.
Beberapa teman juga membuat vidio dari foto-foto masa lalu. Mereka semua tertawa melihat dan mengenang kembali saat itu. Mardo yang tidak terlalu faham jalan cerita teman-temannya selama tiga tahun. Sebab Ia hanya dua tahun berada di smp tersebut. Namun masa singkat itu teringat manisnya persahabatan mereka.
Suryantorowati adalah gadis Jawa yang sangat menjaga adat dan taat pada leluhurnya. Lemah lembut serta kenes. Ia suka kesal pada Mardo yang memanggilnya Surya, terpaksa ia selalu melanjutkan sendiri namanya
yantorowati! sambil mata melotot.
Sambil menonton mereka menikmati hidangan yang berlimpah. Mardo, Sashi, putri dan Emely yang mengurus makanan. Satria dan teman-temannya hal-hal lain. Sehingga reuni pertama ini lumayan meriah dan sangat berkesan.
Semua mengingat peristiwa itu, gara-gara seorang teman yang tak disiplin. Datang terlambat mereka semua mendapat hukuman. Berdiri dengan sikap siap dan lancang depan selama berjam-jam. Akibatnya hari itu mereka tidak belajar melainkan menghabiskan waktu dengan baris-berbaris dan lancang depan.
"Gila banget, pulang-pulang tanganku sampai sakit."
"Aku juga kayak bengkak gitu keteknya."
"Ha ha ha, apa hubungannya dengan ketek, ah ada-ada saja."
"Yang paling kuingat sih, itu Mardo sering banget telat dan berdiri di depan, nggak ada kapoknya."
Semua menatap pada Mardo yang menjadi tersipu-sipu.
"Kalian kan tau, Papi dan Mami kerja, jadi kalau pagi-pagi berangkat mesti barengan. Ya begitulah saling tunggu menunggu jadinya aku yang korban deh he he he."
Semua bernostagia tentang kenangan yang lucu dan berkesan. Hingga akhirnya menjelang malam. Acara reuni itu lantas di tutup. Mereka sudah memiliki agenda untuk bertemu kembali tahun depan. Ketika sudah di rumah seseorang yang mengirim foto-foto acara reuni itu berkomentar tentang Agus yang tak leluasa sebab ia bersama nyonyanya.
"Gus, mati gaya lu istri di bawa ha ha ha."
Yang lain ikut mengomentari, "Ha ha ha, pantasan Agus anteng banget."
__ADS_1
"Orang-orang pada berdansa dan menari dengan Sur, Indra, Titis, Mardo, kamu diam aja di pojok Gus ha ha ha."
Setelah ramai di wa grup, barulah Agus muncul dan berkomentar.
"Ha ha ha, iya Gua nggak bisa gerak, ada bini."
"Makanya lain kali kasih tau bini, acara reuni, bini nggak ada yang ikut."
"Gimana lagi, bini nggak mau ditinggal he he he."
"Elu Gus, kayak suami takut istri aja."
Semua kegelian oleh masalah Agus itu.
Tadi juga terlihat Titis melirik terus pada Satria. Mereka dulu memang sepasang kekasih. Tetapi entah kenapa Satria mengalihkan perhatiannya pada Mardo. Semua anak-anak tahu saat Satria bertengkar di belakang kelas.
"Aku salah apa Satria? kenapa kamu tiba-tiba minta putus?"
"Kamu cari tau sendiria saja apa salahmu? pokoknya aku mau putus sama kamu titik!"
"Kalau kamu nggak ngasih tau mana aku tau, kamu nggak adil dong kalau begitu, atau cuman alasan kamu ya? udah ada gadis lain iya kan?"
"Iya."
Satria menjawab dingin. Sementara Titis langsung berderai air mata. Ia lari meninggalkan Satria. Keadaan kelas memang berjalan seperti biasa. Hanya saja tidak ada pemandangan romantis lagi. Biasanya ada sepasang sejoli yang saling meminjam buku, bertukar buku. Berduaan di kantin sekolah, mengacuhkan semua orang seperti dunia milik berdua.
Saat pulang atau berangkat sekolah pun banyak mata yang menatap pemandangan indah, berjalan bersisian sembari berbincang hingga akhirnya tiba di sekolah. Semua menghilang dan tak pernah terlihat lagi. Malah semua bisa melihat kalau Satria mendekati Mardo.
Laki-laki remaja tinggi besar dan berwajah segar itu matanya telah berpaling pada Mardo yang mulai memperlihatkan kecantikan dan keindahannya sebagai gadis yang sedang tumbuh. Ia selalu menunggu Mardo di pintu gerbang. Ia pura-pura baru tiba juga dengan memanggil Mardo dan bareng ke kelas. Mardo sama sekali tak mengerti akan perhatian dan pendekatan yang Satria lakukan. Sikapnya biasa saja. Hingga Sashi membisikinya suatu hari.
"Do, Satria bilang dia suka sama kamu."
Barulah Mardo memikirkannya, dan mulai terpengaruh perkataan itu. Satria, dia cowo populer di sekolah itu. Teman-teman perempuan banyak yang naksir dan mengharapkan cinta pertamanya. Tapi rupanya Mardo yang beruntung.
Bersambung
__ADS_1