Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 111 Bahagia Menjadi Ibu


__ADS_3

Empat hari baby Triananda di rawat di rumah sakit. Ternyata baby Triananda menderita infeksi saluran pernapasan. penyebabnya bisa disebabkan oleh virus atau bakteri.


Infeksi itu menyebabkan kan bayi Triananda menjadi sulit bernapas, sesak, rewel, dan merasa tak nyaman sehingga sulit tidur. Kemudian uga disertai oleh demam.


Bayi seperti Trinanda memang menurut dokter sangat rentan terhadap infeksi saluran pernapasan. Apa lagi di suasana musim hujan, bayi harus mendapatkan tempat yang nyaman dan hangat.


Dokter Regawa berpesan agar mengatur jadwal pemeriksaan baby Triananda, untuk menyembuhkan penyakit infeksi pernapasannya.


Dan juga memperbaiki cara menyusuinya, baby sebaiknya dipangku dengan kepala lebih tinggi dari tubuhnya, tidak menyusui sambil tiduran sebab sangat membahayakan.


Mardo baru tahu bahwa ada cara menyusui yang aman bagi baby. Selanjutnya ia banyak meminta nasehat sang dokter berkenaan dengan sakit baby Triananda.


Hari itu baby Triananda boleh pulang. Wajahnya ceria dan gembira, ia mendengar kakak-kakaknya datang bersama ayah.


"Bundaaa!"


Rakasiwi dan Cindy di gendongan ayah muncul di pintu. Ayah juga tersenyum lebar. Mereka segar sekali, habis mandi dan mereka wangi.


"Adekkkk."


Rakasiwi dan juga Cindy berteriak memanggil adik mereka yang berada di pangkuan Mardo. Dari kemarin tangannya telah terlepas dari jarum suntik dan selang- selang tabung untuk membantu pernapasan baby Triananda.


"Aaaaaaa!"


Baby Triananda memeluk Mardo sebab terkejut sekaligus gembira, ia menyembunyikan wajahnya di dada bunda sembari mengintip dan tertawa.


"Dek Tria sudah sembuh ya Bunda? sekarang boleh pulang?"


"Iya kakak, adek udah boleh pulang."


"Jangan sakit lagi ya Dek."


Rakasiwi menyentuh-nyentuh tangan adiknya, dan baby Tria tertawa mendekatkan wajahnya ke kakaknya.


"Iya kakak, adek nggak mau sakit lagi."


Mardo menirukan suara baby Tria, sementara Cindy melorot untuk memeluk adik dan Mardo. Cindy menciumi pipi adiknya yang mirip sekali dengannya, ayah juga berjongkok dan mengajak baby Tria ke gendongannya.


"Sini ayah gendong sayang."


Baby Tria membentangkan tangannya dan mau digendong dan dipeluk oleh ayahnya.


"Umm, ayah kangen sekali sama princes ayah yang satu ini."


Baby Tria tersenyum-senyum di gendongan ayah, sementara Cindy memeluk tubuh Mardo, begitu juga Rakasiwi. Mardo membalas pelukkan anak-anaknya, ia merasakan bahagia menjadi seorang ibu.


"Ini rambutnya siapa yang menguncir? bagus sekali."

__ADS_1


Mardo menyentuhi kunciran Cindy yang lucu.


"Tadi ayah yang nguncir rambut adek Cindy bun."


"Oh, ternyata ayah hebat bisa nguncir rambut yaa."


Raka menolehi kesayangannya di sana yang tengah membicarakannya.


"Iya dong, ayah yang serba bisa dan siaga."


"Ayah memang hebat!"


Mardo mengangkat jempolnya dan mengacungkannya pada Raka.


"Siapa dulu, pria Idola!"


Sembari menyibakkan rambutnya, narsis.


Hemmm!


Mardo tersenyum.


Beberapa saat mereka bercengkrama di ruangan vip tempat baby Tria di rawat. Mardo sudah berkemas sebelum Raka dan anak-anaknya menjemput. Ia hanya tinggal meraih tas pakainnya dan obat untuk baby Tria.


"Ayo sayang kita pulang ke rumah."


Raka memberikan baby Tria pada Mardo yang langsung mengerti, ayahnya akan menyetir, ia peluk leher Mardo. Sementara Cindy sudah duduk di sisi ibunya dalam mobil. Rakasiwi duduk di depan dan sudah memakai seat bealnya.


"Bismillah, kita pulang sekarang, ke rumah kita."


Raka menolehi anak laki-lakinya, lalu kebelakang, tersenyum pada Cindy.


"Kakak Cindy, pasang sabuknya sayang."


"Iya ayahhh,"


Jawabnya dengan suara mungilnya yang cempreng.


"Ok, kita cusss!"


Keluar dari rumah sakit dengan perubahan yang terjadi di dalam dirinya. Ia telah telah berjanji pada dirinya sendiri akan menjadi seorang ibu yang baik bagi anak-anaknya dan juga istri yang berbakti bagi suaminya.


Ia tidak lagi menghiraukan lelah serta warna-warni beratnya mengurus anak. Semuanya akan ia nikmati dan syukuri. Raka, pria yang ia cintai dengan segenap perasaannya, membantunya melewati semua rintangan. Ia dan Raka selalu ada untuk anak-anak mereka.


Priscilla semakin menyadari arti seorang ibu dan juga ayah. Bukan hanya memberikan tempat tinggal, sandang serta pangan tetapi juga kebutuhan akan perlindungan, cinta, tatapan penuh sayang, perhatian penuh serta kebersamaan. Itulah yang terindah.


Mengapa ia tak bercermin pada kehidupan papi-maminya dan juga papi-mami suaminya Raka. Mereka hampir tak pernah bertengkar, selalu manis dan penuh kasih yang terlihat saat saling berpandangan.

__ADS_1


Mardo mencium pipi Cindy lalu baby Tria, ia sangat takut kehilangan anak-anaknya. Ia tak akan mampu menghadapinya. Ia akan berkorban seluruh hidupnya untuk anaknya.Pertaruhkan jiwanya untuk anaknya. Ia akan menjadi seorang ibu sejati. Seorang ibu yang hanya akan mengurusi anak, suami serta keluarganya.


Selamat datang hari untuk menjadi ibu yang baik untuk anak-anak. Ia akan total menjadi ibu.


Mardo tersenyum sangat bahagia.


Mardo berencana besok ia akan menyuruh asisten rumah tangganya untuk berbelanja yang banyak. Ia akan berbagi makanan dengan orang-orang yang membutuhkan. Sebagai tanda syukur akan kesembuhan baby Tria.Juga pada kelembutan Rakasiwi dan menghilangnya kecengengan Cindy.


Pokoknya begitu banyak rasa syukur yang ingin ia ungkapkan. Ia juga akan mengundang ayah dan ibunya, mertua, paman paman dan bibi anak-anaknya serta teman-temannya.


Mardo ingin merayakan kebahagiaannya serta permulaan visi dan misinya untuk menjadi seorang ibu yang baik yang dibanggakan oleh suami dan anak-anaknya.


Ia tak sabar untuk sampai di rumah dan mulai merencanakan semua harapannya. Ia tak pernah lelah, mengeluh dan berkecil hati jika itu menyangkut anak-anaknya.


Ia ingin memperlihatkan betapa bahagia dan beruntung, sempurna kehidupan, rumahnya tiada pernah sepi oleh merdu suara anak-anaknya.


Tidak ada yang kurang, semua telah ia miliki, tinggal lagi menjaga dan mempertahankan kebahagiannya. Betapa baiknya Sang pencipta yang telah memberikan dia sebuah keluarga kecil yang manis.


"Bunda kok diam aja sih?"


Tiba-tiba Rakasiwi putranya menolehinya sembari tersenyum.


Membuatnya sesaat salah tingkah.


"Eh, he he he, iya ya kok


sepi, ayah diam aja sih, kakak Cindy juga, sama adek Tria juga."


"Klo ayah kan sedang menyetir, harus fokus dong, nggak boleh bicara, oh iya Bun, kakak Raka besok mesti ke sekolah, bunda belum tau kan ya?"


Mereka berahasia.


"Ada apa ya, bunda nggak dikasih tau sama bu guru."


Mardo merasa penasaran. Ia menyentuh bahu anak laki-lakinya.


"Kakak Rakasiwi hebat Bunda, menjadi juara umum di sekolahnya. Besok penerimaan hasil laporan pelajarannya, dan kata gurunya ia akan menerima piala penghargaan di hadapan semua anak- anak untuk memotivasi belajar anak- anak di sekolah tersebut."


"Oh, selamat ya kakak, bunda sangat bangga sekali padamu, anak siapa dulu dong!"


"Anak ayah sama bunda dong."


Semua tertawa bahagia, aaaaaaaa!!!


Cindy dan baby Tria ikutan menjerit, wajah keduanya ceria.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2