Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 38.Berduaan


__ADS_3

"Ada Apa?"


Suara kak Raka membuyarkan lamunannya. Baru Mardo tersadar ia masih bersama kak Raka.


"Oh, ternyata aku masih di mobil ya?"


Raka menggaruk-garuk kepalanya, dia mengira aku robot hemmm,  bergumam tak jelas.


"Bagaimana bisa lupa sih? setelah bicara dengan laki-laki besar itu, yang mengajak ke mobil itu siapa?"


Mardo membisu, mendengarkan pria itu bicara.


"Suka ya naik mobilku? gadis-gadis bermimpi ingin bermobil bersamaku,"


"Tapi aku yang beruntung kan? gadis pertama yang naik mobilmu?"


"He he he, kok tau."


"Ini lewat mana sih? kenapa rumahku nggak nyampe-nyampe? kan dekat  banget dari klinik."


Mardo baru sadar, kalau Raka membawanya ke jalan yang memutar hingga menjadi lebih jauh.


Jalan yang memutar menuju kota.


"Kenapa tadi nggak lurus aja,kan lebih dekat," Mardo membesarkan matanya.


"Oh iya, dirimu sih nggak bilang," malah menyalahkan Mardo.


"Huh," Mardo membuang muka.


"Ke pelabuhan sebentar ya, mengambil sesuatu."


"Tadi katanya banyak kerjaan, kok ke pelabuhan?"


"Ya itu kerjaannya di pelabuhan sebentar ya, nanti aku jelasin ke mertua."


Dasar!!!


Mardo membuang muka, wajahnya pasti memerah.


"Gadis yang sangat beruntung."


"Aku gadis pertama yang duduk di sebelah pengemudi yang tampan dan smart?"


"Jadi aku tampan ya?"


Raka mengusap usap rambutnya dan tersenyum kecil.


"Bukan kok, maksudku gadis pertama yang keluar malam denganku."


"Karena sebuah keadaan!"


"Tenang aja,  nanti dipulangin utuh ke calon mertua."


Darah berdesir kencang di tubuh Mardo.Laki laki ini selalu membuatnya begitu.


"Aku masih smp tau, jangan kesana sana," Mardo kesal.

__ADS_1


"Namanya juga proses,"jawab Raka kalem.


Kenderaan memasuki pelabuhan.


Banyak yang sedang menikmati hembusan angin laut serta mendengar deburan ombak.


Anak anak juga banyak yang berlarian dan berkejaran. Indah sekali pantai kota eksotik itu.


Raka membuka pintu mobil dan tak  berkata sepatah kata pun. Mardo tak ingin keluar dari dalam mobil. Udara laut sangat dingin. Ia mengawasi Raka yang bersandar di kap mobil membelakanginya.


Rambutnya tergerai tertiup hembusan angin laut.


Siluit tubuhnya tampan.


Tak lama dua orang laki laki menghampirinya dan memberikan berkas berkas. Raka terlihat seperti menanda tanganinya. Kemudian kembali kedalam mobil dan melaju. Melalui jalan yang tadi. Mardo ingin protes karena itu justru bertambah jauh dibanding jika memutar. Tapi percuma, pasti ada saja jawabannya. Mardo bersabar dan mengikuti saja.


Benar saja,  ia beralasan kalau lewat jalan yang sebenarnya lebih dekat, katanya hutannya sangat lebat dan gelap. Takut bertemu manusia kanibal. Iiihh! spontan Mardo bergedik ketakutan.


"Bagaimana kalau makan malam dulu,?"


Mardo menoleh dan membalas tatapan Raka.


"Aku mau pulang," hampir menangis.


"I-ya bisa lain kali ya,ok kuantar sekarang."


Raka melihat kesabaran gadis itu hampir habis,  padahal betapa ia ingin berlama lama berduaan dengan gadis belia ini. Betapa nyaman dan terasa indah. Tak pernah ia merasakan hal seperti ini. Kebenciannya pada gadis mengikis oleh kehadiran Mardo.  Alangkah indah berduaan dengan orang yang disukai. Waktu terasa sangat cepat baginya. Ingin menghentikan waktu.  Tetapi sebaliknya Mardo. Raka menatap gadis di sebelahnya. Ingin cepat-cepat  sampai di rumah.


Tak ada lagi alasan, Raka mengantar gadis di sebelahnya ke rumah.


Raka.


"Sudah sampai, mari kuantar naik, sekalian menyapa mertua."


Mardo membesarkan matanya.


"Tak perlu, mau kena marah!"


"Sudah resiko, ayo."


Raka sudah membuka pintu mobil dan menunggu Mardo keluar.


Apa yang terjadi?  Papi menyambut Raka dengan ramah. Bahkan  menawari makan malam dan minum kopi.      Papi bilang  mereka belum makan malam karena menunggu Mardo. Keluarga mereka terbiasa makan malam bersama-sama.


Pucuk dicinta ulam tiba, "Kebetulan belum makan Pi, tadi mau mengajak makan tapi takut kemalaman."


Mami mengambil satu lagi piring untuk Raka, dan mengambilkan nasinya.


Sambil makan Raka menceritakan tentang kejadian yang menimpa Vana tadi, sehingga pulang agak telat.


"Kasihan Vana, semoga cepat pulih."


Mardo sesekali menatap pada Raka, Hem, makan malam pertamanya di rumah seorang gadis.


Ingin Mardo tertawa.Takut tak bisa menahan tawa Mardo buru-buru ke belakang. Untungnya Papi dan Mami nggak berkomentar tentang dia yang cepat sekali menyelesaikan makanya. Mereka asyik bercakap-cakap dengan


Raka.

__ADS_1


Papi, bang Mangara dan Patricia terlihat akrab, mereka tertawa dan makan dengan nikmat.


Papi bilang ia mengagumi pak Bramantyo yang sangat sukses. Menjadi contoh dan motivator bagi anak-anak muda seperti Mangara dan Raka.


Tidak mudah membangun bisnis dan mempertahannya. Tetapi pak Bramantyo mampu.


Berkat dekat dengan karyawan dan menganggap pekerja sebagi keluarganya sendiri.


Oh, ternyata Papi melihat pak Bramantyo seperti itu. Mardo juga menilai sama.


Pak Bramantyo murah hati, misalnya saja ia membiayai liburan anaknya bersama teman-temannya.


Mereka tidak mengeluarkan uang sepeser pun saat liburan itu.


Richi membayari mereka banyak sekali.


Raka hanya mengangguk-anggukan kepalanya mendengar pujian pada Papinya.


Usai menikmati masakkan Mami yang lezat, Papi masih mengajak mengobrol di ruang tamu sembari


menikmati kopi. Tapi kemudian Raka pamit dan mengucapkan terima kasih atas makan malam dan minum kopi yang enak sekali.


"Sering-sering mampir ya Nak Raka."


Papi menawari, entah itu basa-basi atau serius.


"Kak Raka!"


Mardo menutup mulut, kenapa kak Raka nggak memutar malah lurus saja, padahal dia bilang


lewat sana itu hutannya lebih lebat dan gelap, ada kanibal!  oh, Mardo sangat cemas. Ia menatap


mobil kak Raka yang menjauh. Ia mencemaskan kak Raka untuk pertama kalinya.  Kwa Kwa kwa.


Setelah kak Raka pulang, Mami menanyakan Vana. Mardo lalu menceritakan kalau Vana sejak pagi ada di sekolah. Adiknya Rien  mencari ke rumah. Mardo lalu pergi  ke sekolah dan mendapati Vana yang sedang berjalan pulang.


Mardo mengajaknya naik ke mobil tapi di tolak. Mardo akhirnya menemani berjalan, tapi baru beberapa langkah Vana mendadak  limbung dan jatuh pingksan.


Saat itulah Kak Raka lewat. Mereka berdua membawa Vana ke klinik dan memberitahu kejadian itu pada pak Malik.


"Jadi pak Malik ada di klinik?"


"Iya Mi, pak Malik yang menjaga Vana."


"Kasihan Vana dan adik-adiknya, Pi kita ke klinik sebentar yuk Pi.'


Mami mendekati Papi yang sedang menunggu kantuk di teras.


"Ayo , Pat ambil celana Papi di kamar."


Lalu Papi dan Mami pergi ke klinik, Pat ingin ikut tapi tak boleh. Ia lari ke kamarnya.


 


 


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2