Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 129. Salah Menduga


__ADS_3

"Si Prita kemana sih? dari tadi di telpon nggak aktip?"


Yunna jengkel, sebab telponnya tidak mendapatkan respon dari Prita.


Biasanya saat-saat seperti ini mereka bertiga bertemu dan bercengkrama


di base camp  langganan mereka yakni warung Mimi cantik. Warung yang sudah


seperti milik sendiri. Saking akrabnya dengan tukang warung, kalau bikin mie yamin


atau  baso serba banyak. "Mi, sayurnya yang banyak, atau basonya tambahin dua,


bahkan pangsitnya sepiring.


Tetapi Mimi orangnya nggak rewel, menuruti saja permintaan pelanggannya, yang


penting pembayarannya nambah juga. Jadi enak kalau sudah sama-sama mengerti


pelanggan dan penjual.


Asyiknya lagi Mimi cantik pemilik warung baso yamin itu gaul sekali. Segala yang


viral-viral di medsos dia tau banget. Dan kalau ketemu Yunna, Elsa dan Prita


warungnya berubah deh jadi seperti bikin konten you tube. Dia manggil-manggil


anak laki-lakinya yang bernama Muhammad Clinton.


"Clinton! Clinton sini, bikin dulu vidio Mimi sama kakak-kakak, Mimi mau membahas


yang viral minggu ini  tentang mba Gisel itu loh."


"Dihhh jangan gibah Mi, dosa!."


"Siapa yang gibah mba, orang sudah menjadi isue nasional jeh laaaa!"


Maksa dia sih, mulut sampai panjang begitu, demi tercapai maksud, bikin pengunjung


gerah aja. Tapi gara-gara akun Mimi cantik  di Instagram warung jajan baso yaminnya


jadi laris manis, setiap hari habis tandas tak bersisa. Efeknya Mimi cantik yaa tambah


cantik, bahenol, dan bulu matanya tambah panjang dan lentik sekali. Yunna dan Elsa


sampai nanya beli bulu mata di mana tuh kok panjang dan lentik banget. Kontan Mimi


cantik cerita tentang perjuangannya mendapatkan bulu mata yang sekarang. Tak lupa


dia ribut manggil anaknya Clinton buat bikin vidio tentang bulu mata. Heboh deh.


Tiba-tiba bunyi pesan masuk di handphonenya Yunna.


"Napa loe nelpon-nelpon Gwe Yun?"


"Nah baru idup nih bocah," Yunna memperlihatkan Wa dari Prita.


"Kita mau gantian ngajak loe makan baso yamin mimi cantik, syukuran dah resmi


dapat kerja."


Yunna menunggu balasan dari Prita, terlihat sedang mengetik.


"Nggak bisa, soalnya lagi kerja, pulangnya jam sepuluh."


Yunna dan Elsa saling pandang, kerja apaan pulangnya sampai jam sepuluh malam?


Tetapi Prita sudah meninggalkan wa dan mematikan handphonenya.


Padahal Yunna dan Elsa mau menceritakan kalau mereka tak jadi meneruskan


bekerja di bar pub. Melainkan di sebuah cafe yang terkenal. Jadi Prita tak perlu


merasa rugi berteman dengan mereka seperti yang ia katakan saat makan basokit


beberapa malam yang lalu.


Meski saat itu Prita bercanda, tetapi Yunna dan Elsa merasa tersentil.


"Kalian berteman denganku tidak menjadi masalah, tetapi aku? aku tidak mau


orang-orang menganggapku sama dengan kalian, jadi kalau kalian tetap bekerja


di tempat itu aku menjauh dari kalian ya, maaf kan aku."


"Jadi kau menilai kami buruk Prita! hanya karena kami bekerja di sebuah bar?"


"Iya, aku minta maaf."


Dan Prita bergegas meninggalkan kedua temannya yang tercekat dan terdiam

__ADS_1


tanpa bisa mencegah kepergiannya. Semalaman mereka berdua tak bisa tidur


oleh perkataan Prita yang begitu lugas dan jujur. Ternyata ia mengajak mereka


bertemu hanya untuk mengatakan hal tersebut. Ia tak mau lagi berteman dan


memilih tidak memiliki teman.


Lalu sekarang Prita bekerja apa? kok sampai pulangnya begitu malam, sama


dengan para pekerja-pekerja malam lainnya. Apa dia bekerja di toko-toko


yang buka sore dan tutup jam sembilan malam?


Katanya dia takut gelap serta malam, karena banyak kejahatan dan mara bahaya


yang mengintai, lalu sekarang?


Yunna dan Elsa saling berpandangan, "Dia kerja apa sih?"


Sebenarnya Yunna ingin membalas pesan dari Prita, mengatakan kebenarannya


tetapi sudahlah, Prita agaknya telah salah menduga, syukuran ini bukan untuk


pekerjaan di bar, melainkan cafe Pria Idola yang sangat terkenal di kalangan


anak muda dan mama muda.


Tadi pagi Yunna dan Elsa sudah melengkapi  persyaratan lamaran kerja mereka dan


keduanya menjadi bagian dari gadis-gadis yang beruntung diterima bekerja. Sisa


waktu setelah itu mereka di training cara serta tehnik bekerja, yang sangat efektif


dalam pelayanan ambil dan antar pesanan. Mereka nantinya akan ditempatkan


diberbagai bagian pekerjaan. Ada administrasi, kasir, pramusasi, penyaji dan


lain-lain. Mereka mendapatkan seragam bekerja, perlindungan asuransi karyawan


hingga kesejahteraan masa tua. Sebuah peraturan yang menguntungkan kedua


pihak.


Sementara Prita menjadi kesal sekali pada Yunna, ia sudah bilang akan menjauh


dari mereka dan lebih baik tidak punya teman. Tapi malah mengajak mensyukuri


mematikan handphonenya dan fokus pada pekerjaannya.


Yah, tadi seusai magrib ia mengenderai moge miliknya ke rumah keluarga Bramantyo.


Pak Didin yang membukakan pintu gerbang itu dan mengantarnya masuk. Ibu Mardo


tersenyum manis menyambutnya dan mengantarnya ke tempat yang telah di sediakan.


Sebuah ruangan yang hangat tak jauh dari ruang tamu. Ternyata rumah itu memiliki


musholah besar, juga kolam ikan di bawah tempat berwudlu. Terlihat ikan-ikan


emas berseliweran di dalam kolam. Ruangan untuk les privat berada berhadapan


dengan mushollah dan kolam ikan  serta jembatan kecil menuju ke musholah.


Sebuah pemandangan yang sangat eksotik di rumah tersebut.


"Tria! Dode! mba Prita sudah datang!"


"Iya Bunda, siap!"


Dua anak itu terdengar turun dari kamar mereka yang berada di lantas atas.


Keduanya membawa buku. Lantas keduannya kedua anak itu mencium


tangan Prita dan mengambil tempat di kiri dan kanan Prita. Sebelum memulai


Prita mengajak berdoa, agar diberi kelancaran. Lalu mereka memulai les privat


matematika.


Memang terlihat Tria tidak menyukai pelajaran matematika, sehingga menurut


ibundanya rapor Tria selalu kecil di pelajaran Matematika. Prita harus membuat


Tria suka pada pelajaran tersebut. Jika Prita menyukainya maka selanjutnya


mudah. Prita memikirkan sebuah cara agar seorang anak menyukai matematika.


Seperti ia menyadarkan anak yang tidak bisa membaca akhirnya bisa membaca

__ADS_1


dan menyukai kegiatan membaca.


Memang pelajaran matematika menjadi momok menakutkan banyak anak, karena


harus menghapal rumus-rumus yang sulit, dan membosankan. Prita menanyakan


pada Tria dan Dode kenapa tidak suka dan merasa kesulitan di dalam hal pelajaran


matematika. Kedua anak itu terdiam, lalu pelan-pelan Tria menjawab bahwa


ia merasa kesulitan setiap guru matematika datang dan mengajar di kelas. Ia takut


disuruh maju ke depan, takut tidak bisa mengerjakannya.


Prita tersenyum, "Mulai sekarang Tria dan Dode harus berpikiran bahwa matematika


itu Mudah! dan Menyenangkan,Ok?"


Prita menyuruh Tria dan Dode mengikutinya mengucapkan tiga kali, "Matematika


itu mudah dan menyenangkan."


Setelah menanamkan pemahaman dan pemikiran tersebut, Prita menyuruh keduanya


membuka buku matematika yang di pelajari di sekolah. Tria membuka bab. Delapan


pelajaran matematika kelas satu smp. Prita menyuruh Tria membaca petunjuk


yang harus dilakukan, kemudian mengerjakannya. Prita menyuruh Tria mengerjakan


sendiri terlebih dahulu. Ia kemudian berpaling pada Dode yang membuka buka


pelajaran matematika  kelas tiga sekolah dasar. Ia menyuruh Dode melakukan hal


yang sama yakni, harus mengerti terlebih dahulu petunjuk mengerjakan soal-soal


setelah mengerti barulah boleh dikerjakan.


 


Baru mengajar satu kali saja, terbukti Tria dan Dode langsung merasakan kepercayaan


diri yang besar, sehingga mereka bisa mengerjakan tugas matematika itu. Prita sedikit


mengajari jika salah dan Tria sudah berusaha tapi tetap tak bisa barulah Prita


memberitahu caranya.


Gadis kecil itu gembira sekali ia merasa telah terbuka pikirannya terhadap matematika


dan menyukainya. Sekejap saja ia bisa mengerjakan sepuluh soal. Dan merasa


penasaran dengan bab berikutnya.


Tak terasa hampir tiga jam, Prita bersiap pamit pulang, besok mereka akan sama-sama


mengerjakan tugas dari ibu guru di sekolah. Selama libur banyak sekali pekerjaan


rumah yang harus diselesaikan. Mereka akan menuntaskannya sedikit demi sedikit.


 


Ketika Prita pamit keluar, di ruang keluarga agaknya berkumpul anak-anak ibu Mardo


yang lain, seorang laki-laki muda yang tengah asyik menelpon dan gadis cantik


yang sedang mencari chanel tivi. Prita segera keluar diantar oleh Tria dan Dode


ke depan.


"Sampai ketemu lagi kak Prita besok malam."


"Ok, sampai ketemu lagi, selamat istirahat ya."


Dan Prita menaiki motornya yang besar, meraung di malam yang sepi itu, Rakasiwi


sempat menoleh tetapi hanya sekejap saja. Ia sudah tau kalau ada guru les Privat


Tria dan Dode. Saat masuk ke rumah tadi ia sempat melihat motor besar tersebut


dan bunda bilang itu milik guru les Tria. Rakasiwi hanya mangut-mangut saja.


 


 


 


 

__ADS_1


 


Bersambung


__ADS_2