
"Si Prita kemana sih? dari tadi di telpon nggak aktip?"
Yunna jengkel, sebab telponnya tidak mendapatkan respon dari Prita.
Biasanya saat-saat seperti ini mereka bertiga bertemu dan bercengkrama
di base camp langganan mereka yakni warung Mimi cantik. Warung yang sudah
seperti milik sendiri. Saking akrabnya dengan tukang warung, kalau bikin mie yamin
atau baso serba banyak. "Mi, sayurnya yang banyak, atau basonya tambahin dua,
bahkan pangsitnya sepiring.
Tetapi Mimi orangnya nggak rewel, menuruti saja permintaan pelanggannya, yang
penting pembayarannya nambah juga. Jadi enak kalau sudah sama-sama mengerti
pelanggan dan penjual.
Asyiknya lagi Mimi cantik pemilik warung baso yamin itu gaul sekali. Segala yang
viral-viral di medsos dia tau banget. Dan kalau ketemu Yunna, Elsa dan Prita
warungnya berubah deh jadi seperti bikin konten you tube. Dia manggil-manggil
anak laki-lakinya yang bernama Muhammad Clinton.
"Clinton! Clinton sini, bikin dulu vidio Mimi sama kakak-kakak, Mimi mau membahas
yang viral minggu ini tentang mba Gisel itu loh."
"Dihhh jangan gibah Mi, dosa!."
"Siapa yang gibah mba, orang sudah menjadi isue nasional jeh laaaa!"
Maksa dia sih, mulut sampai panjang begitu, demi tercapai maksud, bikin pengunjung
gerah aja. Tapi gara-gara akun Mimi cantik di Instagram warung jajan baso yaminnya
jadi laris manis, setiap hari habis tandas tak bersisa. Efeknya Mimi cantik yaa tambah
cantik, bahenol, dan bulu matanya tambah panjang dan lentik sekali. Yunna dan Elsa
sampai nanya beli bulu mata di mana tuh kok panjang dan lentik banget. Kontan Mimi
cantik cerita tentang perjuangannya mendapatkan bulu mata yang sekarang. Tak lupa
dia ribut manggil anaknya Clinton buat bikin vidio tentang bulu mata. Heboh deh.
Tiba-tiba bunyi pesan masuk di handphonenya Yunna.
"Napa loe nelpon-nelpon Gwe Yun?"
"Nah baru idup nih bocah," Yunna memperlihatkan Wa dari Prita.
"Kita mau gantian ngajak loe makan baso yamin mimi cantik, syukuran dah resmi
dapat kerja."
Yunna menunggu balasan dari Prita, terlihat sedang mengetik.
"Nggak bisa, soalnya lagi kerja, pulangnya jam sepuluh."
Yunna dan Elsa saling pandang, kerja apaan pulangnya sampai jam sepuluh malam?
Tetapi Prita sudah meninggalkan wa dan mematikan handphonenya.
Padahal Yunna dan Elsa mau menceritakan kalau mereka tak jadi meneruskan
bekerja di bar pub. Melainkan di sebuah cafe yang terkenal. Jadi Prita tak perlu
merasa rugi berteman dengan mereka seperti yang ia katakan saat makan basokit
beberapa malam yang lalu.
Meski saat itu Prita bercanda, tetapi Yunna dan Elsa merasa tersentil.
"Kalian berteman denganku tidak menjadi masalah, tetapi aku? aku tidak mau
orang-orang menganggapku sama dengan kalian, jadi kalau kalian tetap bekerja
di tempat itu aku menjauh dari kalian ya, maaf kan aku."
"Jadi kau menilai kami buruk Prita! hanya karena kami bekerja di sebuah bar?"
"Iya, aku minta maaf."
Dan Prita bergegas meninggalkan kedua temannya yang tercekat dan terdiam
__ADS_1
tanpa bisa mencegah kepergiannya. Semalaman mereka berdua tak bisa tidur
oleh perkataan Prita yang begitu lugas dan jujur. Ternyata ia mengajak mereka
bertemu hanya untuk mengatakan hal tersebut. Ia tak mau lagi berteman dan
memilih tidak memiliki teman.
Lalu sekarang Prita bekerja apa? kok sampai pulangnya begitu malam, sama
dengan para pekerja-pekerja malam lainnya. Apa dia bekerja di toko-toko
yang buka sore dan tutup jam sembilan malam?
Katanya dia takut gelap serta malam, karena banyak kejahatan dan mara bahaya
yang mengintai, lalu sekarang?
Yunna dan Elsa saling berpandangan, "Dia kerja apa sih?"
Sebenarnya Yunna ingin membalas pesan dari Prita, mengatakan kebenarannya
tetapi sudahlah, Prita agaknya telah salah menduga, syukuran ini bukan untuk
pekerjaan di bar, melainkan cafe Pria Idola yang sangat terkenal di kalangan
anak muda dan mama muda.
Tadi pagi Yunna dan Elsa sudah melengkapi persyaratan lamaran kerja mereka dan
keduanya menjadi bagian dari gadis-gadis yang beruntung diterima bekerja. Sisa
waktu setelah itu mereka di training cara serta tehnik bekerja, yang sangat efektif
dalam pelayanan ambil dan antar pesanan. Mereka nantinya akan ditempatkan
diberbagai bagian pekerjaan. Ada administrasi, kasir, pramusasi, penyaji dan
lain-lain. Mereka mendapatkan seragam bekerja, perlindungan asuransi karyawan
hingga kesejahteraan masa tua. Sebuah peraturan yang menguntungkan kedua
pihak.
Sementara Prita menjadi kesal sekali pada Yunna, ia sudah bilang akan menjauh
dari mereka dan lebih baik tidak punya teman. Tapi malah mengajak mensyukuri
mematikan handphonenya dan fokus pada pekerjaannya.
Yah, tadi seusai magrib ia mengenderai moge miliknya ke rumah keluarga Bramantyo.
Pak Didin yang membukakan pintu gerbang itu dan mengantarnya masuk. Ibu Mardo
tersenyum manis menyambutnya dan mengantarnya ke tempat yang telah di sediakan.
Sebuah ruangan yang hangat tak jauh dari ruang tamu. Ternyata rumah itu memiliki
musholah besar, juga kolam ikan di bawah tempat berwudlu. Terlihat ikan-ikan
emas berseliweran di dalam kolam. Ruangan untuk les privat berada berhadapan
dengan mushollah dan kolam ikan serta jembatan kecil menuju ke musholah.
Sebuah pemandangan yang sangat eksotik di rumah tersebut.
"Tria! Dode! mba Prita sudah datang!"
"Iya Bunda, siap!"
Dua anak itu terdengar turun dari kamar mereka yang berada di lantas atas.
Keduanya membawa buku. Lantas keduannya kedua anak itu mencium
tangan Prita dan mengambil tempat di kiri dan kanan Prita. Sebelum memulai
Prita mengajak berdoa, agar diberi kelancaran. Lalu mereka memulai les privat
matematika.
Memang terlihat Tria tidak menyukai pelajaran matematika, sehingga menurut
ibundanya rapor Tria selalu kecil di pelajaran Matematika. Prita harus membuat
Tria suka pada pelajaran tersebut. Jika Prita menyukainya maka selanjutnya
mudah. Prita memikirkan sebuah cara agar seorang anak menyukai matematika.
Seperti ia menyadarkan anak yang tidak bisa membaca akhirnya bisa membaca
__ADS_1
dan menyukai kegiatan membaca.
Memang pelajaran matematika menjadi momok menakutkan banyak anak, karena
harus menghapal rumus-rumus yang sulit, dan membosankan. Prita menanyakan
pada Tria dan Dode kenapa tidak suka dan merasa kesulitan di dalam hal pelajaran
matematika. Kedua anak itu terdiam, lalu pelan-pelan Tria menjawab bahwa
ia merasa kesulitan setiap guru matematika datang dan mengajar di kelas. Ia takut
disuruh maju ke depan, takut tidak bisa mengerjakannya.
Prita tersenyum, "Mulai sekarang Tria dan Dode harus berpikiran bahwa matematika
itu Mudah! dan Menyenangkan,Ok?"
Prita menyuruh Tria dan Dode mengikutinya mengucapkan tiga kali, "Matematika
itu mudah dan menyenangkan."
Setelah menanamkan pemahaman dan pemikiran tersebut, Prita menyuruh keduanya
membuka buku matematika yang di pelajari di sekolah. Tria membuka bab. Delapan
pelajaran matematika kelas satu smp. Prita menyuruh Tria membaca petunjuk
yang harus dilakukan, kemudian mengerjakannya. Prita menyuruh Tria mengerjakan
sendiri terlebih dahulu. Ia kemudian berpaling pada Dode yang membuka buka
pelajaran matematika kelas tiga sekolah dasar. Ia menyuruh Dode melakukan hal
yang sama yakni, harus mengerti terlebih dahulu petunjuk mengerjakan soal-soal
setelah mengerti barulah boleh dikerjakan.
Baru mengajar satu kali saja, terbukti Tria dan Dode langsung merasakan kepercayaan
diri yang besar, sehingga mereka bisa mengerjakan tugas matematika itu. Prita sedikit
mengajari jika salah dan Tria sudah berusaha tapi tetap tak bisa barulah Prita
memberitahu caranya.
Gadis kecil itu gembira sekali ia merasa telah terbuka pikirannya terhadap matematika
dan menyukainya. Sekejap saja ia bisa mengerjakan sepuluh soal. Dan merasa
penasaran dengan bab berikutnya.
Tak terasa hampir tiga jam, Prita bersiap pamit pulang, besok mereka akan sama-sama
mengerjakan tugas dari ibu guru di sekolah. Selama libur banyak sekali pekerjaan
rumah yang harus diselesaikan. Mereka akan menuntaskannya sedikit demi sedikit.
Ketika Prita pamit keluar, di ruang keluarga agaknya berkumpul anak-anak ibu Mardo
yang lain, seorang laki-laki muda yang tengah asyik menelpon dan gadis cantik
yang sedang mencari chanel tivi. Prita segera keluar diantar oleh Tria dan Dode
ke depan.
"Sampai ketemu lagi kak Prita besok malam."
"Ok, sampai ketemu lagi, selamat istirahat ya."
Dan Prita menaiki motornya yang besar, meraung di malam yang sepi itu, Rakasiwi
sempat menoleh tetapi hanya sekejap saja. Ia sudah tau kalau ada guru les Privat
Tria dan Dode. Saat masuk ke rumah tadi ia sempat melihat motor besar tersebut
dan bunda bilang itu milik guru les Tria. Rakasiwi hanya mangut-mangut saja.
__ADS_1
Bersambung