
Seorang wanita cantik tampak sibuk menyiapkan makan malam.
"Ma, Rama sini Kasep. Mami sudah siapkan makanan kesukaanmu loh ajak papimu sekalian,"
Suara yang renyah itu menyelusup ke ruang keluarga di mana seorang pria tampan tengah membaca koran.
"Hemmm berita koran kok kriminal melulu, tidak ada yang lain apa ya?"
Sembari melipat dan melempar koran tersebut ke meja. Lantas beranjak ke belakang memenuhi panggilan istrinya.
"Pi, anakmu."
Wanita itu memberi kode agar memanggil anaknya yang masih di kamar. Hemmm. Pria itu berdehem dan pergi. Terdengar suaranya di depan kamar.
"Ma, Rama, mamimu sudah masak kesukaanmu tuh."
Tapi tidak ada jawaban, ia akhirnya mendorong pintu dan melihat tubuh Rama yang masil tertidur pulas memeluk bantal. Ia membangunkan Rama dengan menggoyang-goyangkan tubuhnya.
"Ma, bangun Rama, masih sore sudah tidur, heii bangun,"
Rama menggeliatkan tubuhnya.
"Iya, iya Papi, nanti aja, masih mengantuk,"
Mami menyusul masuk dan ikut membangunkan putra kesayangannya.
"Dih si Kasep teh kumaha, mama sudah buatkan pepes ikan gurame asam pedes kesukaanmu, ayo atuh bangun."
__ADS_1
Mami menarik narik tangan anaknya tak mau menyerah, sedang papi keluar dan menuju meja makan.
"Papi duluan ya,"
"Tuh papi duluan deh, dihabisin ikannya...bangun Kasep,"
"Iya mi, sebentar."
Akhirnya Rama bangun dan terlebih dulu menggeliatkan tubuhnya ke kiri dan kanan.
Bertiga mereka menikmati makan malam masakkan Mami.
Melihat kesempatan baik Rama menyampaikan keinginannya.
"Pi, beliin Rama Moge dong Pi, masa di sekolah cuman Rama aja yang nggak punya motor, nggak asyik Pi,"
"Loh Papi sudah belikan kamu Jaguar, untuk apa motor? tidak! tidak ! papi tidak suka kamu nanti ikut-ikutan temenmu ngebut ke sana kemari, nggak usah."
"Nggak Pi, Rama janji."
Papi tetap tidak setuju.
"Papi tidak setuju!"
Dan Papi menyelesaikan makan malam itu lantas bergegas meninggalkan istri dan anaknya.
Rama menunduk kecewa, dan Maminya tak bisa berbuat apa apa.
__ADS_1
Rama tak putus asa, ia tahu mami juga memiliki bisnis yang maju, mami punya outlet Sophie Marten sebanyak sepuluh buah, ia melirik mami.
"Mam, belikan Rama Motor ya, Rama pengen sekali punya motor Mam."
Rama membujuk mami, tapi ternyata mami sependapat dengan papi, Rama boleh minta apa saja asal jangan motor, titik.
"Papi sama mami pelit!"
Rama menyelesaikan makan malam itu dan bergegas masuk ke kamarnya.
"Kenapa sih tiap Rama minta motor selalu nggak dikasih, Rama bosen mengenderai mobil," Ia cemberut.
Terbayang Adri temannya yang mengenderai moge bersama pacarnya, hemmm itu indah sekali, teringat Cindy adik kelasnya yang sekarang sedang mekarnya menjadi gadis remaja, ia membayangkan dirinya dan gadis itu mengenderai moge berboncengan berangkat dan pulang sekolah. Uch... bayangan macam apa itu? Rama menggaruk-garuk rambutnya.
Ia harus mendapatkan Cindy terlebih dulu kemudian moge. Ia yakin bisa membuat mami dan papi membelikan Moge untuknya. Pria muda yang sudah menyiratkan kalau kelak ia bakal menjadi pria yang tampan dan gagah tersenyum hingga pipinya terbentuk lubang kecil. Ia menjentikkan jemari ke udara. Yes, serunya.
Rama teringat pertemuan-pertemuannya dengan Cindy. Selalu meninggalkan kesan yang manis. Alam seolah selalu mempertemukan mereka. Apakah Cindy bakal menerima jika ia nembak gadis itu. Ia menimang-nimang handphonenya. Ingin menulis pesan untuk gadis yang menganggunya. Beberapa kali ia sudah menulis tetapi menghapus dan akhinya meletakkan benda itu di atas meja tak jauh dari tempat tidur. Ia menguap beberapa kali hingga akhinrya ia tertidur.
Hari dipenuhi kesibukkan masing-masing. Rama, kakaknya Raksiwi dan semua anak kelas tiga smu dijejali pelajaran untuk menghadapi ijian nasional. Hal sama juga terjadi pada Cindy dan teman-temannya dikelas akhir smp. Sekolah benar-benar menyiapkan murid-muridnya lulus dengan nilai tinggi. Hingga bisa masuk ke perguruan tinggi negeri, dan sekolah atas favorit.
Benar-benar tidak ada waktu untuk bersenang-senang. Paling anak-anak melakukannya sambil lalu, minum atau menikamti mie ayam atau baso. Sebentar saja kemudian kembali ke rumah dan istirarat. Hingga waktu yang menegangkan tersebut tiba. Ujian nasional berjalan dengan lancar. Kemudian pengumuman kelulusan yang dikirimkan ke rumah. Selama itu sangat mendebarkan. Semua menunggu dengan harap-harap cemas. Hingga tiba pesta perpisahan. Hampir semua anak-anak dinyatakan lulus.
__ADS_1
Bersambung