
Tidak ada satu pun yang menyadari kalau Cindy demam malam itu. Tubuhnya menggigil kedinginan
dan ia nyaris kejang kalau saja tak keburu ketauan bunda yang memang sangat peka. Mardo bangun saat dini hari dan seperti biasa naik ke ruangan anak- anak diatas. Ia mendengar suara rintihan dari kamar Cindy. Cepat Mardo membuka pintu yang tak terkunci. Ia melihat Cindy mengigii kedinginan.
"Oh, kamu kenapa Cindy, hah tubuhmu panas!"
Mardo bergegas turun mengambil paracetamol, obat penurun panas. Juga meraih sapu tangan handuk untuk mengompres.
Ia membangunkan Cindy dan meminumkan obatnya, lalu membaringkan tubuh anaknya itu. Menyelimuti dan sesaat memijiti punggunnya.
"Kamu kehujanan ya tadi sore, dan tidak pakai jaket."
Sembari membalur tubuh gadis kecilnya itu dengan minyak oles, biasanya berhasil. Dan Cindy terlihat tenang serta napasnya teratur. Ia kembali terlelap. Mardo menghembusakan napas lega.
"Kenapa Cindy Mi?"
Raka ikut terbangun saat merasakan Mardo tak ada di sisinya. Ia keluar dan melihat Mardo turun dari lanti dua tempat anak-anak.
"Cindy demam Pi, sudah kuberi obat penurun panas dan membalur seluruh tubuhnya dengan minyak oles. Sudah tidur kembali."
"Tadi sore kehujanan."
"Oh,"
Raka lantas berjalan naik ke lantai atas, diikuti oleh Mardo. Keduanya melihat Cindy yang sudah tertidur. Raka mengusap keningnya. Ia mengangguk pada Mardo.
"Sudah turun kok panasnya."
Alahamdulillah.
Pasangan suami istri itu, memeriksa kamar Tria, dan juga Dode. Anak itu terlihat lasak sekali. Selimut dan bantar berjatuhan di bawah. Raka mengambil selimut yang jatuh dan memakaikan ke tubuh Dode yang menelentang dengan tangan terbuka. Begitu juga kakinya terentang lebar.
Barulah mereka kembali ke kamar. Keduanya sholat tahajud di keheningan malam. Mardo terbiasa bangun dan melakukan ibadah tambahan tersebut. Kadang Raka ikutan beribadah mendampingi istrinya. Setelah itu biasanya keduanya kembali ke tempat tidur. Raka memeluk Mardo dan berbisik, bikin adik buat Dode yuk. Mardo mencubit hidung suaminya atau menjewer telinganya.
"Udah empat Pi, belum cukup apah? alasan aja ich pipi nih."
Mereka menghabiskan malam yang tersisa dengan memadu kasih.
Rumah yang besar itu kembali sunyi sebelum akhirnya terdengar azan shubuh yang membangunkan semua penduduk. Rumah bergeliat dan memulai kegiatan sesudah melaksanakan ibadah shubuh. Mba Wiwin dan temannya seperti biasa menyiapkan sarapan. Rakasiwi yang saat itu masih sma terbiasa bangun pagi dan menghidupkan tivi di ruang tengah.
Bunyi handphone membangunkan Cindy, tubuhnya berkeringat di pagi yang dingin itu. Oleh obat penurun panas yang diberikan Mardo. Mba Wiwin membawakan minuman hangat kesukaan Cindy, susu coklat.
Gadis itu menggeliat dan membuka selimutnya, mba Wiwin tersenyum dan memberinya minumannya. Cindy menghirupnya nikmat. Lantas tertegun, "Aku kehujanan semalam."
"Mana mungkin, orang kak Cindy udah di rumah sejak sore, hujannya tengah malam kok kakak."
Perempuan muda itu tersenyum pada Cindy menganggapnya bermimpi. Cindy menjadi ragu, tetapi itu sangat nyata, ia pergi naik moge tadi malam bersama kak Rama.
"Kak Rama menjemputku tadi malam."
"Hah! siapa tuh Rama, masa sih menjemput ke rumah ini kak?"
"Iya setelah pulang, aku bersin-bersin dan tubuhku panas."
__ADS_1
"J-jadi kakak Cindy pergi naik moge dengan Rama?
Meski pun mba Wiwin jauh lebih tua, ia memanggil Cindy dengan kakak, sebagai kesayangan, semua seperti itu.
"Iya mba, tidak ada pak Edy yang menjaga ya."
Mba Wiwin tertegun, bapak penjaga dua-duanya memang tidak masuk hari ini. Yang satu memang sudah bertugas siang, sedangkan satunya ijin karena istrinya sakit.
"Iya sih, tadi malam tidak ada yang jaga."
Tiba-tiba bunyi handphone mengejutkan Cindy, ia cepat meraihnya. Dari Fani.
"Cintah, udah liat berita? ya Allah Cin, coba deh loe lihat, ya Allah!"
Suara Fani terdengar menyedihkan dan serak. Cindy segera mematikan handphone dan melihat berita sekolah dan anak-anak. Sebuah berita mengejutkan, tentang kecelakaan beruntun yang terjadi di sebuah jalan yang menimpa siswa kelas tiga sebuah sma. Gadis itu terus membaca.
Beberapa siswa tadi malam telah mengalami kecelakaan beruntun di sebuah persimpangan jalan, sebuah truk telah menabrak anak-anak itu yang sedang berhenti di lampu merah. Anak-anak tersebut dalam perjalanan ke sebuah cafe yang berada di sebrang jalan. Mereka menunggu lampu merah menyala agar bisa menyebrang. Saat itulah sebuah tranton berkecepatan tinggi merangsek, hingga terjadi kecelakaan maut.
Banyak yang luka-luka dan meninggal. Kenderaan yang rusak berat dan ringsek bertebaran di jalanan, dan ada yang mengalami koma.
"Astaqfirullah, siapa mereka ya Allah, kasihan sekali."
Cindy selanjutnya menaro handphonenya sebab berita di sana belum menyebutkan teman-teman mereka yang mendapatkan musibah. Namun tak lama berselang ada ucapan duka yang membuat Cindy berdebar.
"Inna lillahi wa inna ilahi rojiun, kecelakaan beruntun itu memang menimpa kakak kelas kita, tetapi
aku belum jelas siapa saja yang terluka dan yang meninggal serta yang koma."
Kata-kata di pesan chat tersebut.
Seorang perempuan ibu dari salah satu korban kecelakaan itu tak hentinya menangis oleh nasib
tragis anaknya.
"Anakku jangan tinggalkan mama! jangan tinggalkan mama! aku tidak sanggup hidup tanpa dirimu
anakku. Sembuh Nak! kau sangat kuat! kau anak hebat."
Berkali-kali ia menghapus air matanya tetapi buncahan itu terus memenuhi kelopak matanya. Sementara
sang suami juga tak kalah terpukul oleh kejadian tersebut.
"Rama bangun Nak! buka matamu sayang."
Tak sanggup pria itu melihat tubuh anak kesayangannya tergolek dengan wajah membengkak serta
darah kering yang masih nyata. Semalaman suami dan istri itu menunggui anak mereka yang koma.
Laki-laki tinggi jangkung dan tampan itu meremas jemarinya beberapa kali, menggigit bibir dan
matanya mengerjap-ngerjap oleh air mata. Entah kenapa ia akhrinya memutuskan membeli moge
Harley davidson untuk Rama Regawa putranya. Ia pikir sebagai hadiah kelulusannya serta selama
__ADS_1
ini sudah menjadi anak yang baik dan membanggakan. Ternyata ia juga jatuh cinta pada motor besar
dan gagah tersebut, ia akhirnya membeli dua moge, satu untuknya dan satu untuk Rama.
Betapa gembira Rama saat papanya memberitahu bahwa ia sudah membeli dua moge, dan besoknya
mereka berdua langsung test drive. Bahkan bertiga dengan mama. Ia nyaris menghabiskan uang satu milyar
lebih untuk motor besar tersebut, tetapi ia tak merasa rugi melainkan sangat senang, ia dan anaknya juga
akan menjadi anggota penggemar motor harley, hal-hal baru yang menyenangkan akan mereka alami
kelak dengan komonitas moge harley davidson.
Teringat mereka mengenderai motor harley itu menyusuri pantai di sekitar Jakarta
"Biar puas mengenderai motor harleynya!"
"Katanya saat itu. Jadilah mama mempersiapkan baju-baju mereka handuk, serta makanan, mereka rupanya ingin berpetualang di hari sabtu dan minggu.
"Yuhuuuu! keren kan! papa merasa menjadi anak muda lagi!"
Papa berteriak saat mulai mengenderai motor tersebut, mengenakan jaket levis, celana jeans serta helm
dan kacamata, mama juga tak kalah modis. Dan Rama hanya tertawa-tawa melihat kedua orang tuanya
itu yang terlihat ganteng dan cantik.
"Papa dan mama serasa menjadi anak muda lagi ya ha ha ha."
Mereka beriringan touring menuju luar kota, ternyata enak sekali mengenderai motor harley itu
tidak merasa lelah melainkan serasa terjadi penambahan tenaga yang super. Masih sangat pagi
ketika mereka bertiga telah sampai di pantai Jakarta.
Mereka berhenti di sana dan menikmati suasana pantai tersebut yang indah. Itulah kenangan terindah bersama putranya Rama Regawa.
Tiba-tiba Pria itu terkejut ketika para medis memanggil mereka dan menyatakan permintaan maaf yang sebesar-besarnya karena tidak bisa menyelamatkan putra terkasihnya, Rama Regawa menghembuskan napasnya tepat di pagi hari jam tujuh di hari jumat.
"Tidak!!!"
Lengkingan panjang istrinya dan ia sendiri jatuh lunglai di bawah tempat tidur tempat anaknya yang telah
membisu selamanya.
"Ramaaaaa!"
Lengkingan kehilangan dari seorang ibu dan ayah.
__ADS_1
Bersambung