Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 284. Kue penutup


__ADS_3

"Anak muda yang luar biasa."


Deni memuji sikap laki-laki muda yang tadi berusaha keras memperlihatkan kemampuannya.


"Aku jadi ingat padamu Ka?, kau juga dulu begitu ngotot menunjukkan kemampuanmu pada bos pemilik gedung yang akhirnya kita miliki."


Cindy tertarik mendengarnya.


"Bagamana hal itu terjadi Om Deni, apa yang papa lakukan."


Raka melihat pada Deni dan tersenyum. Ia membiarkan saja laki-laki itu mengumbar mulutnya.


"Hampir sama dengan yang dilakukan laki-laki muda tadi. Ayahmu juga mengundang bos tersebut dan menjamunya dengan  makanan dan minuman yang istimewa."


"Ayahmu, memberikan pelayanan yang luar biasa pada sang bos, memuji dan menceritakan kisah yang membuat si bos properti tersebut tak berhenti tertawa."


"Akhirnya ia memberikan gedung miliknya tersebut dengan cara dicicil  dan harga yang murah. Beberapa tahun yang lalu ia masih sering datang meminta ayah Raka yang melayaninya. Mereka bersahabat baik dan akrab. Sayangnya si bos sudah meninggal."


"Hal itu disebut dengan perdekatan secara persahabatan, hubungan pertemanan tak akan memandang untung dan rugi, justru ingin sama-sama menyenangkan sahabatnyat."


Sambung Sammy, yang sejak dulu tak banyak ngomong, sekalinya ngomong itu merupakan inti dari seluruh pembicaraan.


"Ngomong-ngomong bagaimana menurut kalian dengan kue penutup itu? apakah akan diambil alih oleh perusahaan?"


Sammy menatap pada Raka dan Deny.


"Tanya Cindy saja, dia sudah menjadi pemimpinnya sekarang."


"Ayah, aku masih banyak belajar, menurut om  Sammy dan om Denny bagaimana? aku belum tau cara hitungannya itu bagaimana?"


Mereka berdiskusi mengenai kue penutup. Deni dan Sammy yang memang sudah menguasai bisnis tersebut memberitahu Cindy. Bahwa jika resep itu telah mereka miliki, maka seluruh jaringan cafe milik mereka dan juga mitra wajib memasukkan menu tersebut. Jika satu cafe mengambil jumlah minimal maka berapa kue penutup yang akan mereka buat dan jual. Sang pemilik resep jika ia tak menjualnya akan mendapat persentasi dari jumlah penjualan. Jika ia menjual resep tersebut, tidak lagi mendapatkan bagi hasil. Sebab sudah pasti perusahaan membeli dengan harga yang mahal.


Jika perusahaan membeli resep tersebut bisa jadi pemiliknya bisa merekayasa bahan-bahannya, yang terbaik adalah mempekerjakan si pemilik resep dan membantunya mendistribusikan kue penutup yang enak itu keseluruh jaringan cafe Pria Idola.


Perusahaan akan membiayai seluruh pembuatan kue penutup tersebut, sementara si pemilik yang akan melakukan tugasnya membuat tanpa takut dia merekayasa resepnya. Sebuah kerjasama yang saling menguntungkan.


Cindy mangut-mangut. Ia sekarang mengerti. Jika ia menjadi pemilik resep maka ia akan memilih pilihan yang kedua.


Akhirnya Cindy memutuskan dan membuat jadwal  bertemu dengan Raffa dan temannya untuk membicarakan kue penutup. Ia segera mengirimkan email jadwal bertemu. Cindy tak sabar untuk menambah menu baru di setiap cafe milik perusahaan dan juga milik mitra. Ini adalah pekerjaan pertamanya.


Raffa tersenyum saat menerima email dari perusahaan yang ditanda tangani oleh Cindy. Ia segera menjawab bahwa ia akan memenuhi pertemuan tersebut bersama temannya. Mereka akan mengosongkan waktu untuk pembicaraan penting tersebut.


Raffa segera menghubungi temannya yang membuat kue penutup tersebut. Ia susah sekali menghubungi sang teman. Ah dia tak menyangka akan seperti itu. Laki-laki itu marah dan menyuruh supir mencari sang pemilik resep. Tak lama supir kembali dan memberitahu bahwa si pemilik resep tidak akan mengkomersilkan kue penutupnya.


itu adalah resep rahasia keluarganya.


"Apa? dia tak mau membicarakan bisnis? kurang ajar apa mau kuhancurkan keluarganya!"


Raffa setengah mati marahnya. Ia kebakaran jenggot mendengar temannya tak mau bertemu untuk bicara bisnis. Ia dan supir segera pergi mendatangi rumah si pemilik resep. Rasanya ia ingin mencekik temannya yang tak mau hidup enak itu. Dasar bodoh! katanya berkali-kali.


"Jadi di sini rumahnya?"


Pantas saja dia sering terlambat, sangat jauh dan tidak ada angkot yang melewati daerah itu.


Tok!

__ADS_1


Tok!


Tok!


Assalamualaikum!


Raffa mengetuk-ngetuk pintu rumah minimalis tersebut.


Waalaikumsalam!


Seraut wajah  dingin menyembul di ambang pintu.  Raffa serta merta melebarkan bibirnya.


"Boleh aku masuk?"


"Hem, silahkan saja! ada apa lalgi sih?"


Wajah itu sama sekali tak ramah. Ia mendongakkan wajahnya tinggi, sikap tak membutuhkan apa-apa dari laki-laki muda di depannya. Raffa menggigit bibir bawahnya. Selama ini Dia yang bersikap arogan seperti itu. Sekarang gantian. Rasain kau!. Seperti itu rasanya. Terpaksa ia harus bersabar. Ia sedang mendapat durian runtuh berkat kue penutup buatnya. Sebab itu ia harus pandai-pandai bersikap.


"Maukah kau menghilangkan rasa marahmu padaku? aku janji akan menjadi bos yang lebih mengerti dan tak lagi marah-marah."


Raffa berkata lembut sambil tersenyum dan mata yang berharap.


"Cepat katakan kau mau apa? aku sedang banyak pesanan."


Gadis itu menolehi sedikit pria tampan yang selalu bersikap arogan terhadapnya. Sampai minggu lalu saat ia terlambat datang karena harus berjalan kaki ke jalan raya berkilo-kilo meter. Raffaza bosnya itu marah dan menghukumnya dengan bekerja lebih panjang hingga malam.


Gara-gara pulang kemalaman ada beberapa laki-laki yang mengira ia gadis liar dan mengganggunya. Untung saja ada pak RT yang lewat naik motor. Ia menghardik anak-anak muda itu agar tak menggangu gadis yang pulang kemalaman. Dia beruntung sebab pak RT mengajaknya berboncengan. Semua itu gara-gara perbuatan Raffaza bosnya yang menyebalkan.


Sebab itu ia memutuskan resign. Dan kembali membuka pesanan kue-kue basah buatannya. Memang ia belum mengirimkan surat permohonan mengundurkan dirinya. Ia juga berpikir, jika tidak mengirimkan surat resign juga tidak apa-apalah. Ia tidak mengharapkan pesangon yang sedikit itu.


"Jadi, kemarin Big bos datang ke cafeku untuk makan siang, kau tau apa yang terjadi."


Jawab si pemilik resep masih dingin dan angker.


"Aku sendiri tidak tau kenapa aku memberikan kue penutup milikmu itu, aku bilang ini adalah buatan pegawaiku yang mencari uang tambahan dengan menitip kue penutupnya di sini."


Si pemilik resep menoleh sedikit dengan mengerutkan keningnya, ia tersinggung mendengar kalau ia disebut pegawai yang mencari uang tambahan, begitu menderitanya dia. kesan yang disampaikan  bosnya pada pemilik perusahaan. Membuatnya bertambah mangkel.


 


"Siapa yang mencari uang tambahan? bukannya dirimu itu yang menyuruh para pegawai mencari satu menu tambahan untuk cafe? jadi aku mencoba membuatnya. Enak saja mencari uang tambahan."


Raffaza nyengir dan mengaruk belakang kepalanya.


"Ya, maaf itu hanya bahasa untuk menarik perhatian."


"Ja-jadi mereka menyukainya! suka dengan kue mungil berwarna kuning yang rasanya kenyal segar manis itu."


Raffa menunggu reaksi si pemilik resep. Tetapi ia tak mendapat respone sedikitpun. Ya ampun dia memang tidak memiliki naluri bisnis. Dia kembali menggaruk-garuk belakang kepalanya.


"Kemarin big bos mengirim email, ia ingin bertemu denganmu untuk membicarakan kerjasama."


Raffaza menurunkan nada suaranya.


"Lalu?"

__ADS_1


Sipemilik resep mengerutkan keningnya ia menghadapkan wajahnya pada laki-laki di depannya. Raffa mengibaskan rambut dikeningnya. Rambut yang sedikit panjang, membuatnya terlihat seksi.


"Kau tertarik berbisnis? aku belum menjawab email itu."


Raffaza sudah semakin menurunkan nada suaranya, bak orang yang tak lagi bersemangat. Justru hal itu membuat si pemilik resep penasaran.


"Jawab saja, aku mau."


Raffaza tersenyum di dalam hatinya. Senyum smirknya terlukis di wajahnya.


"Itulah makanya aku menemuimu, kita harus bicara terlebih dahulu sebelum meeting."


Lalu kedua orang yang semula seperti bermusuhan membicarakan bisnis tersebut. Si pemilik resep semula menolak, terlihat kepalanya menggeleng-geleng. Mereka kembali bicara dan saling menatap hingga akhirnya kedua orang itu tersenyum. Agaknya mereka berdua telah menemukan titik temu.


"Deal ya?"


"Ok deal!"


"Jadi besok sampaikan seperti yang telah kita sepakati ok, jangan berubah."


"Iya aku mengerti."


"Ok, tolong ambilkan aku minuman, haus sekali dari tadi bicara denganmu tapi tak ada secangkir pun minuman yang datang. Apakah tidak ada orang di rumah ini selain dirimu?"


Karena Raffaza sudah berhasil meluluhkan hati yang keras itu, sekarang ia mulai pada kebiasaannya yang suka menggeritik orang."


Si pemilik resep cemberut dan masuk ke dalam. Tak lama ia muncul dengan secangkir kopi.


"Ini! cepat minum dan segera pergi dari sini!"


Raffaza mengangkat wajahnya, rasanya ia ingin memaki-maki si pemilik resep. Tapi tak berani, ia memerlukan si pemiliki resep kue penutup tersebut. Ia segera mengangkat kopi tersebut dan menghirupnya. Tak percaya, ia menghirup sekali lagi. Kopi yang berbeda dan rasanya enak. Ia menatap si pemilik resep. Kopi apa ini, kenapa rasanya tidak seperti kopi-kopi yang dijual di cafenya. Rasa kopinya sedap.


"Kopi apa ini, sedap sekali. Sangat berbeda dengan kopi di pasaran sana. Aku baru mencicipi rasa kopi seperti ini."


"Kopi dari kampung."


Jawab si pemilik resep. Raffa termanggu-manggu. Ia menatap wajah di depannya, pandangannya terhadap gadis itu sedikit berubah.


"Bagaimana kalau besok kau membawa kopi ini ke perusahaan."


"Apa maksudmu?"


Raffaza tersenyum, ia kemudian pamit.


 


 


 


 


 


Bersambung

__ADS_1


 


 


__ADS_2