
Kesadaran itu memang datangnya terlambat. Tetapi orang bijak juga berkata bahwa tidak ada kata terlambat
untuk berubah. Laura bertekad bahwa ia akan berubah. Tidak lagi bersikap manja, keras hati dan sedikit-dikit
pergi meninggalkan suami dan anak-anak hanya untuk menunjukkan dirinya sangat berarti bagi Dad dan Mom.
Tidak akan seperti itu lagi.
Laura turun dari tempat tidurnya. Ia hanya sehari di rumah sakit. Lantas meninggalkan rumah sakit dan
menginap di hotel yang tak jauh dari rumah sakit.
"Richi, kamu harus sembuh darling, besok pagi aku akan membezoekmu. Dan aku telah berbeda.
Bukan lagi Laura yang manja, si keras hati. Aku mencintaimu dan anak-anak."
Laura sudah memikirkan semuanya. Ia akan menyembuhkan Richi dengan cinta serta kesabarannya. Ia
akan bersujud pada Papi dan Mami Bramantyo meminta maaf. Pada kakak iparnya. Dia harus menemui
anak-anaknya. Laura merindukan Ranchel yang cantik mirip dirinya, juga Richo yang adalah Richi kecil.
Malam itu Laura tak bisa memejamkan mata. Banyak sekali yang ia pikirkan. Sekarang ia bukanlah
Laura si gadis yang pendek akal. Ia sudah berubah menjadi seorang ibu yang berpikir panjang sebelum
melakukan apa pun.
Perempuan muda itu meneteskan air matanya, ia sangat menyesal atas segalanya yang telah terjadi.
Ia berdoa agar Allah Swt memberinya kesempatan.
"Rabb, tolong aku. Sembuhkan Richi suamiku. Aku akan menjadi wanita sholehah mulai saat ini
aku berubah ya Rabb."
Laura menangis di atas sajadahnya. Hingga pagi tiba.
***
Belum lagi pintu pengunjung di buka seorang perempuan muda mengenakan hijab panjang
telah menunggu di depan pintu tersebut. Ia tak sabar ingin menengok suami yang ia cintai.
Untunglah tak lama, pintu telah terbuka. Laura bergegas ke tempat Richi di rawat. Ia
mendorong pintu dan matanya berserobok dengan laki-laki muda yang menoleh ke arahknya.
"Aunty Laura!"
Rakasiwi menyebut nama perempuan itu. Yang tersenyum lembut padanya.
"Kau berjaga semalaman, biar Onty mengantikanmu hemmm."
Rakasiwi bimbang, ia dengar Onty Laura yang menyebabkan Uncle Richi dirawat. Ia tak
berani meninggalkan Uncle Richi berdua saja dengan Istrinya. Rakasiwi berdiri dan
menyambut serta menyalami Laura.
"Kau pasti lelah."
"Nggak apa-apa Onty, sebentar lagi ayah dan Opa akan datang menggantikanku."
"Oh."
Laura, beranjak mendekat ke ranjang Richi. Ia lihat pria itu terbaring diam tak bergerak
terpejam dengan kepala terbalut.
"Dad, aku datang."
Laura menyentuh tangan yang tergeletak di tepi ranjang. Ia menautkan jemarinya.
"Daddy Ranchel dan Richo, cepat sembuh. Kita berkumpul lagi di rumah kita. Aku janji
__ADS_1
akan menjadi istri yang baik dan menuruti suami. A-aku menyesal telah menyia-nyiakan
kalian. Mulai hari ini aku berubah."
Laura menghembuskan napasnya. Matanya mulai digenangi oleh air mata yang membuat
pandangannya rabun.
"Kita akan memulai hari baru, cepat sembuh ya."
Laura mencium jari-jemari itu sepenuh cinta serta permohonan maaf. Siapa yang menduga
setelah dua hari tak bangun dan menampakkan kesembuhan. Perlahan mata yang terpejam
itu membuka. Ia mengercitkan mata. Tiba-tiba berbagai gambar seperti beterbangan ke pikirannya.
Suara seseorang yang berdoa terdengar. Richi kian besar melebarkan matanya.
Tetapi rasa sakit dan berdenyut di kepalanya membuatnya merintih.
Laura terkejut begitu juga Rakasiwi . Keduanya saling berpandangan.
"Uncle!"
"Biar aku panggil dokter!"
Laura keluar dari ruangan itu, ia bergegas memanggil dokter jaga yang ruangannya tak jauh
dari tempat itu. Sementara Rakasiwi mengawasi pergerakkan uncle Richi.
"Di-dimana aku?"
Richi merintih, kepalanya kembali berdenyut, dan mendengar seperti suara ribut dan bising.
Ia kembali menutup mata. Berusaha menghilangkan rasa sakitnya.
"Uncle, uncle sudah siuman, alhamdulillah."
Dokter dan beberapa perawat memasuki ruangan. Raka menjauh membiarkan dokter dan
"Ayah, alhamdulillah Uncle sudah siuman, masa kritisnya sudah lewat."
Raka yang mendengar kabar itu langsung tersenyum lebar. Ia segera memberitahu Papi dan
Maminya yang sedang duduk di ruang keluarga. Mereka semua mengucapkan puji syukur. Lalu
bersiap berangkat ke rumah sakit. Bergantian dengan Raka yang sudah berjaga semalaman.
Hari itu dan selanjutnya, Richi membaik. Meski ia belum bisa bicara banyak. Pemulihan yang agak
lama bisa dilakukan di rumah mereka. Richi agaknya memiliki sisi kejiwaan yang terluka. Ia tak ingin
bicara dengan siapa pun.
Pada sebuah kesempatan Laura mendatangi Papi dan Mami Bramantyo. Ia bersujud dan menangis
meminta maaf. Ia akan merawat Richi dan menjaga anak-anak.
Plak!
Sebuah tamparan keras di pipi Laura meninggalkan warna kemerahan di pipi putihnya.
"Kau hampir saja membunuh anak kesayanganku!"
Geram Mami. Betapa bencinya ia pada Laura. Sebab hampir saja nyawa anaknya hilang oleh
perbuatan perempuan itu.
"Mi, sudahlah, mantu kita sudah menyadari kesalahannya. Biarkan ia dan Richi memulai
semuanya dari awal."
Berulang kali Papi menahan emosi Mami yang meluap-luap. Beruntung anak-anak datang
menyongsong ibu mereka dan memeluk sepenuh rindu.
__ADS_1
"Mommy! Mommy! jangan pergi lagi!"
Ketiganya bertangis-tangisan. Setelah itu barulah suasana menjadi tenang. Papi bilang
bahwa ia menerima Laura kembali ke dalam keluarganya. Meski ia sempat mendengar kalau
Richi sudah menggugat cerai istrinya di pengadilan. Namun keduanya bisa rujuk dan memulai
kehidupan rumah tangga yang baik. Tidak akan mengulangi lagi kesalahan yang lalu.
Kehidupan berumah tangga itu memang tidak mudah. Hanya dengan cinta, pengertian serta
saling menghargai hal tersebut bisa terwujud. Panjang lebar Papi Bramantyo memberikan
nasehat pernihakan untuk membekali mantu perempuannya yang memang memiliki budaya
serta kebiasaan yang jauh beda. Tetapi Laura bisa belajar bagaimana cara perempuan
menghidupkan rumah tangga.
Laura hanya mengangguk-angguk kepala. Sekali lagi ia meminta maaf pada Papi dan Mami
juga menyalami Raka juga Mardo. Memohon kakak iparnya mengajarinya menjadi seorang
ibu serta istri.
Mardo menyambutnya. Laura bisa berkonsultasi kapan saja, kata Mardo. Dan keduanya
saling berpelukkan.
"Mari kita berteman, ok."
Kedua mantu dari Bramantyo itu saling pandang dan tersenyum. Barulah Laura merasakan
arti sebuah keluarga. Besok mereka akan menjemput Richi pulang dan sementara tinggal
di rumah pusaka tersebut. Richi juga memiliki kamar yang seperti sebuah rumah. Di dalamnya
Richi dan keluarganya bisa leluasa melakukan apa saja. Memasak.
Laura setuju menunggu kesembuhan Richi, sebelum keduanya kembali ke Merauke. namun
jika Richi tetap saja sakit. Papi Bramantyo memikirkan villa mereka di sebuah tempat bisa
menjadi tempat yang tenang serta nyaman untuk Richi sekeluarga.
Papi Bramantyo juga harus memikirkan pengganti Richi di universitas, Ia diam-daiam mengamati
Rakasiwi cucunya. Beberapa tahun lagi ia sudah selesai study. Agaknya Rakasiwi adalah
pilihan yang tepat untuk memimpin.
Bersambung
Hello dear, makasih banyak ya atas like, vote dan komen serta bintang limanya
Othor sangat berterima kasih.
__ADS_1