
Rumah yang sangat besar dan berhalaman luas itu tampak lebih ramai dari biasanya.
Pak Bramantyo dan istrinya. Juga anak-anak Richi. Sudah sampai dan berada di rumah
itu. Wajah mereka terlihat dibayangi oleh kecemasan. Meski pengalaman hidup telah
menempa mereka untuk bersabar dan kuat menghadapi badai ganas sekali pun.
Pak Bramantyo masih bisa tersenyum dan tertawa kecil saat cucu-cucunya bertingkah
lucu atau melakkan suatu hal yang menakjubkan. Tria dan Rachel langsung pergi ke kamar
untuk bermain boneka. Keduanya agak seumuran. Tria lebih tua tiga tahun dari Rachel.
Cindy juga sangat suka pada Richo dan langsung menggendongnya serta menciumi pipinya
kegemasan.
"Adik Richo! kamu sudah besar sekali, dan tampan he he he."
Cindy tak bosannya menciumi anak kecil yang hanya malu-malu dan minta diturunkan.
"Kita main ke tempat kakak Dode, dia mainannya banyak, kamu mau?"
Anak kecil itu yang sangat imut dan menggemaskan menggangguk, Cindy langsung membawanya
di gendongannya. Ia dan anak laki-laki kecil itu menuju sebuah ruangan barmain. Ada karpet
yang terbentang serta meja-meja dan lemari yang berisi mainan. Richo tak sabar dan merosot
dari gendongan Cindy. Ia langsung mengambil mainan-mainan yang menarik di hatinya serta mulai
memainkannya. Mulutnya sibuk meniru suara mobil, brumm, brum, brum.
Sementara Papa, mama Bramantyo bersama anak laki-lakinya dan juga Mardo bercakap-cakap di ruang
tamu. Mereka membicarakan hal yang serius.
"Bagaimana ini bisa menimpa putraku? keduanya sama tak kusukai."
"Ia meninggal di usia muda, atau cacat seumur hidupnya ohhh"
"Jangan berkecil hati Pi, semoga ada keajaiban bagi Richi."
Pak Bramantyo terpekur. Ia belum mencicipi sedikitpun minumannya. Pikirannya melayang-layang
saat kelahiran bayi Richi yang masih belum delapan bulan. Usia kandungan tujuh bulan istrinya
merasakan sakit pada perutnya. Bramantyo setengah panik membawa istrinya ke rumah sakit, air
ketubannya merembes. Kata dokter harus rawat inap demi keselamatan bayinya.
Hampir selama dua minggu di rumah sakit dan mendapatkan perawatan intensif. Hingga di perbolehkan
pulang. Itu pun tak lama sebab rasa sakit tak tertahankan kembali membuat Bramantyo melarikan
istrinya itu ke rumah sakit. Dan tidak bisa di cegah lagi bayi itu lahir prematur. Bramantyo ngeri melihat
bayi sebesar kepalan tangan itu. Masih belum sempurna sistem di dalam tubuhnya, tetapi bayi kecil itu
tak sabar lagi ingin melihat dunia.
Richi tercatat sebagai bayi prematur dan mendapat perhatian dari banyak orang. Ratusan pesan agar
__ADS_1
bersabar menghadapi dan menunggu ke ajaiban. Mereka semua berdoa agar Richi kecil hidup dan
bertahan di dalam inkubator selama awal kehidupannya. Inkubator milik persatuan bayi prematur bahkan
kemudian datang meluncur agar bisa digunakan oleh Bramantyo untuk putranya.
Hari demi hari, juga bulan, bayi sebesar kepalan tangan itu, serta tulang dan tengkorak, bertambah beratnya.
Daging pada wajahnya juga mulai berbentuk. Hingga akhirnya dia tak lagi memerlukan inkubator. Bayi
kecil itu telah bisa berada di pelukkan papi dan maminya. Tubuhnya perlahan tumbuh dan membesar. Beberapa
kali pada tengah malam, ia dan istrinya ngebut ke rumah sakit sebab Bayi Richi tiba-tiba sesak dan sulit
bernapas.
Dokter bilang bahwa kelahirannya yang belum waktunya itu membuat Richi sangat rentan. Ia harus dihindarkan
dari asap rokok, asap masakkan serta berbagai bau. Kamar tidur Richi harus dibuat strril dan tidak bolah ada
yang menyentuhnya kecuali Papi dan Mami serta dokter. Richi benar-benar menjadi bayi ekslusif. Papi dan
Mami harus selalu siaga satu siang dan malam. Kurang tidur dan kelelahan.
Hingga setahun, dua dan tiga tahun barulah Richi tak pernah lagi ke rumah sakit. Ia sudah besar dan
semakin kuat. Matanya bulat seperti bola pimpong, dan senyumnya merekah. Ia menjadi kesayangan
seluruh keluarga. Papi dan Mami sangat memanjakan dirinya oleh sebab kelahirannya serta riwayat
bayi prematur yang nyaris merengut nyawa.
Bramantyo berlinang air matanya mengenang masa kecil anaknya bungsunya. Dan sekarang ia
pasrah pada yang kuasa.
"Raka, papi akan menyantuni anak-anak yatim dan orang yang membutuhkan di lingkungan ini."
"Iya Pi, Raka sudah suruh pak Jun untuk memanggil pak rt dan pak rw kesini."
"Papi keluarkan sedekah atas nama Richi Bramantyo, semoga Allah Swt memberikan keajaiban
pada adikmu."
Aamiin yra.
Sementara Mami hanya bisa menangis dan berdoa di dalam kamar.
"Richi anak Mami, kesayangan Mami, jangan pergi dari hidupku. Biar Mami saja yang sakit
yang menderita, asal Richi selalu sehat."
Perempuan itu entah sudah berapa kali meneteskan airmata yang diiringi doa untuk putra
kesayangannya. Ia menyayangkan semua yang terjadi dengan putranya. Kehidupan rumah
tangga dengan pertengkaran. Ia tak menyangka gadis lembut seperti Laura mampu membuat
hidup putranya tak bahagia. Justru hanya pertengkaran dan keras kepalanya yang membuat
derita berkepanjangan.
Jika saja ia tau hal seperti ini terjadi, ia pasti menentang pernikahan anaknya dengan Laura.
__ADS_1
Sebersit sesal serta kemarahan pada Laura membuatnya menegang. Perempuan itu membenci
Laura karena telah berusaha membunuh putranya. Ia meremas jemarinya, rasanya ingin
mencekik Laura.
Ia juga sudah beberapa kali memperingatkan besannya di negeri yang jauh di sana. Agar
menasehati putrinya. Dia bukan lagi gadis yang bebas yang sesuka hatinya pergi dan
meninggalkan suami serta anak-anaknya. Ia harusnya memaksakan diri dan berusaha
keras tinggal di Indonesia bersama Richi. Bukan terus menerus pergi dan pulang sesuka
hati.
Mami sangat sedih dan terpukul oleh kejadian yang tak terduga. Ia bahkan lupa makan dan minum sebab memikirkan Richi. Saat melihat cucu-cucunya, ia kian menangis dan bercucuran air mata. Saat ini tidak ada yang bisa menghibur perempuan tersebut.
Yang ia dengar hanya bujuk rayu suaminya saja. Yang dengan lembut menguatkannya. Memaksa makan dan minum.
"Mi, yang kuat ya. Semua sudah menjadi ketentuan dari Allah Swt. Kita tak boleh menentang kehendakNya. Tak boleh menggugat, pasrahkan dan ikhlaskan ya Mi."
Mami hanya bisa meletakkan kepalanya di dada
suaminya, dan terisak-isak di sana.
"Kenapa ini terjadi Pi?"
Bramantyo hanya mendekap bibir istrinya dengan jemari. Tak boleh mempertanyakan kenapa dan
mengapa.
"Kita perbanyak berdoa ya Mi."
Hanya doa dan ikhlas senjata orang mukmin
menghadapi problem serta musibah. Pasti ada makna dari sebuah peristiwa.
"Pi, Richi itu anak yang kuat. Dia dulu hanya sebesar kepalan tangan. Tubuhnya
hanya tulang saja. Kita tak menyangka ia bakal bisa bertahan. Nyatanya secara
perlahan daging tumbuh membaluti tulang-tulang kecil itu. Paru-parunya berkembang
sempurna, mata dan semuanya. Richi itu keajaiban Pi."
Mami dan Papi berdua-dua mengenang saat-saat mereka mengasuh bayi prematur
yang menakutkan sebab begitu ringkih serta lemah. Setiap saat membuat jantung
mereka berdebar. Namun Bayi kurang umur, berat badan serta organ-organ yang
belum sempurna itu nyatanya hidup. Semua berkat kehendak Allah Swt.
Sekarang pun, jika Allah berkehendak Richi akan hidup. Sepanjang malam itu Papi dan Mami
Bramantyo tak putusnya berdoa, bersujud. Bukan hanya mereka berdua, tetapi keluarga besar
mereka semua berdoa untuk kesembuhan Richi.
Bersambung
Hello, jangan lupa memberi like, komen ya sahabatku.
__ADS_1
Othor sangat berterima kasih.