Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 182. Bayi Prematur.


__ADS_3

Rumah yang sangat besar dan berhalaman luas itu tampak lebih ramai dari biasanya.


Pak Bramantyo dan istrinya. Juga anak-anak Richi. Sudah sampai dan berada di rumah


itu. Wajah mereka terlihat dibayangi oleh kecemasan. Meski pengalaman hidup telah


menempa mereka untuk bersabar dan kuat menghadapi badai ganas sekali pun.


Pak Bramantyo masih bisa tersenyum dan tertawa kecil saat cucu-cucunya bertingkah


lucu atau melakkan suatu hal yang menakjubkan. Tria dan Rachel langsung pergi ke kamar


untuk bermain boneka. Keduanya agak seumuran. Tria lebih tua tiga tahun dari Rachel.


Cindy juga sangat suka pada Richo dan langsung menggendongnya serta menciumi pipinya


kegemasan.


"Adik Richo! kamu sudah besar sekali, dan tampan he he he."


Cindy tak bosannya menciumi anak kecil yang hanya malu-malu dan minta diturunkan.


"Kita main ke tempat kakak Dode, dia mainannya banyak, kamu mau?"


Anak kecil itu yang sangat imut dan menggemaskan menggangguk, Cindy langsung membawanya


di gendongannya. Ia dan anak laki-laki kecil itu menuju sebuah ruangan barmain. Ada karpet


yang terbentang serta meja-meja dan lemari yang berisi mainan. Richo tak sabar dan merosot


dari gendongan Cindy. Ia langsung mengambil mainan-mainan yang menarik di hatinya serta mulai


memainkannya. Mulutnya sibuk meniru suara mobil, brumm, brum, brum.


Sementara Papa, mama Bramantyo bersama anak laki-lakinya dan juga Mardo  bercakap-cakap di ruang


tamu. Mereka membicarakan hal yang serius.


"Bagaimana ini bisa menimpa putraku? keduanya sama tak kusukai."


"Ia meninggal di usia muda, atau cacat seumur hidupnya ohhh"


"Jangan berkecil hati Pi, semoga ada keajaiban bagi Richi."


Pak Bramantyo terpekur. Ia belum mencicipi sedikitpun minumannya. Pikirannya  melayang-layang


saat kelahiran bayi Richi yang masih belum delapan bulan. Usia kandungan tujuh bulan istrinya


merasakan sakit pada perutnya. Bramantyo setengah panik membawa istrinya ke rumah sakit, air


ketubannya merembes. Kata dokter harus rawat inap demi keselamatan bayinya.


Hampir selama dua minggu di rumah sakit dan mendapatkan perawatan intensif. Hingga di perbolehkan


pulang. Itu pun tak lama sebab rasa sakit tak tertahankan kembali membuat Bramantyo melarikan


istrinya itu ke rumah sakit. Dan tidak bisa di cegah lagi bayi itu lahir prematur.  Bramantyo ngeri melihat


bayi sebesar kepalan tangan itu. Masih belum sempurna sistem di dalam tubuhnya, tetapi bayi kecil itu


tak sabar lagi ingin melihat dunia.


Richi tercatat sebagai bayi prematur dan mendapat perhatian dari banyak orang. Ratusan pesan agar

__ADS_1


bersabar menghadapi dan menunggu ke ajaiban. Mereka semua berdoa agar Richi kecil hidup dan


bertahan di dalam inkubator selama awal kehidupannya. Inkubator milik persatuan bayi prematur bahkan


kemudian datang meluncur agar bisa digunakan oleh Bramantyo untuk putranya.


Hari demi hari, juga  bulan, bayi sebesar kepalan tangan itu, serta tulang dan tengkorak, bertambah beratnya.


Daging pada wajahnya juga  mulai berbentuk. Hingga akhirnya dia tak lagi memerlukan inkubator. Bayi


kecil itu telah bisa berada di pelukkan papi dan maminya. Tubuhnya perlahan tumbuh dan membesar. Beberapa


kali pada tengah malam, ia dan istrinya ngebut ke rumah sakit sebab Bayi Richi tiba-tiba sesak dan sulit


bernapas.


Dokter bilang bahwa kelahirannya yang belum waktunya itu membuat Richi sangat rentan. Ia harus dihindarkan


dari asap rokok, asap masakkan serta berbagai bau. Kamar tidur Richi harus dibuat strril  dan tidak bolah ada


yang menyentuhnya kecuali Papi dan Mami serta dokter. Richi benar-benar menjadi bayi ekslusif. Papi dan


Mami harus selalu siaga  satu siang dan malam. Kurang tidur dan kelelahan.


Hingga setahun, dua dan tiga tahun barulah Richi tak pernah lagi ke rumah sakit. Ia sudah besar dan


semakin kuat. Matanya bulat seperti bola pimpong, dan senyumnya merekah. Ia menjadi kesayangan


seluruh keluarga. Papi dan Mami sangat memanjakan dirinya oleh sebab kelahirannya serta riwayat


bayi prematur yang nyaris merengut nyawa.


Bramantyo berlinang air matanya mengenang masa kecil anaknya bungsunya. Dan sekarang ia


pasrah pada yang kuasa.


"Raka, papi akan menyantuni anak-anak yatim dan orang yang membutuhkan di lingkungan ini."


"Iya Pi, Raka sudah suruh pak Jun untuk memanggil pak rt dan pak rw kesini."


"Papi keluarkan sedekah atas nama Richi Bramantyo, semoga Allah Swt memberikan keajaiban


pada adikmu."


Aamiin yra.


Sementara Mami hanya bisa menangis dan berdoa di dalam kamar.


"Richi anak Mami, kesayangan Mami, jangan pergi dari hidupku. Biar Mami saja yang sakit


yang menderita, asal Richi selalu sehat."


Perempuan itu entah sudah berapa kali meneteskan airmata yang diiringi doa untuk putra


kesayangannya. Ia menyayangkan semua yang terjadi dengan putranya. Kehidupan rumah


tangga dengan pertengkaran. Ia tak menyangka gadis lembut seperti Laura mampu membuat


hidup putranya tak bahagia. Justru hanya pertengkaran dan keras kepalanya yang membuat


derita berkepanjangan.


Jika saja ia tau hal seperti ini terjadi, ia pasti menentang pernikahan anaknya dengan Laura.

__ADS_1


Sebersit sesal serta kemarahan pada Laura membuatnya menegang. Perempuan itu membenci


Laura karena telah berusaha membunuh putranya. Ia meremas jemarinya, rasanya ingin


mencekik Laura.


Ia juga sudah beberapa kali memperingatkan besannya di negeri yang jauh di sana. Agar


menasehati putrinya. Dia bukan lagi gadis yang bebas yang sesuka hatinya pergi dan


meninggalkan suami serta anak-anaknya. Ia harusnya memaksakan diri dan berusaha


keras tinggal di Indonesia bersama Richi. Bukan terus menerus pergi dan pulang sesuka


hati.


Mami sangat sedih dan terpukul oleh kejadian yang tak terduga. Ia bahkan lupa makan dan minum sebab memikirkan Richi. Saat melihat cucu-cucunya, ia kian menangis dan bercucuran air mata. Saat ini tidak ada yang bisa menghibur perempuan tersebut.


Yang ia dengar hanya bujuk rayu suaminya saja. Yang dengan lembut menguatkannya. Memaksa makan dan minum.


"Mi, yang kuat ya. Semua sudah menjadi ketentuan dari Allah Swt. Kita tak boleh menentang kehendakNya. Tak boleh menggugat, pasrahkan dan ikhlaskan ya Mi."


Mami hanya bisa meletakkan kepalanya di dada


suaminya, dan terisak-isak di sana.


"Kenapa ini terjadi Pi?"


Bramantyo hanya mendekap bibir istrinya dengan jemari. Tak boleh mempertanyakan kenapa dan


mengapa.


"Kita perbanyak berdoa ya Mi."


Hanya doa dan ikhlas senjata orang mukmin


menghadapi problem serta musibah. Pasti ada makna dari sebuah peristiwa.


"Pi, Richi itu anak yang kuat. Dia dulu hanya sebesar kepalan tangan. Tubuhnya


hanya tulang saja. Kita tak menyangka ia bakal bisa bertahan. Nyatanya secara


perlahan daging tumbuh membaluti tulang-tulang kecil itu. Paru-parunya berkembang


sempurna, mata dan semuanya. Richi itu keajaiban Pi."


Mami dan Papi berdua-dua mengenang saat-saat mereka mengasuh bayi prematur


yang menakutkan sebab begitu ringkih serta lemah. Setiap saat membuat jantung


mereka berdebar. Namun Bayi kurang umur, berat badan serta organ-organ yang


belum sempurna itu nyatanya hidup. Semua berkat kehendak Allah Swt.


Sekarang pun, jika Allah berkehendak Richi akan hidup. Sepanjang malam itu Papi dan Mami


Bramantyo tak putusnya berdoa, bersujud. Bukan hanya mereka berdua, tetapi keluarga besar


mereka semua berdoa untuk kesembuhan Richi.


Bersambung


Hello, jangan lupa memberi like, komen ya sahabatku.

__ADS_1


Othor sangat berterima kasih.


__ADS_2