Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 123 Tempat Hura-Hura


__ADS_3

Pria yang mengenalkan namanya dengan Angga itu terus mengajak mereka mengobrol dan


banyak menjelaskan tentang pekerjaan di tempat itu. Ia juga bilang kalau dia yang mengajari


anak-anak baru saat mulai bekerja. Dia menyuruh Yunna, Prita dan Elsa menunggu karena ada


beberapa gadis lagi yang sudah membuat janji hari itu.


"Memangnya sudah diterima?"


Prita yang tidak seberapa sreg di tempat tersebut misah misuh. Sudah bisa menebak pekerjaan


seperti itu. Sementara Elsa mendengarkan dengan ketertarikkan penuh sama seperti Yunna.


Saat keduanya menatap pada Prita yang seperti menahan sesuatu antara pulang dan tinggal.


"Kita tunggu sebentar say."


Yunna menahanya, sementara pria tadi pak Angga sedang membereskan meja panjang serta


lemari rak berisi botol-botol minuman beralkohol, memang tempat itu adalah tempat minum seperti


halnya cafe, tetapi bar menjual minuman beralkohol yang membuat peminumnya mabuk. Bar tempat


orang-orang bersantai, minum-minum dan menikmati makanan ringan. Pengelolanya melengkapi


bar tersebut dengan pub. Juga live musik, karena terlihat ada panggung di depan sekali.


Rangga terlihat sedang memberi instruksi pada beberapa pria yang baru berdatangan dan melakukan


pekerjaan mereka. Gelas-gelas sloki yang sudah bersih di bersihkan lagi dan digosok hingga


berkilau, bahan-bahan makanan dan minuman di periksa dan diteliti dengan hati-hati, mereka


bekerja tidak terburu-buru melainkan seperti menikmati pekerjaan itu, sehingga terlihat menyenangkan


dan sepenuh hati. Tak lama empat orang wanita muda masuk, mereka mengenakan dress yang


mencetak tubuh. Agaknya mereka bukan yang pertama datang ke sini melainkan sudah yang


kedua atau lebih. Sebab sudah terlihat siap.


"Hai asyik kalian sudah datang, baiklah kita mulai saja yuk."


Pak Angga begitu ia dipanggil oleh orang-orang yang berada di tempat itu, mengajak mereka


ke bagian depan, lantai yang dibiarkan kosong karena tempat itu khusus untuk berdisco atau


melantai.


Prita menahan Yunna, tetapi Yunna menarik tangan Prita, "Ayo nggak apa-apa."


Terpaksa Prita mengikuti pak Angga dan perempuan-perempuan muda yang cantik itu


ke depan. Tak lama terdengar musik yang ceria. Perempuan yang belakangan datang


telah menggerak-gerakkan tubuh mereka, Yunna, Elsa yang menyukai kegiatan senam


meraba-raba gerakkan mengikuti irama.


Pak Angga menepuk tangannya, "Ayo ikuti saya lemaskan tubuh dan menari dengan


rileks!"

__ADS_1


Bersamaan musik yang menghentak-hentak pak Angga menggerak-gerakkan kakinya


dengan lincah, maju mundur, maju mundur  bergoyang dan berputar. Berkali-kali hingga


semuanya telah menguasai gerakkan tersebut.


"Yeah cha cha, yeah cha cha!"


Setelah mereka semua menguasai gerakkan tarian tersebut, pak Angga duduk dan


melihat mereka semua menari cha-cha. Ia bilang untuk bekerja di tempat itu para


waitres harus bisa menari paling tidak sebuah tarian yang paling mudah dan ceria


yakni tarian cha-cha.


Yunna dan Elsa terlihat menyukai dan menganggap itu adalah hal yang mudah. Dan


pak Angga sendiri melihat kelebihan Yunna yang cepat sekali menguasai keadaan


ia santai dan ceria. Sedang Elsa mengikuti.


"Kalian tertarik bekerja di sini?"


Pak Angga, menatap ke tiga perempuan muda itu, sementara yang lain sudah


masuk ke ruangan karyawan di dalam. Agaknya perempuan-perempuan tadi


telah diterima bekerja, tanpa perlu memperlihatkan ijazah tau dokumen apa pun.


Karena pak Angga juga tak menanyakan hal tersebut pada Yunna dan yang lainnya.


"Bagaimana penghasilannya pak?"


Yunna menanyakan hal itu langsung, karena memang itulah yang dicari ditempat ini.


penghasilan lebih dari tip-tip pengunjung yang merasa senang dan puas."


"Wah lumayan banget tuh, bahkan bisa sepuluh juta sebulan ya Pak Angga?"


"Oh iya, bahkan lebih. Tergantung pelayanan yang bisa kalian berikan."


Yunna menatap mata Prita dan juga Elsa. "Kita gabung aja ya gimana?"


Prita membuang wajahnya dari tatapan Yunna, sedangkan Elsa tersenyum, mereka dua


gadis yang masih sangat lugu. Prita sebenarnya tidak setuju jika Yunna dan Elsa


bergabung di bar pub tersebut. Masih banyak tempat bekerja yang lain. Tetapi agaknya


kedua gadis itu sudah menyukai tempat bekerja itu.


Kedua gadis itu selama ini hidup dalam kesusahan dan serba kekurangan, jarang sekali


kecerian mendatangi keduanya. Jadi melihat suasana yang menyenangkan, ceria serta


mewah, serasa berada di dunia impian dan negeri dongeng.


"Kalian tidak akan menyesal kok, banyak gadis-gadis yang menginginkan pekerjaan ini


tapi kalau kalian hari ini mau mengisi lowongannya aku akan menutup dan tidak lagi


menerima pelamar lainnya."

__ADS_1


Kata laki-laki mungil dan energik itu, wajahnya selalu berseri dan senyumnya lebar. Ia


merasa yakin setidaknya dua gadis yang terlihat antusias akan bekerja padanya. Seandainya


tidak pun, ia yakin puluhan bahkan ratusan perempuan cantik akan datang melamar


pekerjaan tersebut.


Mereka masih duduk-duduk menikmati suasana, suara-gadis yang tengah bercengkrama


tertawa dan bercanda, mereka mulai mengenakan baju seragam seorang waitress, kemeja


pendek dan rok mini yang memperlihatkan paha indah mereka. Gadis-gadis dengan kecantikan


yang saling berbeda, masing-masing mempunyai kelebihannya sendiri, kecantikkannya


sendiri, dan daya pesona tersendiri juga.


Pak Angga juga melihat kecantikkan yang berbeda pada Yunna dan Elsa. Yunna bertubuh


indah, dengan kulit yang eksotik. Kulitnya coklat tetapi halus dan bersinar, wajahnya juga


ayu dan sangat manis. Dengan sedikit polesan gadis itu akan menjadi seorang bintang


di bar pub itu.


Sedangkan Elsa, dia mungil dan menggemaskan. Wajahnya cantik dan memiliki bibir


yang sensual, sikapnya yang agak pemalu dan ketergantungan itu merupakan daya


tertarik tersendiri.


Dan sebenarnya gadis yang seorang lagi lebih memukaunya, berwajah cantik, memiliki


bibir, hidung, mata serta rambut keikalan yang indah. Tubuhnya agak kurus tetapi tak mengurangi


nilainya, gadis itu sangat mempesona, ia bisa melihat meski hanya sekilas. Hanya sayangnya


gadis itu terlihat tidak tertarik dengan pekerjaan yang ada. Jika dua orang gadis temannya


masuk ke dalam barnya, ia bisa berharap suatu saat  bisa menemui gadis itu.


Karena ia memiliki proyek untuk gadis-gadis tercantik.


Proyek khusus dan rahasia, bos-bos besar yang memiliki kekuasaan itu menyukai


gadis yang cantik, bersih, dan masih murni. Mereka akan mengeluarkan berapa saja


untuk mendapatkan gadis yang mereka inginkan.


Membuka lowongan pekerjaan waitress untuk bar pub terbukti bisa mendapatkan


gadis dengan kecantikkan bidadari seperti seorang gadis diantara ketiga gadis tadi.


Puluhan gadis cantik, dengan tinggi tertentu berdatangan untuk melamar. Kesulitan


dan kepayahan hidup, sementara kebutuhan sangat banyak membuat orang apa lagi


bagi seorang gadis tidak berpikir panjang untuk menerimanya. Uang dan kesenangan


kenapa tidak?


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa kasih like, komen,vote dan hadiahnya ya


penulis sangat berterima kasih.


__ADS_2