Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 156.Perbincangan


__ADS_3

Yunna dan Elsa terkejut ketika Prita muncul di tempat kerja mereka.


"Prita apa yang terjadi? aku sangat mencemaskan dirimu dan tante Risa."


"Semuanya berakhir dengan baik, alhamdulillah."


"Benarkah?"


"Iya, sekarang aku ingin bersantai dengan makanan dan minuman


cafe Pria Idola, aku ingin duduk yang di sofanya."


"Oh, siap yuk aku temani sebentar, mumpung belum banyak tamu."


Yunna dan Prita beranjak ke meja dengan bangku sofa, di sana enak untuk


bersantai dan merebahkan punggung. Yunna berusaha mengorek cerita


tentang kejadian yang menimpa Prita dan ibunya.


"Laki-laki itu huhhhh!"


"Kenapa?"


"Masa, dia jatuh cinta sama aku Cing! gila  kan? hanya karena aku mirip


dengan kekasihnya."


"Hah!!!, ja-jadi dia menculik tante Risa untuk mendapatkanmu? gila! gila!


dunia ini sudah gila."


Yunna terlihat heboh dan tak henti-hentinya memukul-mukul kepalanya.


"Untungnya kami bicara terlebih dahulu dari hati-kehati, berkat ribuan zikirku


cing, dia melemah."


"Ha ha ha! dasar gila! laki-laki tua yang sudah bau tanah menginginkan


seorang gadis cantik berusia belia hemmm, benar-benar pria tidak tau diri!"


"Huh, sudahlah! "


"Jadiii, dia menawarimu mansion, wah kenapa tak terima aja Prita? andai saja


dia mau denganku, pasti kupertimbangkan, kau kan tau Cing aku ingin sekali


menjadi wanita yang bersuamikan seorang pengusaha."


"Oh, iya aku lupa merekomendasikan dirimu ha ha ha, kurasa dari pada ia tak


dapat apa-apa, kenapa tak mendapatkan dirimu aja ya cing."


"Hah! Kau selalu telat, kapan kau akan kesana lagi?"


"Entahlah, aku tak berminat, mana minumannya aku hausss!"


"Elsa cepat sedikit! ini putri Prita sudah kehausan!"


"Iya, ini baru jadi."


Elsa membawakan tiga jus buah-buahan, dan dia duduk di samping


kedua sahabatnya.


"Aku kangen sekali berkumpul seperti ini, jangan pergi ke Semarang ya Cing


Pritaku."


Elsa memeluk Prita erat-erat, dengan sikapnya yang amat lugu serta manja.


"Maksud Loe Cing Gwe biar berenti dan jadi pengangguran gitu, Loe senang ya


Gwe nggak jadi apa-apa?"


Prita langsung sewot dan mendorong tubuh Elsa, "Sana ah, nanti dikira orang


penyuka sesama."


"Aduh mana mungkin! kita ini sahabat dari kecil, lebih dari saudara."


Mereka berbincang-bincang dan tak sengaja tiba-tiba Prita ingin mengajak

__ADS_1


kedua sahabatnya bertemu dengan ayah Jae, siapa tau ketiganya bisa menjadi


sahabat yang dekat.


"Ide bagus, aku juga pengen dong melihat mansionnya ayah Jae itu."


Prita menimbang-nimbang untuk menelpon Ayah Jae, sebelumnya ia menelpon


Darto Keling dan menanyakan nomer handphone ayah Jae. Dan laki-laki botak


itu harus minta ijin terlebih dahulu apakah dibolehkan memberi nomer handphone.


Dan beberapa saat menunggu barulah Darto Keling menelpon dan memberikan


nomer ayah Jae. Pria itu pun sangat senang saat tau Prita ingin bicara dengannya


ia pikir gadis itu telah menyetujui dan berubah.


"Hello Ayah Jae, bagaimana keadaan ayah?"


Prita menelpon dengan suara yang biasa saja, ia menceritakan bahwa ia memiliki


dua sahabat sejak kecil. Mereka ingin berkenalan juga dengan Ayah Jae. Karena


Prita telah menceritakan tentang Ayah Jae pada teman-temannya.


Gadis itu menanyakan apakah teman-temannya bisa bertemu dan berkenalan


dengan ayah Jae.


Pria itu langsung menyetujui dan membuat janji, ia akan menyuruh Darto Keling


menjemput mereka.


"Ok besok bersiap-siaplah! Uncle Darto akan menjemput kalian."


Wajah Ayah Jae ceria sekali mendapat telpon dari Prita. Bak api kecil yang disiram


oleh minyak tanah, jiwa mudanya kembali bergelora. Ia mengusap rambutnya dan


tersenyum lebar.


"Ia bakal datang ke sini! Darto!!!"


"Siapa Bos Ayah?"


"Gadis itu! ia tentunya berpikir-pikir tentang penawaranku."


Ayah Jae melebarkan bibirnya, matanya bercahaya. Darto ikut merasakan


kegembiraan sang bos. Ia tak pernah melihat laki-laki itu segembira hari ini,


wajahnya merekah seperti bunga matahari di pagi hari.


"Oh, dia sudah menghubungi Bos Ayah? luar biasa."


"Semalaman dia mungkin berpikir, betapa ruginya tak menerima pemberianku, perempuan


di mana pun sama saja, suka harta benda."


"Betul banget itu bos ayah! mereka menyukai kemewahan."


Tiba-tiba lelaki itu menoleh pada Darto, dan menyuruhnya memanggil tukang potong


rambut, "Panggil Andre ke sini! aku ingin spa dan merapikan rambutku."


"Siap bos Ayah!"


Darto bergegas menuju kediaman Andre, laki-laki yang agak kemayu itu bekerja


untuk ayah Jae untuk mendandaninya serta gadis-gadis di rumah hiburan.


"Andre! dipanggil bos Ayah Jae, cepatan sana!"


"Ok, ike segera datang."


Ia mengambil tasnya yang berisi perlangkapan salon. "Aduh, Bos Ayah Jae tumben


banget sih dipotong ike siang-siang beginong."


"Besok, akan datang seorang gadis yang disukai oleh bos Ayah Jae, jadi sedikit


grori, ha ha ha."

__ADS_1


"Wao, siapakah gadis yang beruntung itu?"


"Nanti kau akan tahu, besok gadis itu ke sini! aku akan menjemputnya, dan kau


bisa melihatnya besok."


"Baiklah pak Darto, oia apakah kepalanya mau perawatan, biar tambah ganteng


he he he."


Darto mengepalkan tangannya, membuat Andre lari tunggang langgang sembari


terkekeh. Dasar!


Ternyata bukan hanya ayah Jae saja yang ingin tampil mempesona, melainkan


juga Yunna dan Elsa. Sepulang dari bekerja mereka sepakat ke spa Anna yang


berada di dalam pertokoan. Prita juga ikut.


"Sesekali memanjakan diri tak mengapalah."


"Setahun sekali tak mengapalah, he he he, mana ada uangnya jika sebulan


sekali."


"Nanti kalau aku sudah menjadi istri pak Kong, gampanglah, mau spa sehari tiga


kali tak mengapalah."


"Ngeri kali ah, tapi pak Kong siapa tuh?"


"Pak Konglomerat ha ha ha!"


"Ach dasar, dikira pak yang mana, kena deh."


Ketiganya melakukan perawatan kulit serta rambut.


Kok bisa sama ya dengan ayah Jae? hemmm.


 


Esok paginya ketiga gadis itu sudah menunggu di sebuah tempat yang telah


mereka sepakati. Yunna terlihat cantik dengan rambut yang diuraikan dan


bagian bawah rambutnya di beri gelombang, mengenakan bulu mata yang


membuat bulu matanya lentik dan indah, serta pewarna bibir berwarna pink


yang lembut.


Sementara Elsa tampak mungil dengan bajunya yang pas sekali dengan


tubuhnya, sementara Prita seperti biasa tampil dengan bersahaja. Tak lama


Darto Keling datang menjemputnya mereka. Prita yang sudah mengenal


laki-laki itu segera beranjak ke mobil dan tersenyum.


"Silahkan Nona-nona cantik," Darto keluar untuk membukakan mobil


bagi Prita dan kedua temannya.


"Terima kasih ya pak Darto."


"Sama-sama Non, Bos Ayah Jae sudah menunggu."


Yunna merasa dadanya berdebar tak karuan.


 


 


Bersambung


Hello pembaca sayang, terima kasih ya pada dukungannya.


Jangan lupa selalu, like tinggalin jejak atau komennya ya.


othor sangat berterima kasih.


 

__ADS_1


 


__ADS_2