
Yunna dan Elsa terkejut ketika Prita muncul di tempat kerja mereka.
"Prita apa yang terjadi? aku sangat mencemaskan dirimu dan tante Risa."
"Semuanya berakhir dengan baik, alhamdulillah."
"Benarkah?"
"Iya, sekarang aku ingin bersantai dengan makanan dan minuman
cafe Pria Idola, aku ingin duduk yang di sofanya."
"Oh, siap yuk aku temani sebentar, mumpung belum banyak tamu."
Yunna dan Prita beranjak ke meja dengan bangku sofa, di sana enak untuk
bersantai dan merebahkan punggung. Yunna berusaha mengorek cerita
tentang kejadian yang menimpa Prita dan ibunya.
"Laki-laki itu huhhhh!"
"Kenapa?"
"Masa, dia jatuh cinta sama aku Cing! gila kan? hanya karena aku mirip
dengan kekasihnya."
"Hah!!!, ja-jadi dia menculik tante Risa untuk mendapatkanmu? gila! gila!
dunia ini sudah gila."
Yunna terlihat heboh dan tak henti-hentinya memukul-mukul kepalanya.
"Untungnya kami bicara terlebih dahulu dari hati-kehati, berkat ribuan zikirku
cing, dia melemah."
"Ha ha ha! dasar gila! laki-laki tua yang sudah bau tanah menginginkan
seorang gadis cantik berusia belia hemmm, benar-benar pria tidak tau diri!"
"Huh, sudahlah! "
"Jadiii, dia menawarimu mansion, wah kenapa tak terima aja Prita? andai saja
dia mau denganku, pasti kupertimbangkan, kau kan tau Cing aku ingin sekali
menjadi wanita yang bersuamikan seorang pengusaha."
"Oh, iya aku lupa merekomendasikan dirimu ha ha ha, kurasa dari pada ia tak
dapat apa-apa, kenapa tak mendapatkan dirimu aja ya cing."
"Hah! Kau selalu telat, kapan kau akan kesana lagi?"
"Entahlah, aku tak berminat, mana minumannya aku hausss!"
"Elsa cepat sedikit! ini putri Prita sudah kehausan!"
"Iya, ini baru jadi."
Elsa membawakan tiga jus buah-buahan, dan dia duduk di samping
kedua sahabatnya.
"Aku kangen sekali berkumpul seperti ini, jangan pergi ke Semarang ya Cing
Pritaku."
Elsa memeluk Prita erat-erat, dengan sikapnya yang amat lugu serta manja.
"Maksud Loe Cing Gwe biar berenti dan jadi pengangguran gitu, Loe senang ya
Gwe nggak jadi apa-apa?"
Prita langsung sewot dan mendorong tubuh Elsa, "Sana ah, nanti dikira orang
penyuka sesama."
"Aduh mana mungkin! kita ini sahabat dari kecil, lebih dari saudara."
Mereka berbincang-bincang dan tak sengaja tiba-tiba Prita ingin mengajak
__ADS_1
kedua sahabatnya bertemu dengan ayah Jae, siapa tau ketiganya bisa menjadi
sahabat yang dekat.
"Ide bagus, aku juga pengen dong melihat mansionnya ayah Jae itu."
Prita menimbang-nimbang untuk menelpon Ayah Jae, sebelumnya ia menelpon
Darto Keling dan menanyakan nomer handphone ayah Jae. Dan laki-laki botak
itu harus minta ijin terlebih dahulu apakah dibolehkan memberi nomer handphone.
Dan beberapa saat menunggu barulah Darto Keling menelpon dan memberikan
nomer ayah Jae. Pria itu pun sangat senang saat tau Prita ingin bicara dengannya
ia pikir gadis itu telah menyetujui dan berubah.
"Hello Ayah Jae, bagaimana keadaan ayah?"
Prita menelpon dengan suara yang biasa saja, ia menceritakan bahwa ia memiliki
dua sahabat sejak kecil. Mereka ingin berkenalan juga dengan Ayah Jae. Karena
Prita telah menceritakan tentang Ayah Jae pada teman-temannya.
Gadis itu menanyakan apakah teman-temannya bisa bertemu dan berkenalan
dengan ayah Jae.
Pria itu langsung menyetujui dan membuat janji, ia akan menyuruh Darto Keling
menjemput mereka.
"Ok besok bersiap-siaplah! Uncle Darto akan menjemput kalian."
Wajah Ayah Jae ceria sekali mendapat telpon dari Prita. Bak api kecil yang disiram
oleh minyak tanah, jiwa mudanya kembali bergelora. Ia mengusap rambutnya dan
tersenyum lebar.
"Ia bakal datang ke sini! Darto!!!"
"Siapa Bos Ayah?"
"Gadis itu! ia tentunya berpikir-pikir tentang penawaranku."
Ayah Jae melebarkan bibirnya, matanya bercahaya. Darto ikut merasakan
kegembiraan sang bos. Ia tak pernah melihat laki-laki itu segembira hari ini,
wajahnya merekah seperti bunga matahari di pagi hari.
"Oh, dia sudah menghubungi Bos Ayah? luar biasa."
"Semalaman dia mungkin berpikir, betapa ruginya tak menerima pemberianku, perempuan
di mana pun sama saja, suka harta benda."
"Betul banget itu bos ayah! mereka menyukai kemewahan."
Tiba-tiba lelaki itu menoleh pada Darto, dan menyuruhnya memanggil tukang potong
rambut, "Panggil Andre ke sini! aku ingin spa dan merapikan rambutku."
"Siap bos Ayah!"
Darto bergegas menuju kediaman Andre, laki-laki yang agak kemayu itu bekerja
untuk ayah Jae untuk mendandaninya serta gadis-gadis di rumah hiburan.
"Andre! dipanggil bos Ayah Jae, cepatan sana!"
"Ok, ike segera datang."
Ia mengambil tasnya yang berisi perlangkapan salon. "Aduh, Bos Ayah Jae tumben
banget sih dipotong ike siang-siang beginong."
"Besok, akan datang seorang gadis yang disukai oleh bos Ayah Jae, jadi sedikit
grori, ha ha ha."
__ADS_1
"Wao, siapakah gadis yang beruntung itu?"
"Nanti kau akan tahu, besok gadis itu ke sini! aku akan menjemputnya, dan kau
bisa melihatnya besok."
"Baiklah pak Darto, oia apakah kepalanya mau perawatan, biar tambah ganteng
he he he."
Darto mengepalkan tangannya, membuat Andre lari tunggang langgang sembari
terkekeh. Dasar!
Ternyata bukan hanya ayah Jae saja yang ingin tampil mempesona, melainkan
juga Yunna dan Elsa. Sepulang dari bekerja mereka sepakat ke spa Anna yang
berada di dalam pertokoan. Prita juga ikut.
"Sesekali memanjakan diri tak mengapalah."
"Setahun sekali tak mengapalah, he he he, mana ada uangnya jika sebulan
sekali."
"Nanti kalau aku sudah menjadi istri pak Kong, gampanglah, mau spa sehari tiga
kali tak mengapalah."
"Ngeri kali ah, tapi pak Kong siapa tuh?"
"Pak Konglomerat ha ha ha!"
"Ach dasar, dikira pak yang mana, kena deh."
Ketiganya melakukan perawatan kulit serta rambut.
Kok bisa sama ya dengan ayah Jae? hemmm.
Esok paginya ketiga gadis itu sudah menunggu di sebuah tempat yang telah
mereka sepakati. Yunna terlihat cantik dengan rambut yang diuraikan dan
bagian bawah rambutnya di beri gelombang, mengenakan bulu mata yang
membuat bulu matanya lentik dan indah, serta pewarna bibir berwarna pink
yang lembut.
Sementara Elsa tampak mungil dengan bajunya yang pas sekali dengan
tubuhnya, sementara Prita seperti biasa tampil dengan bersahaja. Tak lama
Darto Keling datang menjemputnya mereka. Prita yang sudah mengenal
laki-laki itu segera beranjak ke mobil dan tersenyum.
"Silahkan Nona-nona cantik," Darto keluar untuk membukakan mobil
bagi Prita dan kedua temannya.
"Terima kasih ya pak Darto."
"Sama-sama Non, Bos Ayah Jae sudah menunggu."
Yunna merasa dadanya berdebar tak karuan.
Bersambung
Hello pembaca sayang, terima kasih ya pada dukungannya.
Jangan lupa selalu, like tinggalin jejak atau komennya ya.
othor sangat berterima kasih.
__ADS_1