
Perempuan itu membawa Cindy ke sebuah restoran yang asri di pinggi kota.
"Maaf, kalau tante mengganggu waktumu, apa kamu terburu-buru?"
Perempuan itu sekali lagi bertanya pada Cindy, ia memandang dengan matanya yang bersorot lembut.
"Tidak kok tante, hari ini saya santai."
"Oh, iya terima kasih, kita ngobrol santai sambil menikmati makan dan minum ya."
"Iya tante, santai saja."
Kemudian pesanan dan minuman datang, "Yuk diminum dulu seger ini loh."
Tante Rianty mengambil minumannya dan menghirupnya. Priscilla melakukan hal yang sama.
"Cindy sudah kenal lama dengan Rama, putra tante?"
Tiba-tiba Rianty bertanya sejauh mana hubungan Cindy dan Rama anaknya. Perempuan itu menemukan banyak sekali nama Cindy Bramantyo di hanphone dan bukunya.
"Belum lama tante, kak Rama alumni smp satu, dia suka ke sekolah dan bermain dengan teman-teman saya, akhirnya saya juga kenal dengannya."
"Oh, begitu ya."
"Iya tan, tetapi mulai sering ketemu baru beberapa bulan ini, waktu itu kak Rama ulang tahun dan
aku terkesan karena katanya suka membaca cerpen saya di koran lokal, saya jadi tersanjung begitu tan."
Mereka tertawa dan tersenyum.
"Oh, kamu penulis toh?"
" Bunda seorang penulis dan saya sedang belajar padanya tan he he he."
"Terus pernah ketemu di angkot, kak Rama tau-tau sudah bayari ongkos karena saya kelamaan ngambil
uang di dompet, he he he kalau ingat jadi malu Tan."
Mereka ketawa lagi, dan tante Rianty mulai menyukai gadis ini yang polos dan lugu. Pantas saja Rama
menyukainya.
"Jadi agaknya anak tante Rama belum pernah bilang kalau dia suka sama kamu?"
Cindy terdiam, "Belum kok Tan, masa sih kak Rama suka sama anak smp tan he he he."
"Loh memangnya kenapa? Kamu gadis yang cantik dan pastinya pintar."
"He he he, makasih ah Tan, kita berteman tan."
Cindy tersenyum, perempuan itu meneguk minumannya dan mengambil sesuatu di dalam tasnya.
"Tante menemukan ini di kamarnya, dia menulis namamu di sini."
Tante Rianty memberikan sebuah buku diary kepada Cindy.
"Ini diary anak tante."
Cindy kebingungan, kenapa buku diary itu diberikan kepadanya.
"Isinya masih sangat banyak sayang kalau di buang, anak tante tidak suka menulis, hanya saat hatinya tersentuh atau ketika banyak waktu saja. Perempuan itu menjelaskannya pada Cindy. Dan juga memberikan sebuah
handphone mahal di dekat tangannya.
"Tante! handphonenya kenapa?"
Perempuannya itu tersenyum, "Tidak apa-apa, dia baru saja membeli handphone dan sekarang tidak
ada yang memakainya, tante berikan padamu gadis istimewanya."
__ADS_1
Cindy membesarkan matanya, ia memang pernah minta handphone seperti itu pada bunda, tetapi karena harganya sangat mahal, bunda belum membolehkan.
"Jangan tante ini mahal sekali."
Cindy mengembalikan handphone tersebut ke meja tante Rinty, membuat perempuan itu
terlihat kecewa.
"Tante pikir kamu adalah orang yang tepat menerimanya, sebab dia menyebutmu gadis yang
istimewa, dan tante juga melihatmu begitu, kamu sangat special."
"Tante sudah berbagi semua barang-barang Rama supaya bermanfaat, tante tiba-tiba teringat padamu saat memegang buku dan handphone ini, ambillah."
Cindy tak bisa menolak, ia tak ingin melihat kekecewaan di wajah perempuan itu,
"Terima kasih tante, saya akan menjaganya."
"Terima kasih juga Cindy, tante sedih sekali jika kau menolaknya, Rama memiliki banyak sekali
benda-benda mahal yang dibelikan oleh ayahnya, dia juga punya mobil Jaguar di garasinya, laptop
komputer dan banyak sekali. beberapa diantaranya sudah tante berikan pada orang yang sangat
membutuhkan, semoga barang-barangnya bermanfaat dan menjadi amal jariah."
Cindy mengangkat wajahnya, ia mendengar kata laptop, tiba-tiba saja ia menjawab perempuan itu.
"Tante, apakah laptopnya sudah diberikan pada orang, a-aku memang berencana ingin membeli
laptop dan sedang mengumpulkan uangnya, aku merasa memerlukan sebuah laptop untuk
menulis."
"Oh, laptop! masih ada, tante akan memberikannya padamu. Ya kau seorang penulis tentu
benda itu sangat bermanfaat. Bagaimana kalau kita mengambilnya sekarang?"
"Kau ini gadis yang tidak enakkan ya? sambil kita pulang, ayolah tante senang sekali memiliki teman
mengobrol."
Akhirnya Anna , menuruti permintaan tante Rianty, dia berdebar saat ia memasuki lagi rumah
yang besar itu. Tante Rianty sangat baik. Tak lama tante Rianty muncul dengan sebuah tas berisi
laptop.
"Pakailah untuk menulis, Rama pasti senang."
"Terima kasih tante, bagaimana ini? aku menjadi tak enak dan malu karena hari ini mendapatkan
buku, handphone dan juga laptop."
"Tidak apa-apa, karena semuanya bermanfaat untukmu, percayalah tante senang memberikannya
padamu."
"Terima kasih ya Tante."
Tiba-tiba Cindy mencium pipi perempuan itu dan juga tangannya, lalu pamit pulang. Tetapi
seorang supir sudah siap mengantarnya pulang.
"Biar diantar pak Darman ya."
Cindy hanya mengangguk dan tersenyum, "Terima kasih tante Rianty semoga Allah Swt membalas
kebaikan tante dan kak Rama, aamiin."
__ADS_1
Sampai di rumah, Anna tak sabar untuk membuka laptop milik Rama, dia berdebar antara senang
dan haru, baru beberapa hari yang lalu ia memikirkan untuk membeli laptop dan menabung sejumlah
lima ratusa ribu. Tiba-tiba laptop yang ia inginkan telah ada. Cindy sangat bersyukur.
Sebenarnya ia juga sudah memiliki sebuah note book dan juga laptop, tetapi ia buat untuk menonton you tube, mendengar musik dan bermain. Dengan laptop dari kak Rama ia akan khususkan untuk menulis.
Dengan lembut ia membuka kancing tas laptop tersebut dan meletakkannya di meja belajar.
Indah sekali pemandangan meja dengan laptopnya.
"Terima kasih kak Rama, dan juga tante Rianty, aku akan menulis cerita dengan laptop pemberianmu ini."
Tante Rianty tadi saat mereka minum di cafe bercerita bahwa hari-hari setelah Rama meninggalkannya
dirinya sangat terluka hingga menyalahkan Tuhan. Kenapa Tuhan begita tega padanya yang hanya
memiliki seorang putra. Mengapa harus dirinya yang kehilangan. Berhari-hari tante Rianty melamun
di kamarnya dan tak mau bekerja atau melakukan apa pun. Ia, marah, kecewa tetapi tidak berdaya.
Entah telah berapa banyak air matanya yang tumpah, kesedihan serta kemarahan yang ia lampiaskan
pada Tuhan. Ia sampai tak mau menjalankan ibadah seperti biasanya. Ia ingin mati saja, tak mau hidup.
Kehabisan daya, hingga dehitrasi dan dilarikan ke rumah sakit.
Nyaris sebulan tante Rianty seperti itu, mengalami depresi berat, hingga suatu malam ia bermimpi
putranya datang dalam mimpinya bahwa perbuatan mamanya membuatnya gelisah dan tak tenang.
Ia ingin mamanya merelakan kepergiannya, ihklas dan tidak boleh menangis lagi. Ia memohon agar
mamanya mengirim doa untuknya, jangan menangis dan mengeluh.
Tiba-tiba saja kesadaran datang begitu saja, menjernikan pikirannya. Ia segera mengambil wudhu
dan sholat serta beristiqfar sebanyak-banyaknya. Ia mohon ampun dan mengikhlaskan putranya.
Ia merasakan kelapangan dalam dadanya. Hidupnya telah berbeda dan berubah. Ia kembali
mendekatkan dirinya kepada Tuhan hingga ia menjadi baik dan ceria kembali.
Tante Rianty saat ini telah kembali menata lagi bisnisnya. Ia tidak lagi larut dalam penyesalan
serta berduka. Melainkan telah merelakan buah hatinya bersama Tuhan di surga. Senyum tante Rianty
telah kembali.
Mereka sekarang berteman baik, ia mengenalkan tante Rianty pada Fani, Ara dan juga Wina. Mereka sesekali menawari tante Rianty, apakah dia mau ikut bersenang-senang dengan mereka. Dan ternyata tante Rianty dengan senang hati mau menghabiskan waktu bersama mereka.
Kadang sekedar pergi minum kelapa muda di luar kota, serta bersenang-senang di pantai, menonton bioskop atau jalan-jalan dan ngobrol ngalur ngidul.
Cindy memasukkan tante Rianty menjadi anggota genk Hubsche maedchen atau haem, yakni genknya anak perempuan yang smart.
Tante Rianty merajuk, "Jadi tante anggota paling tua dong?"
"Ha ha ha, gimana lagi Tante memang sudah keadaannya begitu."
"Ups jangan yang paling tua, tapi paling senior!"
"Nah, itu baru mantap."
Mereka semua mengangguk-angguk setuju, mengangkat dua jempul, lantas tertawa lepas.
__ADS_1
Bersambung