Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 49. Kembali Ke Jakarta


__ADS_3

Musim berganti. Pak Wijaya kembali ke Jakarta. Sebenarnya masa tugasnya empat hingga lima tahun. Namun memasuki tahun ke dua, kantor pusat memanggilnya kembali. Ada isu yang beredar pak Wijaya akan memimpin di Jakarta. Begitu pentingnya hal tersebut sehingga pak Wijaya harus ada di Jakarta saat keputusan itu. Terpaksa Pak Wijaya dan Mangara lebih dulu kembali ke Jakarta. Saat itu Mangara memang sudah diterima di sebuah universitas negeri di Jakarta. Sungguh kebetulan sekali Ia bisa barengan dengan Papi. Sementara di kota Eksotik Mami harus mengurus dan menyelesaikan beberapa hal. Papi memerlukan surat surat keterangan dari kantor cabang kota kecil itu mengenai kepindahannya. Mami juga  harus mengurus surat kepindahan sekolah Mardo dan Patricia. Mengepak dan mengirim barang barang. Kurang lebih sekitar dua bulan persiapan mereka untuk kembali ke Jakarta.


Mardo sudah bertemu dengan teman temannya. Mereka tak akan melupakan persahabatan itu. akan selalu berkirim kabar. Halima tak berhentinya menangis saat tahu Mardo akan kembali Ke Jakarta. Ia terus menerus bersandar di bahu gadis itu. "Beta, tidak punya teman lagi yang baik seperti torang nona Mardo, beta sangat sedih dengan kepergian nona."


"Hemmm, ada Husen nona Black sweet he he he, Husen orangnya baik, perhatian dan dia yang sangat perduli pada torang saat dulu kita menjengukmu."


"Tapi kalau beta nikah sama Husen, anaknya tetap hitam hu hu hu. Beta pengen punya anak putih seperti nona Mardo, seperti Sarah Lee, seperti torang semua."


"Halima, kalau begitu torang nikah sama koko Han saja gimana?"


Mereka semua tertawa, Koko Han adalah pemilik toko foto cofi  di kota itu.


Halima cemberut.


"Sudahlah Halima, jodoh Tuhan yang menentukan,  namun tetap berusaha ya.


Halima mangut mangut.


Raka dan Richi juga sudah tau akan kembalinya Mardo ke Jakarta. Raka secepatnya membuat janji  dengan gadis itu. Richi tak ketinggalan, ia menghubungi Mardo dan ingin ketemuan di sebuah tempat minum.


"Mardo, aku menunggumu ya di my story cafe ok segera."


Mardo belum menjawab, hp sudah mati. Richi adalah teman laki lakinya yang paling baik. Apa salahnya. Baiklah. Mardo segera pergi ke tempat tersebut.


Richi menyambutnya dengan berdiri dan menarikkan kursi untuknya. Seperti biasa Richi selalu manis dan rapi. Bibirnya selalu tersenyum.


"Hei Do, terima kasih sudah mau datang."


Mardo tersenyum, "Iya dong, kamu temanku yang terbaik yang pernah ada."


"Aku akan kehilangan sosok kamu di sekolah dan tempat tempat lainnya."


Richi menatap wajah Mardo, " Namun kita harus mengikuti orang tua kita, belum bisa menentukan sendiri apa yang kita sukai dan innginkan."


"Iya kamu betul Rich, kita harus melalui proses menuju ke arah itu hingga kita bisa menentukan sendiri kemauan kita."


Mereka sempat terhenti karena minuman dan makanan dihidangkan.


"So, kapan kamu berangkat ke Jakarta?"


"Minggu depan, mudah mudahan semua sudah selesai. Mami sedang mengurus surat surat dari kantor Papi juga sekolahku dan Pat."


"Semakin hari semakin dekat perpisahan kita."


Keduanya saling menatap. Hanya beberapa saat, namun telah menyentuh hati Mardo yang lembut. Richi seorang yang berhati baik, ramah serta penuh kasih sayang. Ia tak akan bisa menyakiti seorang Richi, dan ia tak akan menyakiti Richi.


"Setelah lulus smu aku akan ke Jakarta, kita bisa bertemu lagi."


"Iya Richi, saat saat libur mainlah ke Jakarta. Mampir ke rumahku."


"Oh, kau betul. tidak mesti menunggu kelulusan ya."


Begitulah Mardo dan Richi mengobrol cukup lama. Mengobrol hal hal yang ringan.Mengenang saat saat liburan di Merauke. Perjalanan ke rumah Halima. Semua sangat berkesan.

__ADS_1


Berdua mengenang, tersenyum dan tertawa.


Menjelang sholat Ashar, Richi mengakhiri pertemuan mereka. Richi bilang ia akan sholat ashar.


Mardo berlari lari kecil menuju ke jalan. Ia menunggu taxi. Tetapi tiba tiba sebuah mobil menepi dan jendela terbuka.


"Hello nona cantik! menuggu siapa?"


Mardo cemberut, Raka menggodanya dari dalam mobil.


"Habis kencan ya? asyik nih."


Mardo tercekat, apakah Raka tau ia tadi bertemu dan mengobrol dengan Richi.


Percuma dijelaskan, pria idola tetap akan jealous.


Mardo berjalan meninggalkan Raka dan mobilnya.


"Hei, ayo kuantar pulang. Kebetulan aku akan ke puncak kapas, lewat rumahmu."


Percuma menghindar, pria idola terus mengikuti. Mardo lantas membuka pintu dan duduk di sebelah pria idola.


"Tolong antar ke puncak kapas ya Bang, kav. B1."


"Baiklah nona cantik, dengan senang hati."


"Jangan ngebut ya Bang."


"Ok, pelan pelan saja, yang penting selamat."


"Udah dapat berapa Bang hari ini?"


"Lumayan Non, bisa menghidupi istri dan anak anak."


"Ya ampun, udah punya istri dan anak anak ya?"


"Sudah dong Non, ganteng kayak gini cepat lakunya."


"Ya sudah kalau begitu, putus saja!"


Mardo ketus dan wajahnya berubah marah.


Raka tertawa, " Itu kan cerita tukang taxi, bukan cerita pria idola, ah nggak bisa membedakan, makanya jangan suka iseng."


"Baiklah, lusa kita menonton ya, kujemput setelah magrib."


"Film apa? siapa yang main."


"Aku lupa judulnya, kita nonton aja dulu."


"Ok, semoga tidak ada halangan."


Amiin ya Rabbal alamin.

__ADS_1


Akhirnya sampai, Mardo mengucapkan terima kasih.


"Salam sama mertua ya."


"Nggak mau, salam saja sendiri."


"Ich, nurut sama..."


Kedua duanya bertatapan dengan pipi merah dan jengah.


"Suami? iya nanti itu mah."


Mardo lari, berhenti sebentar untuk memandang Raka. "Pulang sana, udah mau magrib."


"Ok, ini juga langsung pulang."


"Tadi katanya ada perlu."


"Lewat doang memeriksa."


"Meriksa apa?"


"Ada deh, mau tau aja he he he."


"Huh dasar, kerjanya mematai matai terus."


Keduanya melambai dan berpisah.


Persiapan kepulangan ke Jakarta sudah matang. Semua sudah diurus oleh Mami.


Tiba tiba saja Mami bilang akan berangkat hari sabtu pagi. Mardo terkejut, itu adalah waktu yang Raka janjikan mengajaknya nonton. "Kenapa dadakkan sih Mom?  Mardo hari sabtu ini ada janji."


Mami mendengarkan keberatan putrinya. "Mami sudah memesan tiket, maafkan Mami ya."


Kalau sudah begitu, Mardo tak berani protes. "Tidak masalah Mi, bisa dimajukan."


"Iya, sebaiknya segera selesaikan semuanya hari kamis dan jumat ini, agar tenang saat keberangkatan."


"Baik Mi, Mardo akan pamit pada teman teman besok."


Betapa berat meninggalkan kota cantik itu, setelah ia mulai menyukai serta jatuh cinta.


Betapa tiada abadinya kehidupan. Mardo terisak isak pedih oleh perpisahan itu.


Ia memutuskan tidak memberitahu kepergiannya. Terbayang kecewa dan marahnya Raka padanya.


Namun, mereka mendadak harus berangkat. Itu alasan yang Mardo berikan nanti.


 


bersambung


 

__ADS_1


 


__ADS_2